Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mertuaku, Menantuku

Edisi C3I: e-Konsel 246 - Membangun Hubungan Baik dengan Keluarga Mertua

Bacaan: Rut 1:16-17

Ada sebuah pepatah mengatakan: "Setajam-tajamnya duri lidah buaya, masih lebih tajam lidah ibu mertua." Pepatah ini menggambarkan hubungan yang tidak akur antara menantu dan mertua. Untuk itu, bila ada seorang istri yang menceritakan hubungannya dengan ibu mertuanya cukup harmonis, maka komentar yang muncul adalah, "Wah hebat, kasus langka!" Sebaliknya, jika diceritakan sang menantu perempuan yang sering konflik dengan ibu mertuanya, maka komentar yang akan keluar adalah "Ah itu sih, biasa!"

Sebuah studi mengatakan bahwa 60 persen hubungan mertua perempuan dengan menantu perempuan berada di dalam ketegangan. Mengapa banyak hubungan mertua dan menantu kurang baik? Alasannya adalah:

  1. Ibu mertua merasa anak lelakinya "diambil" oleh menantunya.

  2. Ibu mertua merasa telah "disia-siakan" oleh anak lelakinya.

  3. Ibu mertua merasa tidak "dirawat" karena anaknya memilih hidup dengan orang lain.

Karena perasaan-perasaan itu, sering kali ibu mertua bersikap sinis, galak, dan selalu mengkritik menantu perempuannya. Segala hal mengenai menantu perempuannya dinilai kurang. Semua yang dilakukan menantunya tidak memenuhi kualifikasinya. Sementara itu, istri merasa bahwa ibu mertuanya terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka, selalu mengkritik pekerjaannya, tidak pantas untuk anaknya, dsb.. Sikap ibu mertua semakin menjadi-jadi jika dulu pernikahan anaknya itu tidak direstui olehnya. Hal ini dapat menjadi alasan bagi ibu mertua untuk "menjatuhkan" menantu perempuannya itu. Dalam kasus seperti ini sering kali menantu perempuan menjadi pihak yang "kalah". Akibatnya menantu perempuan sering mengeluh bahwa hidup dengan mertua perempuan bagaikan hidup dengan ibu tiri.

Bagaimana menjalin sebuah hubungan yang baik dengan mertua? Apa yang harus dilakukan oleh menantu? Mari, kita belajar dari teladan Rut tentang sikapnya terhadap mertuanya.

  1. Rut menganggap mertuanya sebagai orang tuanya sendiri yang perlu ditemani, dirawat, dan dikasihi. Perhatikanlah perkataan Rut kepada Naomi, "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; ...." (Rut 1:16-17) Sikap Rut yang demikian manis kepada mertuanya, diketahui dan dipuji-puji oleh banyak orang, termasuk oleh Boas (Rut 2:11). Mertua Rut memang baik, tidak seperti kebanyakan mertua sekarang. Namun, sikap yang menganggap mertua sebagai orang tua sendiri perlu ditiru. Jadi, anggaplah mertua Anda sebagai ibu Anda sendiri. Kasih ini harus Anda tunjukkan dengan mengunjunginya secara teratur, dan menerimanya dengan ramah jika dia datang berkunjung. Dengan demikian, ibu mertua Anda tidak merasa disisihkan, apalagi disingkirkan. Jika Anda mengalami masalah, terutama menyangkut kehidupan rumah tangga, cobalah meminta nasihat kepada ibu mertua Anda. Tindakan ini akan membuat ibu mertua Anda merasa dihargai. Di samping itu, dengan berkonsultasi kepadanya, komunikasi Anda akan terjalin dengan indah dan harmonis, dan Anda akan disayangi mertua. Seperti Rut, ia mau mendengar nasihat mertuanya (Rut 3:5).

  2. Hargailah mertua Anda. Ingatlah bahwa mertua Anda adalah orang yang sudah membesarkan pasangan Anda. Oleh karena itu, berikanlah kepadanya penghargaan dan penghormatan, bagaimanapun buruknya dia. Kita harus menyadari bahwa orang tua sudah banyak berkorban dan kita harus menghargai pengorbanan mereka. Misalnya, kita mengingat ulang tahunnya. Prinsipnya adalah buatlah hal-hal yang membuat mertua merasa dihargai.

  3. Bijaksanalah terhadap tuntutan mertua. Mungkin mertua Anda benar karena dia lebih banyak makan asam garam. Tuntutannya perlu dipertimbangkan. Jika terjadi konflik, ingatlah bahwa mertua Anda bukan musuh. Dia adalah ibu pasangan Anda.

  4. Untuk mengurangi ketegangan, jangan mudah marah karena hal-hal remeh. Tunjukkan penghormatan Anda kepada ibu mertua melalui hal-hal kecil, seperti memuji masakannya.

  5. Pelajarilah budaya dari keluarga pasangan Anda. Misalnya, jam berapa keluarga pasangan Anda makan.

  6. Suami harus belajar mengambil keputusan sendiri dengan pasangannya. Menanyakan keputusan kepada orang tua hanya sebagai alternatif berikutnya. Yang paling penting adalah keputusan bersama -- suami-istri.

  7. Jangan percaya gosip dari pihak lain, dan jangan sering menceritakan masalah kita kepada sembarangan orang. Kebanyakan masalah keluarga, termasuk antara mertua dan menantu, karena adanya laporan cerita-cerita yang disertai "bumbu" dari orang lain. Misalnya ipar, keluarga lain, atau tetangga. Itu sebabnya, setiap pasangan jangan mudah percaya kepada cerita-cerita pihak ketiga tentang masalah internal keluarga.

  8. Fokuskan perhatian Anda terhadap hal-hal yang baik yang ada dalam diri mertua. Hindarilah pikiran negatif mengenai dirinya. Misalnya, ingatlah saat Anda sedang hamil, ibu mertualah yang memberi obat, mengajari Anda memakaikan pakaian bagi si bayi.

  9. Empati dengannya. Pada saat Anda menikah, Anda telah memisahkan pasangan Anda dengan ibunya. Coba menempatkan diri di posisi mertua. Ingatlah bahwa suatu hari nanti pun Anda akan menjadi mertua.

  10. Bersabar dan berdoa. Sebenarnya, ibu mertua tidak ingin sinis terhadap Anda. Koreksi diri juga penting. Mungkin selama ini ada sikap Anda yang membuat ibu mertua tidak berkenan. Ingat, jika Anda dapat bersabar, selalu memberi perhatian, dan bersikap positif terhadap ibu mertua, lama-lama ibu mertua pun akan lunak hatinya. Jika perilaku negatif dibalas negatif, maka sering kali hasilnya tidak menggembirakan. Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah sikap Iblis. Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah sikap dunia. Tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan adalah sikap anak-anak Tuhan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : Kotbah.org
Alamat URL : http://kotbah.org/2010/01/mertuaku-menantuku-rut-116-17/
Penulis : Yohannis Trisfant, M.Th.
Tanggal akses : 9 Mei 2011

Komentar