Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Masturbasi

Edisi C3I: e-Konsel 085 - Apakah Masturbasi itu Berdosa?

Di gereja sekarang ini terdapat berbagai pandangan yang sangat berbeda tentang masturbasi (onani). Ada di antara mereka yang selalu berpendapat bahwa masturbasi itu dosa, dan ada mereka yang mengatakan bahwa masturbasi itu merupakan karunia Allah, suatu pemberian yang bijaksana bagi orang muda.

Salah satu alasan mengapa pendapat-pendapat itu begitu berlainan adalah karena di dalam Alkitab tidak ada petunjuk yang jelas dan tegas mengenai masturbasi. Beberapa generasi lalu, Kejadian 38:8-11 dan 1Korintus 6:9,10 dipakai untuk mengutuk masturbasi. Nats yang pertama bercerita tentang Onani (Red.: nama orang) yang tidak mau menaati hukum Ibrani Kuno yang menuntut seorang laki-laki untuk mendapatkan anak dengan janda saudara lelakinya. Nats yang kedua menyebut "pemburit" yang di dalam versi King James diterjemahkan sebagai "orang yang menyalahgunakan tubuh mereka sendiri", yang sekarang diterjemahkan dengan tepat sebagai "kaum homoseksual". Baik kata "onani" maupun kata "penyalahgunaan tubuh sendiri" dahulu dipakai untuk menunjuk perbuatan masturbasi, tetapi tidak satu pun dari ayat itu yang benar-benar berbicara tentang perbuatan tersebut.

Beberapa orang mengemukakan bahwa masturbasi bukan perbuatan yang salah karena Alkitab tidak mengatakan apa-apa tentang perbuatan itu. Menggunakan alasan seperti itu bisa berbahaya. Banyak godaan yang kita hadapi dewasa ini tidak pernah disebutkan di dalam Alkitab. Walaupun demikian, kita mengetahui bahwa masturbasi sudah ada sejak zaman dahulu dan umum diketahui. Perbuatan ini paling awal disebut di dalam Egyptian Book of The Dead, sekitar 1500 SM. Kita mengetahui bahwa Alkitab menyebut hampir tiap kegiatan seksual lainnya -- percabulan, perzinahan, homoseksualitas, hubungan seks dengan binatang. Perbuatan-perbuatan itu disebut dengan gamblang. Karena masturbasi merupakan tindakan seksual yang begitu umum sejak dahulu kala, saya kira kita mempunyai hak untuk bertanya mengapa masturbasi tidak disebutkan di dalam Alkitab jika itu adalah perbuatan yang berdosa.

Dari pandangan medis dan ilmu pengetahuan, kita sekarang mengetahui bahwa masturbasi tidak berbahaya secara mental ataupun fisik. Tidak ada alasan-alasan moral yang melawan masturbasi berkenaan dengan kesehatan jasmani, seperti alasan-alasan yang menentang rokok didasarkan atas bahaya kanker, emfisema (sejenis penyakit paru- paru), dan penyakit jantung.

Karena tidak ada petunjuk langsung dari Alkitab, dan karena tidak ada alasan-alasan moral tentang bahayanya bagi kesehatan jasmani, maka kita harus memakai prinsip-prinsip Kristiani lain untuk menentukan apakah masturbasi itu benar atau salah. Saya pribadi menyimpulkan bahwa masturbasi itu sendiri tidak baik dan juga tidak jahat. Untuk menentukan salah dan tidaknya, pertanyaan-pertanyaan lain harus diajukan.

  1. Apakah kehidupan pikiran bersih?

    Dalam Matius 5:27,28 Yesus berkata, "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." Perzinahan dan percabulan mental adalah salah, dan pasti merupakan penghalang bagi pertumbuhan rohani. Berkhayal tentang perbuatan yang dianggap dursila bila dilakukan adalah salah.

    Tetapi ini bukan berarti bahwa semua khayalan adalah salah. Saya mengenal beberapa pasangan suami-istri, yang bila berjauhan, melakukan masturbasi dan memikirkan satu sama lain. Hal ini dilakukan dalam lingkungan hidup perkawinan dan tidak dapat digolongkan sebagai perzinahan mental.

    Perlu ditambahkan lagi bahwa tidak semua masturbasi disertai khayalan. Penyelidikan menunjukkan bahwa kira-kira seperempat orang laki-laki dan setengah orang perempuan tidak berkhayal pada waktu mereka melakukan masturbasi. Bagi mereka, masturbasi hanya merupakan pelepasan fisik dari ketegangan seksual.

    Sudah jelas, orang tidak mungkin mempunyai pikiran yang bersih sementara menggunakan pornografi untuk merangsang khayalan yang membirahikan mengenai perbuatan-perbuatan haram. Namun ada orang yang bisa melakukan masturbasi tanpa membayangkan sesuatu yang najis.

