Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Membaca Bahasa Tubuh Konseli

Edisi C3I: e-Konsel 206 - Memahami Konseli

Ucapan yang keluar dari mulut tidak pernah bersumber hanya dari mulut. Ia berkaitan dan berhubungan dengan hati dan anggota-anggota tubuh yang lain seperti mata, kepala, wajah, tangan, kaki, dan seluruh tubuh. Ucapan itu juga berhubungan dengan nada suara yang menyertainya. Anggota tubuh kita senantiasa bergerak sesuai perintah otak.

Emosi dan perasaan sangat mudah terlihat. Ia mengalir bagaikan air meluap dari sumber yang tidak terbendung. Emosi biasanya jujur dan alami. Bahasa dan gerak tubuh banyak dipakai dalam hidup sehari-hari. Orang yang sedang marah mungkin akan mengepalkan tangan kuat-kuat atau wajahnya memerah. Wajah orang yang ketakutan biasa tampak pucat pasi. Wajah orang yang bersukacita biasa tersenyum berseri-seri. Orang yang merasa sedang tidak suka mungkin akan cemberut atau membuang muka. Masih banyak lagi bahasa nonverbal lainnya.

Tentu saja bahasa tubuh manusia tidak selalu sama dalam setiap kebudayaan. Bahkan, makna bahasa tubuh di dalam kebudayaan yang berbeda pun bisa sangat berbeda, misalnya: anggukan kepala berarti "ya" bagi orang Indonesia, tetapi "tidak" bagi orang Bulgaria; gelengan kepala berarti "tidak" bagi orang Indonesia, tetapi "ya" bagi orang India; orang Indonesia akan menempelkan telunjuk jari menyilang di dahi ketika menyebut seseorang gila, sebaliknya orang Amerika mengartikan gerakan itu sebagai isyarat seorang yang sedang berpikir keras. Jadi, bahasa tubuh dan budaya setiap bangsa berbeda-beda.

Pada umumnya, orang Indonesia menggunakan bahasa tubuh berikut ini.

1. Berbicara dengan tangan.

Gerakan tangan bisa menyampaikan banyak hal. Gerakan tangan orang yang sedang berbicara sering mengikuti irama suaranya. Coba perhatikan gerakan tangan seseorang yang sedang berbicara di telepon. Ketika ia memberikan penekanan pada sesuatu, gerakan tangannya tampak sesuai dengan suasana batinnya. Itulah bahasa tangan orang Indonesia. Jika kita perhatikan dengan saksama, kita akan dapat memahami perasaan dan emosi orang yang sedang berbicara itu.

Gerakan tangan memang sering dipakai menyertai gerak tubuh lainnya. Dengan tangan akan diketahui siapakah yang sedang dituju (mereka, dia, engkau) atau bahkan diri sendiri. Gebrakan tangan di meja atau lemparan barang bisa menunjukkan kemarahan. Bagian pergelangan dan telapak tangan bisa dipakai untuk bertopang dagu/pipi ketika orang sedang berpikir keras. Lambaian tangan bisa menyatakan isyarat/salam perpisahan, atau juga tanda ketidaksediaan.

2. Berbicara dengan kepala.

Gerakan kepala, meskipun tidak sebanyak gerakan tangan, bisa menyampaikan isi hati, pikiran, dan emosi seseorang. Jika kita memahami maksud lawan bicara, kita bisa mengatakan "Oh..." sambil menganggukkan kepala. Jika kita terkejut, mungkin kita akan mengatakan "Hah..." atau "Oh..." sambil mendongakkan kepala dan wajah. Jika kita sudah sepakat, mungkin kita akan menganggukkan kepala beberapa kali. Jika kita tidak sepakat, mungkin kita akan menggelengkan kepala beberapa kali. Gerakan memukul kepala dengan tangan menunjukkan rasa kesal atau penyesalan. Orang menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat sambil memandang ke bawah sebagai tanda ia kecewa dan kesal hati. Keterampilan menafsirkan arti gerakan kepala akan memperkaya pemahaman kita mengenai seseorang.

3. Berbicara dengan roman muka.

Suasana hati seseorang dapat mudah terbaca melalui roman muka atau perubahan raut wajah. Roman muka orang yang sedang bahagia tentu berbeda dari orang yang sedih atau marah. Roman muka memang paling mudah mengungkapkan getaran emosi orang. Andilnya mencapai kira-kira 30%, dibanding kata-kata verbal yang mencapai 7%. Sedikit saja tampak perubahan roman muka sudah menyatakan suatu makna tertentu.

