Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Memilih Kata-kata Pengekang

Salah satu kualitas karakter alkitabiah yang paling penting, namun paling diabaikan adalah penguasaan diri. Begitu banyaknya kesulitan kita dengan percakapan berhubungan dengan kegagalan kita di bidang ini. Kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan telah diucapkan. Kata-kata itu diucapkan pada waktu yang salah, di tempat yang salah, dan dengan emosi yang menggebu-gebu di luar kendali.

Kata-kata diucapkan ketika keheningan adalah pilihan yang lebih saleh dan lebih mengasihi. Kata-kata ini lebih didorong oleh keinginan dan tuntutan pribadi daripada oleh tujuan Allah atau kebutuhan orang lain. Masalahnya? Kurangnya penguasaan diri, sistem pengekang internal yang mencerminkan kehadiran Roh Kudus di dalam diri kita. Paulus mengatakannya begini, "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu." (Roma 8:9) Penguasaan diri adalah buah karya-Nya. Kita tidak perlu lagi ditarik oleh keinginan sifat dosa. Ini tentu saja mencakup percakapan kita!

Sebagai tindakan iman yang praktis dari karya Roh di dalam diri kita, kita harus berkomitmen tidak hanya kepada kata-kata kebenaran dan kasih, tetapi juga kepada kata-kata pengekang. Kata-kata ini mengalir dari penguasaan diri yang diberikan Roh kepada kita. Paulus memiliki hal-hal penting untuk dikatakan tentang kata-kata pengekang dalam Efesus 4:25-27: "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis."

Paulus mengatakan, "Ketika Anda berbicara, praktikkanlah penguasaan diri yang menjadi milik Anda sebagai anak Allah. Jangan menyerah kepada tarikan hawa nafsu dan keinginan dari sifat dosa. Anda telah diciptakan baru di dalam Kristus. Inilah tempat untuk mempraktikkan sesuatu yang baru itu. Ucapkanlah kata-kata pengekang di hadapan provokasi." Menurut Paulus, seperti apakah pengekang ini?

  1. Kata-kata pengekang adalah kejujuran.
  2. Paulus mengatakan dengan sederhana, "Buanglah dusta dan berkatalah benar." Ini adalah satu-satunya jalan kasih. Ketika saya tidak jujur, "memangkas", atau menggelapkan kebenaran, saya mengasihi diri saya lebih daripada Allah atau orang lain. Memangkas kebenaran adalah mengatakan kurang dari yang seharusnya perlu dikatakan. Ketidakjujuran terjadi ketika kita lebih mementingkan diri kita. Saya menginginkan hormat atau penerimaan Anda sehingga saya memangkas kebenaran untuk menyembunyikan kesalahan saya. Saya menginginkan kepercayaan Anda, oleh sebab itu saya tidak jujur tentang kegagalan saya. Saya merasa konfrontasi itu tidak menyenangkan sehingga saya menghindari hal-hal yang menimbulkan konflik. Ada hal-hal yang saya inginkan dari Anda sehingga saya menyembunyikan detail-detailnya demi keuntungan saya. Saya tidak menginginkan rasa malu yang disebabkan oleh pengakuan kesalahan saya kepada Anda sehingga saya menyusun kejadian pada masa lalu dengan cara sedemikian rupa sehingga menguntungkan saya. Saya tidak ingin Anda mengetahui bahwa saya telah gagal sehingga saya meramu alasan yang dapat diterima. Kebenaran adalah korbannya ketika saya lebih mengasihi diri saya daripada Anda.

    Kita perlu mengetahui betapa kuatnya keinginan kita demi perlindungan diri, demi kemudahan dan kenyamanan, demi pembenaran, demi penerimaan dan persetujuan, demi hidup tanpa konflik, dan demi terpenuhinya keinginan dan impian kita!

    Tetapi mengatakan kebenaran berarti mempraktikkan penguasaan diri terhadap tarikan kuat untuk mengasihi diri. Artinya saya tidak akan mengorbankan kebenaran pribadi demi kemudahan pribadi. Saya tidak akan membeli apa yang saya inginkan dengan mata uang kepalsuan. Melainkan, saya akan mempraktikkan karunia penguasaan diri terhadap keinginan sifat dosa saya dengan menempatkan diri saya di tangan Tuhan yang berkuasa, mengucapkan kata-kata yang jujur, apa pun akibatnya. Kata-kata pengekang mengendalikan diri di dalam kejujuran.

    Saya harus menambahkan di sini bahwa kejujuran di dalam hubungan juga harus memenuhi standar kasih yang dibahas sebelumnya. Sering kali kata-kata yang "jujur" jauh dari kata-kata kasih yang terkendali. Kata-kata tersebut digunakan sebagai senjata pembalasan di dalam perang dengan kata-kata yang semakin memanas dan merusak. Kata-kata ini tidak membangun karena dipakai untuk merusak. Kata-kata seperti ini dilemparkan kepada seseorang yang dilihat sebagai musuh. Tujuannya bukan untuk menolong, tetapi untuk memenangkan perang di dalam relasi. "Kejujuran" seperti ini sangat jauh dari apa yang diserukan oleh Paulus.

