Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Fokus C3I September 2014 -- Mengampuni di Tengah Kepahitan

Fokus C3I September 2014 -- Mengampuni di Tengah Kepahitan

Menyimpan dendam dan amarah selama bertahun-tahun mungkin dialami oleh banyak orang Kristen. Sekalipun sudah mengenal kasih Kristus, nyatanya masih ada begitu banyak orang yang sulit mengampuni sesama karena suatu kesalahan tertentu. Pada dasarnya, setiap manusia telah jatuh dalam dosa, dan oleh karenanya membutuhkan pemulihan. Hanya di dalam Kristus, kita beroleh pengampunan dan dimampukan untuk mengampuni orang lain. Artikel-artikel dalam Fokus C3I kali ini kiranya dapat menolong kita semua untuk memahami bahaya kepahitan hidup dan makna pengampunan oleh karena kasih Kristus.

Menyimpan dendam dan amarah selama bertahun-tahun mungkin dialami oleh banyak orang Kristen. Sekalipun sudah mengenal kasih Kristus, nyatanya masih ada begitu banyak orang yang sulit mengampuni sesama karena suatu kesalahan tertentu. Pada dasarnya, setiap manusia telah jatuh dalam dosa, dan oleh karenanya membutuhkan pemulihan. Hanya di dalam Kristus, kita beroleh pengampunan dan dimampukan untuk mengampuni orang lain. Artikel-artikel dalam Fokus C3I kali ini kiranya dapat menolong kita semua untuk memahami bahaya kepahitan hidup dan makna pengampunan oleh karena kasih Kristus.

Ketika Susah Mengampuni

Edisi C3I: e-Konsel 215 - Pengampunan

Kita harus ingat, mengampuni bukanlah suatu perasaan tetapi suatu keputusan -- suatu tindakan berdasarkan niat. Kau memutuskan untuk mengampuni, baik suka atau tidak. Kau menyediakan kerelaan, Allah akan memberikan kekuatan. Beberapa orang berpikir bahwa kekristenan memberikan standar yang tidak mungkin bagi orang-orang percaya untuk mengampuni mereka yang telah menyakiti mereka. Tetapi bagi Allah "tidak ada yang mustahil." Ada tiga alasan utama mengapa kita sulit untuk mengampuni. 1. Tidak sadar

Kita harus ingat, mengampuni bukanlah suatu perasaan tetapi suatu keputusan -- suatu tindakan berdasarkan niat. Kau memutuskan untuk mengampuni, baik suka atau tidak. Kau menyediakan kerelaan, Allah akan memberikan kekuatan.

Beberapa orang berpikir bahwa kekristenan memberikan standar yang tidak mungkin bagi orang-orang percaya untuk mengampuni mereka yang telah menyakiti mereka. Tetapi bagi Allah "tidak ada yang mustahil."

Ada tiga alasan utama mengapa kita sulit untuk mengampuni. ... baca selengkapnya »

Perspektif Psikologis: Pengampunan

Pengampunan adalah sesuatu yang tak ternilai harganya. Pengampunan membebaskan, menyembuhkan manusia dari segala macam perasaan yang merugikan, seperti marah, kecewa, benci, dendam, sakit hati dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Di samping itu, realitanya pengampunan merupakan sesuatu yang tidak mudah dilakukan. Ada proses yang harus dijalani untuk seseorang bisa mengampuni atau menerima pengampunan dengan benar. ... baca selengkapnya »

Sumber
Halaman: 
2 - 4
Judul Artikel: 
Parakaleo, Oktober Desember 2005, Vol. XII, No. 4
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Paul Gunadi Ph.D., Yakub B.Susabda Ph.D., Esther Susabda Ph.D.
Tahun: 
2005

Bahaya-bahaya Kepahitan yang Tak Terampuni

Edisi C3I: e-Konsel 063 - Kepahitan

Ayat Hafalan: Matius 6:14-15; Efesus 4:31-32

Kadang-kadang orang berkata dengan marah, "Dia tidak pantas untuk mendapatkan pengampunan dari saya. Apa yang ia telah lakukan sama sekali tidak dapat diampuni. Faktanya, ia cuma seorang yang tolol." Mungkin benar bahwa orang ini tidak pantas memperoleh pengampunan Anda, namun pertanyaan yang riil adalah: Apakah Anda merindukan kesehatan mental dan fisik? Apakah Anda menginginkan damai di pikiran Anda? atau Apakah Anda menginginkan konsekuensi logis akibat memendam iri hati dan mengabadikan kepahitan Anda?

Marilah kita mulai dengan mengamati amarah itu sendiri. Amarah adalah sebuah reaksi emosional yang membutuhkan energi.

Sumber
Halaman: 
113 - 118
Judul Artikel: 
The Healthy Christian Life - Kehidupan Kristen yang Sehat
Penerbit: 
Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2003

Menghadapi Kepahitan Hidup

Hidup tidak selamanya berjalan lurus, kadang kita harus melalui berbagai-bagai masalah. Di antara masalah-masalah tersebut ada kalanya kita merasa tertekan, terpojok, dilukai, dikecewakan, dan sebagainya. Dan luka itu kadang membekas dalam diri kita, menjadi suatu hal yang traumatis dan menjadi kepahitan dalam hidup kita. Bagaimana kita mengatasi kepahitan hidup tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika kita ingin melepaskannya maka kita harus memberi pengampunan kepada orang yang telah menimbulkan kepahitan tersebut. Pada saat kita berhasil memberi pengampunan, pada saat itulah kita lepas menjadi korban kepahitan.

Sumber
Halaman: 
--
Judul Artikel: 
TELAGA - Kaset T065B (e-Konsel Edisi 011)
Penerbit: 
--

Komentar


Syndicate content