Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Berbalik Kepada Allah

Fakta 1 - Dosa dan Hukumannya

Fakta pertama menyatakan bahwa manusia sudah jatuh dalam dosa. Jadi, sudah semestinya kita berkata, "Saya telah berbuat dosa dan patut menerima hukuman kekal." (Roma 3:23; Roma 6:23; Yesaya 59:2; Yesaya 53:6) Dosa berarti berada di bawah standar Allah yang Mahasuci dan Mahaadil. Upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Maut adalah perceraian dengan Allah (Yesaya 59:2). Oleh karena setiap orang telah berbuat dosa, maka ia hidup "terpisah" dari Allah dan kasih-Nya untuk selama-lamanya.

Setelah orang-orang yang Saudara layani menyadari dosa-dosanya, ajaklah mereka membaca satu ayat dari Alkitab dan gunakan ayat tersebut sebagai pedoman. Kalau hal dosa belum jelas bagi konseli Saudara, berikan penjelasan lebih lanjut tentang perintah Allah (Keluaran 20 dan Matius 5). Jika konseli Saudara tidak mau menyadari atau mengakui dosanya, ajaklah dia menilai dirinya sendiri. Apakah dia sudah bisa memenuhi perintah-perintah Allah? Kalau tidak, berarti dia tidak memenuhi standar Allah, dan ia termasuk golongan orang berdosa. Kalau konseli Saudara belum merasa gelisah atau berdukacita karena dosanya, maka Saudara perlu memberikan penjelasan lebih mendalam tentang pengertian dosa ini (2 Korintus 7:8-10). Bimbingan tidak dapat diteruskan kepada fakta kedua sebelum ia "bertobat."

Fakta 2 - Usaha Manusia Itu Sia-Sia Adanya

Setelah konseli Saudara bertobat, dia mungkin berkata, "Saya tidak sanggup melepaskan diri saya dari hukuman maut" (Efesus 2:8-9; Roma 3:20; Yohanes 14:6). Pada umumnya, pikiran manusia sangat bertentangan dengan Injil Kristus. Mereka semua ingin memperoleh keselamatan, tetapi karena akalnya telah dinodai oleh dosa, maka mereka mencari keselamatan dengan cara yang salah. Mereka pikir ada usaha yang dapat membawa mereka kembali kepada jalan Allah. Contohnya, orang muda yang kaya dalam Markus 10:17,22. Jiwanya haus akan keselamatan sehingga ia tergesa-gesa meminta nasihat dari Yesus. Segala perbuatannya yang salah itu tidak bisa memuaskan kehausan jiwanya. Tetapi ia tidak bertanya demikian: "Bagaimanakah caranya supaya saya dapat memperoleh hidup yang kekal?" Sama sekali tidak! Sebab ia memunyai maksud yang lain. Ia bertanya: "Apakah yang patut hamba perbuat?" Dalam pemikirannya, segala sesuatu harus berkisar pada usahanya sendiri. Mata rohaninya telah kabur, sehingga ia tidak dapat mengerti maksud Tuhan Yesus. Setelah mendengar jawaban Yesus, orang muda itu pergi. Ia tidak bersedia melakukan apa yang Yesus perintahkan -- menjual harta bendanya. Setelah pemuda itu pergi, dengan sedih Yesus menerangkan kepada kedua belas murid-Nya, bahwa keselamatan adalah mustahil untuk diusahakan oleh manusia; keselamatan hanya dapat disediakan oleh Allah (Markus 10:27).

Kalau kita meninjau kembali arti "dosa", tampaklah bahwa segala usaha manusia untuk melepaskan diri dari dosa adalah sia-sia. Manusia sudah mutlak kalah terhadap syarat-syarat yang ditentukan oleh Allah. Seandainya tidak ada anugerah, maka tidak ada juga keselamatan. Allah tidak dapat ditipu. Meskipun seseorang menonjolkan segala perbuatan baiknya, Allah memunyai mata yang tajam dan dapat melihat setiap kejahatan yang telah disembunyikan di belakang tirai kesalehan itu (1 Samuel 6:7b).

Fakta 3 - Yesus Adalah Jalan

Selanjutnya biarkan konseli Saudara berkata, "Yesus adalah satu-satunya jalan kebenaran bagi saya, karena Ia telah menjadi pengganti saya untuk dihukum pada salib itu" (Roma 5:8; 1 Petrus 2:24; 1 Petrus 3:18).