Pada umumnya, orang mudah berbicara dengan roman mukanya. Perubahan ekspresi wajah mengalir dengan alami, bahkan sering terjadi secara spontan. Namun orang-orang tertentu mampu menyimpan isi batinnya hingga tidak tampak pada wajahnya. Orang seperti itu biasanya memang pandai bersandiwara; ada yang menyebut mereka bermuka dua. Mereka pandai menyembunyikan suasana hati dan emosi sehingga tidak tampak pada wajah mereka.

Jika kita sedang berbahagia atau gembira, roman muka kita tampak cerah. Jika bersedih hati, wajah kita tampak kusut dan kuyu. Jika kita marah, wajah kita mungkin memerah disertai gejolak emosi bergelora. Jika terkejut, roman muka kita berubah dan mungkin disertai gerakan mulut terbuka. Keterampilan membaca roman muka orang akan menolong kita memahami isi hati, emosi, dan pikiran rekan bicara kita.

4. Berbicara dengan mata.

Mata manusia mudah bergerak lincah menyertai isi pikiran, perasaan, dan emosinya. Setiap gerakan mata pasti mengandung makna tertentu dan sudah menyampaikan sesuatu meskipun orang itu belum mengatakan apa pun.

Jika mata seseorang terbelalak, itu bisa berarti ia sedang terkejut. Jika orang mengangkat dua kelopak matanya, ia mungkin merasa heran. Mata yang sering berkedip menandakan suatu kebingungan. Tatapan mata disertai kelopak mata sedikit membesar dapat menandakan perhatian dan minat yang tinggi terhadap objek yang dibicarakan. Memandang ke bawah ketika berbicara menandakan perasaan takut dan gelisah.

Pandangan dan tatapan mata yang agak lama memiliki dampak emosional. Hubungan yang semakin dekat membuat tatapan mata semakin lama. Tatapan itu mengandung banyak makna. Kedipan mata mengisyaratkan arti tertentu, apalagi ketika kedipan mata itu disertai dengan senyuman. Mengamati gerakan bola mata akan membantu kita untuk lebih memahami emosi, perasaan, dan pikiran mitra bicara kita.

5. Keserasian bahasa tubuh, ucapan, dan suara.

Seharusnya, di antara perkataan, nada bicara, dan bahasa tubuh terdapat keserasian dan keselarasan. Anggota-anggota tubuh selalu berhubungan satu dengan yang lain. Otak sebagai pusat aktivitas akal budi pasti berkaitan dengan hati sebagai pusat emosi dan perasaan. Reaksi otak dan hati akan tampak pada bahasa tubuh dan perubahan nada bicara.

Oleh sebab itu, seseorang yang sedang marah cenderung berbicara dengan nada suara tinggi dan bergetar. Ini juga tampak pada perubahan roman muka. Ucapan-ucapannya juga agak kurang terkontrol.

Jadi, dalam suatu percakapan, konselor perlu mengamati kaitan antara perkataan, perubahan nada bicara, dan bahasa tubuh. Pengamatan perubahan itu secara utuh dan menyeluruh akan memungkinkan konselor menyelami kondisi hati, pikiran, dan emosi konseli. Jika konselor hanya memperhatikan salah satu unsur, ia tidak mungkin memahami masalah konseli secara menyeluruh. Oleh sebab itu, konselor perlu berlatih menangkap ketiga hal tersebut dengan sebaik-baiknya. Dari sanalah konselor akan mendengar sesuatu yang tidak diucapkan oleh mulut, tetapi didengar oleh hati dan tampak oleh mata.

Diambil dan disunting dari:

Judul Artikel: Membaca Gerak-Gerik Tubuh Konseli
Judul Buku : Dasar-Dasar Konseling Pastoral
Penulis Buku : Tulus Tu'u
Penerbit : ANDI, Yogyakarta, 2007
Halaman : 139 -- 143
TIPS (2)
Rintangan di Pihak Konseli

Proses konseling bisa dipersulit oleh beberapa rintangan di pihak konseli. Jika demikian, konseling itu akan menjadi kurang berkembang. Beberapa keadaan konseli yang menyulitkan proses konseling antara lain:

1. Konseli mungkin seorang yang sangat tidak mudah bercerita dan sering bungkam. Jika benar demikian, keadaan konseli yang seperti itu mungkin disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

a. Konseli mungkin masih merasa kurang nyaman atau segan terhadap konselor.

b. Konseli mungkin seorang yang lamban berpikir, sehingga kurang mampu memahami perkataan orang lain (konselor). Responsnya sangat lambat.

c. Konseli sering masih ragu-ragu untuk berterus-terang mengatakan gejala-gejala yang menyusahkan dirinya. Dia mungkin masih kurang yakin pada dirinya sendiri. Padahal, dengan bersikap seperti itu ia sebenarnya sudah mengatakan kepada konselornya, "Beginilah aku, seorang yang ragu-ragu".

d. Konseli sendiri tidak memahami penyebabnya namun hal itu merupakan respons jiwanya.

