Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Konseling dan Masalah-Masalah Remaja

Edisi C3I: e-Konsel 176 - Konseling Remaja

Masalah-masalah remaja bisa diselesaikan dengan dua cara, yaitu dengan mengonseling para remaja dan dengan membantu orang tua. Dalam kedua kasus ini, konselor harus menunjukkan bahwa dia memunyai pemahaman yang luas tentang perjuangan-perjuangan para remaja ini dan pengetahuan tentang berbagai tekanan yang terbentuk, baik dalam diri konseli maupun dalam rumah mereka. Sering kali, orang tua dan remaja dibingungkan, dikecewakan, dan terluka karena ketegangan interpersonal dan tekanan-tekanan remaja yang telah terbentuk. Biasanya ada kemarahan, kehilangan harga diri, kecemasan akan masa depan, dan perasaan bersalah di masa lalu. Konselor yang memahami dan menerima masalah-masalah tersebut tanpa memihak, bisa mendapatkan dampak penting, baik dari orang tua maupun remaja. Dampak itu bahkan bisa lebih besar bila konselor cukup peka, tenang, penuh belas kasih, dan tangguh dalam menoleransi kritik dan pujian, yang kadang-kadang muncul dalam sesi konseling. Remaja dan orang tua mereka membutuhkan orang yang peduli, bijaksana, dan percaya diri, yang dapat memberikan tuntunan yang tenang dan menyejukkan di saat masalah berkecamuk.

  1. Konseling Orang Tua

    1. Dukungan dan Semangat

    2. Saat masalah remaja muncul, orang tua sering kali menyimpulkan bahwa merekalah yang salah, bahwa mereka bukanlah orang tua yang baik, atau bahwa merekalah yang menjerumuskan anak-anak mereka kepada suatu masalah tertentu. Konselor tidak dapat membantu bila mereka mengabaikan atau menjelaskan perasaan-perasaan yang muncul itu, tetapi akan ada manfaatnya bila seorang konselor meyakinkan dan memberi dorongan kepada orang tua. Hampir semua anak-anak -- bahkan anak-anak dari orang tua yang efektif sekalipun -- mengalami masa-masa di mana mereka marah, memberontak, menarik diri, depresi, dan mengkritik. Kita tahu bahwa pada mulanya Allah, satu-satunya Orang Tua yang sempurna, memunyai anak-anak yang memberontak kepada-Nya. Hal ini bisa menenangkan para orang tua karena Dia juga mengalami hal yang sama dan memahami perjuangan mereka. Hal ini juga menolong kita untuk mengingatkan para orang tua bahwa mereka bukanlah satu-satunya orang yang memengaruhi perilaku para remaja dan anak muda. Di rumah, orang tua perlu bersantai, mendengarkan, dan mencoba memahami anak-anak remaja mereka. Yang terpenting adalah terus mencari pertolongan sehari-hari dan meminta tuntunan Tuhan yang menuntun dan mengetahui cara terbaik untuk mengatasi masalah-masalah yang ada, termasuk masalah-masalah remaja sekalipun.

    3. Konseling Keluarga

    4. Orang tua tidak seharusnya disalahkan atas semua stres yang dialami oleh para remaja, tetapi hal ini tidak berarti bahwa orang tua tidak pernah salah. Saat seorang remaja atau beberapa anggota lain dalam keluarga itu memiliki masalah, akar masalah yang sebenarnya sering kali terletak pada kegagalan keluarga itu. Misalnya, saat orang tua punya masalah pernikahan yang serius, anak-anak bisa bertindak berlebihan, melarikan diri, atau mengembangkan perilaku-perilaku yang menuntut perhatian. Hal ini mengalihkan perhatian orang tua dari masalah pernikahan mereka, menyatukan mereka untuk memfokuskan perhatian pada masalah remaja dan kadang-kadang memberi jalan keluar kepada remaja untuk melepaskan diri dari suasana rumah yang tidak bisa dikendalikan lagi.

      Beberapa konselor meminta seluruh keluarga untuk mengikuti konseling, bahkan saat anak laki-laki atau perempuan mereka yang masih remaja diketahui sebagai orang yang bermasalah. Orang yang bermasalah bisa benar-benar mencerminkan masalah rumah dengan lebih dalam. Kadang-kadang, bila keluarga dapat dibantu supaya berfungsi dengan lebih baik, masalah remaja pulih secara dramatis.

    5. Tetapkan batas.

    6. Beberapa konflik di rumah yang dialami oleh remaja dikarenakan anak-anak muda ini meminta kebebasan lebih dari yang diberikan oleh orang tua, setidaknya pada awalnya. Saat remaja berlaku menentang atas batasan yang ditetapkan, orang tua bisa memberi respons yang berbeda. Beberapa orang tua mulai bertanya-tanya apakah mereka kaku dan tidak masuk akal. Beberapa merasa terancam dan berlebihan. Yang lainnya merespons dengan memperketat aturan-aturan dan menolak untuk bernegosiasi atau mengalah. Banyak pula yang menanyakan kemampuan mereka sebagai orang tua.

