Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bakat

Kita mungkin akan lalai dalam menekankan kekurangan dalam kecerdasan tanpa melihat ekstrem satunya dalam kecerdasan. Mungkin 3 sampai 5 persen anak-anak termasuk kategori "berbakat" dengan IQ mendekati puncak skala. Sering kali mereka dipaksa untuk tinggal bersama teman sebaya, sehingga mereka bosan, frustasi, dan bahkan gagal.

Secara tradisional anak-anak kadang-kadang diizinkan untuk melompat kelas, satu atau dua tingkat ke atas karena kecepatan belajar mereka yang luar biasa. Namun akibatnya, mereka bisa mengalami problem sosial karena kemajuan dalam keterampilan dan kedewasaan tidak secara otomatis menyertai kemajuan akademis. Beberapa sekolah menyediakan kelas khusus untuk anak-anak ini, yang sering kali menekankan kreativitas dan individualitas. Namun, isolasi dari arus utama para murid ini bisa menciptakan stigma sendiri. Kelas terpisah juga bisa menghilangkan tekanan dari anak-anak yang lebih berbakat, yang bisa memberi dorongan pada anak-anak dengan kemampuan rata-rata. Kita akui memang tidak mudah untuk menjawab dilema apa yang terbaik untuk anak berbakat, tetapi tampaknya merupakan hal yang memalukan untuk tidak mengambil keuntungan yang lebih besar bagi mereka yang berbakat ini.

Tentu saja istilah "berbakat" bisa memiliki arti lain juga. Myers dan Jeeves (1987, 106-107) telah mencatat ahwa konsep Kristen tentang bakat mengacu pada tempat khusus pada tubuh Kristus yang dimiliki orang percaya. Setiap orang Kristen diberi karunia khusus dalam pengertian ini. Paulus mencatat sejumlah karunia dalam suratnya, seperti mengajar, administrasi, membedakan, menggembalakan, melayani, dan bernubuat.

Namun, ada dua arti "berbakat" yang saling tumpang tindih. Karunia-karunia rohani menyiratkan keunggulan yang dimiliki oleh setiap orang Kristen yang bisa dikembangkan lebih lanjut, namun adanya karunia khusus itu menunjukkan fakta bahwa tidak semua orang memiliki karunia yang sama. Myers dan Jeeves mencatat, keunggulan menuntut prioritas yang berbeda untuk orang yang berbeda. Namun, tujuan adanya karunia dalam tubuh Kristus atau gereja adalah agar hal itu dipraktikkan secara harmonis untuk kebaikan bersama. Persamaan karunia yang absolut tidak pernah tersirat dalam Alkitab. Kita semua wajib mendorong penggunaan karunia rohani dan tidak merendahkan orang yang memiliki karunia yang berbeda. Kita semua diberi karunia, bahkan sekalipun karunia itu bukan karunia dalam kecerdasan!

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Sumber
Halaman: 
177 -- 179
Bab: 
Kecerdasan
Judul Artikel: 
Bakat
Judul Buku: 
Pengantar Psikologi & Konseling Kristen I
Pengarang: 
Paul D. Meier, M.D., dkk.
Penerbit: 
PBMR) ANDI
Kota: 
Yogyakarta
Tahun: 
2004

Komentar