Menghadapi Kematian
| Judul Buku/Buletin |
: |
GKI Monrovia Newsletter, Maret 2003, Th. XVII No. 3 |
| Penulis/Narasumber |
: |
Pdt. Bob Jokiman |
| Penerbit |
: |
GKI Monrovia |
| Halaman |
: |
1 - 3 |
Tidak ada seorangpun di antara kita yang ingin menghadapi atau
mengalami kepahitan dalam hidup ini. Namun kenyataan memberitahu
kita bahwa kepahitan sering singgah dalam hidup kita sekalipun tanpa
diundang atau dicari seperti yang dialami oleh umat Israel dalam
perjalanan ke Tanah Perjanjian. Demikian tercatat dalam Kitab
Keluaran 15:22-27:
"Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu
mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka
berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. Sampailah
mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di
Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang
tempat itu Mara. Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa,
kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?" Musa berseru-seru
kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa
melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di
sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-
peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,
firman-Nya: "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN,
Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang
telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala
ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit
manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku
Tuhanlah yang menyembuhkan engkau." Sesudah itu sampailah mereka
di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon
korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu."
Kepahitan dalam hidup ini dapat berbentuk sakit penyakit yang parah
dan mematikan yang tidak hanya diderita oleh anggota keluarga yang
kita kasihi tetapi juga pada diri kita sendiri. Kematian anggota
keluarga yang kita anggap belum waktunya ataupun yang belum
dipastikan keselamatan jiwa-rohnya. Musibah yang mengakibatkan
kerugian materi yang menyebabkan kita kehilangan segala-galanya
ataupun cacat fisik yang tak tersembuhkan. Kepahitan dapat juga
berupa masa depan yang tidak menentu seperti yang banyak dialami
oleh WNI pria yang berusia diatas 16 tahun dan saat ini ´over stay´
di Amerika Serikat. Tinggal tanpa melapor sulit, melapor juga sulit,
bagaikan makan buah simalakama -- dimakan ayah mati tidak dimakan
ibu mati. Khususnya bagi mereka yang telah belasan tahun di Amerika
dan mempunyai anak.
Kalau harus kembali ke Indonesia, di Indonesia pun keadaan ekonomi
tidak lebih baik daripada Amerika kalau tidak mau dikatakan lebih
parah. Pengangguran yang terus meningkat, keamanan yang tidak
menentu, politik yang tidak stabil khususnya menjelang Pemilu, dan
diskriminasi terhadap kaum minoritas yang masih dipertahankan.
Selain itu merajelalanya korupsi telah merasuk ke tulang sumsum
bangsa yang tidak terobati dan penanganan hak azasi manusia yang
masih amburadul. Semua itu hanya sebagian kecil dari kondisi di
Indonesia dimana sangat sulit bagi orang-orang percaya untuk
membesarkan anak-anak mereka di dalam iman dan moral kristiani jika
tidak mau berkompromi. Menghadapi semuanya itu bagaimanakah
seharusnya kita bersikap sebagai orang-orang percaya?
Dunia yang Tidak Ideal.
Kita tahu bahwa kepahitan yang dihadapi oleh umat Israel dengan mata
air Mara tersebut bukanlah sesuatu yang direncanakan ataupun yang
sengaja ingin ditemukan oleh mereka. Kita juga tahu bahwa mereka
dipimpin oleh Musa, seorang pemimpin yang beriman dan dekat dengan
Allah. Kita percaya bahwa tentu dalam memimpin umat Israel Musa juga
sudah berdoa dan memohon pimpinan Allah agar mereka terhindar dari
hal-hal yang tidak menggembirakan. Sudah pasti Musa tidak meminta
untuk melewati mata air yang pahit atau merencanakan untuk memimpin
bangsanya ke dalam situasi yang pahit sebab ia tahu betul tipe yang
bagaimana umat Israel itu, yaitu bangsa yang tegar tengkuknya: kalau
senang, tidak tahu berterima kasih; kalau susah sedikit saja
langsung memaki-maki.