  2. Apakah kehidupan sosial dan kekeluargaan sehat?

    Ada orang yang memakai masturbasi sebagai pelarian dari kehidupan sosial. Jika masturbasi menjadi pengganti hubungan kita dengan sesama, jika dipakai sebagai upaya untuk melarikan diri dari tekanan kesepian, frustrasi dan depresi, maka perbuatan itu merugikan kita dan menghalang-halangi pertumbuhan rohani.

    Setelah bertahun-tahun memberikan konseling, saya akhirnya membedakan antara masturbasi sebagai upaya sementara untuk melepaskan nafsu seksual yang normal dan masturbasi sebagai kebiasaan yang terus-menerus dilakukan oleh karena goncangan emosional yang mendalam. Kadang-kadang, masturbasi merupakan bagian yang tak dapat dielakkan dalam proses pertumbuhan yang normal, khususnya bagi para remaja laki-laki. Sebaliknya, masturbasi yang terus-menerus, disebabkan oleh problema yang serius: ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain, khususnya dengan lawan jenisnya; depresi dan rasa dendam yang mendalam. Dalam situasi seperti ini, masturbasi merupakan gejala dari persoalan yang lebih mendalam.

    Orangtua, pendeta, dan para konselor Kristen harus belajar untuk mengetahui perbedaan antarbermacam-macam jenis masturbasi. Bagi kebanyakan orang Kristen, masturbasi merupakan dalih untuk rasa bersalah mereka, padahal masalah yang sebenarnya bukanlah masturbasi itu.

Jika seseorang kuatir tentang masturbasi, bagaimana ia dapat mengatasinya?

Biasanya, untuk menyerang secara langsung perbuatan ini dari segi rohani adalah sia-sia. Hal ini tidak memperkecil persoalan tetapi justru memperburuknya. Membangkitkan perasaan gelisah tentang masturbasi, justru merangsang perbuatan itu. Sebenarnya, serangan secara langsung itu sering menciptakan lingkaran ke bawah: orang yang bersangkutan itu berusaha berdoa dan membaca Alkitab serta berjanji akan berhenti, tetapi ia tak mampu menepati janjinya lalu merasa tidak enak sekali, dan mengulangi pendekatan ini lagi.

Berdoa bisa menolong -- atau bisa merusak. Doa yang merusak adalah negatif. Doa-doa itu mengatakan kepada Allah betapa buruknya kita, sehingga doa itu malah menciptakan rasa bersalah, keresahan, dan depresi yang lebih hebat. Doa yang menolong mengucapkan perkataan yang meyakinkan kasih Allah yang menerima kita apa adanya. Doa itu akan menunjuk kepada kesetiaan-Nya walaupun kita gagal. "Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau mengasihiku, menyembuhkanku, dan menolongku dalam semua persoalanku." Berdoa dengan positif menolong untuk mematahkan lingkaran keputusasaan dan rasa bersalah.

Tak seorang pun yang dapat memastikan, apakah masturbasi yang menimbulkan rasa bersalah, atau rasa bersalah itu yang mendorong untuk melakukan masturbasi. Apa pun masalahnya, menyerang keadaan itu secara langsung akan membuatnya semakin buruk. Jauh lebih baik untuk mengalihkan pikiran mereka dari rasa bersalah dan kecemasan mereka dengan menerangkan bahwa salah dan benarnya perbuatan itu bergantung pada faktor-faktor lain.

Jadi, bagaimana seseorang harus menghadapi masturbasi? Hadapi secara tidak langsung. Perhatikan kehidupan sosial, jalin hubungan dengan orang lain. Bergaullah, jangan berkhayal. Adakan kegiatan di luar rumah dengan orang lain. Carilah teman, khususnya dari lawan jenis -- orang-orang sesungguhnya dapat Anda senangi tanpa berkhayal secara seksual tentang mereka.

Jikalau seseorang melakukan hal ini, kadang-kadang kebiasaan yang terus-menerus menguasai dirinya itu dapat dihentikan hanya dalam beberapa minggu atau bulan. Masturbasi tidak lagi menjadi pusat perhatian eksistensi orang itu, melainkan menjadi cara yang kadang- kadang digunakan untuk mengurangi ketegangan seksual. Bahkan, akhirnya orang itu mungkin meninggalkannya sama sekali.

Sukacita yang sejati yang terdapat dalam persahabatan dan pergaulan melalui hubungan kencan yang sehat bisa memenuhi kebutuhan yang dahulu dipenuhi oleh suatu cara yang tidak memuaskan. Orang itu tidak perlu lagi melakukan masturbasi. Ia telah tumbuh, menjadi dewasa, dan meninggalkan sifat kekanak-kanakannya.

Sumber
Halaman: 
823 - 827
Judul Artikel: 
Pola Hidup Kristen
Penerbit: 
Kerjasama antara Penerbit Gandum Mas, Yayasan Kalam Hidup dan YAKIN, 1999

Komentar