Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kapan Anak Siap Belajar Membaca?

Edisi C3I: e-Konsel 167 - Menangani Anak Sulit Membaca

Secara singkat, membaca dapat dijelaskan sebagai "menangkap arti yang ditulis". Sesuai dengan arti tersebut, dapat menyuarakan apa yang ditulis belum berarti dapat membaca. Seseorang dikatakan dapat membaca bila ia dapat mengerti apa yang ditulis, walaupun tanpa ada suara atau ucapan. Dengan demikian, yang disebut membaca sebenarnya adalah membaca dalam hati (silent reading).

Sering orang mengira bahwa yang dimaksud dengan membaca adalah menyuarakan tulisan dari kertas. Pendapat yang demikian memang salah. Pasalnya, kerap kita perhatikan seorang anak dapat membaca dengan sangat lancar, namun saat ditanyakan apa isi bacaannya, dia tidak dapat menjawab. Keadaan yang demikian tidak dapat disebut cakap membaca.

Membaca dan menulis merupakan dua aktivitas yang tidak terjadi secara serentak. Menulis selalu mendahului membaca.

Karena tujuan dari kata-kata yang tertulis ialah untuk menyampaikan pikiran seseorang kepada orang lain, dan kata-kata yang dipergunakan itu serupa benar dengan kata-kata yang diucapkan, maka selama anak tidak memeroleh pengertian dari kata-kata yang tertulis itu, selama itu pula tidak dapat dikatakan bahwa anak itu membaca.

Seorang anak yang telah mendapat latihan untuk menulis, biasanya telah dapat pula mengucapkan bunyi suatu kata-kata. Pada umumnya, belajar menulis kata-kata lebih banyak memerlukan waktu daripada belajar membaca kata-kata. Anak memerlukan waktu yang agak lama untuk mencari huruf-huruf yang dibutuhkan untuk penyusunan kata-kata.

Anak yang belum mahir membaca hanya mampu menangkap satu atau dua kata saja, dan menafsirkan dalam waktu yang cukup lama. Sebaliknya, anak yang telah mahir membaca akan mampu menangkap banyak kata-kata dan menafsirkannya dalam tempo yang relatif singkat.

Sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dasar, terutama pada kelas-kelas permulaan, membaca memang ada kalanya perlu "disuarakan". Maksudnya agar segera diketahui apakah pengucapan bunyi-bunyi dan huruf-huruf dari kata atau kalimat dalam bacaan dilakukan oleh murid secara benar dan jelas.

Menurut Drs. R.I. Suhartin Citrobroto, sekolah zaman dulu kurang menekankan kemampuan membaca dalam hati. Justru sebaliknya, sementara guru sering tanpa disadari mengembangkan kemampuan menyuarakan tulisan atau membaca keras tersebut, akibatnya murid-muridnya, nanti setelah terjun dalam masyarakat, akan mengalami hambatan. Sebab dalam masyarakat, yang dimaksud membaca pada umumnya adalah membaca dalam hati. Membaca keras hanya digunakan dalam membaca syair atau puisi saja.

Pendapat Suhartin tadi diperkuat pula oleh Montessori, bahwa untuk memeroleh pengertian yang saksama dari kalimat-kalimat yang dibaca itu, pembacaan harus dilakukan pelan-pelan dan tidak bersuara keras. Membaca dengan suara keras menuntut latihan dari dua mekanisme bahasa, yakni mekanisme untuk penyebutan dan mekanisme untuk memahami bahasa tulis. Karena itu, membaca dengan suara keras lebih sukar dilakukan daripada membaca pelan-pelan. Mengingat kesulitan itu, dan untuk dapat lebih mudah mengikuti maksud yang dikandung oleh penulis bacaan, anak harus membaca pelan-pelan dahulu sebelum diperkenankan membaca dengan suara keras.

Jika seorang anak mulai diajari membaca, maka jasmani dan rohani anak harus sudah cukup matang. Orang tua yang memunyai anak usia 3 dan 4 tahun sering kali ragu-ragu untuk memberi pelajaran membaca kepada anak-anaknya. Apakah waktunya tepat? Apakah harus diberikan sebelum mereka bersekolah? Atau menunggu sampai mereka berumur enam tahun, padahal si anak sudah sering bertanya dan ingin sekali mengetahui huruf apa saja yang dilihatnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memang agak sukar dijawab karena walaupun si anak sama-sama berumur empat tahun, akan tetapi perkembangan intelektual mereka berbeda-beda.

Pada umumnya, perbedaan-perbedaan perkembangan itu timbul karena latar belakang keluarga yang tidak sama. Demikian pendapat Ullan G. Katz, seorang ahli pendidik anak, khususnya yang berumur antara 3 dan 4 tahun.

Ada seorang anak yang selalu diliputi rasa ingin tahu. Misalnya, Maman. Jika di layar TV ada tulisan, ia sering kali bertanya kepada ibunya. Ia ingin sekali membaca tulisan-tulisan itu karena tidak mau kalah oleh kakaknya yang sudah lancar membaca.

"Bu, ini huruf apa, sih?" tanya Maman sambil membaca koran yang baru saja diantarkan oleh penjualnya. Disodorkannya surat kabar itu kepada ibu. Dengan penuh perhatian, ia mendengarkan jawaban ibu, kemudian dinyanyikannya huruf itu berulang-ulang.