  3. Kata-kata pengekang tidak dikendalikan oleh kemarahan.
  4. Tidak ada tempat lain di mana keyakinan Paulus akan kuasa Kristus yang menyertai kita diungkapkan secara lebih nyata daripada di bagian ini. Dia sungguh-sungguh percaya bahwa kita dapat mempraktikkan penguasaan diri pada saat marah! Di tempat, di mana Iblis sering diberi kesempatan besar, Paulus percaya bahwa pekerjaan jahatnya dapat dihambat, dan pekerjaan Tuhan dapat dilakukan. Paulus mengasumsikan bahwa adalah mungkin untuk menjadi marah tanpa berdosa. Tidak semua kemarahan itu adalah dosa, tetapi nasihat Paulus adalah ini, "Pada saat emosi begitu kuat, ketika Anda merasa telah kehilangan semua kendali, praktikkan pengendalian batin yang telah diberikan kepada Anda sebagai anak Allah."

    Betapa menggodanya untuk menyerah kepada pemikiran akan ketidakberdayaan, lupa akan kehadiran Roh yang tinggal di dalam kita! Perhatikan ibu Kristen yang sedang berlomba berteriak dengan anak remajanya ketika telepon berdering. Dia berubah dari apa yang kelihatannya sebagai senapan mesin kata-kata di luar kendali menjadi seorang yang manis ketika mengangkat telepon sambil berkata, "Haloo." Dia telah memilih, demi kepentingan dirinya sendiri, untuk mempraktikkan penguasaan diri yang sebenarnya bisa ia lakukan sepanjang waktu itu. Dia juga telah memilih, sebelum telepon berdering, untuk menyerah kepada hawa nafsu dan keinginan sifat dosa di dalam pertengkarannya dengan anaknya. Di sini kita dihadapkan dengan kuasa yang telah diberikan Kristus kepada kita untuk berbicara sesuai panggilan-Nya kepada kita. Berpeganglah pada-Nya! Pengekang yang kita butuhkan ada pada-Nya; pengekang ini bukan teknik yang didapatkan di dalam kursus komunikasi.

    Paulus menunjuk kepada dua reaksi kemarahan yang umum tetapi saling bertentangan yang membutuhkan penguasaan diri. Pertama, sebagian dari kita tergoda untuk meledak ketika marah, melepaskan emosi yang menggebu-gebu, dan membiarkan kata-kata beterbangan tanpa kendali. Ini adalah kecenderungan saya. Saya tidak pernah melukai siapa pun dengan keheningan saya! Tetapi saya adalah orang yang penuh kata-kata dan kebanyakan pergumulan dosa saya di dalam berhubungan dengan orang lain adalah pergumulan dengan kata-kata.

    Tetapi saya sedang mempelajari pentingnya sikap atau tindakan menjauhi, menunggu, dan persiapan. Saya telah belajar, melalui contoh istri saya, bahwa saya dapat mempraktikkan pengekangan internal bahkan ketika saya cukup kesal.

    Suatu sore, di dapur kami, kami berdua sedang mengadakan perbincangan yang mulai membuat saya marah. Luella menyarankan agar kami mengambil waktu untuk memulihkan pengendalian. Dia pamit untuk pergi ke ruang tamu. Saya mengikuti dia, terus berbicara. Dia pamit dan naik ke lantai dua ke kamar kami. Ya, Anda berhasil menebak! Saya mengikuti dia ke kamar tidur, sekarang berbicara dengan energi yang semakin meningkat. Luella pamit ke kamar mandi dan sekali lagi saya mengikuti dia. Dia melihat kepada saya dengan sedikit senyuman dan mengatakan, "Kamu tidak mengerti, ya? Saya sedang mencoba menjauh darimu agar kita tidak berdosa lebih dari yang telah kita lakukan. Tolong jangan ikuti saya. Kita berdua membutuhkan waktu untuk berpikir, berdoa, dan memulihkan pengendalian sebelum kita dapat berbicara secara produktif." Pada saat itu saya memutuskan untuk berhenti mengikuti dia. Dia benar ketika mengingatkan saya bahwa sebagai anak Allah, penguasaan diri adalah suatu pilihan. Kita tidak boleh melupakan kuasa dari Roh yang tinggal di dalam kita atau mengabaikan kerusakan yang terjadi ketika kita tidak mempraktikkan pengendalian yang kita miliki di dalam Dia.

    Saya telah melihat berapa lama sengat dari kata-kata yang melukai bisa menetap. Saya telah belajar mengakui bahwa saya tidak bebas dari pergumulan dengan ketidaksabaran, mementingkan diri sendiri, dan keangkuhan. Bagi saya, dan bagi sebagian dari Anda, godaan yang membiarkan kata-kata beterbangan di saat-saat marah akan tetap ada sampai taraf tertentu sampai Kristus kembali. Berulang kali saya perlu katakan kepada diri saya, "Tidak! Stop! Tunggu. Doa. Pikir. Bicara," dengan mempraktikkan penguasaan diri yang telah diberikan kepada saya di dalam Kristus.

