Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Guru dan Murid Sekaligus

Edisi C3I: e-Konsel 201 - Bahasa Kasih

Pernikahan tidak untuk semua orang. Saya mengamat-amati bahwa ada karakteristik tertentu yang menyulitkan kita untuk hidup dengan orang lain, dan sudah tentu karakteristik seperti ini juga akan menghalangi kita untuk hidup rukun dengan pasangan kita. Salah satu karakteristik yang mutlak diperlukan dalam pernikahan ialah sikap fleksibel.

Sikap fleksibel bukan berarti tidak memunyai pendirian atau dengan kata lain selalu menurut. Sikap fleksibel merupakan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa harus kehilangan dirinya sendiri. Orang yang fleksibel adalah orang yang dapat membedakan antara pendirian dan gaya hidup. Dengan kata lain, orang yang fleksibel adalah orang yang tahu membedakan hal-hal yang hakiki dan hal-hal yang sepele. Pendirian menyangkut nilai moral rohani, sedangkan gaya hidup merupakan kebiasaan yang kita pelajari dari lingkungan.

Sebaliknya, orang yang tidak fleksibel dan kaku tidak mampu membedakan keduanya. Bagi orang yang kaku, segala hal adalah masalah pendirian, termasuk hal-hal yang sebenarnya sepele dan berkaitan dengan gaya hidup saja. Kekakuan merupakan karakteristik yang paling tidak sesuai dengan hidup pernikahan. Orang kaku niscaya gagal menyesuaikan diri dengan pasangannya. Kalaupun ia berhasil mempertahankan pernikahannya, biasanya itu lebih dikarenakan sikap mengalah dari pasangannya. Sikap fleksibel dapat disamakan dengan sikap ingin dan rela belajar. Orang yang telah berhenti belajar adalah orang yang menganggap bahwa dia senantiasa benar dan orang lain salah. Orang seperti ini sukar mengalah dan sukar memahami pasangannya; dia melihat segala sesuatu dari kacamatanya sendiri. Orang fleksibel adalah orang yang rendah hati, sebab tanpa kerendahan hati mustahil kita rela belajar dari pasangan kita. Orang Kristen adalah orang yang telah diselamatkan dan dikuduskan sebel um akhirnya dipermuliakan. Karya penyelamatan Kristus sudah terjadi pada saat kita mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan yang telah mati untuk dosa kita dan kita meminta-Nya untuk menjadi Juru Selamat kita. Pengudusan adalah proses yang tengah berlangsung sejak kita menerima keselamatan sampai kita meninggalkan dunia yang fana ini untuk menerima pemuliaan dari Tuhan. Pengudusan adalah pembentukan -- proses ketika Tuhan menjadikan kita serupa dengan-Nya.

Salah satu sarana yang Tuhan gunakan untuk membentuk kita atau menguduskan kita ialah pernikahan. Di tangan Tuhan, pernikahan menjadi alat yang dipakai-Nya untuk membentuk kita menjadi lebih serupa dengan-Nya. Penyesuaian yang harus kita lakukan agar dapat hidup rukun ternyata menjadi ajang pembentukan supaya kita dapat membuahkan kasih, kesabaran, kemurahan hati, penguasaan diri, dan lain sebagainya (Galatia 5:22-23). Dengan kata lain, orang yang rela belajar dari pasangannya adalah orang yang menunjukkan kesediaannya untuk dikuduskan -- dibuat menjadi lebih serupa dengan Kristus.

Jadi, pernikahan merupakan sebuah sekolah tempat kita saling belajar dan mengajar. Muridnya dan gurunya adalah kita dan pasangan kita; kurikulumnya adalah penyesuaian diri untuk harmonis; tujuan pengajarannya adalah menjadi serupa dengan Kristus; dan keberhasilan kita mencapai tujuan ini diukur oleh keberadaan buah roh dalam hidup kita yaitu kasih, kesabaran, kemurahan hati, dan sebagainya. Setelah lebih dari 17 tahun menikah, ada beberapa materi pelajaran yang telah saya pelajari dari istri saya dalam rangka menyelesaikan kurikulum belajar hidup harmonis.

Pertama, saya belajar untuk mengasihi istri saya dengan benar. Saya belajar bahwa ada perbedaan yang dalam antara memunyai kasih dan memperlakukan seseorang dengan penuh kasih. Tanpa ragu saya berkata bahwa dari dulu sampai sekarang saya mengasihi istri saya dan hal ini saya ketahui berdasarkan adanya kasih itu di dalam hati saya. Masalahnya adalah, apa yang saya ketahui haruslah diterjemahkan dan diteruskan kepada istri saya agar ia dapat menerima kasih itu. Di sinilah faktor "memperlakukannya dengan penuh kasih" menjadi penting. Agar dia mengetahui bahwa saya mengasihinya, saya harus memperlakukannya dengan penuh kasih. Jika tidak, semua perasaan kasih yang saya miliki tidak ada gunanya karena tidak akan pernah dialaminya.

