Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Lima Bom Waktu Ketidakcocokan

"Opposite attracks". Namun, bisa juga "opposite attacks".

Keseragaman itu tampak rapi, namun juga bisa membosankan. Sebaliknya, keragaman menawarkan kemeriahan dan kesemarakan. Apa jadinya coba kalau di seluruh dunia ini hanya ada bunga mawar merah? Atau, tidak bosankah Anda kalau setiap hari -- pagi, siang, malam -- makan nasi dengan lauk telur ceplok? Kita ingin ada variasi. Kita ingin mengalami hal yang berbeda.

Dalam hubungan antarmanusia, keragaman menawarkan tantangan tersendiri. Adanya perbedaan pendapat dapat menimbulkan ketidaknyamanan, namun juga berpotensi memberikan wawasan baru. Seorang ABG (Anak Baru Gede), misalnya, mana betah ikut arisan dengan kaum ibu se-RT? Di sisi lain, remaja yang ingin menambah pengalaman tentu senang bergaul dengan rekan-rekan dari etnis atau ras lain.

Perbedaan-perbedaan semacam itu perlu dicermati dalam memilih pasangan hidup. Pasangan dengan latar belakang yang berbeda dari kita bisa memperlengkapi dan memperkaya kehidupan kita. Namun, terutama jika kadarnya terlampau ekstrem, tak jarang perbedaan itu berpotensi menimbulkan konflik. Ya, jika tidak diantisipasi dan disikapi secara tepat, perbedaan tersebut dapat menjadi "bom waktu" yang dapat meledak pada waktu yang tak terduga.

Bom waktu yang perlu diwaspadai adalah perbedaan umur, perbedaan keyakinan, perbedaan latar belakang, orang tua yang dominan, dan hubungan jarak jauh.

1. Perbedaan Umur yang Mencolok.

Sebuah penelitian tentang kesenjangan umur antara suami dan istri menunjukkan hasil yang menarik. Kelompok suami yang paling bahagia adalah mereka yang istrinya lebih muda 12 tahun atau lebih. Kelompok istri yang paling bahagia adalah mereka yang suaminya 3-5 tahun lebih tua. Kesimpulannya? Silakan Anda pikirkan sendiri.

Yang jelas, jika Anda berhubungan dengan pasangan yang jauh lebih tua atau jauh lebih muda daripada Anda, ada beberapa potensi masalah yang perlu dipertimbangkan masak-masak. Orang yang memiliki perbedaan umur mencolok berada pada fase hidup yang berbeda. Minat, fokus, dan arah hidup mereka boleh jadi malah berseberangan.

Arif, 24 tahun, menikah dengan Diana, 31 tahun. Setahun setelah menikah, Diana sudah sangat ingin menimang momongan. Arif memintanya menunda kehamilan satu atau dua tahun lagi, karena ia masih ingin memantapkan karier dan penghasilannya. Diana sudah merasa terlalu tua untuk mengandung; Arif merasa masih terlalu muda untuk menjadi ayah.

John, 37 tahun, menikah dengan Maria, 26 tahun. John beberapa kali mengajaknya makan malam dengan relasi bisnisnya. Maria merasa jengah bertemu dengan istri-istri lain yang lebih tua darinya, sehingga kemudian acap menolak ketika diajak lagi. Ia lebih bersemangat berbelanja, berlatih senam, atau pergi ke kafe dengan teman-teman sebayanya. John merasa Maria tidak mendukung kemajuan kariernya; Maria merasa kesepian dan diabaikan.

Perbedaan umur yang mencolok, dengan demikian, perlu diantisipasi secara saksama. Jalan tengah mana yang dapat diambil? Dapatkah Anda berdua memikirkan kompromi dan solusi kreatif yang memuaskan kedua belah pihak? Tanpa penanganan yang serius, perbedaan-perbedaan itu hanya akan memantik percekcokan.

2. Perbedaan Keyakinan Rohani.

Nancy L. Van Felt, penulis "Smart Love", dibesarkan oleh orang tua yang berbeda keyakinan. Dia dan adiknya dibesarkan oleh ibu yang saleh, adapun ayah mereka tidak peduli pada agama. Sang ayah tidak menentang, namun juga tidak pernah mengambil bagian dalam peristiwa-peristiwa kerohanian di tengah keluarga mereka.