      Daripada mengabulkan permintaan remaja (suatu tindakan yang biasanya akan memicu permintaan lain lagi), orang tua bisa dibantu untuk mengetahui bahwa seluruh anggota keluarga memiliki hak dalam rumah tangga. Untuk memastikan hak ini, beberapa batasan harus dibuat dan dirawat, dengan mengabaikan tekanan remaja dan lingkungan tetangga, tetapi juga harus ada keleluasaan, komunikasi, dan diskusi. Melalui kata-kata dan tindakan mereka, orang tua bisa menunjukkan kasih, penerimaan, dan menghargai satu dengan yang lainnya dan seluruh anggota keluarga lainnya. Contoh seperti ini tampaknya lebih efektif daripada mengomeli, mengkritik, atau memberikan nasihat. Saat remaja itu semakin dewasa, mereka harus diberi kebebasan yang lebih besar lagi, tetapi harus selalu ditekankan pada hak dan minat orang lain. Konselor bisa membantu orang tua membuat batasan yang praktis, peka terhadap kebutuhan anak muda, dan sesuai dengan standar Alkitab. Kadang-kadang orang tua tahu apa yang harus dilakukan, tetapi mereka perlu seseorang yang memberikan dukungan, khususnya pada saat keluarga mengalami stres.

    7. Tuntunan Rohani

    8. Merton Strommen adalah seorang peneliti yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari remaja dan orang tua mereka. Beberapa dari penelitiannya menyimpulkan bahwa remaja cenderung mengabaikan agama keluarga mereka bila iman orang tua berdasarkan aturan-aturan, daripada nilai-nilai Kristen yang berupa penerimaan dan pengampunan. Bila orang tua kaku dan taat hukum, atau bila keluarga itu benar-benar memerhatikan status, penerimaan dalam masyarakat, atau persaingan, maka anak-anak muda akan lebih senang memberontak. Akhirnya, perilaku-perilaku orang tua ini benar-benar menjadi dasar atas ketidakamanan dan kecemasan. Konseling atas masalah ini sangat menolong, tetapi ada juga nilai dalam menolong orang tua tumbuh secara rohani, membangun nilai-nilai yang alkitabiah, dan terus hidup dalam gaya hidup Kristen. Konseling yang seperti ini memberi manfaat baik bagi orang tua maupun anggota keluarga yang secara tidak langsung juga terbantu.

  2. Konseling Remaja

  3. Mungkin tugas yang paling sulit dalam konseling remaja adalah membangun hubungan yang saling percaya dan membantu konseli muda mengenali kebutuhannya untuk ditolong. Beberapa konseli datang dengan sukarela meminta bantuan, tetapi sering kali remaja merasa tidak membutuhkan konseling dan mereka dikirim oleh orang tua, guru, atau hakim. Saat hal itu terjadi, konselor dipandang sebagai sekutu orang tua, dan penolakan pun muncul di awal pertemuan.

    1. Membuat Rapor Perkembangan

    2. Kejujuran dan hormat, dipadu dengan belas kasih dan kelemahlembutan, semuanya penting, khususnya saat konseling baru dimulai. Bila ada perlawanan, hadapilah secara langsung dan berikan kesempatan kepada konseli untuk memberikan respons. Anda bisa bertanya, "Bisakah kamu jelaskan apa yang menyebabkan kamu ada di sini?" Bila konseli tidak memberikan respons, tanyakan: "Orang lain pasti ingin kamu datang kemari. Saya yakin kamu pasti punya beberapa alasan." Tunjukkan hormat pada konseli dan hindari memberi pertanyaan dengan cara yang menunjukkan penghakiman atau kritikan. Hal ini justru menimbulkan perlawanan dan meningkatkan pembelaan dirinya. Berusahalah untuk memfokuskan diskusi pada masalah tertentu secara konkret, dengarkan dengan cermat apa yang dikatakan konseli, izinkan konseli untuk mengungkapkan perasaannya, dan secara berkala tunjukkan apa yang sedang terjadi secara emosional selama wawancara berlangsung. "Kamu kelihatannya sangat marah," atau "Saya rasa kamu sangat bingung sekarang ini," adalah contoh komentar-komentar yang mendorong perasaan untuk berdiskusi. Cobalah untuk menjaga suasana tetap santai, tidak resmi, pada tahap berbincang-bincang.

    3. Pemindahan

    4. Kata pemindahan ini merujuk pada kecenderungan beberapa individu untuk memindahkan perasaan tentang seseorang di masa lalu ke seseorang di masa kini. Contoh, seorang konseli muda yang membenci ayahnya bisa memindahkan kebenciannya kepada konselor pria. Konselor harus mengetahui bahwa dia sering kali akan dimusuhi, dicurigai, ditakuti, atau dibanggakan terutama karena sang konselor mirip dengan orang dewasa lainnya. Konselor mungkin ingin mendiskusikan pemindahan perasaan ini dengan konseli mereka. Kadang-kadang hal ini berujung pada wawasan dan perilaku bermanfaat yang dapat diterapkan pada sesi konseling.

