Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Kerja Sama Bimbingan Konseling Sekolah dan Orang Tua

Edisi C3I: e-Konsel 295 - Bimbingan Konseling dan Orang Tua

Ditulis oleh: Sri Setyawati

Anak adalah anugerah yang Tuhan titipkan kepada orang tua. Dengan hadirnya anak-anak dalam sebuah keluarga, selain menerima anugerah Tuhan, orang tua juga memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengasuh, merawat, dan mendidik anak-anak (Amsal 29:17; Efesus 6:4; Amsal 22:6). Bagaimana sikap orang tua dalam memperlakukan anak-anaknya sesuai perintah Tuhan? Tentu mengasuh dan mendidiknya dengan kasih dan kedisiplinan. Memberikan pengajaran iman berdasarkan Alkitab adalah hal yang paling utama dan mendasar. Orang tua harus mengajarkan kepada anak-anaknya untuk hidup dalam takut akan Tuhan (Amsal 15:33). Setelah itu, orang tua juga harus memberikan pengetahuan-pengetahuan umum kepada anak-anak dengan mengirimnya ke sekolah/lembaga pendidikan.

Selain memberikan pendidikan informal di dalam keluarga, orang tua tentu membutuhkan pihak lain untuk memberikan pendidikan yang cukup bagi anak-anaknya. Dalam hal ini, orang tua akan bekerja sama dengan pihak sekolah/lembaga pendidikan (pendidikan formal). Pihak sekolah, para guru, menjadi mitra orang tua dalam mendidik dan membimbing anak-anak untuk menjadi pribadi yang cerdas, berpengetahuan, terampil, pandai bersosialisasi, berkarakter, dan berbudi pekerti yang luhur. Dengan demikian, pihak sekolah diharapkan tidak hanya memberikan kurikulum pelajaran sebanyak mungkin bagi anak-anak, namun juga memikirkan bagaimana membentuk siswa didik menjadi manusia yang penuh kasih, peduli dengan sesama, bisa berorganisasi, dan memiliki keterampilan yang berguna untuk hidup mereka pada masa depan.

Guru dianggap sebagai pihak yang bisa dipercaya orang tua dalam menanamkan budi pekerti dan pengetahuan bagi anak-anak. Sayangnya, beberapa anak yang mengalami kekecewaan dengan guru bidang studi tertentu, terkadang tidak mau mendengarkan nasihat guru tersebut dan hubungan mereka menjadi renggang. Lebih-lebih terhadap guru "killer" dan guru yang "tak bersahabat", anak-anak akan terus mencoba menghindar. Bahkan, ada beberapa anak yang nekat membolos dan tidak ikut pelajaran yang diampu oleh guru-guru tersebut. Hasilnya, mereka semakin ketinggalan dan nilai mereka pun semakin jelek. Lalu, bagaimana menolong anak-anak tersebut agar mau kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran?

Dalam kondisi seperti ini, guru bimbingan konseling (BK) sangat diperlukan. Guru BK sebaiknya melakukan pendekatan kepada anak-anak yang bermasalah, baik masalah di kelas maupun masalah sikap siswa dalam bersosialisasi di lingkungan sekolah. Guru BK pun perlu melibatkan orang tua/wali murid untuk membicarakan kondisi anak-anak saat berada di sekolah. Tanpa ada komunikasi yang terbuka dan lancar antara guru dan orang tua, sulit bagi anak-anak untuk mendapatkan bantuan. Semua guru memang berperan sebagai pembimbing siswa, artinya mereka semua bertanggung jawab untuk memberikan bantuan terhadap anak-anak, untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimal terhadap sekolah, keluarga, dan masyarakat. Namun demikian, guru BK sering kali diserahi tanggung jawab yang lebih besar untuk menangani anak-anak yang bermasalah, karena guru BK dianggap sebagai pihak yang lebih kompeten dalam memberikan pengarahan dan bimbingan yang lebih mendalam dan khusus sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Akan tetapi, keberhasilan dalam membimbing anak didik tetap membutuhkan kerja sama dan dukungan dari seluruh personel sekolah yang lain, khususnya wali kelas, guru bidang studi, tenaga administrasi, dan orang tua.

