Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Menumbuhkan Semangat Belajar Pada Anak

Edisi C3I: e-Konsel 241 - Memotivasi Anak untuk Belajar

Diringkas oleh: Sri Setyawati

Kita sebaiknya memotivasi anak-anak agar suka belajar sejak mereka masih balita, karena pada masa ini anak memiliki keinginan belajar yang sangat kuat. Anak disebut gemar belajar bukan karena dia diharuskan belajar, melainkan karena dia memang suka belajar. Dia sadar benar bahwa itu adalah pilihannya untuk masa depan.

Bagaimana Menumbuhkan Semangat Belajar Anak?

1. Jadikan belajar sebagai hal yang menyenangkan.

Ciptakan suasana belajar yang nyaman bagi anak. Anda perlu memerhatikan pelajaran apa yang paling disukai dan tidak ia sukai. Anda juga bisa mengikutkan anak Anda untuk mengikuti les -- pelajaran tambahan di luar jam sekolah, karena ada beberapa anak suka sekali les tertentu, sehingga mereka tidak sabar menunggu hari les tiba. Setelah anak masuk sekolah, bantulah mereka untuk memunyai jam belajar yang teratur.

2. Kembangkan kecerdasan anak dengan mempelajari hal-hal lain selain pelajaran sekolah.

Saat anak semakin besar, dia berpikir bahwa yang disebut belajar adalah mengulangi pelajaran sekolah. Jadi, selama dia tidak memiliki masalah dengan pelajaran di sekolah, ia tidak perlu belajar di rumah. Ini sebenarnya tidak salah, namun belajar adalah hal yang sebaiknya tetap dilakukan. Jika anak-anak Anda bisa mengikuti pelajaran sekolah dengan baik, ajaklah mereka untuk mempelajari hal lain selain pelajaran sekolah. Anak yang tidak bermasalah dengan pelajaran di sekolah bisa dilatih untuk mengembangkan bakatnya. Jika Anda sudah mengetahui bakat anak sejak dini, akan lebih mudah bagi Anda untuk mengembangkan kecerdasan majemuknya (multiple intelligences) saat anak masuk sekolah formal. Jika anak suka menyanyi, ikutkanlah dia les vokal atau ikut paduan suara anak di gereja. Jika anak suka bermain musik, manfaatkan kursus musik di dekat rumah Anda, untuk mengeksplorasi bakat anak dalam mendalami alat musik tertentu. Sayangnya, hampir tidak ada kelompok untuk mendalami sains; tetapi anak-anak bisa diajari menanam pohon, membuat pupuk, memelihara binatang, dsb., sebagai awal untuk mengembangkan kesukaannya terhadap dunia sains.

3. Beritahukan kepada anak tujuan mereka belajar.

Banyak anak sebenarnya pandai, namun lingkungan kurang menantang dia untuk berusaha. Beberapa anak sudah puas dengan nilainya dan enggan berusaha lebih. Karena itu, orang tua dan guru perlu bekerja sama untuk mendorong anak menemukan tujuan belajar atau cita-cita hidupnya. Anak perlu mengerti hubungan antara sekolah dan bekerja. Oleh karena itu, luangkanlah waktu untuk mendiskusikan cita-cita mereka dan bagaimana mereka bisa meraihnya. Ini penting dilakukan ketika anak menginjak masa remaja awal. Berikan padanya ide yang menyangkut pendalaman hobi atau pekerjaan yang ingin ditekuninya kelak. Jika memungkinkan, ajaklah mereka ke kantor atau mengerjakan beberapa pekerjaan ringan di waktu libur. Secara berkala, cobalah mengevaluasi terhadap anak Anda. Jangan segan mengubah atau membuat target baru. Kalau perlu catat dan tempelkan di dinding ruang belajarnya.

Ketika memasuki usia remaja, beberapa anak biasanya mengalami kemunduran dalam semangat belajar. Ini gejala yang normal, karena pikiran mereka sudah mulai bercabang. Mereka mulai tertarik untuk memikirkan teman sebaya (peer group), diri sendiri, hobi, keluarga (orang tua dan saudara), pelajaran, dan sebagainya. Daripada memarahi mereka, lebih baik Anda membangun hubungan yang lebih baik dan menumbuhkan rasa percaya dalam diri mereka kepada Anda.

Peran Orang Tua

Ini adalah hal terpenting dalam membangun semangat belajar anak. Pendampingan diperlukan selama anak masih bergantung pada peran serta orang tua. Misalnya, orang tua ikut duduk dan mendampingi anak belajar di sebelah mejanya, atau sekadar menanyakan bagaimana dia menyelesaikan tugas sekolah sepanjang hari itu. Buatlah belajar menjadi proses yang menyenangkan. Tidak perlu banyak marah dan tekanan. Jika anak sudah lebih besar, penting baginya belajar dari kegagalan. Berilah anak Anda kesempatan kedua. Sesekali, nilai rendah atau teguran guru perlu untuk dia. Pengalaman bisa lebih berbicara daripada omelan atau kritikan.

Hubungan baik antara orang tua dan anak perlu dibangun sejak anak masih kecil. Hubungan yang baik ini akan memudahkan komunikasi di antara anak dengan orang tua. Nyatakan keprihatinan Anda dengan jelas. Tanyakan juga apakah anak Anda mengalami kesulitan dengan pelajaran, teman, hobi, atau mungkin ada yang membingungkan mereka. Apakah mereka membutuhkan latihan ekstra atau kelompok belajar. Tidak perlu menyalahkan mereka untuk nilai-nilai yang merosot, misalnya. Mungkin sekali mereka pun menyesal, tapi tidak tahu harus berbuat apa.

