Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Masalah Hidup: Dianalisa Dulu Baru Diatasi

Edisi C3I: e-Konsel 214 - Menghadapi Masalah Hidup

Selama ini kita mengetahui ada tiga hal cara Allah menjawab doa, yaitu "Ya", "Tidak", atau "Tunggu". Tetapi ada juga cara yang keempat, yaitu "Bertindaklah!" Berikut uraian maksud setiap jawaban Tuhan.

1. Ya!

Ketika Allah menjawab doa kita dengan "Ya", itu berarti Ia mengabulkan permohonan kita. Ia melihat bahwa untuk kebaikan kitalah Ia mengabulkan permintaan itu.

2. Tidak!

Allah tidak mengabulkan permohonan kita karena Ia melihat bahwa yang kita minta itu bukan untuk kebaikan kita.

3. Tunggu!

Allah akan mengabulkan permohonan kita pada masa yang akan datang, bukan sekarang. Ia melihat bahwa untuk kebaikan kita permohonan kita dikabulkan pada masa yang akan datang, bukan saat ini. Waktu tunggu ini sesuai dengan waktu Allah.

4. Bertindaklah!

Allah menghendaki kitalah yang harus bertindak. Kitalah yang harus bertobat, memperbaiki diri, meninggalkan jalan kita yang berdosa. Kitalah yang harus meninggalkan kebiasaan buruk dan kebiasaan berdosa. Allah tidak akan melakukannya bagi kita. Ia pasti akan menolong kita, tapi kitalah yang harus bertindak!

Ketika menghadapi masalah buatan, Allah sering mengharuskan kita untuk bertindak. Ia akan menolong kita tapi Ia tidak akan melakukannya bagi kita. Dalam perubahan kepribadian, sering kita mengharapkan Allah melakukan hal itu tanpa kita berusaha dan bertindak. Kita mengharapkan Allah dengan ajaib menyulap kita dari orang yang sewenang-wenang, pemarah, pendendam, dsb. secara seketika menjadi orang yang sabar, pengasih dan penyayang, mudah mengampuni, dll.. Ini tidak akan dilakukan secara otomatis oleh Allah. Allah jelas akan menolong kita melalui Roh-Nya, tapi kita juga harus berusaha. Kita harus bertobat dari kebiasaan berbuat dosa. Kita harus bertekad untuk meninggalkan kejahatan. Kita harus berhenti membaca bacaan porno atau menonton film porno agar tidak terangsang dan berzinah dalam hati. Kita harus menjauhi bar-bar dan minuman keras agar kita tidak kembali menjadi pemabuk. Allah menyediakan kemampuan kepada kita untuk melakukannya. Dalam peristiwa lahir baru, Roh Kudus mengubahkan kodrat manusiawi kita dan kita menerima anugerah-anugerah-Nya yang besar sesuai dengan janji-Nya. Setelah itu Roh Kudus memasukkan kita dalam program pendewasaan yang akan berlangsung seumur hidup kita. Semuanya sesuai dengan rencana-Nya menjadikan kita semakin menyerupai Kristus. Bertindaklah!

B. MASALAH SUNGGUHAN

Masalah sungguhan adalah masalah yang datang tidak disebabkan oleh sikap atau tingkah laku kita sendiri. Masalah ini mungkin datang karena keinginan, perbuatan, dosa orang lain, bencana alam, kecelakaan, situasi negara, situasi ekonomi, dll.. Contoh: kisah Yosafat dan kaum Yehuda dalam 2 Tawarikh 20:1-26. Yosafat dan rakyatnya menghadapi suatu masalah sungguhan (yang datang bukan karena dosa yang mereka perbuat) yang tidak sanggup mereka atasi. Tindakan mereka merupakan contoh bagi umat Kristen.

Bila musibah, kecelakaan, dan sengsara datang, umat Kristen dianjurkan untuk langsung menghadap Allah untuk meminta tolong dan berlindung pada-Nya. Terhadap ancaman luar biasa yang tidak tertahankan, kita diimbau untuk segera datang kepada Allah, menerima perlindungan dan penjagaan-Nya. Allah yang akan berperang ganti kita dan Ia yang akan memberi kita kekuatan untuk bertahan terus sampai bahaya itu lewat. Hal terutama yang harus kita lakukan ialah memasrahkan diri kepada Allah sambil terus menyembah dan memuji Dia serta tetap hidup benar. Tak perlu putus asa atau bunuh diri saat usaha kita terancam bangkrut atau sudah bangkrut. Tetaplah bertahan saat kita mengalami fitnahan hebat. Tetaplah setia saat suami/istri kita menyeleweng (yang bukan karena sifat dosa kita).

TINDAKAN KITA

Setelah kita mempelajari kedua macam masalah di atas, kita dapat menentukan langkah-langkah yang harus kita ambil bila kita menghadapi suatu masalah.

Bila menghadapi suatu masalah, janganlah kita langsung panik, marah-marah, atau putus asa. Iman kita mengatakan bahwa masalah yang kita alami itu juga untuk kebaikan kita yang memiliki Tuhan Yesus, yang mengasihi-Nya, dan yang dipanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28). Allah mengizinkan masalah hadir dalam hidup kita untuk kekudusan kita, menyadarkan kita akan adanya sifat-sifat yang tidak diperkenan Allah dalam diri kita, atau untuk pendewasaan kita. Kita juga sadar bahwa Allah bukan saja memperbolehkan suatu masalah datang kepada kita, kadang-kadang Ia malah mendesain suatu masalah untuk kebaikan kita.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

  1. Kita perlu memeriksa apakah masalah itu merupakan masalah buatan atau masalah sungguhan. Sebagian besar dari masalah hidup manusia adalah masalah buatan. Seringkali orang langsung menyangka bahwa masalah mereka adalah masalah sungguhan dan tidak sadar bahwa salah satu cara efektif untuk mengatasi banyak masalah adalah melalui perubahan sikap dan tingkah laku.

  2. Bila kita tahu bahwa masalah itu adalah masalah buatan; datanglah segera kepada Allah, melihat kelemahan dan dosa kita, bertobat, dan memohon anugerah-Nya untuk mengubah tingkah laku dan diri kita. Jadi, kalau kita masuk dalam penderitaan atau kesesakan karena dosa dan kesalahan kita, bertobatlah dan meminta pertolongan Tuhan untuk mengubahkan kita. Sebaliknya, bila kita tahu bahwa masalah itu adalah masalah sungguhan, kita datang kepada Allah dan memohon kekuatan serta pertolongan-Nya untuk menyelesaikan masalah kita.

Bagi seorang konselor Kristen, tahu menganalisa suatu masalah dan kemudian membimbing konseli agar tidak salah bertindak adalah penting. JIka kita mengacaukan pengertian kedua macam masalah di atas dan membimbing konseli secara terbalik (misalnya hanya menganjurkan berdoa dalam suatu masalah buatan) akan menyebabkan frustrasi pada konseli karena masalahnya tidak akan terselesaikan.

Diambil dan diringkas dari:

Sumber
Halaman: 
1 -- 16
Judul Artikel: 
Masalah Hidup
Judul Buku: 
Mengatasi Masalah Hidup
Pengarang: 
Dr. Jonathan A. Trisna
Penerbit: 
Lembaga Pendidikan Theologia Bethel Jakarta
Kota: 
Jakarta
Tahun: 
1993

Komentar