Semua itu terjadi bukan karena Musa salah memimpin mereka dan bukan
pula karena Allah tidak tahu apa yang akan mereka tempuh atau Allah
tidak sanggup menghindarkan mereka dari kepahitan tersebut. Semua
itu terjadi karena memang dunia ini bukan dunia yang ideal. Dunia
yang sudah jatuh dalam dosa, dunia yang sudah terkutuk dan dikutuk.
Sekalipun kita beriman, percaya bahkan melayani Tuhan dengan
sungguh-sungguh, setia, dan tulus, tidak menjamin bahwa kita
terluput dari kepahitan sebab kepahitan itu tidak pandang bulu.
Sehingga tidak heran ada yang bertanya "Why good people suffer?"
bahkan pemazmurpun bisa berkata:
"Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi
mereka yang bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku
terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sia-sia sama sekali Aku
mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak
bersalah. Namun sepanjang hari, aku kena tulah, dan kena hukum
setiap pagi." (Mazmur 73:1-2, 13-14)
Dalam Mazmur tersebut si pemazmur mengakui bahwa sekalipun ia tahu
bahwa Allah itu baik bagi mereka yang tulus dan bersih hatinya, ini
adalah pengetahuan yang benar tentang Allah, namun tidak menjamin
bahwa ia terhindar dari penderitaan dan kepahitan yang membuatnya
kecewa bahkan hampir tergelincir imannya. Ini adalah suatu akibat
yang wajar dan normal. Janganlah kita langsung menunjuk jari bahwa
pemazmur adalah orang yang lemah imannya. Karena tanpa sadar tiga
jari kita menunjuk kepada diri kita sendiri.
Adakah saudara saat ini dalam kepahitan? Ketahuilah bahwa semua itu
adalah wajar dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa ini. Dunia ini
memang tidak ideal. Melalui kepahitan ini iman kita kepada Allah
yang kita percaya diuji. Reaksi kita terhadap kepahitan tersebut
akan merefleksikan iman kita kepada Allah yang kita percayai, yaitu
Allah yang telah menyelamatkan kita dari dosa.
Jangan bersungut-sungut
Menghadapi mata air yang pahit di Mara, kita melihat ada dua reaksi
yang berbeda sebagai refleksi iman. Pertama adalah bersungut-sungut,
"Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa". Siapakah mereka
yang bersungut-sungut itu? Mereka adalah umat Israel yang telah
mengalami berbagai macam kuat kuasa Allah. Mereka yang dahulunya
menjadi budak dan menderita di Mesir dengan kuat kuasa Allah melalui
berbagai mujizat telah dilepaskan dari perbudakan. Kuat kuasa Allah
yang terakhir adalah kelepasan mereka dari malaikat maut melalui
pengorbanan anak domba yang disembelih dan yang darahnya dibubuhkan
di kedua ambang pintu serta terbelahnya Laut Merah sehingga mereka
selamat dari kejaran Firaun serta bala-tentaranya. Mujizat-mujizat
yang mereka alami sungguh luar biasa. Namun demikian mujizat-mujizat
yang luar biasa tersebut tidak menjamin untuk mencegah mereka tidak
bersungut-sungut dalam menghadapi kepahitan. Banyak orang kristen
yang gandrung akan mujizat dan menganggap mujizat itu dapat
menguatkan iman mereka. Tetapi kenyataan memberitahu bahwa mujizat
bukan jaminan untuk iman yang teguh. Iman kita tidak boleh
dilandaskan pada pengalaman akan mujizat karena mujizat adalah
landasan yang sangat lemah. Landasan iman kita haruslah Firman
Kristus,
"Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman
Kristus." (Roma 10:17)
Mereka bukan saja mempunyai pengalaman luar biasa dengan mujizat,
mereka juga mempunyai pengenalan yang benar tentang Allah atau boleh
dikatakan teologia yang benar tentang Allah. Seperti yang terungkap
ketika mereka memuji Allah setelah dilepaskan dari kejaran Firaun:
"Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN;
siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan
karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban? ...
Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus;
dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu
yang kudus" (Keluaran 15:11,l3).
Namun semua itu tak dapat mencegah mereka untuk tidak bersungut-
sungut!
Untuk tidak bersungut-sungut dalam menghadapi kepahitan baiklah kita
mengikuti teladan Daud yang berkata,
"Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai
segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah
lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:1-2)
Itulah kiat mujarab agar kita tidak bersungut-sungut bahkan sanggup
memuji TUHAN dalam segala keadaan. Menghitung semua kebaikan Tuhan
dalam hidup kita, terutama keselamatan yang dianugerahkan kepada
kita melalui kematian-Nya di atas kayu salib di Golgota.
Berseru-seru kepada TUHAN.
Berbeda dengan umat Israel yang bersungut-sungut, maka reaksi Musa
terhadap kepahitan itu adalah "berseru-seru kepada TUHAN". Inilah
refleksi iman yang harus ada pada kita tatkala menghadapi kepahitan
dalam hidup ini. Berseru-seru kepada TUHAN adalah pernyataan iman
Musa yang percaya bahwa TUHAN mempunyai cara-Nya sendiri untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi dan juga iman yang mau melakukan
apa yang diperintahkan TUHAN, iman yang ´trust and obey´. Dengan
tanpa bertanya apa jenis kayu tersebut dan ragu bagaimana hal itu
bisa terjadi "Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu
menjadi manis."
Apakah Anda saat ini dalam kepahitan hidup? Berdoalah, berseru-
serulah kepada TUHAN, dan nantikanlah jawaban-Nya. Pekalah terhadap
jawaban TUHAN. Memang ada yang mengatakan bahwa jawaban doa kita
biasanya "Ya", "Tidak", atau "Tunggu"; namun jangan kita tertutup
dengan jawaban lainnya dari TUHAN. Yakinlah jika dengan sungguh-
sungguh kita mau ´trust and obey´, maka pada waktunya -- karena
segala sesuatu ada waktunya -- kepahitan itu akan berubah menjadi
manis. TUHAN sanggup "membuat segala sesuatu indah pada waktunya"
(Pengkotbah 3:11) dan percayalah semua kepahitan itu akan berlalu
oleh kuasa TUHAN. Semoga TUHAN menolong kita semua menghadapi
kepahitan hidup ini dengan sikap yang benar, merefleksikan iman kita
kepada TUHAN agar mereka yang belum percaya mau mengenal-Nya.
Setelah semuanya itu berlalu mereka melanjutkan perjalanan dan
"Sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh
puluh pohon korma" suatu tempat yang kontras dengan Mara, suatu
tempat yang lebih nyaman daripada Mara yang pahit itu. Namun mereka
tidak boleh berkemah seterusnya di sana sebab tujuan akhir mereka
bukanlah Elim, tetapi tanah perjanjian. Demikian juga dalam
perjalanan iman kita. Kepahitan dan kenyamanan bukanlah tujuan akhir
dari hidup kita. Oleh karena itu apapun yang kita hadapi dalam hidup
ini janganlah kita berhenti tetapi teruskanlah perjalanan iman kita.
Viktor Frankl, seorang ahli ilmu jiwa asal Austria yang dipenjara
oleh Nazi pada Perang Dunia II, setelah dibebaskan, menulis buku
berjudul ´Man´s Search For Meaning´ (Pencarian Manusia akan Makna
Hidup), yang menjadi buku laris sepanjang masa. Dalam buku ini,
Frankl membagikan semua pelajaran penting yang ia petik dari
penderitaannya:
"Saya berani berkata bahwa di dunia ini tak ada yang dapat benar-
benar menolong seseorang untuk terus bertahan hidup, bahkan dalam
situasi terburuk sekalipun, selain pemahaman bahwa sesungguhnya
hidup seseorang itu berarti."
Semoga dalam kepahitan hidup, Tuhan menguatkan kita untuk terus
mempertahankan hidup ini. Karena hidup yang telah ditebus Kristus
ini sangat berarti untuk memuliakan TUHAN. Amin.
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/063/
|