Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mental Fatigueness

Kehidupan manusia seringkali diwarnai dengan berbagai paradoks. Satu pihak manusia menginginkan kesibukan dan kerja, tetapi pihak lain manusia juga membutuhkan istirahat dan terbebas dari segala beban pekerjaan. Satu pihak ia ingin bersosialisasi, pihak lain pada saat - saat tertentu ia menginginkan kesendirian bahkan terganggu dengan kehadiran orang lain. Satu pihak ia rela berkorban demi suatu sukses tetapi pihak lain mereka sadar bahwa kerelaan berkorban tidak selalu membuahkan suatu sukses. Satu pihak ia ingin membahagiakan orang "yang dicintai," pihak lain ia sering disadarkan bahwa justru sikap dari orang "yang dicintai" menjadi sumber ketidakbahagiaannya. Nah, di tengah berbagai paradoks itulah seseorang seringkali menjadi lelah mental/mentally fatigue. Tidak heran, di tengah kelelahan mental, Penulis kitab Pengkhotbah sampai mengatakan bahwa "semuanya sia-sia ... usaha menjaring angin ... tidak ada faedahnya ..."

Alkitab memang mencatat cukup banyak contoh anak-anak Tuhan yang mengalami kelelahan mental. Musa yang mengeluh karena melihat hidupnya yang begitu rapuh dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan (Mzm 90:10), Elia yang ingin mati dan kehilangan semangat pelayanannya (1Raja-raja 19:4-ff), Yeremia yang terus- menerus merasa dipaksa di tengah pengabdian pelayanannya sampai ia mengutuki hari jadinya sendiri (Yer. 15:10, 20:7-9), bahkan Pauluspun di tengah pelayanannya kepada jemaat-jemaat yang ia layani berulang-kali merasakan kelelahan mental sampai ia mengeluh dan mengatakan, "karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi... " (Gal. 4:19).

Kelelahan mental tidak sama dengan kesedihan, keputus-asaan ataupun gejala depresi oleh karena kegagalan. Kelelahan mental adalah bagian dari ujung jalan yang "terlalu panjang." Daya tahan dan kekuatan manusia terbatas, sehingga seharusnya setiap orang memilih yang memang ia bisa lakukan. Setiap orang harus memilih porsinya. Itulah yang Paulus katakan melalui suratnya kepada jemaat Roma yaitu, "janganlah kamu memikirkan hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan... Sehingga (karena seharusnya) kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing- masing" (12:3).

Kadang-kadang kesalahan langkah membuat hamba Tuhan seperti Musa mengalami kelelahan mental. Kadang-kadang kesalahan konsep seperti Elia yang menjadi sebabnya. Bahkan kadang-kadang realita pelayanan itu sendirilah yang mau tak mau menimbulkan reaksi emosi kelelahan mental, seperti yang dialami Yeremia. Baginya, kelelahan mental adalah bagian dari realita pelayanan yang memang penuh kesulitan. Jadi, sepuluh macam kelelahan mental bisa disebabkan oleh sepuluh kemungkinan. Sebagai contoh perhatikan salah satu kasus di bawah ini.

Kasus: Leonard seorang usahawan sukses. Pada usianya yang belum paruh baya, ia sudah berhasil memiliki empat perusahaan dengan jumlah karyawan lebih dari 30.000 orang. Ia merasakan bahwa hidup ini penuh dengan peluang dan kesempatan untuk maju. Ia bekerja 12 sampai 14 jam sehari, dan merasa bangga oleh karena dimana-mana ia dihargai. Ia seringkali muncul di surat kabar, bahkan sebagai majelis gereja dialah penyumbang dana terbesar untuk pembangunan gerejanya.

