Keluarga Allah di Dunia Tanpa Keluarga

By admin

Selama beberapa dekade, orang Kristen telah mengkhawatirkan keluarga yang semakin melemah, menyusut, dan kehilangan perannya. Kita sedang memasuki situasi yang belum pernah kita hadapi sebelumnya, yaitu ketika banyak anak tidak lagi memiliki saudara kandung, memiliki lebih sedikit bibi, paman, dan sepupu, atau tidak lagi tinggal bersama kedua orang tua biologis mereka. Saat ini, hampir 30 persen rumah tangga hanya terdiri dari satu orang.

Menanggapi berbagai tren ini, sebagian besar pendeta dan pemimpin gereja mencurahkan perhatian untuk menangani dampaknya. Mereka mencari cara agar gereja dapat menguatkan keluarga yang sedang berada dalam krisis, meringankan akibat dari retaknya keluarga, atau melibatkan para lajang dengan lebih baik dalam pelayanan. Naluri pastoral untuk mencari jalan agar gereja dapat melayani orang-orang yang sedang mengalami kesusahan adalah hal yang sangat penting.

Namun, ada pertanyaan yang lebih besar yang sering tidak diajukan: Bagaimana kemerosotan keluarga mengubah cara kita memahami gereja? Tidak cukup bagi kita hanya bertanya bagaimana gereja dapat menangani rusaknya relasi keluarga. Kita juga harus mempertimbangkan bagaimana tantangan-tantangan baru ini memengaruhi relasi di dalam gereja. Perhatikan beberapa contoh berikut:

  • Bagaimana kita memahami makna memiliki "saudara-saudari" dalam Kristus di dunia ketika semakin banyak anak lahir dan dibesarkan tanpa saudara kandung? Ini adalah pertanyaan yang pernah saya ajukan berkaitan dengan Tiongkok, tempat dampak ekonomi dan demografis dari kebijakan satu anak yang menghancurkan itu telah menghasilkan dunia tempat saudara kandung menjadi pengecualian, bukan lagi sesuatu yang lazim.
  • Bagaimana kita tetap memandang gereja sebagai keluarga Allah di dunia ketika semakin banyak orang hidup dalam rumah tangga yang hanya terdiri dari satu orang, terutama di kota-kota tempat jumlah lajang di beberapa jemaat melebihi jumlah pasangan menikah?
  • Apa dampak jangka panjang dari rumah tangga yang pecah karena perceraian terhadap cara kita memandang Allah sebagai Bapa?
  • Bagaimana ketidakstabilan yang terus-menerus dari relasi ayah atau ibu yang berganti-ganti memengaruhi pemahaman seorang anak tentang kasih perjanjian Allah yang tetap dan permanen?

Tidak Ada Jawaban yang Mudah

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab karena situasi dan keadaannya berbeda dari satu orang ke orang lain, dari satu keluarga ke keluarga lain, dan dari satu budaya ke budaya lain. Saya tidak mengklaim memiliki semua jawabannya di sini. Saya juga menyadari bahwa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, saya seolah menyiratkan bahwa beberapa bentuk keluarga tertentu -- suami dan istri dengan pernikahan yang tetap utuh serta anak-anak yang lahir dari kasih mereka -- lebih dekat kepada standar universal. Kita berisiko mengidealkan satu bentuk tatanan keluarga tertentu sebagai norma di segala tempat dan segala zaman. Padahal, masyarakat tradisional, misalnya, sering kali berbeda dari "keluarga inti" bergaya Barat karena memberi nilai yang lebih tinggi pada keterlibatan dan harapan terhadap keluarga besar.

Meski demikian, kita tidak dapat menghindari persoalan ini karena Kitab Suci secara teratur berbicara tentang tubuh Kristus dengan istilah-istilah kekeluargaan dan dipenuhi dengan gambaran tentang pernikahan serta keluarga. Karena itu, tepatlah jika kita mempertimbangkan bagaimana pemahaman kita tentang gereja ikut terpengaruh ketika relasi keluarga yang sudah lama dikenal -- ayah dan ibu, anak dan orang tua, saudara dengan saudara -- menjadi semakin jarang ditemukan.

Mengapa Keluarga Penting

Ketika pengecualian menjadi hal yang lazim dalam kehidupan keluarga -- ketika ukuran keluarga semakin kecil dan semakin sedikit anak memiliki saudara kandung, ketika pola asuh orang tua tunggal menjadi umum, dan ketika perceraian serta pernikahan kembali dianggap biasa -- proses belajar untuk hidup dengan baik dalam bidang-bidang kehidupan lainnya menjadi semakin sulit, bukan semakin mudah. Gregg Ten Elshof menulis,

"Belajarlah menjadi anak perempuan yang baik, dan Anda akan tahu bagaimana menghadapi dinamika sebagai karyawan yang baik. Belajarlah menjadi ayah yang baik, dan Anda akan tahu bagaimana menjadi pengawas yang baik. Belajarlah menjadi adik yang baik, dan Anda akan tahu bagaimana menerima arahan dari guru sambil tetap mempertahankan tingkat kemandirian yang sehat."

