Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bagaimana Mengendalikan Emosi-Emosi Saudara?

Edisi C3I: e-Konsel 155 - Mengendalikan Emosi

Kita perlu mengakui bahwa emosi itu tidak apa-apa; sebetulnya, emosi dapat sangat bermanfaat. Kadang-kadang, terutama jika kita menjadi marah atau frustrasi, kita berpikir bahwa emosi itu buruk. Kita berpikir bahwa seorang Kristen seharusnya tidak merasa tidak

Kita perlu mengakui bahwa emosi itu tidak apa-apa; sebetulnya, emosi dapat sangat bermanfaat. Kadang-kadang, terutama jika kita menjadi marah atau frustrasi, kita berpikir bahwa emosi itu buruk. Kita berpikir bahwa seorang Kristen seharusnya tidak merasa tidak berbahagia. Tetapi Tuhan menciptakan emosi-emosi. Emosi adalah bagian dari wujud manusia. Emosi mendorong kita untuk bertindak.

Namun, emosi dapat menimbulkan masalah bila kita tidak mengendalikannya. Emosi yang tidak terkendali dapat menimbulkan tekanan darah tinggi, ketegangan otot, infeksi, berbagai macam penyakit, atau menjadi marah terhadap anak-anak dan pasangan kita. Akibat-akibat negatif itu tidak banyak disebabkan oleh emosi itu sendiri, tetapi lebih banyak karena ketidakmampuan kita untuk mengendalikannya dan memanfaatkannya secara konstruktif.

Adalah penting untuk mengetahui bahwa emosi berkaitan erat dengan pikiran dan perbuatan.

Emosi berhubungan dengan pikiran. Di dalam Filipi 4:4-7, Paulus menulis waktu ia di penjara. Ia memunyai alasan kuat untuk berkecil hati, tetapi ia berkata, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! ... Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Pikiran Paulus jelas menguasai emosinya.

Kedengarannya bagus, tetapi sebetulnya sulit menyuruh diri kita sendiri untuk tidak cemas, tidak marah, atau tidak kuatir. Dalam sebagian besar kasus, hal itu tidak berhasil. Jika saya sedih dan seseorang mengatakan, "Anda tidak perlu sedih," saya tidak akan mulai merasa gembira seberapa kerasnya pun saya berusaha. Kita dapat saja berdiri dan bernyanyi di gereja, "Meski banyaklah gelisah, lagi hati gemetar. Lari saja pada Yesus, Sobat kita yang benar," tetapi kita pulang tetap dengan rasa kecil hati. Lalu dari situlah muncul perbuatan.

Emosi berkaitan dengan perbuatan. Kita perlu menyadari bahwa pikiran dan perbuatan berjalan bersama-sama. Sewaktu Rasul Paulus menyuruh orang-orang Filipi untuk bersukacita dan tidak usah kuatir, ia memberi tahu apa yang perlu mereka kerjakan. "Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang." (ayat 5) Berdoalah. Naikkanlah ucapan syukur. Maka akan timbul damai sejahtera.

Ada saatnya ketika kasih lebih merupakan perbuatan daripada emosi. Kadang-kadang perasaan kasih itu menghilang, dan untuk mengembalikannya, Saudara harus melakukan perbuatan-perbuatan kasih. Saya mengenal seorang ibu yang benar-benar menjadi benci kepada anak laki-lakinya. Ibu itu selalu mengeluh kepada anaknya, selalu memarahinya, selalu meledak amarahnya melihat anak itu. Suatu hari si ibu berubah dan berkata, "Tuhan, tolonglah aku untuk melihat apa yang baik pada anakku. Tolonglah aku untuk mengatakan apa yang baik dan bukan mengomel setiap saat." Ibu itu tidak langsung merasakan adanya perubahan pada diri anaknya, tetapi dia sendiri mengubah tindakannya. Dan pada waktu ia mulai mengatakan hal-hal yang positif kepada anaknya, anaknya pun mulai menanggapi secara lebih positif. Maka tidak perlu lagi si ibu marah-marah, karena tabiat anaknya berubah. Perbuatan yang penuh kasih dari si ibu membangkitkan emosi yang penuh kasih pula pada kedua belah pihak.

Tindakan lain yang akan menolong mengatur emosi adalah membicarakan masalah-masalah dengan seseorang yang kiranya dapat membantu kita memandang berbagai hal dari sudut yang benar. Kita juga dapat berbicara dengan Tuhan, mengendalikan emosi-emosi kita dengan doa. Kita bisa meminta Tuhan menolong kita, atau -- dan hal ini justru lebih efektif -- kita dapat mencari sesuatu yang baik di tengah situasi itu dan mengucap syukur atasnya.

Humor juga sangat bermanfaat. Lihatlah segi yang lucu dari persoalan yang Saudara hadapi. Cobalah untuk tidak bersifat sinis. Penyelidikan menunjukkan bahwa sifat sinis dapat berakibat fatal. Terus-menerus memusatkan perhatian pada hal yang negatif dapat mengganggu fisik Saudara dan bahkan dapat menimbulkan serangan jantung dan penyakit-penyakit lainnya. Tetapi "hati yang gembira adalah obat yang manjur." (Amsal 17:22)

Kunci yang paling efektif untuk mengendalikan emosi kita adalah dengan pikiran maupun perbuatan. Hal ini merupakan kesadaran kita tentang betapa besarnya kita telah diberkati, disatukan dengan perbuatan mengucap syukur atas berkat-berkat yang kita terima itu. Rasa syukur adalah sikap yang hendaknya kita miliki, baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama kita. Rasa syukur dapat mengubah sudut pandangan kita pada situasi apa pun. Bila kita bersyukur, kita berhenti melihat pada persoalan-persoalan kita semata-mata dan akan mulai memerhatikan berkat-berkat yang telah Tuhan berikan kepada kita. Bila kita bersyukur, semua emosi kita terkendali.

Sumber
Halaman: 
370 -- 372
Judul Artikel: 
Pola Hidup Kristen
Penerbit: 
Gandum Mas, Yayasan Kalam Hidup dan YAKIN 2002

Komentar