Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Mertuaku Tidak Merestui Pernikahanku

Berikut ini kesaksian yang dikirimkan kepada Redaksi e-Konsel oleh Meilina, seorang staf sebuah yayasan di Solo.

Saya bertemu dengan suami saya, Tio, sekitar empat tahun yang lalu. Waktu itu kami dikenalkan oleh salah seorang teman. Sejak semula kami sadar bahwa kami berbeda keyakinan dan itu yang harus kami perjuangkan supaya hubungan kami bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Kami tinggal di kota yang berbeda sehingga hanya di akhir pekan saja kami bisa bertemu. Pertentangan dari orang tua mulai saya rasakan ketika saya diperkenalkan kepada keluarganya.

Meskipun keluarga saya tidak mempermasalahkan perbedaan keyakinan kami, namun ternyata tidak demikian dengan orang tua Tio. Wujud ketidaksetujuan mereka sering saya alami melalui kata-kata kasar yang mereka ucapkan ketika saya berkunjung ke rumahnya. Waktu demi waktu kami lalui dengan penuh pertimbangan, apakah kami akan melanjutkan hubungan kami atau tidak.

Karena perbedaan keyakinan adalah masalah utama kami, saya berinisiatif untuk mulai mengenalkan Yesus kepadanya sedikit demi sedikit. Iseng-iseng saya mengajaknya ke gereja, membaca buku-buku kristiani, dan mengenalkan kegiatan maupun sakramen Kristen. Di luar dugaan, rupanya dia sangat tertarik dan bahkan lebih bersemangat untuk mempelajari kekristenan dibanding saya.

Perubahan dalam dirinya mulai saya rasakan, inilah yang menjadi pemicu semangat saya, begitu pula dengan dia, untuk terus mempertahankan hubungan kami. Puncak kegembiraan saya adalah ketika dia bersedia dibaptis dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat hidupnya.

Namun, rupanya masalah tidak selesai sampai di sini. Orang tuanya justru semakin menentang hubungan kami ketika mengetahui bahwa dia sekarang menjadi Kristen. Kami pun sering mendoakan mereka, meminta agar Tuhan memberikan jalan keluar bagi hubungan kami. Sering saya merasa putus asa dengan hubungan kami ini, tapi dukungan dari keluarga dan teman-teman saya selalu berhasil memompa semangat saya untuk kembali bangkit.

Akhirnya, kami menikah meskipun calon mertua saya merestui dengan terpaksa, bahkan mereka tidak berkenan hadir di gereja menyaksikan pemberkatan pernikahan kami. Mereka mengutus salah satu saudara untuk menjadi wali nikah suami saya. Meskipun demikian kami tetap bersabar dan tabah. Beberapa hari setelah pernikahan, diadakan acara "Ngunduh Mantu", yaitu pesta pernikahan yang diadakan oleh pihak suami. Setelah acara ini selesai, saya tinggal bersama mertua selama beberapa hari. Di saat-saat tersebut saya mengalami ketakutan yang amat sangat, mengingat saya harus tinggal bersama mereka ketika suami saya bekerja di siang hari.

Rupanya selama saya tinggal bersama mereka, mereka menilai saya melalui tingkah laku dan tutur kata saya selama berada di sana. Dari situlah saya mulai merasakan perubahan sikap dari mertua saya. Mereka mulai bisa menerima saya, memperlakukan saya dengan baik seperti anak mereka sendiri. Saya benar-benar bersyukur dengan perubahan ini.

Tak berapa lama kemudian saya hamil, kami memberitahukan berita bahagia ini kepada mereka. Mereka tak kalah bahagianya dengan kami. Dan reaksi mereka itu sungguh di luar dugaan saya. Sejak saat itu, mereka mulai memberi perlakuan-perlakuan khusus kepada saya. Mereka mulai mencurahkan lebih banyak perhatian dan nasihat kepada saya.

Saat ini kami tengah menanti kelahiran anak pertama kami. Tak henti-hentinya saya bersyukur atas campur tangan Tuhan dalam masalah ini.

Kiriman dari: Sdri Meilina >

Sumber

Komentar