Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Bagaimana Seharusnya Orang Kristen Memandang Ujaran Kebencian?

Edisi C3I: e-Konsel 414 - Menyikapi Ujaran Kebencian

Apa yang Alkitab Katakan?

Tidak ada definisi universal resmi mengenai ujaran kebencian. Umumnya, ujaran kebencian merupakan komunikasi yang digunakan untuk secara sengaja menyakiti kelompok apa pun yang ada, termasuk kelompok-kelompok yang dikategorikan berdasarkan etnis, gender, orientasi seksual, atau agama. Tanggapan orang Kristen bergantung pada definisi yang mana yang digunakan untuk mengartikan ujaran kebencian itu.

Komunikasi yang digunakan untuk menghasut kebencian, kekerasan, dan/atau tindakan prasangka.

Komunikasi kebencian

Alkitab mengatakan bahwa orang Kristen dipanggil untuk berdamai (Matius 5:9; 1 Korintus 7:15). Kita seharusnya tidak mencoba untuk meningkatkan kebencian maupun kekerasan dalam atau terhadap suatu kelompok. Meski demikian, "tindakan berprasangka" merupakan argumen yang buruk. Jika pilihannya adalah antara kebebasan mutlak dan standar Allah, kita seharusnya mengikuti standar Allah.

Menggunakan kata-kata untuk menghasut orang lain untuk membenci orang-orang tidak percaya merupakan hal yang salah, tetapi mengizinkan orang-orang tidak percaya tersebut menggunakan kebebasan beragama yang bertentangan dengan hak asasi manusia, seperti membunuh demi kehormatan/pahala dan pernikahan di usia dini, juga merupakan hal yang salah.

Ujaran yang bertujuan menghina suatu kelompok masyarakat atau menyakiti perasaan mereka.

Roma 12:18 berkata, "Jika mungkin, sekiranya hal itu tergantung padamu, hiduplah berdamai dengan semua orang." Meski kita tidak berusaha untuk menyerang, prioritas kita adalah pada kebenaran. Menghidupi iman kita seharusnya dilakukan dengan kepekaan tanpa mengorbankan fakta dan kebenaran alkitabiah.

Ketika berkunjung ke suatu negara kerajaan, tidaklah pantas untuk bersikap menghina atau tidak menghormati raja di negara itu. Namun, sebagai orang percaya, kita harus mengingat bahwa Yesus adalah Raja kita yang sejati.

Ujaran yang merendahkan suatu kelompok.

Semua orang diciptakan serupa dengan gambar Allah (Kejadian 1:27). Yesus secara khusus mengatakan bahwa kita tidak dipanggil untuk merendahkan orang lain (Matius 5:22).

Menyatakan bahwa suatu kelompok dan anggotanya memeluk kepercayaan yang tidak benar dan tidak alkitabiah merupakan hal yang wajar, tetapi menyebut mereka bodoh tidaklah demikian.

Komunikasi yang membenarkan, menyangkal, atau meremehkan penghinaan yang telah dilakukan kepada suatu kelompok.

Menilai rasa sakit dari suatu kelompok ketika kita tidak mengetahui sendiri tentang apa yang telah mereka alami merupakan hal yang bodoh. Ditambah lagi, bersikeras bahwa penghinaan yang mereka alami tidak pernah terjadi bisa berarti ketidaktahuan yang disengaja atau bahkan kebohongan yang bersifat terang-terangan.

Meremehkan atau menyangkal bagaimana kaum homoseksual telah dilukai dengan perkataan yang sembarangan atau jahat dari orang Kristen merupakan hal yang salah; mengakui dan meminta maaf atas penghinaan yang disebabkan oleh reaksi yang tidak saleh terhadap dosa tidak hanya dimungkinkan, tetapi juga merupakan hal yang baik.

Memaki-maki

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa orang Kristen seharusnya mengasihi sesamanya (Matius 22:37-40), tidak membicarakan atau bersikap kepada mereka dengan penuh kebencian. Masalahnya muncul dikarenakan pengertian masyarakat mengenai "kebencian". Kita harus menghargai, mengampuni, dan berdamai, tetapi kita tetap harus menyuarakan kebenaran. Ujaran yang paling membangkitkan kebencian yang dapat dilakukan oleh orang Kristen adalah ujaran yang mendorong orang lain untuk lebih menjauh dari kebenaran dan kasih Allah.

Ini membawa kita kepada sisi mata uang yang lain. Hal yang tak terelakkan dari dunia yang sudah berdosa ini adalah bahwa mereka yang menolak Allah akan menyampaikan penolakan tersebut dalam cara yang akan merendahkan pengikut-Nya. Yesus memberi tahu kita untuk bersiap terhadap penganiayaan (2 Timotius 3:12), yang merupakan tanda bahwa kita adalah pengikut-Nya (Yohanes 15:18-19). Akan tetapi, Dia juga memberi kita sebuah contoh tentang bagaimana kita seharusnya menanggapi: "Ketika Ia diejek, Ia tidak membalas dengan ejekan; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi menyerahkan diri-Nya kepada Allah yang akan menghakimi dengan adil" (1 Petrus 2:23). Demikian juga, Yesus memberi tahu kita jika seseorang mengejek kita, kita seharusnya menanggapinya dengan lemah lembut dan tanpa menyerang (Matius 5:38-39).

Alkitab memberi tahu kita alasannya: "Pelayan Tuhan haruslah tidak bertengkar, tetapi ramah dengan semua orang, terampil mengajar, dan sabar, dengan lembut mengoreksi lawannya. Semoga Allah menganugerahi mereka pertobatan yang menuntunnya kepada pengetahuan akan kebenaran supaya mereka menjadi sadar dan melepaskan diri dari jebakan Iblis yang telah menawan mereka untuk menjalankan keinginannya" (2 Timotius 2:24-26). Setiap kata yang kita ucapkan dan setiap reaksi yang kita nyatakan melalui perkataan kita harus diukur untuk mencapai tujuan ini: membawa yang lain menuju pengertian akan kebenaran. (t/Rode)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Compelling Truth
Alamat situs : https://www.compellingtruth.org/Bible-hate-speech.html
Judul asli artikel : How should Christians view hate speech? What does the Bible say?
Penulis artikel : Compelling Truth
Tanggal akses : 14 Desember 2017

Komentar