Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Memberi dengan Bijaksana

Edisi C3I: edisi 333 - Memberi dengan Kasih

Manusia pada dasarnya memiliki keinginan untuk memberi, meskipun besarnya tidak sama satu dengan yang lain. Apalagi bagi sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Apa pun akan diberikan demi orang yang disayangi. Namun, apakah bijaksana apabila kita memberikan "kehormatan" kita kepada orang yang belum menjadi suami atau istri kita?

Kasus inilah yang pernah kami perbincangkan di Facebook e-Konsel. Ada seorang gadis yang sangat mencintai pacarnya hingga rela "memberikan" semua yang diinginkan pacarnya tersebut. Bahkan, ia rela memberikan kehormatannya. Awalnya, pria yang menjadi pacar gadis itu mengatakan bahwa ia mau mengikuti keyakinan si gadis. Akan tetapi, setelah merenggut kehormatan si gadis, pria itu malah meminta si gadis untuk mengikuti keyakinannya. Bagaimana kita menolong gadis tersebut untuk menyelesaikan masalahnya ini?

Komentar:

Retno Dwi: Pertama, kita doakan terus. Kedua, kita nasihati bahwa yang dilakukan salah dan terus "follow up" dia untuk mengambil langkah yang baru yang Tuhan kenan.

Suzana Esther: Si gadis diajar tentang kasih Kristus yang tidak bersyarat dan begitu dalam, sehingga dia mampu untuk meninggalkan kekasihnya karena si gadis lebih mengasihi Tuhan Yesus yang telah mati bagi dia, dan diajar bahwa Tuhan sanggup menjamin masa depannya.

Maria Oktasari: Izin komentar. Kalau menurut aku, dikembalikan lagi sama sang gadisnya. Dia tentu lebih mengetahui apa yang menjadi pilihannya. Kalau dia bersedia dan yakin terhadap keyakinan kekasihnya, kenapa tidak. Tetapi kalau sebaliknya, dicari solusi supaya keduanya sama tidak terpaksa dan merasa dirugikan.

Shmily Tilestian: Waduh... kasus yang kompleks nih. Menurutku, lebih baik jangan tinggalkan keyakinan hanya untuk mengejar/mempertahankan orang (sekalipun orang tersebut sangat dicintai). Tapi dalam kasus ini, sangat berat bagi si gadis (karena sudah kehilangan kehormatan) untuk menentukan pilihan antara: keyakinan/kehilangan pria itu. Percayalah bahwa dengan tidak meninggalkan Tuhan adalah keputusan yang TERBAIK.

Petridien Manik: Jangan meninggalkan Tuhan, kalaupun kehormatanmu telah diambil hingga hamil. Jangan takut, saya bersedia menjadi ayah si bayi. Dan, seiring berjalannya waktu, cinta bisa timbul di antara kita berdua. Berpikirlah 7x jika mau meninggalkan Tuhan.

e-Konsel: Terima kasih untuk Sahabat Konsel semua yang sudah sumbang saran. Memang masalah ini cukup pelik, apalagi bagi seorang gadis. Perasaan cinta yang tertanam di hati bagi seorang wanita lebih sulit dilepaskan dibanding seorang pria. Dengan bimbingan yang tepat, kiranya masalah yang dialami gadis ini dapat diselesaikan dengan bijaksana. Saya sependapat dengan Sahabat yang menyarankan agar si gadis tetap mengutamakan Tuhan dan kebenaran-Nya. Tuhan selalu memberi kesempatan bagi orang yang bertobat dan menjadi manusia yang baru, yang hidup taat kepada-Nya. Sekali lagi terima kasih untuk komentar Anda.

Enny Juwita: Jangan takut ditinggalkan kekasih, tetapi lebih menakutkan kalau ditinggalkan Tuhan. Oke. GBU.

Rachel M: Keputusan tetap di tangan si gadis. Tetapi tetap dapat diberikan bimbingan sehingga ia dapat mengambil keputusan yang terbaik dengan segala risiko atau akibat yang nantinya harus dia jalani. Andaikan dia mengikuti kemauan pria, bagaimana dengan imannya terhadap Yesus yang selalu membuka kasihnya terhadap orang yang berdosa? Bagaimana pula dengan keluarganya? Siapkah ia menerima risiko dibenci oleh keluarganya? Andaikata ia meninggalkan si pria, siapkah ia jika si pria mengumbar apa yang telah mereka lakukan meskipun tidak sampai hamil? Atau sekalipun sampai hamil, jika ia tetap menikah dengan si pria, siapkah ia menjalani hidup tanpa Juru Selamatnya, dan hidup dengan pria dengan janji palsu -- yang sebelum mendapat apa-apa, janjinya mau ikut si gadis, tapi setelah mendapat malah ngomong sebaliknya. Itu tandanya ia adalah pria dengan janji palsu. Saran lain, coba "search" tulisan Pak Julianto dari Pelikan. Soalnya masalah ini terlalu kompleks untuk di-share ke publik lewat FB. Maybe better, kalau langsung cari ahlinya sehingga lebih bijak dalam menanganinya. Thanks. Maaf, jika terlalu panjang. Tuhan memberkati kita semua.

e-Konsel: Terima kasih Ibu Enny, Ibu Rachel, dan Ibu Lena untuk saran dan masukannya. Basically, kita mesti pegang Matius 6:33 ya. Mengutamakan Tuhan di atas segalanya, toh hanya Tuhan yang bisa menanggung hidup kita dan memberikan jaminan hari depan yang lebih baik. Setiap perbuatan memang akan selalu diikuti konsekuensi. Penyesalan akan selalu datang di akhir babak perbuatan. Akan tetapi, tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, dan paling tidak kita bisa memberikan pencerahan dan penguatan kepada konseli sehingga ia sendiri dapat memutuskan apa yang akan dilakukannya. Tuhan beserta kita.

Maya Sari: Harusnya sejak awal si cewek tahu bahwa seks sebelum menikah pasti ada risikonya. Risikonya macam-macam, rayuan/janji akan dinikahi, janji akan pindah agama, tapi belum tentu ditepati. Kalau sudah terlanjur memberikan, ya sudah. Akan tetapi, tetap tidak boleh meninggalkan Tuhan, dan jadikan itu pengalaman berharga. Cowok masih banyak, Tuhan pasti kasih jodoh yang baik buat dia, asalkan meminta ke Tuhan, dan tobat akan aib yang dia ciptakan.

e-Konsel: Tuhan harus menjadi yang pertama dan utama di atas segalanya ya. Demikianlah kesimpulan untuk kasus ini. Ada harga yang harus dibayar dalam segala hal. Tetapi, Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi kita, yang mengasihi-Nya. Amin.

Kami ajak \Anda untuk memberi komentar untuk kasus ini di link Facebook e-Konel < http://www.facebook.com/sabdakonsel/posts/10151177757558755 >

Komentar