Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Hitam-Putih

Ada beberapa ciri pola pikir yang dapat menimbulkan depresi, salah satunya adalah pola pikir hitam-putih. David Burne menyebutnya pola pikir All or Nothing. Pola pikir ini memisahkan segala peristiwa yang dialami ke dalam dua kategori, misalnya baik buruk, dipercaya tidak dipercaya, atau dihargai tidak dihargai. Saya berikan satu contoh lagi untuk memperjelas konsep pola pikir hitam-putih ini. Seseorang yang berpola pikir hitam-putih cenderung memandang persahabatan dari dua sudut yang ekstrem: "Menjadi sahabatku berarti bersedia menolongku dan membelaku kapan saja dan untuk apa saja; jika tidak bersedia, berarti engkau bukanlah sahabatku." Atau, "Jika tidak mengasihiku berarti engkau tidak menyukaiku!" Sebagaimana Saudara dapat lihat, pola pikir ini dapat muncul dalam pelbagai bentuk, namun sumbernya tetap satu, yakni kekurangmampuan memandang hidup secara lebih fleksibel. Pola pikir ini memiliki satu kelemahan yang utama yaitu gagal melihat untaian yang menghubungkan kedua kutub kategori hitam-putih.

Salah satu tangkai yang merambah keluar dari akar pola pikir hitam-putih ialah melihat orang lain dari kacamata, "orang lain menyukaiku atau tidak menyukaiku." Saya kira pola pikir yang tidak sehat ini menjangkiti sebagian dari kita pula. Pola pikir ini tidak memberi celah kepada orang lain untuk menempati posisi netral. Seolah-olah kita memaksa orang untuk mengambil sikap yang ekstrem (yang sebetulnya sikap pribadi kita), untuk menyukai atau tidak menyukai kita sama sekali. Bahkan dalam kasus yang lebih ekstrem, kita mungkin saja memutuskan bahwa tidak menyukai kitJ adalah sama dengan membenci kita. Kita menolak kemungkinan bahwa di dunia ini ada orang yang tidak terlalu mengasihi (menyukai) kita namun juga tidak membenci kita. Perasaannya terhadap kita biasa-biasa saja alias netral. Masalahnya hal inilah yang tidak kita izinkan terjadi: Orang tidak boleh sekadar "biasa-biasa" saja terhadap kita. Secara langsung pola pikir ini mempengaruhi relasi kita dengan orang lain dan juga menggerogoti diri kita secara perlahanlahan. Marilah kita telaah masalah ini secara lebih seksama; pertama etiologinya (asal-muasalnya), kemudian dampaknya, dan terakhir cara penanggulangannya.

Pola pikir "Anda menyukaiku atau tidak menyukaiku" sebenarnya dapat bersumber dari dua tipe hubungan orangtua - anak yang saling berlawanan. Tipe pertama adalah hubungan orangtua - anak yang ditandai dengan banyaknya pujian dan penerimaan berkondisi. Di sini orangtua seakan-akan mengagung-agungkan anaknya karena memang anak itu mempunyai banyak kelebihan-kelebihan atau karena anak itu (kehadirannya) semata-mata telah memenuhi kebutuhan atau kekosongan dalam diri orangtua. Pujian memang perlu diberikan dan jika disampaikan secara tepat akan berfaedah besar dalam pembentukan konsep diri anak yang positif. Sebaliknya, pujian yang berlebihan dan menjurus ke arah pengagungan akan membengkakkan konsep diri anak.

Bak baton yang kelebihan udara nyaris meledak berhubung menipisnya kulit balon, demikian pulalah diri anak yang kelebihan pujian. Konsep dirinya sekilas tampak bersinar positif namun sesungguhnya ketahanannya sangat rentan. Ia sukar mengakui kegagalan dan berikhtiar terlalu keras untuk menggapai pujian dari orang lain. Reaksi orang lain yang hampa pujian ditafsirnya sebagai tanggapan yang tidak simpatik terhadapnya. Dan dari sinilah mulai bersemi bibit pola pikir hitam-putih, "jika engkau tidak mengasihiku (memujiku), maka engkau membenciku dan tidak menghargaiku."

