Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mengapa Natal Selalu Dapat Menjadi Kabar Baik?

Edisi C3I: e-Konsel 355 - Natal dan Pemberitaan Kabar Baik

Jika ada sesuatu yang saya yakini, hal itu adalah bahwa Natal memiliki makna yang berbeda untuk setiap orang.

Menurut refleksi saya sendiri mengenai Natal, saya telah membedakan bahwa keyakinan saya tentang Natal terus berkembang setiap tahun. Namun, dalam proses perkembangan keyakinan ini, saya mampu membedakan tiga tahap keyakinan saya tentang Natal.

Tahap pertama adalah bagaimana saya memandang Natal sebagai seorang anak. Sebagai seorang anak, kebanyakan dari kita hanya memiliki pemahaman yang lemah perihal makna Natal. Hal mendasar bagi kita adalah bahwa ada kesempatan yang baik karena kita akan memperoleh banyak kado yang rapi. Siapa pun Yesus itu, saya bersyukur seseorang telah memutuskan bahwa adalah gagasan yang baik jika anak-anak mendapatkan banyak hadiah pada saat Natal.

Pada tahap ini, saya hadir ke gereja dan mengikuti ibadah Malam Natal. Namun, saya masih berada pada tahap pertama tentang pemahaman Natal. Dan, pada tahap pertama ini, Natal selalu diartikan dengan bagaimana memperoleh hadiah.

Tahap kedua dari pemahaman Natal, dari yang saya amati, adalah suatu momen ketika sebagian besar orang dewasa berpijak pada pengertian mereka sendiri tentang Natal. Pada tahap kedua ini, Natal bukan lagi tentang hadiah-hadiah, melainkan tentang manusia. Pada tahap kedua ini, keluarga merupakan pihak yang paling penting saat Natal.

Pada tahap kedua, sukacita kita selama Natal sering kali dihubungkan dengan banyaknya kaitan makna yang kita ciptakan dengan anggota-anggota keluarga. Sebaliknya, pada tahap kedua ini, stres biasanya menunjukkan kehadirannya ketika harapan-harapan keluarga tidak terpenuhi. Jika seorang kerabat yang terkasih tidak mengunjungi kita, atau jika satu anggota keluarga mengatakan sesuatu yang menyinggung ketika berada di meja makan, hal ini dapat merusak Natal bagi seseorang yang berada pada tahap kedua.

Dan tentunya, banyak dari kita yang merasa bahwa stres yang paling berat dalam tahap kedua adalah upaya kita untuk merayakan Natal selagi masih merasakan kesedihan karena kematian seseorang yang dekat dengan kita. Bagi orang-orang yang berada di tahap kedua pada pengertian mereka tentang Natal, masa-masa Natal ini benar-benar menyedihkan.

Kini, sebelum saya memperkenalkan tahap ketiga, saya ingin menceritakan hal-hal pribadi termasuk judul-judul khotbah yang hampir dibuat untuk tata ibadah malam itu.

Judul khotbah pertama yang saya pikir akan saya gunakan adalah "Mengapa saya merasa takut dengan Natal?" Judul khotbah kedua yang saya pertimbangkan adalah "Mengapa beberapa orang tinggal di rumah pada malam Natal?" Judul khotbah ketiga adalah "Jika Natal seharusnya menjadi momen penuh sukacita, mengapa saya menangis setiap tahun?"

Saya memahami bahwa Natal adalah masa yang menyedihkan setiap tahun bagi banyak orang. Saya mengalaminya pertama kali saat saya merayakan Natal pada usia dua belas tahun, empat bulan setelah kematian ayah saya. Dampak dari kematian ayah saya membuat Natal kami terasa hampa dan berat. Natal tidak lagi sama seperti sebelumnya sejak saat itu. Anak laki-laki yang terbiasa tidak sabar menghitung hari-hari menjelang Natal, mulai merasa takut menghadapi Natal. Akhirnya, air mata mengalir untuk menepis depresi.

Masa Natal adalah masa yang menakutkan sepanjang tahun bagi saya, bukan hanya karena saya telah kehilangan ayah saya, tetapi karena saya berada di tahap kedua pada pemahaman saya akan Natal. Saya pikir Natal adalah segala sesuatu tentang keluarga. Mungkin Anda pun meyakininya. Mungkin Anda percaya bahwa Natal adalah, yang pertama dan terutama, tentang keluarga. Jika Anda memercayai hal ini, saya tidak menjamin bahwa Anda akan menikmati Natal ini.

Jika penekanan kita pada Natal adalah atas hubungan kita dengan sesama, kemungkinannya adalah Natal akan menjadi masa kepedihan dan kekecewaan.

