Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Ayah dan Pekerjaan Rumah Tangga

Sulitnya mencari pekerjaan dewasa ini berimbas pada perubahan peran pria dan wanita, termasuk dalam keluarga. Teman kami, sebut saja bernama Santi akhirnya menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga. Apa boleh buat, suami Santi di-PHK karena pengurangan pegawai.

"Lebih mudah bagi perempuan mendapatkan pekerjaan, ketimbang pria," kata Santi. Tentu saja. Kebanyakan pemberi kerja harus menyantuni keluarga dari karyawan laki-laki. Tidak demikian dengan karyawati. Jarang perusahaan menanggung pekerja wanita beserta suami dan anak-anaknya. Sejak Santi bekerja, peran dalam rumah tangga berubah.

Ayah yang Mengurus Rumah

Karena Santi bekerja di sekolah anak-anaknya, jam kantornya mulai pukul 7. Setiap hari Santi tetap bangun pukul 4.30. Dia memasak untuk sarapan dan makan siang. "Sebagian bahan sudah saya siapkan malam hari. Jadi, paginya bisa dikerjakan lebih cepat," katanya menjelaskan. Sedangkan Arman, suaminya, membantu anak-anak bersiap sekolah.

"Arman mengantar kami setiap hari ke sekolah, kemudian dia pulang dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga," Santi melanjutkan. "Suami saya menaruh pakaian kotor ke mesin cuci otomatis. Nanti agak sore ada pembantu yang membantu menggosok, mengepel, dan membersihkan dapur. Untung saja Arman suka beres-beres halaman, jadi bagian luar rumah selalu rapi. Pukul 11 siang, Arman menjemput si kecil, kemudian mengajaknya bermain. Saya pulang dengan anak saya yang besar dan sampai rumah sekitar pukul 4 sore. Kalau diperlukan, saya mampir ke supermarket untuk membeli keperluan dapur atau belanja bulanan."

Pulang kantor Santi masak untuk makan malam, sedangkan suaminya bermain dengan anak-anak, mengantar les, atau membantu anak-anak mengerjakan PR. Kadang-kadang mereka makan malam di mal atau restoran dekat rumah.

Hari Sabtu dan Minggu mereka bisa lebih santai. Setiap Sabtu pagi mereka ajak anak-anak bersepeda sampai ke Taman Kota, bertemu teman-teman gereja, atau mengerjakan aktivitas bersama lainnya.

Suami Tetap Pemimpin

Arman dan Santi tidak pernah berpikir keadaan menjadi terbalik. Namun dalam pernikahan, suami dan istri memang harus bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Menurut Santi, hal ini pernah mereka bicarakan sebelum menikah walaupun pada kenyataannya banyak sekali penyesuaian baru pasca-PHK, yang harus dijalani.

Awalnya, Santi mengakui mereka mengalami banyak konflik. Arman sama sekali tidak tahu mengurus rumah, apalagi mengajari anak-anak mengerjakan PR. Tangannya tidak pernah kena sabun cuci piring. Minggu-minggu pertama kerja, Santi stres sekali karena ketika pergi dan pulang ia mendapati rumah sama kacaunya. "Suami saya bingung mau mengerjakan apa. Jadi, sepulang dari menjemput Niel, mereka nonton TV. Habis makan siang piring ditaruh begitu saja di dapur, air tumpah dibiarkan saja di lantai, hanya ditutupi kain pel atau baju kotor. Aduh, pusing saya," kata Santi mengingat saat-saat itu. Tidak heran, Santi banyak marah dan mengomel pada suaminya. Tangisan Nia, putri sulung mereka yang tidak tega melihat ibunya menangis, akhirnya mengingatkan Santi dan Arman bahwa mereka harus berubah.

"Saya mengingatkan Arman bahwa dialah pemimpin saya," Santi bercerita lebih lanjut. Karena itu, Santi memegang tangan suaminya dan mohon bantuan bagaimana cara mengurus semua ini.

"Istri saya menguatkan saya," kata Arman nimbrung. "Sebenarnya dengan membiarkan Santi mencari nafkah saya mulai merasa tidak berguna sebagai suami. Tetapi, saya bertekad bahwa ini tidak untuk seterusnya. Ini memang saat-saat sulit bagi kami, dan kami harus menjalaninya."

Komunikasi

Arman meminta bantuan istrinya untuk mengajarinya menjadi bapak rumah tangga. Mereka sepakat bahwa keduanya harus tetap bangun pagi. Bedanya, kalau dulu ayah yang ke kantor, sekarang ibu. Arman mengurangi aktivitasnya di gereja. "Saya rasa saya harus siap mendampingi anak-anak jika istri saya kelelahan," katanya.

Malam hari Arman dan Santi tetap melakukan kebiasaan mereka sebagai suami dan istri, juga orang tua bagi kedua putra-putri mereka. Sebelum anak-anak tidur, Arman bercerita pada mereka. Itu adalah tugasnya sejak lama, sedangkan Santi menyiapkan kebutuhan sarapan. "Sebelum tidur kami banyak mengobrol," tutur Arman.

"Kadang-kadang Santi memberikan ide apa yang bisa kami lakukan ke depan. Kami membicarakan kemungkinan pekerjaan atau usaha atau apa saja. Kami bertukar pikiran."

Percakapan sebelum tidur ini merekatkan hubungan Arman dan Santi lebih dari sebelumnya. Entah bagaimana, lewat peristiwa PHK ini Santi mendapati dirinya lebih respek terhadap suaminya. "Saya kagum padanya. Ternyata Arman bisa menjadi ayah yang hebat untuk Niel dan Nia. Arman lebih dekat dengan anak-anak. Nampaknya anak-anak juga lebih tertib dan disiplin daripada saat bersama saya," Santi mengakui.

"Saya tidak tahu bagaimana itu terjadi. Saya hanya melakukan tugas-tugas saya dan ternyata anak-anak menaatinya," jawab Arman ketika ditanya rahasianya.

Fenomena bapak rumah tangga menimpa cukup banyak keluarga. Jika hal serupa terjadi atas kita, satu hal perlu kita ingat bahwa bukan hanya kita yang mengalaminya. Ada keluarga-keluarga lain yang juga sedang bergumul dengan masalah yang sama. Jalan keluar bagi masing-masing juga berbeda. Ada yang cepat, dan ada yang harus menjalaninya selama bertahun-tahun.

Ada yang berakhir bahagia (happy ending), tetapi ada juga yang berakhir dengan perceraian.
Berikut ini adalah beberapa tips untuk pembaca:

  1. Sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dalam keluarga Anda, usahakanlah membangun relasi dan komunikasi yang baik dengan pasangan. Ini adalah modal Anda menghadapi peristiwa seburuk apa pun yang mungkin menimpa.
  2. Pengangguran bukan berarti tidak punya apa-apa. Hitunglah apa yang masih Anda miliki, jangan menangisi yang hilang. Anda bisa meneruskan hidup dengan apa yang ada. Peliharalah itu.
  3. Modal Anda terbatas sekarang. Karena itu, untuk memulai suatu usaha, pikirkan dengan matang, diskusikan dengan pasangan, dan siap menanggung risiko. Anda bisa untung, Anda pun bisa rugi.
  4. Pertahankan ordo yang benar. Walaupun suami Anda bukan lagi pencari nafkah utama, dia tetaplah pemimpin. Seorang suami yang memimpin dengan cinta akan tetap dihargai seisi rumahnya.

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2012

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Sumber

Komentar