2. Konseli seorang yang terlalu cepat berbicara. Ada konseli yang terlalu cepat berbicara hingga tidak memberikan kesempatan kepada konselor. Misalnya, dia mengatakan ini..., itu..., di sini..., di sana..., dan seterusnya. Penyebab konseli bertindakan seperti itu, antara lain:

a. Konseli mungkin gugup. Ia bertindak seperti itu untuk menutupi kegugupannya.

b. Konseli sebenarnya kurang bersedia menyampaikan masalahnya kepada konselor. Itulah sebabnya, dia lebih suka membicarakan (berbicara) sesuatu yang di luar dirinya sendiri, alih-alih membicarakan kekurangannya.

3. Konseli juga sering membicarakan sesuatu yang tidak berguna di hadapan konselor (sama seperti pada nomor 2).

4. Konseli seorang yang senantiasa merasa takut. Ketakutan itu sudah membuatnya mengundurkan diri dari percakapan. Tampaknya, ia merasa bersalah. Namun, ia tidak mengetahui mengapa dirinya memiliki perasaan bersalah. Masyarakat Timur menyimpan banyak perasaan salah semacam itu. Tetapi, apa pun masalah konseli, kedatangan konseli tentu sudah sangat berguna. (1)

5. Konseli mengalami gejala transferensi, yaitu pemindahan perasaan dalam suatu hubungan interpersonal (hubungan antarpribadi). Transferensi adalah gejala yang tidak dapat dihindari dalam suatu hubungan timbal balik. Istilah transferensi ini dalam psikologi menunjuk pada pemindahan perasaan: perasaan dari masa lalu konseli yang ditujukan kepada objek baru masa kini. Transferensi disebabkan adanya kebutuhan pada masa lampau yang tidak atau belum dipenuhi, akibatnya kebutuhan itu ditekan hingga tidak disadari lagi atau berusaha dilupakan secara paksa. Contoh, kebutuhan konseli akan hubungan dengan orang tuanya. Ada sesuatu yang positif dan negatif di sini, yakni mengasihi dan dikasihi atau kebutuhan untuk melepaskan kebencian dan kemarahan. Cara untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tertunda tersebut ialah dengan transferensi. Transferensi biasanya membuat konseli bergantung kepada konselor. Namun demikian, konselor harus bisa menggunakan gejala tersebut untuk kebaikan konseli sendiri.

Ada yang disebut transferensi negatif, yaitu konseli bersikap negatif kepada konselor (misalnya: benci, marah). Dalam hal ini, konseli menjelek-jelekkan sang konselor. Seorang konselor harus siap sedia untuk mengatasinya. Sebaliknya, ada yang disebut transferensi positif. Yang ini cukup berbahaya karena konseli bisa saja jatuh cinta kepada konselor. Di luar ruang konseling, ia mungkin memuji-muji konselor dengan sangat berlebihan. Di sini, konselor juga bisa jatuh cinta kepada konseli. Jika konselor pandai memakai kedua macam transferensi ini, kedua hal ini bisa mempercepat proses penemuan unsur-unsur masalahnya. Terhadap perempuan muda atau yang berlainan jenis, sebaiknya pergunakan campuran metode "responsif" dan "direktif". (Terkait masalah ini, Freud memakai "nondirektif", yaitu meminta konseli berbaring dan ia duduk di sisi kepala. Pada saat itu, konseli bisa dengan leluasa mengatakan apa yang disukainya sesudah beberapa pertemuan, setelah itu Freud menafsirkannya.(2)

(1) Bnd. E.P. Gintings, "Manusia dan Masalahnya", h. 137-138

(2) Bnd. Yakub Susabda, "Pastoral Konseling", Malang: Gandum Mas, 1997 h. 8

Diambil dan disunting dari:

Sumber
Halaman: 
47 -- 50
Judul Artikel: 
Kesukaran-Kesukaan dari Pihak Konseli
Judul Buku: 
Gembala dan Konseling Pastoral
Pengarang: 
E.P. Gintings
Penerbit: 
Yayasan ANDI
Kota: 
Yogyakarta
Tahun: 
2002

Komentar