Ketika ayah mereka meninggal, sang ibu mengaku pada Nancy, "Meskipun ayahmu dan aku cukup bahagia, seandainya aku bisa mengulanginya lagi, aku tidak akan menikah dengannya."

"Kenapa?" tanya Nancy.

"Tidak ada kesatuan rohani di antara kami," jelas ibunya. "Pergi ke gereja sendiri selama bertahun-tahun dan memikul sendiri beban perkembangan rohani kalian berdua benar-benar menyakitkan. Seumur hidup tidak dapat berbagi secara rohani dengan suami itu sungguh terlalu berat."

Berbeda dengan ketidakcocokan lainnya, Tuhan secara khusus memperingatkan kita agar tidak menikah dengan orang yang tidak percaya. Pernikahan bukan hanya perjanjian antara suami dan istri, namun juga antara mereka dan Tuhan. Apabila salah satu pihak berbeda keyakinan atau tidak percaya kepada Tuhan, bagian perjanjian dengan Tuhan tentu saja menjadi rapuh. Orang kristiani yang bersungguh-sungguh juga akan mengalami ketidakseimbangan jika menikah dengan orang kristiani yang tidak serius dalam menghayati imannya.

Kesatuan rohani itu sangat penting antara lain karena kehidupan pernikahan tak ayal akan melewati masa-masa berat penuh tantangan, -- penderitaan, kekecewaan, musibah, sakit-penyakit, kebangkrutan, dan kematian. Dengan kesatuan rohani, kedua pasangan akan dapat bersama-sama berseru kepada Tuhan untuk menguatkan mereka melewati masalah tersebut. Betapa berbedanya jika kita harus melewatinya seorang diri, tanpa dukungan rohani dari pasangan hidup kita.

Kesatuan rohani antara suami dan istri juga memungkinkan anak mengalami pembinaan iman yang optimal. Anak-anak memerlukan orang tua yang dapat menunjukkan jalan menuju Yesus, orang tua yang meneladankan kerohanian yang kokoh. Dengan menyaksikan kesatuan iman kedua orang tuanya, akan lebih mudah bagi anak untuk menyerap sistem nilai yang sama dan memantapkan iman mereka sendiri.

3. Perbedaan Latar Belakang Etnis, Status Sosial, atau Pendidikan.

Agung, pemuda Yogyakarta, bekerja di Palembang dan menikah dengan Intan, perempuan setempat. Ia suka makan sayur-mayur. Namun, Intan jarang menyediakan sayur bening, sayur lodeh, atau pecel kesukaannya. Intan lebih sering menghidangkan ikan atau daging. Selain itu, masakan istrinya cenderung keasinan bagi lidahnya.

Dua puluh tahun lalu Aryo, sarjana cerdas, menikahi Nina, gadis yang hanya lulus SMA dengan nilai pas-pasan. Pada tahun-tahun awal, Nina sibuk dengan urusan rumah tangga dan pengasuhan anak. Kini anak-anak telah bertumbuh besar dan jarang di rumah, dan suaminya sukses dalam bisnis. Pekerjaan rumah pun ditangani oleh pembantu. Bukannya merasa lega, Nina malah merasa tidak lagi dibutuhkan. Ia menjadi cerewet dan menjengkelkan Aryo dengan berbagai perkara sepele, mulai dari soal pakaian sampai diet. Ia bahkan mencoba-coba ikut campur urusan bisnis suaminya. "Dua puluh tahun lalu ia sangat menawan. Keadaannya yang tidak berdaya menggugah daya tarik tersendiri, dan menjadi tantangan bagi saya. Sekarang ia menjadi perempuan gemuk yang menyebalkan," komentar Aryo sinis.

Seorang pelintas alam mengatakan, yang paling mengganggunya dalam perjalanan bukanlah bebatuan besar yang merintangi lintasan, melainkan kerikil-kerikil kecil yang menyelinap ke dalam sepatunya. Apabila tidak dikelola secara tepat, perbedaan latar belakang etnis, status sosial, atau pendidikan berpotensi menjadi kerikil-kerikil kecil yang menjengkelkan dalam kehidupan pernikahan.