    Kecenderungan yang berseberangan adalah memendam. Sebagian di antara kita merasa menjauhi lebih alamiah dan nyaman daripada beradu. Sebagian dari Anda cenderung menyimpan kemarahan Anda. Anda cenderung memanasi dan memainkan ulang rekaman dari suatu keadaan yang melukai Anda berulang-ulang di dalam video pikiran Anda, sehingga menjadi semakin marah dan getir setiap kali diulang. Beberapa dari Anda sangat ahli dalam menghukum orang lain dengan keheningan Anda. Anda juga telah memberikan jalan kepada hawa nafsu dan keinginan dari sifat dosa. Anda juga telah gagal mempraktikkan penguasaan diri yang menjadi milik Anda di dalam Kristus. Anda perlu menolak dorongan untuk melarikan diri. Anda harus bertahan di tempat kejadian. Anda perlu mengucapkan kata-kata kasih yang benar kepada sesama Anda. Anda perlu mengatakan, "Tidak! Stop! Tunggu. Doa. Pikir. Bicara," sebelum Anda menyerah kepada godaan untuk melarikan diri.

    Kepada Anda, Paulus mengatakan, "Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu." Sebelumnya telah saya singgung bahwa suatu komitmen yang dibuat Luella dan saya pada awal hubungan kami yang menyelamatkan pernikahan kami adalah bahwa kami tidak akan pergi tidur ketika kami belum diperdamaikan. Komitmen ini menimbulkan adegan kamar yang agak lucu pada awal pernikahan kami. Kami berdua marah dan terlalu angkuh untuk memohon maaf, namun tetap sadar akan komitmen yang telah kami perbuat. Kami berbaring di tempat tidur, mencoba untuk tetap sadar sambil menunggu pihak lain untuk menyerah dan mengakui kesalahannya! Adakalanya kami harus memegang mata kami secara fisik agar terbuka sebelum salah satu di antara kami akan mengatakan, "Kamu masih belum tidur, kan? Saya mohon maaf atas ...."

    Ketika kami tetap setia kepada komitmen ini, kami mulai belajar tentang arti penting memiliki pembukuan jangka pendek. Sekarang ini, saat-saat konflik di dalam hubungan kami sangat singkat. Biasanya dalam beberapa menit, salah satu di antara kami sudah memohon maaf. Karena kami mengatasi masalah ketika masih kecil, penyelesaiannya lebih mudah dicapai. Tetapi ketika kami membiarkan emosi negatif bertumbuh dan bertumbuh, kami memberikan kepada Iblis kesempatan untuk bekerja.

Apa pekerjaan Iblis? Yaitu penipuan, pemecahbelahan, dan perusakan. Dia mengintai, menantikan kesempatan untuk mengubah kemarahan kita menjadi sesuatu yang lebih merusak dan lebih fatal. Dia bekerja untuk mengubah kemarahan kita menjadi dendam, menjadi kegetiran beracun, menjadi suatu penolakan yang membandel untuk mengampuni, dan menjadi pikiran jahat untuk membalas. Dia menumbuhkan benih-benih ini menjadi semak duri hubungan yang rusak, pembelaan diri, sinisme, dan keraguan. Jadi, kata Paulus, "Berhati-hatilah dengan pekerjaan Iblis sebelum kamu mengucapkan kata-kata pertamamu. Selesaikan persoalan dengan cepat. Jangan beri dia tempat untuk berdiri. Lakukan apa saja untuk menghambat pekerjaannya."

Apakah cara kita mengatasi kemarahan kita memberikan ruang kepada Iblis? Apa kecenderungan kita? Apakah meledak atau memendam? Perubahan apa yang harus kita lakukan dalam cara kita mengatasi kemarahan? Hal-hal apa yang membuat kita marah? Apa yang dinyatakan tentang hal-hal yang sesungguhnya tersimpan di dalam hati kita? Apakah suatu "ciptaan" telah menjadi lebih penting dari Sang Pencipta (Roma 1:25)?

Puji Tuhan akan kehadiran Roh Kudus yang memampukan (Efesus 3:14-20)! Oleh karena Dia, kita dapat mempraktikkan pengendalian atas hal-hal yang pernah mengendalikan kita.

Diambil dari:

Judul asli buku: War of Words : Getting to the Heart of Your Communication Struggles
Judul buku terjemahan : Perang dengan Kata-Kata: Mengenali Inti Pergumulan dalam Komunikasi Anda
Judul bab : Memilih Kata-Kata Anda
Penulis : Paul David Tripp
Penerjemah : Peter Ivan Ho
Penerbit : Penerbit Momentum, Surabaya 2003
Halaman : 309 -- 316

Komentar