Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menolong Anak yang Hiperaktif

Edisi C3I: e-Konsel 303 - Anak Hiperaktif

Dirangkum oleh: Sri Setyawati

Apakah Anda pernah melihat atau menghadapi anak-anak yang hiperaktif? Dalam istilah psikologi, hiperaktif lebih dikenal dengan nama "Attention Deficit Hyperactivity Disorder" (ADHD). Apakah ini sebuah penyakit? Hiperaktif bukan suatu penyakit.

Hiperaktif adalah suatu pola perilaku seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan impulsif (semaunya sendiri). Mereka pada umumnya cenderung lebih sulit menerima perintah, sukar memusatkan perhatian pada satu subjek, lupa menaruh barang, dan banyak bicara. Apa yang menjadi penyebab utamanya masih diperdebatkan. Ada yang menyatakan karena faktor makanan, ada juga yang menyatakan karena faktor genetis atau keturunan.

Apa pun pemicunya, hiperaktif pada anak diakibatkan kondisi otak yang tak dapat memproduksi senyawa kimia yang mengorganisasikan pikiran. Tindakan/aksi yang dilakukannya hanyalah perwujudan dari syaraf otaknya yang aktif. Anak-anak hiperaktif yang cenderung tidak bisa diam, akan melakukan apa saja yang dia inginkan: membuat mainannya berantakan, mencoret-coret tembok, memukul-mukul benda yang ada di sekitarnya, dst.. Mereka sangat spontan dan sering melakukan hal-hal yang tidak kita prediksi. Tindakan mereka yang sangat aktif kerap kali membuat orang tua/pengasuh kewalahan. Jadi, tidaklah mengherankan jika sebagian orang mengeluh saat mengasuh anak-anak hiperaktif.

Mendidik anak dengan gejala hiperaktif memang tak mudah. Orang tua yang memiliki anak hiperaktif membutuhkan tingkat kesabaran tinggi untuk mengawasi dan mendidik anaknya. Namun, apakah anak-anak hiperaktif benar-benar tidak bisa dikontrol? Tentu bisa! Mereka memang anak-anak yang aktif, namun tidak berarti mereka akan terus seperti itu. Juga, anak hiperaktif tidak selalu "merugikan". Asalkan kita tahu bagaimana mendampingi mereka dan memberikan pengarahan serta penanganan yang tepat, kita bisa menuntun mereka menjadi anak-anak yang terkontrol dan berhasil dalam banyak bidang. Apalagi anak hiperaktif tidak selalu disebabkan karena adanya gangguan fungsi otak.

Secara teori, ada dua tipe penyebab anak hiperaktif:

  1. Fisiologis: gangguan fungsi otak, kurang stimulasi terhadap retikulum.
  2. Biologis: kelebihan energi, kurang perhatian.
  3. Pola didik: kombinasi perilaku dan teknik disiplin yang buruk.


PERTOLONGAN/PENANGANAN

  1. Penanganan Secara Fisiologis

    Untuk anak hiperaktif karena gangguan fungsi otak, cara penanganannya adalah dengan mengonsultasikannya ke dokter ahli syaraf. Kemudian perlu melakukan perawatan khusus kepada anak melalui terapi syaraf dari kepala hingga kaki atau mengonsumsi obat-obatan yang dianjurkan dokter, dan diberi bantuan oleh psikolog ahli.

    Untuk anak hiperaktif karena kurang stimulasi, kita perlu memberikan stimulus agar otak mereka mendapatkan data yang memadai tentang perilaku yang normal sehingga hiperaktif bisa berhenti. Ritalin, obat yang paling sering diberikan kepada penderita hiperaktif, merupakan stimulus yang menenangkan perilaku hiperaktif dan meningkatkan rentang waktu perhatian. Untuk menentukan dosis pemakaiannya, silakan konsultasikan dengan dokter ahli.