Meskipun demikian, pada suatu hari, istri Leonard mencari Anda. Sebagai teman ia mengeluh tentang suaminya. Mula-mula keluhan positif tentang suaminya yang jarang di rumah oleh karena tuntutan perusahaan-perusahaannya, tetapi kemudian dengan air mata ia menceriterakan tentang sikap dan tingkah-laku suaminya yang tak lagi dapat diajak bicara, pemberang, dan abusive. Untuk sedikit kekurangan atau kesalahan saja, ia bisa meledak, melempar istrinya dengan gelas dan mencaci-maki seperti layaknya perlakuan terhadap seorang budak dijaman penjajahan Belanda dulu.

Meskipun kemudian ia meminta maaf, tetapi kebiasaan tersebut sudah menjadi acara rutin yang terus-menerus terulang.

Sebagai teman, Anda merasa terbeban. Anda mencari waktu untuk bertemu dengan Leonard. Ia adalah seorang Kristen yang baik. Ia cukup terbuka dan berani mengakui kesalahannya. Ia mengatakan bahwa ia sangat mencintai istri dan seluruh keluarganya. Hanya saja, ia tidak tahu mengapa ia seringkali tegang, tidak bisa tidur dan mudah sekali marah. Ia sadar ia harus dapat mengatasi kelemahan ini, tetapi ia terus-terang mengakui bahwa ia tidak tahu bagaimana caranya. Nah, dalam konteks seperti inilah, Anda melakukan konseling. Untuk itu Anda dapat memikirkan beberapa prinsip konseling di bawah ini.

Pertama, "listen," coba dengar dengan kepekaan intuisi Anda, apa sebenarnya yang ia rasakan dan pikirkan. Tanyakanlah kepada diri Anda sendiri, "mengapa Leonard merasa dan berpikir demikian ...? Apakah perasaan dan pikirannya "appropriate"/tepat di tengah realita yang ia hadapi?"

Mungkin dari mulutnya Leonard akan mengakui bahwa ia sadar ... yang ia alami adalah dampak dari "overload" tanggung-jawab dan beban mental dari pekerjaannya yang terlalu banyak, tetapi Anda harus "listen." Artinya, Anda harus dapat mendengar dan menangkap yang sesungguhnya, karena kata-kata "verbal" meskipun memakai kata "saya sadar," tak selalu disertai dengan realita kesadaran yang sesungguhnya. Artinya, seorang bisa secara "cognitive" sadar, tetapi secara mental ia tetap menginginkan kehidupan yang sama karena kehidupan tersebut memberikan kenikmatan tertentu yang ia tidak mau tanggalkan. Kenikmatan tersebut bisa "addictive" sifatnya sehingga individu seperti Leonard akan terus "tolerant"/menginginkan dosis yang lebih. Nah, di tengah kondisi "mentally overload," ia ternyata masih menginginkan lebih bahkan terus membuka peluang mencari kemungkinan-kemungkinan baru untuk mengembangkan usahanya.

"Listening" dari konselor, harus di-refleksikan. Artinya, untuk memberikan kesadaran yang sesungguhnya/"genuine self-awareness," apa yang Anda sudah "listen," harus Anda bahasakan dalam bahasa yang baru. Misalnya, Anda dapat katakan kepadanya, "Ah ... hidup bisa menjadi begitu kompleks ... mula-mula secara natural kita meresponi dorongan insting untuk maju dan sukses ... kita berjerihpayah ... bekerja siang malam ... Dan, memang ada di antara kita yang betul- betul membuahkan sukses ... Itulah yang seringkali terjadi ... Kita berhasil, perusahaan-perusahaan kita maju ... secara rationil kita bangga karena kita menghidupi begitu banyak keluarga ... Kedudukan kita naik ... kita dikenal dan dihargai dimana-mana ... yang kemudian menjadi sistim dalam kehidupan kita ... Tanpa sadar kita menikmatinya ... lalu, ... seolah-olah hidup kita tidak bisa lagi diubah ... Di tengah "overload" pekerjaan yang memberikan dampak sampingan yang negatif ... sampai kita mengalami kelelahan mental dengan berbagai malam akibat buruknya, seperti mudah marah dan melukai perasaan dari orang-orang kita kasihi ... seringkali kekuatan untuk benar-benar ingin berubah menjadi kecil ... Kita tahu ada sesuatu yang tidak beres ... dan kita tidak memunyai kekuatan ..., karena mungkin penyebabnya sudah menjadi sumber kenikmatan hidup kita ..."