Sayangnya, individualisme ekspresif sering membuat kita memandang seseorang secara abstrak, seolah-olah dia terisolasi dan terpisah dari orang lain. Individu dianggap sebagai unit dasar masyarakat yang terlepas dari konteks keluarga dan relasinya. Namun, kita tidak mungkin mencabut relasi dari diri seseorang tanpa sekaligus mencabut bagian penting dari kemanusiaannya. Tidak ada pohon hidup tanpa akar. Tidak ada manusia hidup tanpa leluhur. Pada akhirnya, kita adalah makhluk yang hidup dalam relasi.

Inserted image

G. K. Chesterton menunjukkan bahwa kekuatan kehidupan keluarga justru terletak pada kenyataan bahwa kita tidak memilih orang-orang yang menyertai kita. Kita harus belajar menghadapi orang-orang yang berbeda dari kita. Memberontak terhadap keluarga karena keluarga terasa tidak menyenangkan berarti memberontak terhadap umat manusia.

"Bibi Elizabeth tidak masuk akal, seperti umat manusia. Ayah mudah tersulut emosi, seperti umat manusia. Adik kami yang paling kecil nakal, seperti umat manusia. Kakek bodoh, seperti dunia; dia tua, seperti dunia."

Chesterton menggambarkan kelahiran sebagai "petualangan tertinggi", sebuah langkah memasuki "jebakan yang indah sekaligus mengejutkan", dengan ayah dan ibu yang sudah menunggu, paman yang hadir untuk mengejutkan kita, dan bibi yang muncul seperti kejutan dari langit biru:

"Ketika kita memasuki keluarga melalui kelahiran, kita benar-benar memasuki sebuah dunia yang tidak dapat diperhitungkan, sebuah dunia yang memiliki hukum-hukumnya sendiri yang asing, sebuah dunia yang dapat berjalan tanpa kita, sebuah dunia yang tidak kita ciptakan."

Keluarga adalah sebuah petualangan, penuh dengan janji sekaligus bahaya. Petualangan dapat berjalan baik dan menghasilkan teladan kebajikan yang heroik. Namun, petualangan juga dapat berjalan buruk dan meninggalkan luka serta trauma yang mendalam. Kehidupan keluarga jarang mudah, dan justru karena itulah keluarga penting bagi cara kita memahami tempat kita di dunia dan masa depan kita.

Kehidupan Keluarga dan Gereja

Petualangan kehidupan keluarga mempersiapkan kita untuk menjalani petualangan hidup dengan baik di bidang-bidang lainnya. Dengan belajar berelasi secara baik dengan orang tua dan saudara kandung, bibi, paman, sepupu, kakek-nenek, dan buyut, kita mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menjalin persahabatan, mengasihi sesama, menghormati orang-orang yang memiliki otoritas atas kita, dan terutama menjadi keluarga Allah, yaitu gereja. Kita akan lebih sulit memahami seperti apa mengasihi gereja -- "sebuah persekutuan dari orang-orang yang berbeda", sebagaimana Scot McKnight menggambarkan umat Allah -- jika kita belum belajar mengasihi orang-orang dalam keluarga inti dan keluarga besar kita.

Tentu saja, kita juga dapat memberi penekanan yang berlebihan pada pentingnya keluarga. Misalnya, kita bisa saja membekukan satu bentuk keluarga inti tertentu -- ayah, ibu, dan 2,5 anak -- sebagai sesuatu yang mutlak bagi kesejahteraan manusia. Perjanjian Baru menentang baik individualisme yang berlebihan maupun pengultusan hubungan kekerabatan. Kita tidak boleh melupakan bagaimana Yesus, dengan cara-cara yang cukup mengejutkan, merelatifkan prioritas hubungan darah. Pandangan tinggi Rasul Paulus terhadap hidup melajang juga seharusnya mencegah kita untuk mengabaikan atau merendahkan orang-orang yang situasi dan panggilannya berbeda.