Saya senang mengatakan bahwa saya bisa menikmati Natal lagi, dan saya memiliki Anda, khususnya, untuk bersyukur karenanya. Dalam mempersiapkan khotbah Natal selama 4 tahun berturut-turut, saya belajar apa yang sudah tampak jelas bagi saya: Natal adalah tentang Kristus. Inilah tahap ketiga.

Ya, Natal mencakup bertukar kado, tetapi hadiah-hadiah tersebut bukan intinya. Ya, Natal mencakup berkumpulnya keluarga, tetapi keluarga bukanlah intinya. Jika Natal benar-benar masa yang penuh sukacita, kita harus menjaga kebenaran berharga, yaitu bahwa Natal adalah mengenai Kristus.

Saya mengajak Anda kembali memperhatikan Lukas 2, saat para malaikat menampakkan diri kepada para gembala dan berkata, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (Lukas 2:10-11)

Natal mulai dengan sebuah pemberitahuan akan "kabar baik tentang kesukaan besar". Pemberitahuan bahwa Juru Selamat telah lahir adalah berita terbaik yang pernah ada. Akan tetapi, apa yang saya takuti adalah bahwa banyak orang telah gagal untuk memahami betapa baiknya "kabar baik" tersebut. Saya menduga alasan untuk ini adalah bahwa kita telah mengabaikan kabar buruk.

Karena merasakan tekanan untuk meringankan rasa sakit orang-orang, banyak pengkhotbah terburu-buru menyatakan betapa ajaibnya anugerah ini. Akan tetapi, masalahnya adalah kita tidak dapat menghargai keajaiban anugerah ini dengan semestinya sebelum kita terlebih dahulu menghargai fakta bahwa kita dahulu adalah "orang-orang celaka". Dan, sebagai orang-orang celaka, kita layak mendapatkan murka Allah.

Dengan sangat jelas, Rasul Paulus memberi tahu kita, "Sebab upah dosa ialah maut ...." (Roma 6:23) Jika kita mati dan naik ke surga, ini bukan karena kita pantas ke sana. Karena "... semua orang telah berbuat dosa ...." (Roma 3:23) dan upah dosa kita adalah hukuman kekal. Berita buruk, bukan? Ini adalah berita yang paling buruk yang dapat saya bayangkan.

Namun, kemudian sesuatu terjadi ... seorang malaikat menyatakan kepada beberapa gembala di padang bahwa "Seorang Juru Selamat" telah lahir. Seorang Juru Selamat dari apa? Seorang Juru Selamat dari kemiskinan? Bukan. Lebih baik daripada itu. Seorang Juru Selamat dari pemerintahan yang menekan? Bukan. Lebih baik daripada itu. Juru Selamat yang lahir itu telah datang untuk "menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka" (Matius 1:21).

Dosa-dosa kita pantas berakhir dengan kematian kekal, tetapi Yesus telah lahir. Dia telah hidup dalam kehidupan yang sempurna demi kita. Dia telah mati menggantikan tempat kita. Kristus lahir untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Dia datang supaya "setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16).

Banyak di antara kita di sini yang malam ini merasa sangat sedih. Banyak di antara kita bersedih karena seseorang yang sangat kita cintai tidak akan datang dalam perjamuan makan malam saat Natal.

Bagi mereka yang kehilangan orang-orang yang terkasih, saya mengakui, Natal tidak akan pernah sama.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa setiap Natal seharusnya tanpa semua sukacita. Para malaikat telah mengirimkan berita terbaik yang pernah ada, "Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud".

Bagi mereka yang telah meninggal di dalam Tuhan, dan bagi Anda yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat atas dosa-dosa Anda, hari pertemuan kembali sudah menanti.

Natal selalu dapat menjadi kabar baik karena Natal dimaksudkan untuk mengingatkan kita bahwa perjamuan surgawi telah menanti mereka yang mengasihi Yesus Kristus.

Dibanding menjadi masa yang menyakitkan dan menyedihkan, Natal seharusnya mengingatkan kita bahwa Tuhan sedang menyiapkan tempat bagi kita, di sana tidak ada lagi rasa sakit dan kesedihan.

Hadiah-hadiah Natal memang mengagumkan. Makan malam bersama keluarga benar-benar istimewa, tetapi bagian terbaik tentang Natal adalah bahwa telah lahir bagi kita Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan. Amin. (t/S. Setyawati)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : Reformed Theology
Alamat URL : http://www.reformedtheology.ca/luke2.10.htm
Judul asli artikel : Why Christmas Can Always Be Good News
Penulis : Rev. Bryn Macphail
Tanggal akses : 28 Oktober 2013

Komentar