Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menolong Anak yang Daya Atensinya Lemah

Edisi C3I: e-Konsel 301 - Anak yang Sulit Memberi Perhatian

Diringkas oleh: Sri Setyawati

Salah satu faktor yang memengaruhi seorang anak lamban berpikir adalah atensi yang kurang. Besar kecilnya atensi seseorang memengaruhi proses belajar, perilaku, dan hubungan dengan orang lain. Ketika kontrol atensi disesuaikan dengan baik, cara pandang anak terhadap dirinya dan orang tuanya bisa menjadi lebih baik dan benar. Menerima keberadaan anak yang cerdas, namun tidak produktif memang tidak mudah. Orang tua harus sabar dan bijaksana memperlakukan anak yang terus-menerus melakukan kesalahan dan merasa kecewa setelah melakukannya. Kita perlu memberi dukungan sehat kepada anak, sehingga dia tidak selalu merasa gagal. Anak yang merasa diri tidak mampu dan paling bodoh di kelas, adalah anak yang merasa gagal dan rasa percaya dirinya hancur lebur. Anak kita mungkin bersikap biasa saja, tetapi secara psikis mungkin merasa tertekan dan membutuhkan pertolongan. Sebagai orang tua, kita wajib menolong anak-anak yang memiliki kontrol atensi lemah. Itu bukan kerusakan otak, hanya saja kelebihan anak kita akan terlihat kelak. Kita harus tanamkan rasa optimis dan membuat anak merasa dihargai.

Kontrol atensi sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari. Kontrol atensi harus beroperasi dengan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan tahapan usia yang berbeda-beda. Kontrol energi mental berkembang pesat pada masa bayi, itulah sebabnya bayi yang sulit tidur pada malam hari cenderung mengalami masalah dalam mengembangkan atensi saat mencapai usia sekolah. Sejak kecil mereka tidak terprogram dengan keseimbangan optimal antara tidur dan terjaga.

Saat menginjak bangku sekolah untuk pertama kalinya, beberapa anak dapat merasa bosan karena harus duduk dalam jangka waktu yang lama. Mereka terkadang memilih berjalan-jalan. Pada tahun berikutnya, umumnya usaha mental mereka sudah terkontrol dengan baik, sehingga anak dapat belajar mengontrol diri dan mau mengerjakan apa yang tidak mereka sukai, tetapi wajib mereka lakukan. Seiring dengan bertambahnya usia dan kedewasaan seorang anak, kontrol atensinya semakin kuat. Perhatian anak kelas satu dan anak taman kanak-kanak cenderung mudah teralihkan oleh suasana di luar kelas yang berisik atau tingkah laku teman sebangkunya. Namun, di kelas pertengahan hingga akhir SD, kontrol terhadap arus masuk informasi diharapkan sudah lebih berkembang. Anak kelas enam lebih dapat memberi perhatian kepada guru dan pelajaran dalam jangka waktu yang cukup lama, ketimbang anak yang masih kecil. Anak kecil biasanya hanya akan menyimak hingga setengah cerita, setelah itu mereka akan menaruh perhatian pada hal lain, terutama jika jalan cerita tidak menarik baginya.

Sementara itu, kontrol output semakin matang selama masa puber. Secara virtual, seluruh fungsi organ tubuh seharusnya berkembang seiring bertambahnya usia. Namun, semakin anak menjadi besar, fungsi kontrol output semakin pelan. Oleh karena itu, agar kontrol output berjalan dengan baik, kita tidak boleh mendesak anak untuk berpikir secara cepat agar mereka bisa lebih reflektif ketimbang impulsif, memikirkan dahulu sebelum bertindak, dan tidak melakukan hal yang pertama kali terlintas dalam pikiran. Hal ini bertentangan dengan sistem pengajaran anak sekolah menengah, yang menuntut anak melakukan tugas secepat mungkin (menulis cepat, berpikir cepat, mengingat seketika, dsb.). Untuk itu, kita perlu menghargai remaja yang mengerjakan tugas secara perlahan-lahan, sehingga bisa memberikan hasil yang baik.

Orang tua harus memonitor sejauh mana remaja dapat memperlambat pikirannya, meninjau, memikirkan alternatif yang ada, dan memanfaatkan pengalaman masa lalu sebagai pertimbangan untuk output masa kini.

Pertimbangan Praktis

Jika Anda memiliki anak yang lamban berpikir karena mengalami kesulitan untuk memberikan perhatian pada subjek yang dibicarakan, berikut ini langkah praktis yang bisa Anda lakukan.

  • Ketahuilah bahwa seluruh kontrol atensi merupakan dasar untuk mengatur apa yang dilakukan atau dikatakan anak, sehingga pendidik dan orang tua harus memahami bagaimana, kapan, dan di mana fungsinya. Jika orang tua memahami kontrol atensi dan menyadari bahwa kadang-kadang hal tersebut tidak berfungsi, hanya akan ada sedikit anak yang disalahartikan.

  • Ajak anak untuk mempelajari seluruh kontrol atensi dan fungsinya. Dalam hal ini, orang tua bisa bekerja sama dengan guru dan meminta guru untuk memberi tahu kontrol atensi spesifik mana yang diperlukan untuk menyelesaikan soal matematika, mengamati patung, atau belajar untuk ulangan geografi. Jika kontrol-kontrol tersebut diterangkan, diajarkan, dan diberi penanaman secara lebih eksplisit, ini akan lebih membantu murid agar lebih bisa berkonsentrasi dan berpikir sebelum mengerjakan sesuatu. Jika kontrol atensi tersebut kita pikirkan secara sadar, maka pikiran dan pekerjaan lebih terstruktur, dan anak memerlukan struktur seperti itu untuk dapat berprestasi di sekolah.

