Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menanggapi Anak yang Perasa

Edisi C3I: edisi 340 - Psikologi dalam Konseling Kristen

Heather adalah anak remaja berusia 12 tahun yang perasa. Keputusan yang diambilnya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilainya secara pribadi, idamannya, perasaannya, dan kebutuhannya. Heather mengartikan peristiwa kehidupan secara subjektif.

Ia sangat tertarik dengan orang-orang yang menyukainya dan yang disukainya. Memperoleh persetujuan orang lain sering kali lebih penting baginya daripada terus terang atau memberitahukan kebenaran. Mempertahankan kedamaian dalam suatu hubungan merupakan prioritas utama baginya. Dia mengharapkan penghargaan orang lain dan perlu mengetahui bahwa dia disukai. Apabila gurunya memuji dia, dia benar-benar akan mengerahkan tenaga untuk melakukan tugasnya.

Apabila suatu keputusan harus diambil, Heather pasti mempertimbangkan perasaan orang lain. Dia sangat cocok digambarkan sebagai orang yang lembut hati, berbelas kasihan, rukun, dan memperhatikan orang lain. Bahkan, pada usianya yang masih muda, Heather sudah menempatkan dirinya pada posisi orang lain. Ketika dia bertambah dewasa, keputusannya akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana keputusan itu mempengaruhi orang lain menurut pendapatnya. Terkadang, ia terlalu berlebihan dalam memenuhi kebutuhan orang lain, dengan menyenangkan orang lain sampai merugikan dirinya sendiri. Jika dia gagal mengimbangi perasaan-perasaannya dengan membina sisi logikanya, orang lain akan terus-menerus memanfaatkannya.

Orang tua Heather memikirkan sifatnya yang tidak tetap. Dia akan mengatakan tentang satu hal, tetapi kemudian mengubah pikirannya jika orang lain menentangnya. Dia sering memikirkan sesuatu. Jika seorang pemikir cenderung membebankan pada orang lain, seorang perasa seperti Heather terkadang dibebani oleh orang lain. Adalah baik baginya untuk berkata, "Tidak," tanpa merasa bersalah.

Lalu, bagaimana menolong anak yang perasa seperti Heather ini?

Berikut ini adalah beberapa gagasan yang dapat membantu Anda:

  1. Berikan banyak penegasan secara verbal. Anak Anda perlu mendengar terus-menerus bahwa Anda tetap menghargainya, terutama apabila Anda tidak sependapat dengannya. Apabila Anda mengoreksi, berikan juga penegasan bahwa apa yang dilakukannya sudah baik. Misalnya, "Saya senang melihat kamu dan adikmu bermain bersama. Akan tetapi, hari ini kamu agak kasar. Jadi, kamu harus pergi ke kamarmu." Apabila Anda ingin melihat perkembangannya, tunjukkan minat yang tulus pada apa yang dikerjakannya, dan dia akan bersemangat menyenangkan Anda.

  2. Doronglah sisi logikanya. Terlalu banyak anak yang termasuk kelompok ini, akhirnya melukai diri sendiri atau menjadi korban ketika mereka berusaha menolong orang lain. Berikan saran praktis yang menunjukkan bagaimana anak Anda dapat membagikan sifatnya yang lembut dan berbelas kasihan, dengan cara yang sehat baginya dan juga bermanfaat bagi orang lain. Tantanglah dia untuk memikirkan keterlibatannya secara pribadi dalam tindakannya untuk menyenangkan orang lain supaya dia tidak menjadi korban.

  3. Bicarakan dengan bahasa perasaan. Apabila anak Anda menceritakan perasaan-perasaannya kepada Anda, jangan menanggapi dengan banyak fakta. Tanggapilah terlebih dahulu sesuai dengan perasaannya. Misalnya, jika dia berkata, "Saya khawatir akan ujian mengeja besok." Jangan menyela dengan, "Berikan kepada saya daftar kata-katanya, dan saya akan mulai menguji dengan memberi pertanyaan-pertanyaan." Mungkin pada akhirnya dia akan memerlukan bantuan Anda, tetapi pertama-tama katakanlah kepadanya, "Kamu khawatir karena memikirkan ujian mengeja. Saya dapat melihatnya dari matamu. Pasti akan melegakan apabila ujian itu sudah berlalu, ya?" Setelah Anda berkomunikasi dengannya sesuai bahasanya, mungkin dia akan berlatih dengan Anda. Untuk mendorongnya, beritahukan tentang tugas yang Anda inginkan untuk diselesaikannya dan perasaan Anda setelah dia memenuhinya.

Seorang ibu berkata, "Biasanya saya membuat daftar tugas yang saya inginkan agar dilakukan anak perempuan saya, dan terkadang saya memberitahukan alasan-alasannya. Akan tetapi, kelihatannya hal itu tidak ada gunanya. Jadi, saya mulai menceritakan bagaimana perasaan saya apabila dia mengerjakannya, dan bagaimana perasaannya tentang dirinya apabila berhasil menyelesaikan tugasnya tersebut. Dan, hasilnya sungguh berbeda!"

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku : The Power of A Parent's Words
Judul buku terjemahan : Menjadi Orang Tua yang Bijaksana
Judul bab : Mengenali Kepribadian Anak Anda, Bagian Kedua
Judul asli artikel : Heather, Si Perasa
Penulis : H. Norman Wright
Penerjemah : Christine Sujana
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 1996
Halaman : 250 -- 253

Komentar