Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Bukti-Bukti Pengorbanan Yesus

Edisi C3I: e-Konsel 288 - Pengorbanan Yesus

Pengorbanan Yesus di atas kayu salib adalah bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan atau kecelakaan. Namun, hal ini telah direncanakan sebelumnya oleh Allah Tritunggal dalam kekekalan. Bahkan, pengorbanan Yesus juga dapat dibuktikan kebenarannya. Dalam Perjanjian Lama, bukti tentang kelahiran Yesus (Yesaya 7:14; Mikha 5:2), kehidupan (Yesaya 40:3; 61:1) dan bahkan kematian-Nya (Mazmur 22; Yesaya 52-53) dijelaskan dalam nubuat-nubuat maupun ibarat.

1. Nubuat Mengenai Yesus Sebagai Mesias

Kejadian 3:15, yang dikenal sebagai protevangelium [Injil apokrifa yang ditulis kira-kira 145 M, yang menceritakan kelahiran dan kehidupan Maria, Ibu Yesus] adalah nubuat pertama tentang Kristus. Dikatakan bahwa akan ada permusuhan antara setan dengan keturunan Adam, dan hal ini dibuktikan dengan frasa "keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Frasa ini menunjuk kepada kelahiran Yesus sebagai Mesias dari keturunan Adam, yang akan datang ke dalam dunia dan menyelamatkan manusia dari dosa. Yesus akan mengalahkan setan, tetapi Yesus harus masuk dalam penderitaan-Nya sebagai Mesias yang datang menebus umat-Nya.

Dalam Mazmur 2:2, sebutan "Mesias Yehova" ditunjukkan kepada seorang raja mesianis. Inilah penggunaan kata mesianik terkenal yang menonjol dalam Perjanjian Lama. Raja yang akan datang itu adalah Anak Allah, sekaligus yang diurapi yang akan memerintah atas nama Allah dan atas seluruh dunia. Daniel 9:26 juga bersifat mesianis, karena ayat ini membicarakan "Dia yang akan diurapi". Para kritikus konservatif memandang hal ini sebagai satu nubuat tentang Kristus.[1]

Sebagian besar tokoh nubuat mesianis Perjanjian Lama yang menonjol yang mewarnai Yudaisme yang terkemudian adalah Yesaya. Dalam kitab Yesaya, nubuat tentang pribadi, sifat dan pekerjaan Yesus sebagai Mesias sangat menonjol dijelaskan. Cara Yesaya yang terus terang ketika menyatakan penderitaan dan kerajaan Mesias, telah secara mutlak membuktikan bahwa Yesus itulah yang dimaksudkan dalam nubuat-nubuat para nabi. Itu sebabnya, sangat tepat jika Clarence H. Benson, Litt. D. mengatakan bahwa, "Yesaya seorang 'nabi penginjil' dan kitabnya kadang-kadang disebut Injil yang kelima."[2] Yesaya 1:14 menjanjikan suatu tanda untuk raja Ahaz yang tidak percaya. Nubuat itu berkenaan dengan seorang anak dara yang akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan disebut Imanuel, yang berarti Allah beserta kita. Ayat ini memiliki penggenapan yang dekat dan jauh: pada masa akan datang yang segera digenapi dengan kelahiran Maher-shalal-hash-baz (Yesaya 8:3), dan penggenapan yang akan datang yang lebih jauh adalah kelahiran Yesus Kristus (Matius 1:23).[3]

Nubuat tentang Yesus sebagai Mesias secara jelas digambarkan dalam Yesaya 9, 11, dan 53:10-12. Meskipun ia tidak menyebut "Mesias", tetapi ia adalah seorang raja dalam garis keturunan Daud yang secara supernatural "akan menghajar bumi dengan perkataan-Nya seperti tongkat, dan dengan nafas mulut-Nya ia akan membunuh orang-orang fasik" (Yesaya 11:14). Ia akan membersihkan dunia orang berdosa, mengumpulkan orang-orang Israel yang setia, dan memerintah untuk selama-lamanya dari takhta Daud atas dunia yang telah berubah.[4]

Zakharia menggambarkan raja itu sebagai orang yang telah mendapatkan kemenangan dan pendamaian untuk anak-anak Yerusalem. Ia akan memasuki Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai dalam sorak kemenangan dan akan meniadakan perang, membawa pendamaian kepada bangsa-bangsa dan akan memerintah di atas seluruh bumi (Zakharia 9:9-10).

2. Nubuat Mengenai Yesus Sebagai Hamba Allah yang Menderita

Konsep Hamba Allah berasal dari Nyanyian tentang Hamba dalam kitab Yesaya. Jadi, perikop-perikop dalam Yesaya itu merupakan titik tolak yang jelas untuk menelusuri keterangan latar belakangnya (Yesaya 41:8-20; 42:1-9; 49:1-7; 52:13; dan 53:12).

Nabi Yesaya dengan begitu gamblang mengatakan bahwa Tuhan Yesus harus melewati jalan salib yang penuh dengan penderitaan, aniaya, serta puncaknya kematian di bukit Golgota semata-mata untuk menanggung penyakit manusia. Penyakit yang dimaksudkan di sini adalah penyakit dosa. Nabi Yesaya dalam nubuatnya tentang hamba Tuhan yang menderita menyatakan bahwa kesengsaraan yang dialami oleh Yesus adalah juga kesengsaraan manusia.

Hamba Allah yang menderita dalam Yesaya 53:1-12 ditujukan kepada penderitaan Yesus Kristus untuk orang lain, yaitu untuk menebus dosa-dosa manusia. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Hamba yang taat itu diperlakukan secara buruk oleh manusia, hingga mencapai puncak kesengsaraan-Nya, yaitu kematian-Nya sebagai pengganti manusia. Hal itu dicapai ketika Ia dibawa "seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian." Sebagai anak domba, Ia menderita dengan sabar. Ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Namun, nabi Yesaya juga menubuatkan bahwa setelah Hamba Tuhan yang menderita itu menyelesaikan tugas yang diembankan oleh Allah kepada-Nya, maka Ia akan mengalami kemenangan yang luar biasa. Penderitaan Tuhan Yesus di atas kayu salib yang harus Ia lalui ternyata membawa kepada satu titik puncak, yaitu penaklukan kuasa dosa yang telah menaklukkan manusia.[5]

Catatan:

[1] E.J. Young, The Prophecy of Daniel (1949), 206-207. Dikutip oleh George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru Jilid I, terj. Urbanus Selan dan Henry Lantang (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002), 179.
[2] Clarence H. Benson, Litt. D, Pengantar Perjanjian Lama: Puisi dan Nubuat: Ayub-Maleakhi (Malang: Gandum Mas, 1983), 39.
[3] Enns, Buku Pegangan, 265.
[4] Ladd, Teologi PB 1, 180.
[5] Gunawan, ôImplikasi Via Dolorosa,ö 89.

Diambil dan disunting seperlunya dari dari:

Nama situs : SuitelaJoseph.blogspot.com
Alamat URL : http://suitelajoseph.blogspot.com/
Judul bab : Pengorbanan Yesus adalah Suatu Keniscayaan
Penulis : Joseph Suitela, S.Th
Tanggal akses : 6 Maret 2012
Catatan : Anda juga dapat membaca artikel ini di situs Paskah < http://paskah.sabda.org/buktibukti_pengorbanan_yesus >.

Komentar