Untuk itu, seorang guru BK harus memiliki kemampuan lebih dibanding guru bidang studi dalam melakukan pendekatan, bimbingan, dan pengarahan terhadap para siswa. Sehubungan dengan peranannya yang penting ini, guru BK harus:

  • memiliki data tentang siswa dan keluarganya,
  • mengamati tingkah laku siswa dalam situasi sehari-hari,
  • mengenal para siswa yang memerlukan bantuan khusus,
  • mengadakan pertemuan atau hubungan dengan orang tua siswa, baik secara individu maupun secara kelompok, untuk memperoleh saling pengertian tentang pendidikan anak,
  • bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga-lembaga lainnya untuk membantu memecahkan masalah siswa,
  • membuat catatan pribadi siswa serta menyiapkannya dengan baik,
  • menyelenggarakan bimbingan kelompok atau individu,
  • bekerja sama dengan petugas-petugas bimbingan lainnya untuk membantu memecahkan masalah siswa,
  • menyusun program bimbingan sekolah bersama-sama dengan petugas bimbingan lainnya, dan
  • meneliti kemajuan siswa, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Orang tua dan guru tentu tidak dapat mengawasi anak-anak selama 24 jam. Guru tidak tahu bagaimana keadaan anak di rumah, demikian juga sebaliknya, orang tua tidak mengetahui perilaku anak-anak mereka ketika di sekolah. Karena inilah, guru dan orang tua perlu mengomunikasikan satu sama lain, sehingga anak-anak yang bermasalah bisa segera ditolong. Guru bimbingan dan orang tua perlu membuat kesepakatan bersama, bahwa ketika anak-anak mereka tidak mendapatkan nilai baik, jangan memarahi atau mencaci anak tersebut karena dapat membuatnya semakin "jatuh" secara psikis. Anak justru perlu dirangkul dan dinasihati dengan halus, dan dibantu dalam proses belajar (Ingat kewajiban orang tua dalam Titus 2:1,6 dan Efesus 6:4). Orang tua pun sebaiknya selalu menyediakan waktu untuk mendampingi putra-putrinya saat belajar atau mengerjakan PR. Dalam pengembangan sikap dan iman, orang tua juga perlu mengajak anak-anak untuk rajin berdoa dan bersekutu, serta memberikan teladan nyata dalam kasih dan kedisiplinan.

Sementara itu, dalam rangka membangun kerja sama antara guru BK dan orang tua, pihak sekolah perlu melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut.

1. Melakukan Kunjungan ke Rumah Anak Didik

Kunjungan ini memperlihatkan kepedulian dan perhatian guru terhadap para siswa dan keluarganya. Dengan demikian, komunikasi orang tua dan guru bisa semakin terbuka dan dekat.

2. Mengundang Orang Tua ke Sekolah

Orang tua perlu diundang dalam acara-acara yang diadakan sekolah. Hal ini perlu karena orang tua adalah bagian dari sekolah dan dengan mengundang mereka, keberadaan mereka terasa dihargai.

3. Seminar Konseling bagi Orang Tua

Seminar ini diadakan untuk memberikan wawasan tambahan bagi orang tua/wali murid, sehingga mereka bisa membantu anak-anak jika memiliki kesulitan atau masalah di rumah. Seminar ini sebaiknya menghadirkan konselor ahli yang berpengalaman.

4. Komite Sekolah

Komite sekolah adalah organisasi orang tua/wali murid dan guru yang dibentuk untuk memfasilitasi kerja sama untuk kemajuan siswa dan sekolah.

5. Menjalin Komunikasi Antara Sekolah dan Keluarga

Salah satu cara komunikasi ini bisa dilakukan dengan mengirimkan surat, misalnya surat pemberitahuan kepada orang tua jika anaknya perlu belajar lebih giat, sering membolos, sering berkelahi, dan sebagainya.

Sebaliknya, pihak orang tua sebagai mitra guru juga perlu melakukan tindakan pertolongan, seperti membantu anak bila mendapat kesulitan dalam memahami tugas yang diberikan, mengontrol waktu belajar anak di rumah, membantu anak dalam menggunakan waktu luangnya untuk belajar, dan memberikan perhatian yang cukup kepada anak dalam hal belajar.

Dengan adanya kerja sama yang baik antara pihak sekolah dan orang tua, apa pun masalah anak tentu bisa diatasi bersama-sama.

Sumber bacaan:

1. _______. "Peran Guru Dalam Pengembangan Karakter Bangsa". Dalam http://www.batararayamedia.com/.

2. _______. "Pembahasan Kerjasama antara Guru dan Orang Tua dalam Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa". Dalam http://www.facebook.com/notes/mukliskurniawan-blog/.

Komentar