Ternyata, walau saya mengasihi istri saya, tidak selalu saya memperlakukannya dengan penuh kasih. Kadang saya memperlakukannya dengan kurang kasih bahkan dengan kasar. Bukan kata-kata lembut yang saya ucapkan, malah kata-kata keraslah yang saya keluarkan. Bukan pengertian dan kesabaran atas kelemahannya yang saya tunjukkan, justru ketidaksabaran dan kemarahanlah yang saya tunjukkan. Saya belajar bahwa tidak cukup untuk memunyai kasih; terlebih penting dari itu adalah memperlakukannya dengan penuh kasih.

Kesadaran bahwa kita mengasihi pasangan kita adakalanya berfungsi sebagai pembenaran atas segala tindakan kita. Kita memakinya dan mengatakan itu untuk kebaikannya dan karena kita mengasihinya. Kita menghinanya juga untuk kepentingannya dan lantaran kita mengasihinya. Bahkan ada yang bermegah atas perlakuan kasarnya karena meyakini bahwa ia masih mengasihi pasangannya -- meski kasar. Pada akhirnya saya belajar bahwa sewaktu saya bersikap kasar kepada istri saya, sesungguhnya yang mulai tererosi adalah kasih saya kepadanya. Kekasaran saya memperlihatkan bahwa cinta saya tidak sebesar yang saya kira.

Kedua, saya belajar mengasihi dengan cara istri saya. Karena kita bertumbuh besar di lingkungan yang berbeda dan berkepribadian yang berbeda pula, kita pun mengalami dan memperlihatkan kasih dengan cara yang berbeda juga. Buat saya, sentuhan dan ungkapan mesra tidaklah menduduki posisi yang penting dalam kamus kasih saya. Sebaliknya, bagi istri saya kemesraan merupakan wujud nyata kasih yang dicarinya. Saya pun belajar untuk mengekspresikan kasih dengan tindakan mesra seperti yang diingininya. Misalnya, kami pergi berdua untuk berkencan sekurangnya seminggu sekali. Kami makan siang bersama dan istri saya meminta saya untuk bertanggung jawab atas ke mana saya akan membawanya. Buat dia, inisiatif mencari tempat kencan menjadi bagian kemesraan dan membuatnya merasa berharga.

Menunjukkan kasih harus dilakukan dengan bahasa pasangan kita. Ungkapan yang tidak dimengertinya tidak akan diterimanya, tidak peduli seberapa kerasnya kita berusaha dan seberapa besarnya kita berkorban. Adakalanya kita frustrasi sebab pasangan kita tidak menghargai usaha kita. Mungkin di sinilah letak duduk masalahnya. Kita menggunakan bahasa kasih yang tidak dipahaminya sehingga semua usaha kita luput dari perhatiannya. Belajarlah bahasa kasihnya dan gunakanlah.

Ketiga, saya belajar mengasihi dia dengan cara membatasi kasih saya kepada orang lain. Sekilas pernyataan ini tampak "kurang rohani" dan saya dapat memahaminya. Maksud saya adalah: kasih terlihat jelas dalam perbandingan! Kasih saya kepada istri hanya akan terlihat nyata dalam perbandingan dengan bagaimana saya memperlakukan orang lain.

Pada awal pernikahan kami, saya beranggapan bahwa saya harus memperlakukan istri saya sama seperti saya memperlakukan orang lain. Betapa kelirunya saya! Perlakuan yang sama menandakan bahwa dia tidaklah menempati kedudukan yang khusus dalam hidup saya. Perlakuan saya terhadapnya haruslah berbeda dari perlakuan saya kepada orang lain, termasuk orang tua, teman, atau rekan saya. Saya belajar bahwa kasih menuntut perbedaan dan ini tidak salah.

Saya mengamati bahwa dalam banyak kasus, kecemburuan istri bukanlah disebabkan oleh besarnya kasih yang kita berikan kepada orang lain misalnya kepada orang tua sendiri -- melainkan oleh kurangnya kasih yang kita berikan kepada istri kita. Saya menemukan bahwa kasih yang cukup dan mengistimewakan istri, akan membuatnya tenteram dan tidak menuntut kita mengurangi perhatian terhadap orang lain.

Kasih kepada istri juga mengharuskan kita memperlakukan lawan jenis dengan berbeda. Tidak bisa kita menghabiskan waktu dengan lawan jenis dengan kuantitas dan kualitas yang sama seperti kita menghabiskannya dengan pasangan kita. Setelah menikah, relasi dengan lawan jenis memang seharusnya berubah dan perubahan seperti inilah yang akan mengokohkan pernikahan kita.

Kesimpulan

Pernikahan memberi kita kesempatan untuk bertumbuh atau layu. Sikap ingin dan rela belajar adalah kunci menuju pertumbuhan dan perubahan. Kadang kita lebih rela belajar dari orang lain ketimbang dari pasangan kita sendiri. Kita merasa terhina bila kita harus bertanya dan meminta petunjuknya. Kita merasa direndahkan jika kita mengakui kekeliruan kita dan melakukan yang dikehendakinya. Seorang guru hanya dapat mengajar bila ada murid dan seorang murid belajar dari gurunya. Berbahagialah suami dan istri yang dapat berperan sebagai guru-guru dan murid sekaligus.

Diambil dari:

Sumber
Judul Artikel: 
Eunike (Buletin)

Komentar