Kedua, Anda perlu melakukan "family konseling." Anda tidak bisa berbuat banyak dengan konseling pribadi atas Leonard. Anda harus melibatkan istri dan anak-anaknya. Nah, untuk itu Anda sebagai teman (konselor awam) harus sadar akan keterbatasan Anda. Anda tidak perlu menjadi konselor profesional dengan pendekatan-pendekatan "family therapy" seperti yang dikembangkan oleh Bowen, Minuchin, Satir, dsb. Yang Anda perlukan adalah "trust" dan "care". Maksudnya, jikalau Anda mau menjadi konselor untuk keluarga tersebut, Anda harus memiliki "trust" yaitu Anda dipercayai dan dihargai kompetensinya oleh keluarga tersebut. Kedua, "care," artinya Anda harus mempunyai bekal kemurnian hati yang "peduli."

Nah, dengan bekal kedua prinsip tersebut, Anda bisa memakai approach natural yang Tuhan sudah berikan pada Anda. Mintalah kepada Tuhan supaya Anda diberi kesempatan untuk berkunjung dan bertemu dengan seluruh keluarga Leonard. Pertemuan pertama, dilakukan dengan masing-masing suami-istri secara terpisah. Dalam sesi pertama tersebut, Anda harus dapat "building rapport"/membangun "trust" sehingga suami-istri tersebut makin merasakan Anda dapat dipercaya dan Anda adalah teman bicara yang baik.

Prinsip dari setiap sesi memang adalah "listening." Jadi Anda harus terus-menerus bisa menjadi pendengar yang baik dan mampu membuat refleksi dengan bahasa yang tepat sehingga kesadaran mereka naik. Kalau objektif ini berhasil, maka dalam sesi kedua, Anda dapat bertemu bertiga yaitu suami-istri bersama-sama. Dalam sesi kedua ini, Anda memainkan peran yang baru. Anda sekarang dapat menjadi stimulant yang memungkinkan masing-masing mengatakan "apa yang mereka rasakan dan pikirkan" di hadapan pasangannya. Hasil dari sesi kedua ini akan membekali Anda dengan pengenalan yang lebih baik akan kondisi yang sesungguhnya dalam kehidupan suami-istri ini. Dengan demikian, Anda dapat memberikan kepada mereka pekerjaan rumah untuk membangun sistim komunikasi yang lebih baik di rumah. Anda harus menekankan pengembangan aspek intimacy antara mereka berdua. Anjurkan supaya mereka mempunyai schedule rutin untuk keluar rumah bersama, berdua saja.

Nah sementara "intimacy" sedang mereka bangun, dan pada saat mereka keluar berdua, Anda dapat bertemu dengan anggota keluarga yang lain yang ada dalam rumah itu (anak-anak, dan mungkin orang tua kalau ada). Di hadapan mereka sebaiknya Anda tidak menanamkan kesan seolah- olah Anda sedang meng-konsel suami-istri Leonard. Jadilah teman bicara yang baik dan sekali lagi "listen." Karena dari pola bicara, apa yang dibicarakan, bahkan siapa yang bicara, Anda dapat menangkap keadaan dan sistim yang ada dalam keluarga tersebut. Mungkin anak pertama saja yang terus bicara, mungkin bahkan tak ada yang mau diajak kumpul ngobrol dengan Anda, atau hanya ayah mertua yang mau dan itupun isinya terus memaksa Anda mendengar apa yang ia banggakan tentang dirinya sendiri, dsb. Melalui itu semua, Anda akan memiliki bekal untuk lebih dapat "understand," suami-istri Leonard.

Tuhan kiranya memberkati pelayanan Anda.

Sumber
Halaman: 
1 -- 3
Judul Artikel: 
Parakaleo, Oktober - Desember 2007, Vol. XIV, No. 4
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII, Jakarta 2007

Komentar