Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Renungan

Perayaan yang Berharga!

Hari ulang tahun adalah peristiwa yang spesial. Ketika masih muda, kita menanti-nantikan hari ulang tahun kita. Sangat menyenangkan ketika usia kita bertambah pada tahun berikutnya, mengadakan pesta ulang tahun, dan merayakannya bersama teman-teman kita. Akan tetapi, saat kita semakin tua, kita tentu tidak begitu menanti-nantikan datangnya hari ulang tahun kita. Saya rasa karena kita semakin tua, tubuh kita sudah tidak lagi seperti sedia kala. ... baca selengkapnya »

Menanggung Salib

Edisi C3I: e-Konsel 236 - Kematian Yesus

Tuhan, aku tidak akan membuat tanggungan salibku menjadi semacam pemujaan berhala. Salib bertujuan melepaskan aku dari sikap mementingkan dan memikirkan diri sendiri, agar berguna bagi orang lain. Akan tetapi, bila aku terus-menerus memusatkan pikiranku pada salibku, maka aku tidak berguna bagi diriku atau pun orang lain. Oswald Chambers, seorang tokoh Kristen, pernah berkata, "Pengorbanan diri bisa menjadi suatu penyakit." Aku tidak boleh menjadikan salibku sebagai suatu objek pemujaan; aku harus menjadikannya suatu alat penyaliban bagi diriku. Salibku bersaing dengan tuntutan Kristus kepadaku. Salib itu menjadi salib pribadiku bila aku diperhadapkan dengan suatu pilihan, yaitu ketika Kristus berkata, "Tinggalkan segala sesuatu yang bisa menyaingi-Ku, lalu ikutlah Aku." ... baca selengkapnya »

Kesenangan Vs Sukacita

Edisi C3I: e-Konsel 186 - Sukacita di dalam Tuhan

Bacaan: Yohanes 15:7-11 Nats: "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." (Yohanes 15:11) Dunia menawarkan kesenangan-kesenangan sementara (Ibrani 11:25), tetapi Tuhan Yesus menawarkan sukacita yang penuh dan kekal (Yohanes 15:11). Kesenangan bergantung pada situasi-situasi tertentu, sedangkan sukacita datang dari dalam dan tidak terpengaruh oleh keadaan lingkungan. Kesenangan dapat selalu berubah-ubah, sedangkan sukacita tak pernah berubah!

Arti Kebangkitan Yesus

Edisi C3I: e-Konsel 182 - Kebangkitan Yesus

Yohanes 20:11-18 Maria Magdalena menangis karena kasihnya kepada Yesus. Saat itu, malaikat di depannya dan Yesus sendiri di belakangnya. Baik ucapan malaikat maupun sabda Tuhan Yesus menekankan belas kasih terhadap Maria. Jawaban Maria menunjukkan imannya kepada Yesus meski dalam keterbatasannya ia berpikir Yesus sudah mati. Tetapi, Yesus yang sama tetap adalah "Tuhan" baginya (ayat 13). Semula Yesus dianggapnya salah seorang tukang kebun Yusuf Arimatea (ayat 14-15). Tetapi, begitu Yesus menyebut

Tindakan Kasih

Edisi C3I: e-Konsel 178 - Kondisi Bertumbuhnya Cinta Kasih

Bacaan: 1 Tesalonika 4:1-12 Sejak kecil, saya tahu Ayah sangat suka kenari hitam. Jarang-jarang ia bisa mendapatkannya. Maka ketika suatu hari menemukan buah itu di tanah, saya amat girang! Yang pertama tebersit di benak saya adalah segera meminta tolong Ibu untuk memecahkan kenari itu agar bisa saya makan. Namun, kasih saya kepada Ayah membuat saya mengubah rencana itu. Saya menyimpannya untuk Ayah. Malam harinya ketika ia pulang, saya memberikan kenari itu dan berkata, "Ini buat Ayah, saya sudah

Kembali Bekerja

Edisi C3I: e-Konsel 174 - Mari Rayakan Natal

Baca: Lukas 2:15-20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. (Lukas 2:20) Jika Anda harus kembali bekerja setelah Natal, apakah yang akan Anda bawa bersama Anda dari masa Natal tersebut? Beberapa hadiah dan beberapa kenangan liburan yang indah, atau sesuatu yang lain? Saya sangat menyukai cara J.B. Phillips menerjemahkan Lukas 2:20, "Para gembala

Bagian B: Kehendak Allah: Bagaimana Cara Mengetahuinya

Kehendak Allah: Bagaimana Cara Mengetahuinya?

Latar Belakang

Allah memiliki kehendak khusus untuk hidup setiap orang percaya. Mengetahui dan melakukan kehendak-Nya untuk kita, harus merupakan tujuan hidup kita yang terutama, apapun resikonya.

Untuk dapat mengetahui kehendak Allah bagi hidup kita, kita harus lebih dahulu mengenal Allah sendiri. Kita tidak mungkin mengenal siapa kita, sebelum lebih dahulu tahu milik siapa kita. Kita belajar makin mengenal Dia sambil kita menaklukkan diri kita kepada wibawa-Nya (KeTuhanan-Nya), taat pada Firman-Nya dan dipimpin oleh Roh Kudus. Sebanding dengan tingkat pengenalan kita akan Dia dan penaklukkan diri kita kepada-Nya, kita akan mengalami kesukaan hidup berjalan dalam kehendak-Nya. "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." (Ams 3:5,6). ... baca selengkapnya »

Komentar


Syndicate content