Namun, kita tidak dapat meremehkan daya bentuk keluarga. Ketika pandangan dan pengalaman suatu masyarakat tentang keluarga berubah, kita seharusnya memperkirakan bahwa pemahaman gereja tentang dirinya sendiri juga akan ikut terpengaruh. Ten Elshof bertanya,

Tidak ada pohon hidup tanpa akar. Tidak ada manusia hidup tanpa leluhur. Pada akhirnya, kita adalah makhluk yang hidup dalam relasi.

"Apa yang akan terjadi ketika Anda mengundang orang-orang yang sudah dibentuk oleh sikap masyarakat Barat kontemporer terhadap keluarga untuk menerapkan apa yang selama ini mereka lakukan dalam konteks keluarga ke dalam komunitas Kristen mereka -- ketika Anda mengundang mereka untuk menjadi keluarga besar bagi satu sama lain? Mungkin yang Anda dapatkan adalah suatu perkumpulan orang-orang yang memandang diri mereka terutama sebagai pribadi-pribadi yang otonom dan individualistis, lalu keluar-masuk berbagai gereja selama bertahun-tahun, bergantung pada ke mana tujuan hidup, minat, dan preferensi mereka membawa mereka."

Maksud Ten Elshof adalah bahwa jika kita ingin memandang gereja sebagai keluarga, bahkan sebagai keluarga pengganti, sebagian besar orang perlu memiliki pengetahuan dan pengalaman tertentu tentang apa artinya berelasi dengan anggota keluarga. "Anda tidak dapat meneruskan sesuatu yang belum Anda miliki," tulisnya. Tanpa belajar, baik dari pengalaman sendiri maupun dari teladan orang-orang di sekitar kita, tentang apa artinya menjadi saudara laki-laki atau saudara perempuan, anak laki-laki atau anak perempuan, ayah atau ibu, kita akan lebih sulit menjadi gereja dan membangun relasi yang baik dengan anggota keluarga kita di dalam Kristus.

Kehidupan Keluarga dan Sekularisme

Kita membutuhkan lebih banyak pendeta dan pemimpin gereja yang bergumul bukan hanya dengan pertanyaan tentang bagaimana gereja dapat melayani orang-orang pada masa kini, tetapi juga tentang bagaimana situasi keluarga masa kini memengaruhi cara kita memandang gereja. Kita seharusnya memperkirakan bahwa pemahaman kita tentang gereja akan berubah dalam budaya ketika semakin sedikit orang bertumbuh bersama saudara kandung, dikelilingi keluarga besar, atau tinggal dalam rumah tangga yang stabil. Hal ini penting bagi gereja maupun masyarakat.

Saya tidak memiliki semua jawabannya di sini. Namun, saya pikir sebagian jawabannya setidaknya dimulai dengan mengajukan pertanyaan ini: Bagaimana meluasnya runtuhnya harapan-harapan tradisional tentang keluarga, yang sebagian besar disebabkan oleh asumsi-asumsi individualisme yang dominan, memengaruhi kemampuan kita untuk memandang gereja sebagai keluarga dan bertindak sesuai dengan pemahaman itu?

Pertanyaan lain pun menyusul: Bagaimana Injil memperbarui dan memulihkan umat Allah sehingga mereka yang tidak pernah mengalami kehidupan keluarga yang sehat dapat mengambil tempat di antara saudara-saudari, ibu dan ayah, anak-anak dan cucu-cucu yang baru di dalam Kristus?

Sepuluh tahun yang lalu, Mary Eberstadt mengajukan teori baru tentang sekularisasi. Kebanyakan orang beranggapan bahwa pernikahan dan kelahiran anak menurun di masyarakat Barat setelah masyarakat itu mulai menjadi sekuler. Namun, Eberstadt menyatakan bahwa menurunnya pernikahan dan kelahiran anak justru mempercepat dan menyebabkan sekularisasi. Agama dan keluarga berada dalam sebuah "heliks ganda" -- dua untaian yang terus berputar mengelilingi satu sama lain, naik dan turun bersama, serta terhubung di tengah oleh kaitan-kaitan penting. Pembentukan keluarga memengaruhi keyakinan beragama. "Buta huruf tentang keluarga melahirkan buta huruf tentang agama," tulisnya.

Mungkin, setidaknya sebagian alasan mengapa orang Kristen begitu banyak memberi perhatian kepada keluarga dalam beberapa dekade terakhir adalah adanya naluri bahwa kekuatan gereja dan kekuatan keluarga sering kali naik dan turun bersama. Dalam hal ini, kita tidak keliru. (t/Jing-jing)

Diambil dari:

Nama situs

:

The Gospel Coalition

Alamat artikel

:

https://www.thegospelcoalition.org/blogs/trevin-wax/family-god-world-without-families/

Judul asli artikel

:

The Family of God in a World Without Families

Penulis artikel

:

Trevin Wax