Sumber kedua merupakan kebalikan dari tipe pertama. Di sini corak hubungan orangtua - anak ditandai dengan banyaknya penolakan dan penghinaan yang diterima anak dari orangtuanya. Begitu banyaknya kata-kata penolakan yang didengarnya sehingga anak haus akan penerimaan dan pujian. Betapa rindunya anak mendengar perkataan, "Engkau anak yang pintar" sebab yang sering terlontar dari bibir orangtua adalah, "Engkau bodoh". Besar kemungkinan anak ini pun akhirnya bertumbuh besar dengan membawa pola pikir hitam-putih. Tanpa disadarinya, ia pun mulai berpikir, "Orangtuaku tidak menyukaiku, aku harus mencari orang yang menyukaiku!" Perlahan-lahan ia pun mulai memilah tanggapan orang dalam dua kategori, "Apakah mereka seperti orangtuaku (tidak menyukaiku) ataukah mereka menyukaiku?" Usahanya mendapatkan acungan jempol dari orang lain menjadi besar; sedangkan ketahanannya menerima penolakan sangatlah tipis.

Jika kita perhatikan dengan seksama, sekurang-kurangnya ada dua persamaan di dalam kedua kondisi yang melahirkan pola pikir hitam-putih ini. Pertama ialah kehampaan penerimaan anak apa adanya dan kedua, penggunaan label untuk melukiskan siapa anak itu. Berbeda dengan kondisi sumber kedua yang dengan jelas mencerminkan penolakan terhadap anak, pada hakikinya kondisi sumber pertama pun berisikan penolakan terhadap anak apa adanya, namun secara sekilas tidak terlalu tampak. Yang diagungkan orangtua adalah kelebihan anak sedangkan kelebihan anak tidaklah mewakili siapa diri anak seutuhnya. Atau, di dalam kasus pemujaan terhadap anak yang didasari atas pemenuhan kebutuhan orangtua (misalnya, orangtua yang sangat menantikan kelahiran seorang putra). Di sini sebenarnya orangtua juga tidak menerima anak apa adanya sebab yang dilihat orangtua adalah lambang atau simbol yang diwakilkan dengan kehadiran anak itu (misalnya, seorang putra melambangkan kebanggaan orangtua dan keluarga).

Persamaan kedua berkenaan dengan penggunaan label,seperti "Anak pintar" atau "Anak bodoh". Anak yang memiliki banyak kelebihan akan mendengar banyak pujian sedangkan yang kurang, akan menerima celaan. Label-label ini pun tidak mencerminkan anak seutuhnya. Sepintarpintarnya anak, pasti ada hal-hal yang tidak dilakukannya dengan terlalu baik. Sebaliknya, sebodoh-bodohnya anak, tentu ada hal-hal yang dikuasainya dengan mahir. Label hanyalah melambangkan penilaian terhadap sisi tertentu; label tidaklah mampu menguakkan siapa diri anak seutuhnya. jadi, penekanan terhadap label tertentu berpotensi menjerumuskan baik orangtua maupun anak ke konsep diri anak yang tidak seimbang dan tidak menyeluruh.