Rasa ingin tahu seorang anak biasanya makin lama semakin besar. Memang seharusnya demikian, malahan sebaiknya orang tua turut membantu menjaga dan memupuk agar rasa ingin tahu itu terus bertumbuh. Orang tua tidak perlu marah atau jengkel jika si anak banyak bertanya. Sebaliknya, orang tua harus bergembira karena timbulnya pertanyaan-pertanyaan itu merupakan suatu permulaan yang baik, yang menunjukkan keinginan belajar membaca.

Untuk melakukan pekerjaan membaca, seorang anak harus sudah mencapai taraf perkembangan jiwa dan jasmani tertentu. Perkembangan seorang anak sangat tergantung pada perlakuan lingkungan terhadap dirinya, terutama orang tuanya. Selain itu, keadaan jasmani bawaan lahir anak juga sangat menentukan. Bila penglihatan atau pendengaran anak itu cacat sejak ia dilahirkan, dengan sendirinya taraf kemampuan anak untuk membaca pun terjadi lebih lambat. Oleh sebab itu, sebagaimana disebutkan di atas tadi, dalam menentukan apakah anak sudah siap belajar membaca, orang tua harus memerhitungkan kematangan dan perkembangan anak, baik jasmani maupun rohani.

Biasanya kesulitan membaca yang dialami anak-anak dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Anak cukup matang untuk menerima pelajaran membaca. Biasanya umur enam tahun sudah cukup matang untuk mendapatkan pelajaran membaca.

  • Anak yang selalu diliputi rasa takut, akan takut pula untuk mengenal sesuatu yang baru, misalnya untuk membaca yang sebelumnya belum dipelajarinya.

  • Bagi seorang anak, ada kalanya diperlukan suatu teknik atau metode khusus. Suatu metode yang cocok untuk sekelompok anak, belum tentu cocok untuk anak lain.

  • Kematangan anak untuk belajar membaca tercermin pada beberapa kemampuan tertentu pada anak. Misalnya kemampuan melihat, kemampuan mendengar, kemampuan memahami, dan besarnya perhatian. Kemampuan melihat yang baik adalah salah satu unsur utama dalam hal membaca. Oleh karena itu, penglihatan anak harus diperiksa dulu untuk dapat menentukan apakah anak siap membaca atau belum. Kemampuan mendengar diperlukan untuk membedakan bunyi. Kemampuan membedakan bunyi ini kelak akan dapat dipergunakan untuk membedakan pengertian lambang-lambang huruf untuk tiap-tiap bunyi yang diwakilinya. Kemampuan memahami, si anak mengetahui bahwa huruf tertentu adalah lambang dari bunyi tertentu. Pemahaman ini lalu berkembang menjadi pemahaman akan rangkaian huruf-huruf yang merupakan lambang rangkaian bunyi. Perhatian anak yang besar merupakan penggerak dari keseluruhan unsur-unsur utama untuk dapat belajar membaca. Perhatian inilah yang melatih kemampuan anak secara aktif membedak an bentuk-bentuk huruf, bunyi, dan hubungannya dengan hal-hal nyata di sekitar anak.

    Menurut Dr. Montessori, anak baru bisa belajar membaca setelah ia bisa menulis dengan baik. Ia harus belajar membaca dengan mendengarkan bunyi dari kata-kata (secara fonetik), lalu mengulanginya lagi sampai ia mengerti. Sering kali, anak bisa membaca pada saat yang bersamaan ketika ia menemukan bahwa ia bisa menulis.

    Rata-rata anak yang berumur 4 tahun membutuhkan waktu 1 atau 2 belas bulan mulai dari latihan pertamanya sampai ia bisa menuliskan kata-kata pertamanya, demikian menurut Dr. Montessori. Anak berumur 5 tahun hanya membutuhkan waktu 1 bulan. Selanjutnya, anak membutuhkan waktu dua minggu untuk bisa membaca setelah ia bisa menulis.

    Saat ini, metode Montessori untuk mengajar membaca dan menulis merupakan salah satu yang paling baik dan sempurna. Kebanyakan dari program Montessori ditujukan untuk melatih kelima panca indra anak dan diharapkan agar anak bisa merasakan kegembiraan karena dapat berkomunikasi melalui tulisan dan bacaan.

    Telah kita ketahui bahwa setiap anak, kecuali yang sangat terbelakang, akan belajar menggunakan bahasa yang digunakan lingkungannya. Ia akan menggunakannya dengan baik sebelum berumur lima tahun. Ia juga akan memiliki logat bahasa, perbendaharaan kata-kata, dan tata bahasa. Dan ia belajar bahasa itu tanpa susah payah, tanpa pendidikan formal, tanpa tekanan, dan biasanya disertai semangat dan kegembiraan. Ia juga belajar bahasa lebih mudah pada tahun-tahun ini dibandingkan pada masa-masa berikutnya oleh karena keadaan fisik otaknya yang sedang berkembang.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Sumber
    Halaman: 
    169 -- 173
    Judul Buku: 
    Butir-Butir Mutiara Rumah Tangga
    Pengarang: 
    Alex Sobur
    Penerbit: 
    BPK Gunung Mulia
    Kota: 
    Jakarta
    Tahun: 
    1987

    Published in e-Konsel, 1 September 2008, Volume 2008, No. 167


    Komentar