Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Gangguan Kejiwaan

Edisi C3I: e-Konsel 179 - Gangguan Jiwa

Memang telah terbukti bahwa musik dapat menenangkan jiwa, terutama pada saat-saat mengalami stres dan krisis. Hal ini menjadi alasan bagi banyak orang untuk mengembangkan pendekatan konseling yang dikenal sebagai "Music Therapy".

Pada masa mudanya, Daud pernah mendapat panggilan untuk menghadap Raja Saul. Menurut 1 Samuel 16, Raja Saul sedang terganggu jiwanya karena roh jahat yang merasukinya. Penasihat-penasihat raja mengusulkan untuk mencari seseorang yang pandai memainkan kecapi, yang diharapkan dapat menenangkan jiwa raja pada saat-saat raja mengalami gangguan kejiwaan. Daud adalah orang pilihan tersebut, dan ternyata terapi musik itu membawa hasil yang baik.

Pada zaman ini, gangguan yang dialami Saul itu barangkali dapat dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan atau sakit jiwa. Yang menarik, Alkitab juga menceritakan bahwa Daud pun pada suatu kali pernah berlagak pura-pura gila, dan ternyata dia dapat memerankannya dengan baik sekali (1 Samuel 21:12-15). Mungkin Daud belajar tentang "ketidakwarasan" itu dari pengalamannya dengan Saul.

Meskipun demikian, tidaklah benar kalau kita berasumsi bahwa penderita sakit jiwa selalu bertingkah laku aneh dan tidak wajar. Banyak di antara mereka itu ternyata tidak berbeda jauh dari orang-orang yang normal, hanya ... mereka sering kali memunyai persoalan-persoalan hidup yang jauh lebih berat, sehingga tak mampu lagi berpikir dan bertingkah laku wajar. Sering kali, mereka menghadapi perasaan putus asa yang mendalam, kekhawatiran, kebingungan, perasaan gagal, dan rendah diri yang tak dapat dihindari oleh karena persoalan-persoalan yang terlalu berat yang mereka hadapi. Kadang-kadang, mereka terpaksa menyangkali realitas hidup itu dengan masuk dalam alam fantasi, menjadi pecandu obat-obatan dan alkohol. Padahal orang-orang lain dapat menghadapi persoalan yang serupa tanpa reaksi-reaksi tersebut. Jadi, jangan heran kalau ada orang-orang yang menjadi seperti Saul yang begitu hanyut dalam alam ketidaksadaran pada saat-saat tertentu.

Konseling pada Orang-Orang yang Terganggu Jiwanya

Konselor-konselor Kristen umumnya menghadapi empat tantangan dalam pelayanan mereka terhadap orang-orang yang terganggu jiwanya maupun dengan keluarga mereka.

  1. Pengenalan yang benar terhadap gejala-gejala gangguan kejiwaan.

    Sering kali, meskipun gejala-gejalanya sudah sedemikian jelas, tetap pihak keluarga tak mau membawa orang tersebut ke dokter ahli oleh karena merasa malu. Mereka biasanya mencari alasan dengan mengatakan bahwa saudara tersebut sedang tertekan hidupnya, dan itu cuma sementara saja, pasti nanti beberapa waktu kemudian akan sembuh dengan sendirinya. Memang ada kasus-kasus di mana gejala-gejala tertentu dapat hilang dengan sendirinya, tetapi sering kali kebanyakan penderita makin lama makin parah karena penundaan pengobatan tersebut.

  2. Menolong konseli mendapat pengobatan yang semestinya.

    Kadang-kadang, pemimpin gereja bisa memberikan bimbingan konseling yang diperlukan, tetapi ada kasus-kasus di mana mereka harus meneruskan kepada orang lain yang memang profesional dalam bidang tersebut. Kecuali di daerah itu tak ada seorang pun yang profesional, terpaksa mereka harus menolong sebaik mungkin sambil bersandar pada Tuhan yang dapat menyempurnakan pelayanan yang penuh kelemahan, tetapi dialasi oleh motivasi yang murni tersebut.