Televisi dan komputer adalah godaan terbesar bagi anak masa kini! Sebab itu, jangan menaruh televisi atau komputer di kamar anak Anda. Sejak anak Anda kecil biasakan menonton televisi bersama-sama dan mendiskusikannya. Mungkin karena pengaruh teman, anak Anda meminta komputer atau televisi untuk mereka pribadi. Anda perlu hati-hati menyetujui permintaan ini, walaupun Anda memiliki dana untuk itu. Terapkan syarat dan ketentuan yang harus mereka patuhi; segeralah bertindak kalau ternyata syarat dan ketentuan itu dilanggar.

Walaupun begitu Anda harus mewaspadai hal-hal yang tidak wajar, misalnya sesuatu yang cenderung negatif. Misalnya, anak Anda mulai merokok di kamar atau tidak mengizinkan Anda memasuki kamarnya. Tanpa bermaksud meneliti, usahakan sesekali dalam waktu yang tidak teratur, berbicara dengan anak Anda di kamarnya. Anda dapat melihat dan menemukan hal-hal yang berubah di kamar tersebut. Terakhir, jangan lupa, sebagian anak kita sangat suka belajar dari kita dengan proses informal: berdiskusi, suasana humor, saat makan, dan rekreasi bersama.

Kenalkan Buku di Usia Awal

Beberapa anak lebih suka membaca komik atau kartun. Pada tahap tertentu, ini baik, tapi kartun membatasi imajinasi anak. Kalau anak kita suka membaca kisah Cinderella, misalnya, dalam benak mereka sudah tertanam gambar seorang putri. Gambar ini sulit diubah. Mereka akan bingung jika melihat profil putri salah seorang kepala suku di Afrika. Jika anak suka buku-buku bergambar, belikanlah buku-buku sains bergambar (foto asli).

Pada periode tertentu ada komik-komik berseri yang disukai anak-anak. Jika anak Anda terlanjur suka, cobalah kompromi dengan dia. Sedapat mungkin usahakan menyewa komik dari perpustakaan umum, tidak perlu membelinya. Tapi jika sulit, jangan mengoleksinya. Latih anak kita memberi komik yang sudah dibacanya kepada orang lain.

Dasar Iman dan Moral

Lebih daripada hal-hal teknis di atas, kita juga harus melengkapi anak-anak kita dengan iman dan moral Kristiani yang benar. Sama halnya dengan cara kita menghadapi kegemaran anak terhadap games, TV, dsb.; di rumah pun kita harus membekali anak-anak dengan nilai-nilai kekristenan.

Dalam 5-10 tahun terakhir muncul berbagai bacaan yang menggambarkan dunia lain. Misalnya serial Harry Potter, Bartholomeus Trilogy, dan banyak lagi. Walaupun buku-buku ini mengetengahkan nilai-nilai kepahlawanan, kerja sama, dan sebagainya, namun buku-buku itu bisa membawa anak-anak ke dalam pemikiran "post modern", yang segala sesuatu tidak ada akhirnya. Sayangnya, buku-buku ini menarik dan membuat kita berpikir tentang kemungkinan adanya lapisan-lapisan dunia lain di luar bumi kita yang sudah rusak ini.

Pikiran yang dibangun oleh buku-buku ini berbeda dengan cerita-cerita rakyat. Misalnya dongeng-dongeng H.C. Anderson yang isinya tokoh baik mengalahkan yang jahat. Dalam buku-buku yang terbit belakangan ini, kejahatan memang kalah, tetapi kejahatan tidak pernah hilang, selalu mengintip dan muncul pada waktunya. Dia tidak berbentuk orang, tetapi oknum, sesuatu yang tidak pernah mati. Mereka tidak hidup di dunia kita, tetapi bisa datang ke bumi dan mengacaukan isinya. Lantas, kekacauan ini menjadi baik lagi dengan satu sapuan sihir.

Karena itu, sebelum anak kita menyukai buku-buku semacam ini, tanamkanlah filter yang benar dalam benak mereka. Sejak mereka kecil, ketika baru mulai membaca, berikanlah buku-buku cerita Alkitab. Sejalan dengan usia dan kemampuan berpikir, kita bisa memberikan serial kepahlawanan atau biografi orang-orang yang sukses tetapi melewati banyak kesukaran dan penderitaan. Dorong anak-anak membacanya.

Tidak ada salahnya membelikan buku dongeng yang berisikan moral yang baik selama kita bisa mengatur waktu untuk mendiskusikan isinya. Tujuannya adalah agar orang tua tetap memberikan saringan untuk setiap bacaan anak. Mari bangun keluarga yang suka membaca.

Tip-tip Memotivasi Anak agar Tekun Belajar dan Sekolah

  1. Bantu anak untuk memiliki cita-cita dan kesungguhan untuk mencapainya.
  2. Tanamkan dalam pikiran mereka bahwa salah satu cara untuk menjadi orang yang berhasil mencapai cita-cita adalah dengan rajin belajar dan sekolah.
  3. Latihlah anak untuk mencintai buku, biasakan untuk membacakan cerita untuk anak sejak dia bayi.
  4. Kenalkan buku-buku yang baik, hindarkan komik.
  5. Ajak anak secara rutin ke toko buku dan buatlah perpustakaan di rumah Anda.
  6. Jadilah orang tua yang suka membaca. Anak akan lebih mudah melakukan apa yang Anda inginkan dengan melihat kebiasaan yang Anda lakukan. Jika Anda suka membaca dan belajar, anak Anda akan lebih mudah untuk menirunya.

Diringkas dari:

Nama situs : Kompasiana
Alamat URL : http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/10/
Judul asli artikel : Remaja dan Masa Depan
Penulis : Julianto & Roswitha
Tanggal akses : 4 Maret 2011

Komentar