      Sebagai seorang konselor, cobalah untuk tidak memberi respons seperti orang tua konseli, pahlawan, atau orang lain yang kepadanya Anda disejajarkan. Selain itu, waspadalah pada pemindahan balik. Hal ini merujuk pada kecenderungan konselor untuk melihat kesamaan antara konseli dan beberapa orang lainnya. Bila konseli mengingatkan Anda pada anak Anda sendiri, misalnya, atau bila Anda menjadi ingat pada tetangga Anda yang suka membuat masalah, perasaan Anda pada orang-orang ini bisa dipindahkan kepada konseli dan memengaruhi objektivitas Anda sebagai penolong. Sebaiknya tidak memperlihatkan hal ini kepada konseli, tetapi Anda akan sangat terbantu bila Anda mendiskusikan hal ini dengan konselor lain.

    5. Mengenali Masalah

    6. Sangat sulit untuk menolong bila Anda tidak dapat mengenali masalahnya. Karena konseli remaja kadang-kadang menyangkali bahwa mereka punya masalah, maka konseling bisa menjadi suatu tantangan. Daripada mencoba untuk mengelompokkan atau mendiagnosa masalah, akan lebih menolong bila mendorong remaja untuk membicarakan masalah-masalah mereka, misalnya tentang sekolah, kegiatan di waktu luang, minat, apa yang disukai dan tidak disukai, orang tua, teman-teman, rencana masa depan, agama, kencan, seks, kekhawatiran, dan masalah-masalah serupa lainnya. Mulailah dengan hal-hal yang relatif tidak mengancam (misalnya, "Ceritakan tentang sekolahmu atau keluargamu"; "Hal-hal yang baru-baru ini terjadi dan menarik perhatianmu") dan kemudian bergeraklah ke hal-hal yang sensitif. Dalam melakukan semua hal ini, Anda seharusnya menunjukkan bahwa Anda benar-benar ingin mendengarkan. Cobalah untuk menjadi teman, bukan penyidik. Beberapa pertanyaan umum mungkin diperlukan untuk memulai prosesnya, tetapi ketika konseli mulai berbicara dan Anda menunjukkan keinginan untuk memahami, konseli remaja mungkin mulai mengungkapkan ketakutannya, perasaan-perasaannya, perilakunya, kekhawatirannya, kata hatinya, tekanan interpersonal, pembelaan diri, dan hal-hal penting lainnya.

    7. Menentukan Tujuan

    8. Setelah Anda membuat rapor perkembangan, mulai mengenali masalah, dan mendapatkan beberapa pandangan mengapa rencana tindakan semula tidak berhasil, maka ada baiknya untuk menyusun beberapa tujuan.

Dalam berbagai kondisi konseling, tujuan harus sespesifik mungkin. Bila Anda dan konseli Anda memiliki tujuan yang berbeda, ketidakcocokan ini harus diselesaikan. Kemudian, saat tujuan yang jelas dan bisa diterima oleh kedua belah pihak sudah terbentuk, konseli harus ditolong untuk mengambil tindakan untuk mencapai tujuan ini. Langkah ini dianggap sebagai tahap yang penting sekali dalam konseling; point kritis di mana kegagalan dalam proses konseling paling mungkin terjadi. Mudah bagi setiap orang untuk setuju pada tujuan yang ditetapkan, tetapi lebih sulit untuk membuat perubahan yang akan terus bergerak setahap demi setahap sampai tujuan akhirnya.

Akhirnya, konselor Kristen membantu anak muda ini tumbuh dewasa dan menjadi orang dewasa yang menghormati Kristus melalui gaya hidup, kepercayaan, ketenangan diri, dan hubungan pribadi mereka. Untuk menolong konseli mencapai tujuan ini, perlu fokus pada masa sekarang, masalah-masalah yang lebih mendesak. Kadang-kadang hal ini dilakukan dengan menuntun konseli ketika mereka mengubah pikiran, pandangan, dan perilaku mereka. Ada saat-saat di mana Anda mungkin ingin mengadakan konseling kelompok. Konseling kelompok ini bisa menjadi pertolongan istimewa bagi remaja yang memunyai masalah interpersonal, kecenderungan untuk menarik diri, atau masalah-masalah yang dibagikan oleh orang lain, misalnya pelecehan dalam keluarga, orang tua pemabuk, atau kerabat yang punya penyakit parah. Hubungan dan "sharing" yang saling menguntungkan yang ada dalam konseling kelompok bisa memberikan semangat dan mengajarkan remaja pentingnya pelajaran tentang bagaimana berhubungan dengan orang lain secara efektif. Sering kali, hal ini membebaskan mereka untuk bertumbuh secara rohani yang membawa jawaban akhir atas masalah-masalah kehidupan. (t/Ratri)

Diterjemahkan dan disesuaikan dari:

Judul buku : Christian Counseling: A Comprehensive Guide
Judul asli artikel : Counseling and the Problem of Adolescents
Penulis : Gary R. Collins, Ph.D.
Penerbit : Word Publishing, Dallas, London, Vancouver, Melbourne 1988
Halaman : 175 -- 178

Komentar