    Kalau di sana tersedia seseorang yang profesional yang dapat menolong, pemimpin gereja harus bisa mempertimbangkan "yang mana" yang benar-benar terbaik untuk menolong konseli tersebut. Kadang-kadang, ada psikiater dan psikolog yang terbaik, tetapi ada kasus-kasus di mana seorang dokter umum lebih tepat, bahkan mungkin rekan pendeta yang telah mendapat latihan khusus dalam bidang ini paling tepat. Untuk pengambilan keputusan ini, pemimpin gereja harus dapat menjelaskan kepada pihak keluarga konseli, tentang keseriusan gangguan tersebut, kenapa perlu diteruskan ke orang lain, dan merundingkan bagaimana pembiayaan akan ditangani oleh pihak keluarga dan sebagainya.

    Kalau keputusan untuk membawa ke rumah sakit jiwa yang akan diambil, misalnya, keputusan itu harus didasarkan atas persetujuan pihak keluarga, bahkan yang terbaik adalah kalau konseli itu sendiri rela. Kadang-kadang, karena gangguan yang dialami, terpaksa keputusan diambil tanpa persetujuan konseli. Di daerah-daerah tertentu, pengambilan keputusan seperti ini harus disertai prosedur hukum, misalnya lurah atau camat ikut menyetujui dengan memberikan surat resmi, di samping tentunya surat dokter.

    Apa pun juga pengobatan yang akan diambil, seorang konselor harus menjadi sumber penghiburan dan kekuatan bagi konseli maupun segenap keluarganya. Kadang-kadang, masalah memasukkan ke rumah sakit jiwa saja sudah merupakan pergumulan yang berat sekali. Konselorlah yang seharusnya menolong menjernihkan keadaan serta memberikan dorongan dan semangat pada segenap anggota keluarga untuk memilih pengobatan yang dibutuhkan.

  3. Menyediakan pertolongan selama konseli ada di rumah sakit.

    Orang-orang yang menderita, kebingungan, dan kesepian sangat membutuhkan perhatian khusus dari hamba Tuhan. Herannya, justru hamba-hamba Tuhan jarang meluangkan waktu khusus untuk mereka ini, yang mungkin disebabkan oleh kenyataan yang memang sulit sekali dalam menghadapi konseli-konseli yang seperti ini, dan kadang-kadang tidak mengetahui apa yang mesti dikatakan dan diperbuat, bahkan kepada keluarganya sekalipun hamba-hamba Tuhan merasa kehilangan bahan untuk disampaikan.

    Sebenarnya kita dapat melakukan kunjungan seperti halnya kepada pasien-pasien yang lain. Hanya mungkin benar, bahwa untuk kasus- kasus seperti ini, kunjungan singkat lebih baik, terutama yang membawa suasana kegembiraan, mengajak berdoa, atau membaca sebagian dari Alkitab (jangan membaca ayat-ayat yang bisa menimbulkan salah pengertian), memberikan pengharapan tanpa janji-janji yang tidak dapat kita tepati, atau tidak dapat kita penuhi, dan tidak melayani percakapan yang arahnya mempersalahkan atau mengkritik orang-orang lain.

    Kadang-kadang, konseli seperti ini tidak mau diajak bicara, tetapi tidak jarang pula dia begitu cerewet, memaki-maki, dan sebagainya. Jangan kita simpan di hati kata-kata makiannya, karena kemungkinan besar itu adalah bagian dari persoalannya. Kerelaan kita dalam berkunjung dan bersedia mendengarkan kata-katanya adalah bagian pengobatan yang sangat penting. Kunjungan ini akan menjadi lebih bermanfaat jikalau kita juga mengadakan waktu untuk bertukar pikiran dengan dokter yang merawatnya, sehingga kita dapat menolong baik konseli maupun keluarganya pada saat konseli dirawat di rumah sakit maupun setelah itu.