  • Ingat dan terimalah bahwa tidak semua anak sama. Mereka yang mengalami masalah kontrol atensi tergolong heterogen. Ada yang overaktif, ada juga yang tidak. Sebagian mengalami masalah perilaku, sebagian lagi hanya sulit berkonsentrasi atau menyelesaikan tugas. Ada yang sulit tidur, ada juga yang tidak mengalami kesulitan itu. Seorang anak bisa mengalami kombinasi kelemahan atensi. Untuk kasus ini, guru dan orang tua perlu memerhatikan masing-masing anak dan mengidentifikasi kontrol tertentu, baik yang berfungsi maupun tidak. Kontrol anak dapat berfungsi dengan baik dalam situasi tertentu, namun tidak pada situasi lain. Memahami di mana dan kapan atensi berfungsi dengan baik dapat membantu orang tua memprogram waktu yang tepat, saat anak sudah lebih dapat mengontrol sikap dan proses belajar mereka. Jika anak berkonsentrasi baik saat bermain "video game", mendengarkan musik, atau kegiatan menarik lainnya, ini berakibat baik bagi kesehatan mental dan intelektualnya -- dengan batas-batas tertentu.

  • Perhatikan perilaku anak. Jika anak tidak mampu mengendalikan perilakunya, kemungkinan ada kontrol atensi yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan melihat perilaku sebagai masalah kontrol dan menemukan kontrol mana yang perlu ditingkatkan, kita dapat membantu anak untuk mengatasi masalahnya.

  • Sadarilah bahwa lawan dari sikap impulsif [KBBI: bersifat cepat bertindak secara tiba-tiba menurut gerak hati -- Red.] sangat berguna untuk pemecahan masalah. Karena itu, pendekatan sistematis untuk menghadapi tantangan dan kemunduran harus diajarkan dan secara aktif dipraktikkan pada semua anak, khususnya yang malas merencanakan output dan pengambilan keputusan. Anak-anak yang mengalami kelemahan kontrol atensi kronis mungkin bisa dibantu dengan obat perangsang.

  • Orang tua dan guru harus bekerja sama dan semakin jeli dalam melihat hal-hal baik yang menyertai gangguan atensi. Banyak anak yang mengalami gangguan kontrol atensi memiliki kelebihan dalam hal kreativitas, sifat penyayang, dan kecerdasan. Banyak dari mereka yang berbakat dan sangat mandiri.

  • Arahkan anak yang mengalami disfungsi atensi pada hal-hal konstruktif. Misalnya, jika anak kita tidak pernah puas dengan materi, arahkan dia untuk menjadi kolektor yang baik. Perhatian yang mudah teralihkan berhubungan erat dengan kreativitas, dan ide yang berganti-ganti bisa mengarah pada karya seni yang penuh fantasi dan unik, yang bisa menjadi suatu penemuan dan karya fiksi yang hebat.

  • Perhatikan disfungsi lain yang menyertai. Kontrol atensi yang lemah biasanya merupakan bagian dari suatu disfungsi. Jadi, jika orang tua melihat ada masalah kontrol atensi pada si anak, cobalah mencari tahu apakah ada masalah yang lain yang dialaminya. Seorang anak bisa menunjukkan kesenjangan atensi plus defisit bahasa atau atensi plus memori, atau atensi plus bahasa plus pemikiran sosial. Jika hanya problem atensi saja yang diatasi dan masalah yang lain tidak, maka tidak akan ada banyak kemajuan yang dicapai.

  • Mengertilah bahwa atensi itu rapuh dan rumit. Anak bisa menghadapi masalah kontrol atensi kapan saja, dan faktor-faktor yang memengaruhinya pun sangat banyak. Jika anak Anda sulit menangkap pelajaran, kemungkinan atensinya menurun. Jika anak Anda mencemaskan sesuatu, kecemasan itu memeras atensi mereka. Berbagai penyakit fisik dan kondisi mental berpengaruh secara negatif pada kontrol atensi. Pengamatan kontrol atensi merupakan cara penting untuk mengontrol kondisi anak secara keseluruhan. Tidak adanya atensi merupakan sinyal adanya masalah, menandakan adanya persoalan dalam diri anak, atau antara dia dan lingkungannya.

  • Beri anak kebebasan untuk melakukan apa yang ia mau. Anak sering kali disalahkan karena mengalami gangguan atensi. Cobalah untuk tidak menyalahkan anak, tetapi katakan kepadanya bahwa dia hanyalah korban dari jaringan otak, maka matanya akan berbinar.

Lemahnya kontrol atensi sering dianggap sebagai kemalasan, sikap negatif, dan nakal. Padahal mereka termasuk anak yang berusaha keras untuk berhasil, untuk menyenangkan diri sendiri, dan untuk mendapatkan pujian dari orang tua. Kita harus bersimpati dan memberi dorongan kepada mereka untuk mengatasi masalah kontrol atensi. Hasilnya, mereka akan bangkit dan menunjukkan perbaikan yang nyata. Jadi, mari tunjukkan kepada mereka bahwa kita bukanlah lawan, tetapi kawan mereka.

Diringkas dari:

Judul asli buku : A Mind at a Time
Judul buku terjemahan : Menemukan Bakat Istimewa Anak
Judul bab : Berpikir -- Sistem Kontrol Atensi
Judul asli artikel : Dampak Kontrol Atensi
Penulis : Mel Levine, M.D.
Penerjemah : Lina Jusuf
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2001
Halaman : 91 -- 100

Komentar