Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menjadi Orang Tua Tanpa Ketegangan

Di tengah dunia yang semakin sulit, semakin banyak orang tua yang merasa khawatir akan masa depan anak-anaknya. Tidak sedikit orang tua kristiani yang terlalu khawatir, seolah-olah lupa bahwa Tuhan telah punya rencana sendiri, jauh sebelum anak-anak itu dilahirkan. Kekhawatiran demi kekhawatiran ini tak jarang menimbulkan ketegangan atau bahkan stres.

Ketegangan orang tua biasanya akan bertambah seiring bertambahnya umur anak. Orang tua balita biasanya tegang karena terlalu mengkhawatirkan kesehatan, makanan, dan pendidikan anaknya. Banyak orang tua yang mondar-mandir ke dokter anak atau ahli gizi untuk mengonsultasikan pertumbuhan fisik anaknya, namun hampir tidak ada orang tua yang berkonsultasi kepada pendeta/konselor kristiani mengenai pertumbuhan iman anaknya. Banyak orang tua balita yang memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan (play group, TK, dan sebagainya) terlalu dini. Mereka tidak menyadari bahwa waktu yang seluas-luasnya bagi orang tua untuk mengajar firman Tuhan adalah justru sebelum anak terbebani tugas-tugas sekolah.

Ketika anak-anak mulai bersekolah, banyak orang tua hanya memfokuskan perhatian pada perkembangan intelektual anak. Ketegangan orang tua akan semakin bertambah ketika perkembangan intelektual anak tidak sesuai dengan keinginannya.

Ketika anak memasuki usia remaja, orang tua semakin tegang karena anak mulai senang berada di luar rumah dan lebih dekat dengan kawan-kawan sebayanya. Banyak hal yang dipikirkan dan dilakukan remaja yang tidak diketahui orang tuanya. Ketika anak telah melangkah terlalu jauh, orang tua semakin tegang dan tidak tahu harus berbuat apa. Begitu juga ketika anak sudah beranjak dewasa, mereka semakin jauh dengan orang tuanya. Orang bijak mengatakan, "Ketika anak-anak masih kecil, orang tua bisa menjaga dengan matanya. Saat anak beranjak dewasa, orang tua menjaga mereka dengan doanya".

Mengapa banyak orang tua tegang dan bagaimana menghindarinya?

  1. Konsep orang tua yang salah tentang anak.

    Banyak orang tua memiliki konsep yang salah tentang anak sehingga mereka tidak bersikap tepat terhadap anak. Orangtua yang memandang bahwa anak adalah investasi, rela mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya demi sekolah anaknya. Namun ketika anak mengecewakan, tak segan-segan mereka mengungkit berapa banyak uang yang telah dikeluarkan untuk anak. Selain menyebabkan ketegangan, ini bisa menyebabkan anak merasa bahwa hubungan anak dengan orang tua hanya sebatas utang piutang yang suatu saat bisa dibayar lunas bila anak telah memiliki cukup uang.

    Orangtua yang memandang anak sebagai milik pribadinya, tak jarang memperlakukan anak sekehendak hatinya. Orangtua yang menganggap anak tidak bernilai sebelum memiliki kedudukan terhormat, akan mengalami ketegangan yang berlarut-larut hingga anak benar-benar mencapai sukses menurut ukuran dirinya.

    Bila orang tua menyadari bahwa anak adalah makhluk bernilai titipan Tuhan, maka ia akan memperlakukan anak sesuai pesan Sang Pencipta. Orang tua yang demikian akan berserah total kepada Tuhan dan bersandar pada kasih dan penyertaan-Nya. Selanjutnya, orang tua tinggal mengarahkan anak supaya bisa bertumbuh dan berkembang sesuai rencana-Nya. Kesuksesan anak pun tidak lagi diukur dengan kesuksesan duniawi, melainkan pada kepatuhan anak terhadap firman Tuhan.

  2. Orang tua ingin menjadikan anak sebagai alat untuk mewujudkan ambisinya.

    Banyak orang tua mengalami ketegangan bukan karena takut suatu saat mereka tidak mampu mempersembahkan kembali anaknya kepada Tuhan. Mereka justru tegang karena mereka berambisi "mencetak" anak sesuai keinginan pribadinya. Tidak sedikit orang tua yang dulu merasa gagal mencapai cita-cita, kemudian menuntut anak untuk mewujudkannya. Misalnya, orang tua yang gagal menjadi dokter, memaksa anaknya untuk menjadi dokter. Seandainya orang tua menyadari bahwa setiap anak telah Tuhan perlengkapi dengan talenta masing-masing dan tugas orang tua hanya memfasilitasi supaya talenta tersebut bisa dipersembahkan kembali untuk kemuliaan Tuhan, maka ketegangan tidak perlu terjadi.