  4. Menjadi penolong pada masa-masa kesembuhan.

    Peranan hamba Tuhan sebagai konselor besar sekali setelah konseli kembali dari rumah sakit, karena sumber "tekanan hidup", baik dari keluarga maupun masyarakat, masih ada. Perasaan malu karena pernah dirawat di rumah sakit jiwa juga sering kali menambah tekanan. Hamba-hamba Tuhan dan seluruh jemaat harus dilatih untuk benar-benar bisa menyambut mereka yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik di masyarakat. Ini tidak berarti bahwa mereka boleh dimanjakan atau mendapatkan pelayanan yang istimewa dan berlebih-lebihan. Menolong berarti memperlakukan mereka secara normal sama seperti penderita sakit yang lain yang baru kembali dari rumah sakit. Saran-saran dari dokter sangat penting karena setiap pribadi dengan kasusnya itu unik.

Konseling pada keluarganya

Umumnya seluruh keluarga mengalami krisis pada saat ada anggota keluarga menderita sakit jiwa. Tingkah laku konseli yang aneh, sikap masyarakat terhadap sakit jiwa, beban pengobatan, dan sebagainya biasanya menjadi sumber tekanan hidup bagi seluruh keluarga. Sering kali kegelisahan, kebingungan, dan kesalahpahaman tidak dapat dihindari lagi. Memang bagi keluarga-keluarga tertentu, masa-masa krisis justru bisa mempererat hubungan seluruh keluarga, tetapi bagi keluarga yang lain hal itu menjadi beban berat dan bisa mencerai-beraikan seluruh keluarga. Konselor dapat membantu keluarga-keluarga tersebut melalui beberapa cara.

Menolong mereka menyadari dan menerima kenyataan, bahwa anggota keluarga yang terganggu jiwanya membutuhkan pertolongan dan pengobatan khusus. Sering kali, keluarga penderita bingung dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi, maka di situlah kita sebagai konselor dapat membimbing mereka supaya masing-masing dapat mengutarakan perasaannya, mendiskusikan "mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi", memberikan penghiburan, dan mendorong keluarga tersebut untuk dapat makin bersandar pada Tuhan. Kadang-kadang, perlu juga seluruh keluarga didorong untuk dapat mendiskusikan perasaan mereka terhadap penyakit jiwa dalam keluarga itu, didorong untuk melakukan kunjungan ke rumah sakit pada saat anggota keluarga dirawat di sana, dan mempersiapkan diri untuk menerima dia kembali ke rumah setelah itu. Perlu diingat, bahwa pada saat perawatan di rumah sakit dan saat-saat setelah itu, keluarga tersebut mungkin membutuhkan bantuan makanan atau pun kebutuhan-kebutuhan yang lainnya (Yakobus 2:14-16).

Sekarang bagaimana kalau konselor menghadapi kasus di mana si konseli nampaknya tidak pernah bertambah baik? Herannya, kebanyakan buku dan artikel tentang gangguan kejiwaan sangat optimistis dalam mendiskusikan keberhasilan seorang profesional dalam menolong orang-orang dengan gangguan kejiwaan yang berat. Memang optimisme ini beralasan jikalau melihat hasil-hasil yang pernah dicapai mereka, tetapi fakta bahwa ada pasien-pasien yang berada di rumah sakit jiwa untuk selama-lamanya tidak boleh disangkali. Pasien-pasien ini sering kali tidak peduli pada kunjungan keluarga atau pun perhatian dari gereja, dan akibatnya mereka semakin dilupakan dan dianggap sebagai penderita yang memang tidak dapat disembuhkan lagi. Keluarga harus terus-menerus ditolong untuk memerhatikan mereka di samping fakta kemungkinan adanya pasien-pasien yang barangkali membutuhkan perawatan selama-lamanya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Sumber
Halaman: 
151 -- 156
Judul Buku: 
Konseling Kristen yang Efektif
Pengarang: 
Dr. Gary R. Collins
Penerbit: 
Seminari Alkitab Asia Tenggara
Kota: 
Malang
Tahun: 
1998

Komentar