Apa dampaknya pada anak dan relasinya dengan orang lain? Perlakuan orangtua terhadap anak yang tidak menerima anak "apa adanya" dan "seutuhnya" dapat membuat anak tidak menerima dirinya "apa adanya" dan "seutuhnya" pula. Ia sukar menerima kelemahan dirinya dan dalam kasus yang ekstrem, ia menjadi buta terhadap kelemahan dirinya. Teguran atau saran orang lain terhadap kekurangannya dibacanya sebagai, "Ia tidak bisa menghargai kelebihanku" atau "Ia belum mengenal siapa diriku sebenarnya". jika konsep dirinya terpancang terlalu kaku, ia pun mulai mengkategorikan mereka yang mengkritiknya (atau bahkan tidak memujinya) sebagai orang yang tidak berpihak padanya (bahkan tidak menyukainya). Dalam kasus di mana anak tidak menerima perlakuan orangtua yang melihat dirinya seutuhnya, ia pun mulai mengikuti jejak yang sama: Ia hanya melihat kekurangan dirinya. Jadi, dalam kasus pemujaan, anak tidak bisa menerima diri apa adanya (termasuk kelemahannya, karena hanya melihat kelebihan); sebaliknya dalam kasus penolakan, anak tidak dapat melihat diri seutuhnya (hanya melihat kelemahan, tidak bisa melihat kelebihan).

Tanpa disadari, ia pun mulai memperlakukan orang lain dengan pola yang serupa. Anak yang diagungkan sukar menerima kelemahan orang lain sedangkan anak yang ditolak sulit menerima kelebihan orang lain. Namun yang terlebih penting adalah ia telah menggariskan hidup dalam dua kutub dan pola pikir ini menyusahkan orang yang hidup dekat dengannya. Orang tidak dapat hidup bebas dengannya karena tanggapan yang sedikit mencela atau negatif sudah secara otomatis dimasukkan ke dalam kotak "Engkau tidak menyukaiku." Tanpa disadari, ia pun mendorong orang masuk ke dalam perangkap yang telah menjeratnya sejak kecil.

Yohanes 8:32 berisikan janji Tuhan bahwa kebenaran-Nya akan memerdekakan kita. Saya sadari bahwa kebenaran yang sedang dibicarakan oleh Tuhan Yesus dalam bagian ini adalah kebenaran dalam konteks keselamatan melalui karya penebusan-Nya. Namun, saya ingin memperluasnya dalam pengertian, bukankah kebenaran (hidup dalam kebenaran yang telah digariskan Tuhan) juga memerdekakan kita? Tidak perlu lagi persembunyian; tidak ada lagi kepura-puraan, sebagaimana kita dapat saksikan dari kehidupan Tuhan Yesus. Bukankah kehidupan-Nya mengajarkan kita apa itu sebenarnya hidup yang bebas? Ia tahu siapa diri-Nya dan bertindak apa adanya dan seutuhnya. Pandangan-Nya terhadap orang lain didasari atas penerimaan apa adanya; perlakuan-Nya terhadap yang lain dialasi atas pengenalan yang seutuhnya. Ia tidak memilah-milah orang karena ia tidak memilah-milah diri-Nya.

Saya menyadari bahwa masukan saya ini terbatas dan seakan-akan tidak berdaya melepaskan Saudara dari belenggu hitam-putih ini. Kuasa penyembuhan berasal dari sumber kebenaran itu sendiri, yaitu Kristus Tuhan. Namun, Saudara perlu mengambil langkah pertama, yakni mulai dengan diri sendiri dulu. Mohonlah kepada Tuhan agar Ia mencelikkan mata kita sehingga kita dapat melihat diri dengan lebih jelas. Selanjutnya, mintalah sentuhan-Nya agar Ia mengingatkan kita tatkala kita terjebak masuk ke dalam pola pikir hitamputih ini. Terakhir, dengan kekuatan-Nya lawanlah pola pikir ini. Secara sadar, ambillah keputusan untuk menerima diri apa adanya dan seutuhnya. Setelah itu perbuatlah yang sama kepada orang lain. Tolaklah pikiran yang dengan cepat dan mudah mengkategorikan hidup serta orang lain. Jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat. Ingatlah bahwa informasi yang kita miliki biasanya tidak lengkap dan terbatas. Semoga Tuhan menyertai kita semua.

Sumber
Halaman: 
2 - 4
Judul Artikel: 
Parakaleo, Juli September 1996, Vol. III, No. 3
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII, Jakarta 1996
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Dr. Paul Gunadi, Dr. Yakub B.Susabda
Tahun: 
1996

Komentar