Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kasih Agape Dalam Keluarga

Allah telah mencurahkan Kasih-Nya (Kasih agape) di dalam hati kita, melalui Roh-Nya (Roma 5:5 -- "Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita"). Apabila Yesus Kristus bukan Tuhan atas kehidupan kita, apabila Roh-Nya tidak menguasai kehidupan kita, maka kita tidak memiliki "Kasih Agape". Kasih agape bukanlah sekedar kasih emosional, atau sekedar kasih persahabatan, tetapi kasih yang memberi selalu, yang bersedia berkorban selalu. Kasih agape hanya dapat diperoleh dari Allah. Sebagaimana halnya buah jeruk tidak dapat kita peroleh di toko buku, demikian pula kita tidak dapat peroleh "Kasih Agape" di lain tempat, selain pada Allah. Ia adalah satu-satunya sumber "Kasih Agape", tempat kita peroleh kasih agape.

"Kasih agape" harus menjadi ciri utama setiap keluarga Kristen. Alkitab mengajar tentang "Kasih Agape" sebagai berikut: "hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya" (Efesus 5:25). Kasih agape selalu "memberi", selalu merupakan kasih yang memberi, yang berkorban.

Perkawinan ideal menurut Alkitab, apakah itu? Adalah suatu perkawinan dimana suami istri selalu "saling memberi". Kasih agape bersifat "memberi, memberi untuk memenuhi kebutuhan orang yang dikasihi, baik kebutuhan spiritual, emosional, maupun kebutuhannya fisik. Salah satu hadiah kasih terbaik yang dapat diberikan kepada suami atau istri adalah "menerimanya sepenuhnya", menerimanya sebagaimana keadaannya. "Mengasihi", "menerima", "mengampuni", saling berkaitan erat sekali. Kita tidak perlu terkejut atau kecewa di kala menemukan kenyataan bahwa si suami atau si istri dengan siapa kita menikah, ternyata bukan malaikat dan hanyalah seorang berdosa seperti diri kita sendiri. "Menerima sepenuhnya" suami atau istri, berarti menerimanya sebagaimana keadaannya. Menerima sepenuhnya suami atau istri sebagaimana keadaannya, adalah suatu pemberian kasih terbesar yang dapat diberikan seorang suami kepada istrinya, atau yang dapat diberikan seorang istri kepada suaminya. Apabila Anda menemui kesukaran dalam hal ini, maka banyak kemungkinan sebabnya adalah karena Anda sendiri sukar menerima diri Anda sebagaimana adanya, yang disebabkan oleh ketidakyakinan bahwa Allah menerima Anda sebagaimana keadaan Anda. Kemampuan "mengasihi" dan "menerima" sangat tergantung kepada hubungan yang benar kita dengan Allah, yaitu percaya bahwa Allah melalui Kristus Yesus mengasihi dan menerima kita sebagaimana adanya kita.

Bersamaan dengan "mengasihi" dan "menerima", maka "mengampuni" merupakan unsur yang berefek "menyembuhkan" dalam kehidupan keluarga atau dalam kehidupan gereja. "Mengampuni" berarti "melupakan". Kita tidak benar-benar mengampuni seseorang, apabila kesalahannya masih kita ingat-ingat, masih kita simpan, dan sewaktu-waktu di kala perlu dikeluarkan kembali. Mengampuni yang tidak mau melupakan dapat merusak kehidupan keluarga. Tidak mungkin dapat hidup tenang dengan suami atau istri yang gemar mengumpulkan kesalahan-kesalahan, yang diungkit-ungkit kembali dengan maksud untuk memojokkan. Memang, hidup bersama serumah membuat tampak nyata kelemahan-kelemahan masing-masing. Suatu keluarga yang kokoh, bukanlah keluarga di mana anggota-anggotanya tidak memiliki kelemahan-kelemahan, tetapi di mana anggota-anggotanya mahir menangani dalam kasih kelemahan-kelemahan masing-masing.

Para suami istri dapat terhindar dari keadaan suram dalam keluarga, dari keadaan tidak ada lagi komunikasi, saling menghindari walaupun hidup serumah, apabila masing-masing bersedia "saling mengasihi", "saling menerima" dan "saling mengampuni". Firman Allah mengajar: "sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian" (Kolose 3:13). Bukankah Kristus mengampuni kita? Maka pengampunan Kristus menjadi dasar bagi kita untuk mengampuni kesalahan orang lain. Sebagai orang-orang percaya, kita tidak ada alasan untuk tidak mengampuni sesama dalam hubungan manapun, terutama dalam hubungan keluarga.

Perlu pula dimengerti, bahwa yang dimaksudkan dengan "mengampuni" di sini adalah menciptakan atau memelihara "iklim mengampuni" dalam keluarga. Artinya, dalam keluarga harus terdapat selalu kesediaan mengampuni, yang berlaku atas setiap kesalahan dan bukan atas kesalahan tertentu saja, atau pada waktu tertentu saja. dalam kehidupan keluarga, kita memerlukan kepastian pengetahuan bahwa apabila kita berbuat kesalahan, kita tetap dikasihi dan diampuni. Perlu sekali suasana atau iklim tidak saling mendendam dalam keluarga. Kesalahan akan selalu ada, karena itu mencari kesalahan, kita akan selalu menemukannya. Sebagai orang-orang berdosa yang sudah diampuni Kristus, kita tidak mencari-cari kesalahan, dan setiap kesalahan yang terjadi kita wajib mengampuninya. "Saling mengampuni" berefek membebaskan. Tanpa iklim saling mengampuni, tidak terdapat kebebasan hidup.

Apabila kita merindukan kehidupan keluarga yang bahagia sejahtera, bangunlah iklim yang sejahtera, yaitu dengan mencabut rerumputan yang liar (seperti: dendam, curiga, iri hati, suka mengeritik), dan tanamlah bibit yang baik. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Untuk mendapatkan keluarga sejahtera bahagia, tanamlah bibit "Kasih". Bagaimanakah kita melakukannya? Dengan menjadi orang yang mengasihi, dan untuk dapat menjadi orang yang mengasihi, kita harus merelakan diri hidup di bawah pengaturan Kristus, mengakui-Nya sebagai Tuhan atas kehidupan kita, sehingga Roh-Nya mencurahkan kasih Allah atau -- kasih agape di dalam hati kita.

Hanyalah Roh Kristus yang dapat menumbuhkan "Kasih Agape" dalam hati kita, sehingga tercapailah dan terpeliharalah iklim "saling mengasihi", "saling menerima" dan "saling mengampuni" dalam keluarga. Ialah yang mengasihi kita, yang menerima kita sebagaimana adanya kita, yang mengampuni segala kesalahan kita. Apabila kita membuka diri kita terhadap kasih-Nya, maka kita akan mulai mengasihi. Apabila kita menyadari penerimaan-Nya akan kita, maka kita akan mulai menerima orang-orang lain. Apabila kita mengalami pengampunan-Nya, kita akan juga dapat mengampuni.

Diambil dari:

Judul majalah : Hikmat Kekal, Edisi Mei/Juni 1986, No.30
Judul artikel : Kasih Agape dalam Keluarga
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan MST, Jakarta 1986
Halaman : 25 -- 26

Komentar