  3. Orang tua bingung memosisikan diri.

    Adakalanya orang tua bingung memposisikan diri di hadapan anak. Banyak orang tua yang ingin menampilkan sosok yang berwibawa justru gagal dan hanya membuat anak takut serta membuat jarak dengannya. Bila orang tua tak berhasil membangun kedekatan dengan anak, maka anak pun akan merasa lebih aman dan nyaman jika berada di luar rumah, jauh dari orang tuanya.

    Ketika lingkungan menawarkan daya tarik duniawi yang bisa menjerumuskan anak-anak, orang tua seharusnya mampu memposisikan diri sebagai sahabat, sehingga anak bisa berbagi dan bertanya (curhat) tentang apa saja dengan aman dan nyaman. Bila persahabatan antara anak dan orang tua terjalin baik, maka anak tidak akan mencari teman curhat (mencurahkan hati) di luar rumah yang bisa memberikan pengaruh negatif terhadap anak. Bila orang tua bisa menjadi teman curhat dan tempat bertanya tentang segala hal yang menjadi pergumulan anak, maka anak-anak pun tidak akan mencari teman curhat dan tempat pelarian di luar rumah. Dengan demikian, pengaruh buruk dari pergaulan bebas, seks pranikah, dan penyalahgunaan obat-obat terlarang bisa dihindari.

  4. Orang tua berharap terlalu tinggi.

    Banyak orang tua tegang karena berharap terlalu tinggi akan prestasi sekolah anaknya. Bila anak tidak mencapai prestasi seperti yang diinginkannya, maka tak jarang orang tua kecewa dan marah. Kekecewaan dan kemarahan ini bisa menyebabkan hubungan anak dengan orang tua makin tegang. Banyak orang tua lupa bahwa kesuksesan anak kelak tidak hanya ditentukan oleh nilai/prestasi sekolahnya.

    Bila orang tua bisa menerima anak apa adanya (dengan segala kelebihan dan kekurangannya), niscaya ketegangan tidak akan terjadi.

  5. Orang tua tidak memiliki skala prioritas.

    Banyak orang tua menginginkan anaknya belajar tentang banyak hal sekaligus (les Matematika, Bahasa Inggris, balet, piano, bela diri, dan sebagainya), seolah olah ingin anaknya menjadi manusia super. Tak jarang orang tua justru melupakan hal yang esensial, yaitu pengajaran tentang kasih dan takut akan Tuhan. Bila orang tua percaya akan kasih dan pemeliharaan Tuhan, maka ia akan puas walaupun anaknya "biasa-biasa saja" asalkan mereka takut akan Tuhan, menjadi garam dan terang serta mampu menjadi saluran berkat bagi sesama.

    Untuk menghindari ketegangan, orang tua bisa memberi kebebasan kepada anak-anak seluas-luasnya, khususnya yang menyangkut hal-hal teknis. Orang tua perlu menghormati kebebasan anak dalam hal-hal teknis dan mengajar anak untuk menerima serta menghormati otoritas orang tua dalam soal nilai-nilai, etika, moral, dan kebenaran firman Tuhan.

    Bila kebenaran firman Tuhan telah ditanamkan secara benar sejak usia dini dan berakar kuat dalam hati anak-anak, maka anak-anak akan mampu mengambil keputusan sendiri tanpa melanggar norma-norma keluarga dan agama.

  6. Orang tua tidak mampu dan tidak mau introspeksi diri.

    Banyak orang tua yang tegang, merasa malu, dan marah ketika anak-anaknya melakukan kesalahan. Sikap orang tua yang seperti ini sering membuat anak takut untuk jujur mengakui kesalahannya. Jika orang tua menganggap kesalahan adalah dosa, maka anak pun belajar untuk berbohong.

    Orang tua yang bijaksana akan menghargai kejujuran anak, termasuk ketika anak mengakui kesalahannya. Orang tua yang demikian akan menjadikan kesalahan anak sebagai cermin bagi dirinya sekaligus feedback (umpan balik) bagi pengajaran yang telah diberikannya.

  7. Orang tua terlalu boros kata-kata tetapi sedikit teladan.

    Banyak orang tua yang tegang ketika anak-anaknya tidak mau menuruti nasihat atau petunjuk-petunjuknya. Mereka tidak sadar bahwa terlalu banyak kata-kata (nasihat, petuah, petunjuk, dan sebagainya) justru membuat anak-anak tidak lagi merasakan makna kata-kata tersebut. Bila orang tua menyadari bahwa anak-anak lebih mudah meniru apa yang dilihat (teladan dari orang tuanya) daripada mengikuti apa yang didengarnya (nasihat/petuah), maka orang tua tidak perlu terlalu banyak bicara, tetapi mereka sudah cukup mengajar lewat keteladanan.

Diambil dari:

Judul buku : How to Enjoy Your Parenting Time
Judul bab : Menjadi Orangtua Tanpa Ketegangan
Penulis : Mundhi Sabda H. Lesminingtyas
Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta 2006
Halaman : 55 -- 61

Komentar