Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bagian C: Pernikahan dan Masalahnya

Pernikahan dan Masalahnya
Latar Belakang

Ketika dua kehidupan dipersatukan bersama dalam suatu hubungan intim jangka panjang, sewaktu-waktu akan muncul masalah. Banyak pasangan memasuki pernikahan dengan sedikit saja persiapan untuk menghadapinya. Kadang-kadang mereka kurang memiliki kedewasaan emosional, kemantapan atau keluwesan, yang harus dimiliki dalam pasangan yang berhasil.

Apa sajakah unsur-unsur pembentuk suatu pernikahan yang baik?
  • Saling menghormati.

    Menghormati berarti masing-masing menerima pasangannya sebagaimana adanya, tidak berusaha memperalat dan dengan tidak mementingkan dirinya sendiri, membantu pasangannya untuk bertumbuh sesuai dengan yang Allah maksudkan. Sikap menghargai tadi, membedakan antara yang ideal dari yang merupakan kenyataan, serta tidak menuntut terlalu banyak. "Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya." (Ef 5:33).

  • Penyerahan diri yang tulus.

    Hakekat janji yang diucapkan dalam pemberkatan nikah ialah penyerahan diri secara tulus, satu kepada yang lain, sambil meninggalkan segala hal lainnya. Alkitab berkata, "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." Waktu dan pengalaman membuktikan bahwa "menjadi satu daging" dalam pernikahan, tidak berarti pelepasan kepribadian atau hak-hak pribadi. Justru penyerahan diri akan memperkaya kepribadian keduanya.

  • Komunikasi yang baik.

    Agar dapat berkomunikasi, harus ada pengertian tentang perbedaan-perbedaan emosional, mental dan jasmani, antara pria dan wanita. Perlu dikembangkan suasana persahabatan. "Lebih baik bersama teman hidupku, dari pada dengan orang lain." Harus terjadi percakapan, bukan saja berdiskusi ketika muncul perbedaan, tetapi pertukaran informasi yang berarti baik dalam tingkat intelektual maupun emosional.

  • Waktu dan Usaha.

    Kasih harus diberi kesempatan untuk mendewasa. Suasana untuk itu, terdapat dalam Firman Tuhan. Ketika perjalanan hidup menjadi berat, pasangan tersebut tidak "membuang cinta" mereka; tetapi mereka bertahan bersama dan berusaha menyelesaikannya. Mereka tidak menganggap diri mereka "korban" dari "salah perhitungan", tetapi "teman pewaris kasih karunia". (1Pet 3:7). "Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya." (Ef 5:33).

    Masalah dan perbedaan diselesaikan melalui pengampunan "Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Ef 4:32).

    Kalimat-kalimat berikut perlu dihayati oleh pasangan-pasangan yang ingin agar pernikahannya terpelihara:

    Aku sudah bersalah. Aku menyesal. Maafkan aku. Aku mengasihi engkau.

  • Kesatuan rohani.

    Mengerti dimensi rohani dalam pernikahan, membawa dampak yang dalam. Paulus membandingkan pernikahan -- kesatuan suami dan istri -- dengan hubungan kekal Kristus dan Gereja. (Lihat Ef 5:22-33).

"Pernikahan yang sempurna adalah kesatuan antara tiga pribadi -- seorang pria, seorang wanita dan Allah! Inilah yang membuat pernikahan menjadi kudus. Iman dalam Kristus adalah bagian terpenting dari semua prinsip penting lainnya untuk membangun suatu pernikahan dan rumah tangga yang bahagia."

Komentar