Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Renungan

Renungan

Renungan

Renungan

Penderitaan Yesus, Bukan Suatu Nasib Malang

Edisi C3I: edisi - 334 Penderitaan Anak Manusia

Bacaan: Lukas 9:22-36

Ada tulisan yang menyatakan bahwa penderitaan dan kematian Yesus Kristus disebabkan oleh gerakan-Nya untuk menjadi Mesias gagal. Karena itu, orang-orang yang berpandangan bahwa kematian Yesus di kayu salib sebagai seorang penjahat merupakan suatu konsekuensi politis yang wajar dan pantas. Menurut pemahaman ini, kematian Yesus di kayu salib dianggap tidak mampu membawa pengaruh apa pun terhadap karya keselamatan Allah. Singkatnya, kematian Yesus tidak membawa efek apa pun bagi penebusan umat manusia. Lalu, bagaimana mungkin umat manusia dapat ditebus oleh darah seorang tokoh yang gagal mewujudkan harapan Bangsa Israel yang ingin bebas dari penjajahan Romawi? ... baca selengkapnya »

Pahlawan-Pahlawan Iman: Paulus

"Tetapi waktu IA, ... berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi." (Galatia 1:15,16).

Setelah Yesus sendiri, rasul Paulus adalah suara gereja Kristen yang paling berpengaruh dan paling kuat. Paulus dilahirkan di tengah keluarga Yahudi yang sangat konservatif di kota Tarsus, Yunani, di sebelah selatan Asia Kecil. Dibesarkan di dua dunia, Yunani dan Yahudi, secara unik menyiapkan Paulus untuk pekerjaan pengabaran Injil di kemudian hari. ... baca selengkapnya »

Wujud Cinta Sejati Adalah Rela Berkorban

Oleh: Mual Situmeang (Peserta Kelas Diskusi Paskah Maret 2010)

Yohanes 3:16, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Konsep cinta dan pengorbanan adalah dua kesatuan yang tak terpisahkan. Wujud cinta sejati adalah rela berkorban. Bagaimana manusia menyatakan kasih yang sejati adalah dengan pengorbanannya sepenuh hati dan tanpa paksaan. Sepanjang sejarah manusia banyak contoh mengenai cinta dan pengorbanan manusia sebagai wahyu umum tentang kesejatian cinta. Misalnya, cinta tanah air dengan mengorbankan jiwa raganya membela negara, cinta keluarga dan sesama manusia bisa juga mengorbankan segalanya demi cintanya rela memberikan sebagin anggota tubuhnya untuk kehidupan orang lain, dsb. ... baca selengkapnya »

Yesus Mati Supaya Manusia Hidup

Oleh: Ryo Yusak (Peserta Kelas Diskusi Paskah Maret 2011)

Filipi 2:8; "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

Pengorbanan membawa maksud "merelakan diri untuk melakukan sesuatu tanpa adanya paksaan”. Dalam rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa sejak kejatuhan Adam maka satu hal yang sebenarnya tidak terpikir oleh manusia ialah karya Allah dalam mengaruniakan Anak Tunggal-Nya Yesus Kristus menjadi manusia untuk menggenapi rencana agung-Nya, yaitu keselamatan. ... baca selengkapnya »

Pemalas atau Pekerja Keras?

Edisi C3I: e-konsel 274 - Panggilan Bekerja

Bacaan: 2 Tesalonika 3:6-15

Nats: "Janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik." (2 Tesalonika 3:13)

Rasul Paulus pernah berkata tegas kepada orang-orang yang malas, demikian: "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10) Beberapa keadaan tertentu mungkin membuat kita kehilangan pekerjaan. Namun, bila kita bertubuh sehat dan dapat bekerja, maka kita harus bekerja dengan giat dan rajin. Ini bukan sekadar nasihat yang baik. Ini adalah perintah dari sang rasul dan juga dari Tuhan kita, Yesus Kristus (ayat 12). Kemalasan adalah suatu dosa. ... baca selengkapnya »

Hadiah Sempurna

Edisi C3I: e-Konsel 271 - Asal Mula Natal

"Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani... jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati... siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita." (Roma 12:7-8)

Pada masa pemberian hadiah di Natal ini, kebanyakan dari kita sibuk mencari hadiah paling sempurna yang sulit diperoleh. Izinkan saya mengingatkan Anda, bahwa Anda sudah memiliki hadiah paling ideal untuk diberikan.

Anda tidak harus pergi ke pusat pertokoan terdekat untuk menemukannya. Anda tidak perlu mencarinya di katalog. Hadiah itu sudah ada di rumah Anda. Hadiah itu sangat berharga tetapi tidak ada label harganya. Ukurannya tidak pernah salah. Anda tidak perlu memasang bagian apa pun. Anda bahkan tidak perlu membungkusnya dengan kertas kado yang indah. ... baca selengkapnya »

Natal: Saat untuk Memberi atau Menerima?

Salah satu hal yang saya coba ajarkan kepada anak-anak saya adalah bagaimana menjadi "pemberi" bukan "penerima". Saya mengajarkan hal ini kepada mereka karena saya tahu betapa perlunya menumbuhkan sifat itu. Natal adalah saat yang luar biasa untuk menekankan perihal memberi. Selama bertahun-tahun, kami telah mencoba untuk melakukannya dengan cara praktis dengan membuat kue-kue Natal untuk orang lain, mengumpulkan mainan-mainan dan pakaian-pakaian lama dengan sukarela, dan membuat serta mengirimkan bingkisan bagi keluarga-keluarga yang kekurangan di komunitas kami. Ini benar-benar saat yang tepat untuk memberi. Namun, hari ini saya diingatkan kembali bahwa Natal barangkali hanya sedikit memberi tetapi justru lebih banyak menerima. ... baca selengkapnya »

Pembebasan dari Dosa (oleh Pendeta Mark Lee)

Hari ini kita akan melihat topik bagaimana kita bisa dimerdekakan dari dosa. Bagaimana kita dapat kembali pada keadaan tanpa dosa?

Mari kita lihat sebuah kutipan dari 1 Yoh 1:7-9 - "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." ... baca selengkapnya »

Kemerdekaan Kristiani

Galatia 5:13-15

...Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.

Masih segar dalam ingatan saya, ketika negara Indonesia beralih dari era orde baru kepada era reformasi. Peralihan ini menyebabkan pintu kebebasan dibuka lebar. Namun satu hal yang sangat disayangkan adalah, bahwa kebebasan yang dipahami pada masa awal masa reformasi adalah kebebasan yang kebablasan. Artinya, orang dapat melakukan apapun semaunya tanpa ada batas, yang penting kebebasan itu sendiri. Kalau kebebasan dipahami seperti ini, maka kemudian akan muncul tirani. Inikah kebebasan? ... baca selengkapnya »

Alasan Yesus Mati

Edisi C3I: e-Konsel 238 - Alasan Yesus Mati

Salam kasih,

Yesus adalah Allah di atas segala allah, Tuhan di atas segala tuhan. Dia adalah Allah yang berkuasa di surga dan di bumi. Namun demikian, Ia tidak menyayangkan kemuliaan-Nya di surga dan rela menjadi manusia. Bukan hanya itu, Dia pun rela mati di kayu salib. Semua Dia lakukan karena kasih-Nya yang begitu besar. Ia tidak ingin melihat mereka yang percaya kepada-Nya binasa dalam kekekalan. Dalam kolom Cakrawala, Anda dapat melihat lebih dalam lagi mengenai alasan mengapa Yesus rela mati bagi kita. ... baca selengkapnya »

Komentar


Syndicate content