4. Orang Tua yang Terlalu Dominan.

Hubungan Dion dan Tiwi kurang disetujui orang tua Dion karena Tiwi dari suku yang berbeda. Akhirnya, mereka diizinkan menikah asalkan Dion bersedia melanjutkan pengelolaan toko keluarga dan tetap tinggal di ruko bersama orang tua. Mereka sepakat sambil berharap, seiring dengan berjalannya waktu, sikap orang tua Dion akan melunak. Tiwi pindah ke luar pulau untuk mengikuti Dion dan mereka bersama-sama menjalankan toko di bawah pengawasan orang tua Dion. Namun, hari demi hari Tiwi terus berharap, kapan bisa keluar dari ruko mertuanya. Jelas saja dia gerah karena tidak bebas -- pergi belanja selalu diingatkan agar jangan boros, mau jalan-jalan atau bepergian sampai larut malam berdua pun tidak leluasa. Satu bulan, dua bulan, setahun, tiga tahun... orang tua Dion belum juga berniat melepaskan mereka untuk hidup mandiri. Lebih tidak enak lagi, selama ini Tiwi lebih merasa sebagai salah satu karyawan toko daripada seorang menantu yang disayang mertua.

Seorang yang hendak menikah, harus siap meninggalkan orang tuanya untuk menyatu dengan pasangannya. Dari pihak orang tua, mereka harus mempersiapkan diri untuk melepaskan anak mereka secara fisik, secara finansial, dan secara emosional. Pasangan yang menikah semestinya dilepaskan untuk membangun sarang baru, menakhodai kapal mereka secara mandiri. Orang yang menikah juga mengalihkan prioritas perhatiannya dari orang tua kepada pasangannya. Ia lebih mengutamakan hubungannya dengan pasangan hidupnya daripada hubungannya dengan orang-orang lain, termasuk dengan orang tuanya.

Orang tua yang terlalu protektif atau terlalu dominan menghambat proses ini. Mereka ingin terus-menerus mengontrol kehidupan anaknya. Campur tangan orang tua yang berlebihan ini, tak ayal akan mempersulit proses penyatuan kedua pasangan.

Ketika memilih pasangan hidup, dengan demikian, Anda perlu memperhatikan secara cermat pola hubungan antara pasangan Anda dan kedua orang tuanya. Apakah orang tuanya siap untuk melepaskan anak mereka menjadi pasangan Anda? Apakah pasangan Anda siap untuk meninggalkan orang tuanya demi menyatu dengan Anda?

5. Hubungan Jarak Jauh.

Santoso dan Dewi bertemu dalam acara retret antargereja. Persahabatan yang terjalin di tempat itu berkembang menjadi hubungan romantis -- melalui telepon dan e-mail. Santoso bekerja di Jakarta dan Dewi berdomisili di Malang. Pasangan ini menikah setelah membina hubungan selama 3 tahun. Empat tahun kemudian mereka berniat untuk bercerai.

Mereka memang berpacaran selama 3 tahun. Namun, selama itu mereka paling banyak hanya bertemu dua kali setiap bulannya. Hal itu tidak memadai untuk membangun pengenalan yang mendalam terhadap satu sama lain karena mereka tidak memiliki cukup waktu untuk berinteraksi secara tatap muka. Komunikasi kita 55 persen disampaikan melalui raut wajah, sosok, dan sikap tubuh -- aspek-aspek nonverbal. Saat berhubungan melalui telepon, kita hanya menerima 38 persen berupa nada suara dan 7 persen pesan verbal. Sisanya, 55 persen yang nonverbal tadi, tidak hadir. Nah, komunikasi tertulis hanya menyalurkan 7 persen pesan verbal dan kehilangan 93 persen aspek lainnya.

Pada pasangan yang membina hubungan jarak jauh, konselor pernikahan biasanya menyarankan agar mereka bertemu lebih sering sebelum menikah. Jika perlu mereka tinggal di kota yang sama atau berdekatan selama kira-kira satu tahun. Tujuannya ialah untuk mengenal satu sama lain secara lebih dekat dan menguji kesungguhan hubungan mereka. Jika tidak, Anda sedang menyelundupkan bom waktu ketidakcocokan ke dalam pernikahan Anda.

"Lebih baik hubungan tanpa status daripada status tanpa hubungan," komentar seorang teman yang mengalami repotnya hubungan jarak jauh.

Diambil dari:

Sumber
Halaman: 
63 -- 72
Bab: 
5 Bom Waktu Ketidakcocokan
Judul Buku: 
Pacaran Asyik dan Cerdas
Pengarang: 
Arie Saptaji
Penerbit: 
Gloria Graffa
Kota: 
Yogyakarta
Tahun: 
2009

Komentar