Saudara harus percaya bahwa Allah mengasihi Saudara apa adanya. Saudara juga harus ingat bahwa Allah Mahasuci dan Mahaadil. Allah tidak akan membiarkan utang dosa seseorang begitu saja. Kalau Allah tidak menuntut upah dari dosa kita (maut) yang telah ditetapkan-Nya sendiri, Ia bukan "Allah yang benar". Haruslah ada pembayaran terhadap "utang" manusia itu.

Karena Allah adalah Kasih, maka Yesus menjelma menjadi manusia. Yesus datang untuk menebus manusia. Arti "menebus" adalah menyediakan jalan keluar bagi manusia yang tak berdaya. Dengan cara yang sukar untuk kita mengerti, Yesus telah memenuhi kesucian dan keadilan Allah dalam kematian-Nya di kayu salib. Dengan demikian, manusia dibebaskan dari hukuman kekal (Yohanes 3:16; Roma 5:8).

Ketika Saudara sedang membimbing seseorang, jangan bicarakan unsur-unsur yang lain kecuali Yesus. Setiap jalan pemikiran yang tidak menuju kepada penerimaan Yesus harus dihindarkan. Hanya ada dua perkara yang terpenting di sini, yaitu:

1. Yesus adalah Sang Penebus.

2. Yesus menawarkan pengampunan dosa dan keselamatan.

Adakalanya orang yang dilayani, akan menjadi sedikit takut dan akan menunda keputusan. Ia akan mencari jalan keluar seperti membicarakan ajaran-ajaran Kristus, gereja, kelakuan orang-orang Kristen dan sebagainya. Tetapi hal-hal seperti ini, tidak akan menempelak hati kecilnya. Hanya berita tentang pengorbanan Yesus di kayu salib yang berkuasa mendukakan hatinya. Karena itu janganlah Saudara masuk ke dalam perangkap suatu percakapan agama. Hanya Yesus yang dapat melaksanakan tugas penebusan itu, karena Yesus memiliki dua hal yang istimewa, yaitu:

1. Yesus bukan hanya manusia saja. Ada dua tabiat yang tergabung dalam diri Yesus yaitu kemanusiaan dan keilahian. Dengan keilahiannya Ia sanggup mengerjakan sesuatu bagi seluruh umat manusia.

2. Hanya Yesus yang pernah hidup tanpa dosa, sehingga Ia tidak memperoleh hukuman atas diri-Nya (Yohanes 14:6; Kisah Para Rasul 4:12).

Fakta 4 - Menerima Yesus

"Untuk memperoleh keselamatan yang telah Yesus sediakan, saya harus menerima Dia secara pribadi" (Yohanes 1:12; Wahyu 3:20).

Menyadari fakta-fakta di atas tetapi tidak menerimanya adalah seperti seseorang yang telah menerima hadiah di tangannya, tetapi tidak membukanya -- Ia hanya memandang bungkusan yang indah, tetapi tidak mengetahui isinya. Sebelum hadiah Injil itu dia buka, si penerima Injil masih menjadi orang yang sesat. Akan tetapi, setelah dia membukanya, ia bisa menikmati isinya yaitu pengampunan dosa, pembaruan hidup, dan hidup yang kekal. Langkah penerimaan inilah yang akan membukakan semua anugerah kepada seseorang.

Namun, "penerimaan" bukanlah suatu "penyerahan." Penyerahan berarti bahwa seseorang yang telah didiami oleh Roh Kudus dan memutuskan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada-Nya. Dari segi disiplin pribadinya, ia melepaskan ikatan-ikatan duniawi yang mengelabui mata rohani. Penyerahan itu memungkinkan pengendalian dan penyesuaian pola hidupnya.

Gunakanlah urutan yang tepat ini dalam setiap pelayanan Saudara. Ajaklah seseorang yang berdosa untuk menerima Yesus sebagai sumber pengampunan dosa. Ajaklah anak-anak Allah agar "menyerahkan diri" untuk pekerjaan Tuhan. Dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita didamaikan dengan Allah.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Penginjilan dan Pelayanan Pribadi
Judul asli artikel : Menjelaskan Jalan Keselamatan
Penulis : W. Stanley Heath, Ph.D., M.Div
Penerbit : Yakin, Surabaya
Halaman : 33 -- 40

Komentar