  2. Penanganan Secara Biologis

    Untuk anak hiperaktif karena kelebihan energi, kita bisa mengajak anak untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif yang "menguras" energinya, misalnya dengan berenang, ikut les musik/menari, dan sebagainya. Namun, dalam menolong anak yang hiperaktif karena kelebihan energi ini, kita tidak bisa sembarangan mengajak anak melakukan aktivitas-aktivitas fisik yang berat. Kita bisa juga mengajak anak untuk melakukan kegiatan yang memerlukan ketekunan dan konsentrasi, seperti menjodohkan gambar, menyusun angka 1-10, atau menyusun puzzle. Jika memang dirasa perlu, silakan bawa anak hiperaktif Anda ke lembaga pendidikan atau kursus keterampilan/olahraga (seperti bela diri, balet, berenang, atau bermain bola basket), sehingga energi anak bisa tersalurkan untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang positif. Selain itu, kita juga bisa memberikan pengobatan kepada anak agar hiperaktifnya menurun.

  3. Penanganan Secara Sistem Didik

    Untuk anak hiperaktif karena kurang perhatian, kita harus memberikan perhatian yang secukupnya untuk anak tersebut. Memberi perhatian tidak berarti selalu menuruti semua yang diinginkan si anak. Dalam hal ini, kita tetap harus mendisiplin anak sesuai dengan kebenaran Kristus. Jika anak terlalu berlebihan dan sulit dinasihati, orang tua berhak untuk memberi hukuman, asal itu untuk mengarahkan anak atau membuat anak lebih tenang dan lebih baik (bandingkan Amsal 23:13). Jika anak menjadi hiperaktif karena pola didik/asuh yang kurang tepat, kita perlu membuat dan melaksanakan manajemen pendidikan yang baru bagi anak.

    Sebetulnya, menangani anak hiperaktif itu relatif mudah. Ketika kita sudah tahu penyebabnya, kita tentu lebih mudah mencari solusi penanganannya. Meskipun begitu, kita harus bijaksana dalam memberikan penanganan. Penanganan yang tepat bisa membuat anak semakin cemerlang dan terampil dalam banyak hal. Sebaliknya, jika kita salah sedikit saja dalam penanganannya, maka anak bisa semakin aktif bahkan bisa menjadi perusak di luar batas kesadarannya. Nah, untuk anak-anak hiperaktif yang cenderung merusak barang-barang di rumah kita, kita perlu memberikan penanganan khusus. Kita perlu memberikan perhatian dan kesabaran ekstra, agar anak bisa lebih terkendali.

    Di balik segala kesulitan untuk mendidik dan menangani anak-anak hiperaktif, sebenarnya kita patut bangga dengan keberadaan mereka. Mereka pada umumnya lebih cerdas dibandingkan anak yang pasif/sedikit aktivitas. Dalam sebuah penelitian, telah dilakukan sebuah tes kemampuan secara komprehensif terhadap pemain basket dan pemain catur. Hasilnya, kemampuan kinetik, antarpersonal, dan kemampuan lainnya seorang pemain basket lebih baik daripada pemain catur. Hal ini disebabkan permainan basket melibatkan banyak unsur lain, selain unsur fisik. Sementara catur hanya mengandalkan bagian otak tertentu saja untuk berpikir. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang mampu dan aktif menggerakkan anggota tubuhnya secara simultan/bersamaan memiliki kemampuan intelektual yang lebih tinggi. Meskipun begitu, anak-anak hiperaktif tetap harus diberi stimulasi yang seimbang, baik stimulasi kinetik maupun stimulasi lainnya.

Dirangkum dari:

  1. Dedeh. "Menelisik Kemampuan Intelektual Anak Hiperaktif". Dalam http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Anak/Menelisik-Kemampuan-Intel...

  2. ________. "Masa Depan Anak Hiperaktif Cenderung Lebih Sukses". Dalam http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/03/13/147049/Masa-Depan-Anak-...

  3. Meier, Paul D., M.D., dkk. 1991. "Pengantar Psikologi dan Konseling Kristen (I)". Yogyakarta: (PBMR) ANDI.

Komentar