Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bagaimana Mengandalkan Allah dalam Urusan Keuangan Anda

Edisi C3I: e-Konsel 297 - Uang dan Kebutuhan

Diringkas oleh: Sri Setyawati

Uang merupakan alat yang penting untuk bertransaksi. Banyak kebutuhan hidup manusia yang harus dibeli dengan uang. Akan tetapi, untuk mendapatkan uang tidak gampang, apalagi ketika ekonomi negara tidak stabil. Hal ini mengakibatkan banyak perusahaan gulung tikar, banyak orang terlilit utang, dan kehilangan harta benda.

Namun demikian, sebagai umat Tuhan, kita tidak perlu khawatir dan cemas kalau-kalau kekurangan uang. Tuhan Allah menghendaki kita hidup dalam kelimpahan dan damai sejahtera. Dia terlalu sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, asal kita mau berusaha dan bergantung pada-Nya. Selain itu, kita harus bijaksana dalam mengatur keuangan -- bijaksana dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Berikut ini prinsip pokok yang harus diingat untuk mengembangkan sikap mengandalkan Allah dalam urusan keuangan kita.

1. Allah Dapat Dipercaya

Allah patut mendapat kepercayaan kita, janji-Nya pasti dan ucapan-Nya mutlak benar (Mazmur 12:6 FAYH). Ia bertindak seperti yang dikatakan-Nya (Mazmur 37:3-5 FAYH). Ia sanggup memberikan lebih dari yang kita bayangkan. Maka, jadikanlah Dia sebagai dasar untuk jaminan keuangan Anda.

2. Allah Ingin Anda Mengalami Hidup Berkelimpahan

Siapa yang mengandalkan Tuhan, maka apa pun yang dilakukannya dibuat-Nya berhasil (Mazmur 1:3,6). Tuhan berjanji memberikan kehidupan yang bersukacita dan berkelimpahan kepada umat-Nya yang taat (Yohanes 10:10). Jaminan yang didasari kemurahan hati ini mencakup kemerdekaan secara finansial juga. Namun, selain mengandalkan Tuhan, kita juga harus memelihara kesucian hati dan motivasi kita. Jika selama ini kita pernah berbuat salah/dosa, mari kita segera mengakuinya dan kembali kepada-Nya, serta memercayakan diri kepada Dia yang sanggup mencukupi semua kebutuhan kita.

3. Peliharalah Agar Hati dan Motif Kita Suci

Selain mengandalkan Allah, kita juga harus memelihara agar hati dan motif kita suci. Di dalam firman-Nya, Tuhan berjanji akan memberkati orang-orang benar (Mazmur 112:2). Ia berkenan pada orang yang tak bercela (Amsal 11:20). Bapa sorgawi berjanji akan menuntun kita dalam jalan hikmat dan lurus, jadi yang kita perlukan adalah memohon pimpinan-Nya. Motif kita dapat menyesatkan kita dalam memberi dan mengandalkan Tuhan, kita kadang terdorong untuk tidak memprioritaskan Tuhan. Apabila hal ini terjadi, mari kita segera mengakui kesalahan dan meminta Roh Kudus untuk menolong kita, agar kita dapat kembali bersandar kepada-Nya untuk mencukupi kebutuhan kita.

4. Ganti Ketakutan dengan Iman

Faktor emosi yang dapat merongrong iman dan menarik kita kembali pada perbudakan finansial adalah ketakutan. Saat ketakutan dan kekhawatiran mencekam kita, maka kita akan kehilangan daya untuk mengandalkan Tuhan dalam mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita. Pada saat-saat seperti ini, setan sering memutar-balikkan ketakutan dan menimbulkan keraguan. Untuk itu, kita harus waspada dan ingat bahwa Allah berjanji akan mencukupi segala kebutuhan kita menurut kekayaan kemuliaan-Nya (Filipi 4:19). Dengan menaati kehendak Allah, kita menukar ketakutan dengan iman. Saat kita aktif melakukan perintah-perintah-Nya, kita memperkukuh iman kita dan membuka diri terhadap berkat-berkat-Nya yang berlimpah.

5. Mintalah Agar Allah Mencukupi Semua Kebutuhan Anda

"Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa." (Yakobus 4:2) Tuhan berfirman, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu." (Matius 7:7) Iman menuntut adanya tindakan. Sebagai tindakan iman, mintalah kepada Allah untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan Anda.

Allah kadang tidak mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita secara langsung. Ia ingin agar kita meminta kepada-Nya, sehingga kita melibatkan diri di dalam proses pemenuhan kebutuhan itu, serta mempermuliakan Dia atas semua yang disediakan-Nya. Ia berjanji untuk memenuhi permintaan apa pun yang kita ajukan berdasarkan iman dan sesuai kehendak-Nya (1 Yohanes 5:14).

Biarkanlah Allah sendiri yang menetapkan cara dan waktu untuk menyediakan apa yang kita butuhkan. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki dan puaslah dengan apa yang telah disediakan-Nya bagi kita. Kepuasan dalam hal ini bukan semata-mata kepuasan karena kedudukan dalam kehidupan, melainkan kepuasan karena mengetahui rencana Allah dan hidup tenang di dalam-Nya. Kepuasan dalam hal keuangan berarti menjalani kehidupan sesuai berkat yang diberikan Tuhan kepada kita, dan mendayagunakannya semaksimal mungkin untuk kemuliaan Allah.

6. Ambil Langkah Iman

Kadang Allah menuntut kita untuk melangkah lebih jauh. Beberapa gereja mengajak jemaat untuk melakukan janji iman untuk mendukung pelayanan. Janji iman adalah iman pada kemampuan Allah untuk menyediakan dari kekayaan-Nya apa yang tidak dapat kita berikan dari diri sendiri. Janji iman mencakup tiga prinsip utama. Pertama, perjanjian di antara kita dengan Allah. Kedua, suatu komitmen untuk memberikan apa yang bisa kita berikan dari kemampuan kita sendiri. Ketiga, memberi yang memungkinkan setiap orang Kristen untuk ambil bagian dalam Amanat Agung. Langkah ini memperkaya kehidupan kita secara tak terbatas, memungkinkan kita untuk mencoba melangkah ke luar batas-batas daerah yang aman untuk memasuki wilayah baru. Langkah ini mendorong kita untuk percaya bahwa Allah mampu melakukan hal-hal yang mustahil bagi kita.

7. Pelihara Iman Anda Tetap Aktif

Iman bukanlah komitmen yang kita buat sekali atau sekadar latihan yang kita buat pada saat kita memunyai kebutuhan. Iman adalah cara hidup. Iman kita yang aktif dan bertahan membuktikan bahwa kita benar-benar mengandalkan Allah. Ingatlah akan kesetiaan dan kekuasaan Allah, serta berusahalah untuk selalu memberi dengan iman. Saat kita taat melakukan firman-Nya, Allah akan memberkati kita untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Diringkas dari:

Judul asli buku : As You Sow
Judul buku terjemahan : Memberi dengan Sukacita
Judul bab : Langkah-Langkah Menuju Kebebasan Finansial
Penulis : Bill Bright
Penerjemah : Pdt. N. Sunaryo S., M.Div.
Penerbit : Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia, Jakarta 2001
Halaman : 246 -- 260

Komentar