Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

OCD (Obsessive-Compulsive Disorder)

Di usia setengah baya ini saya makin menyadari betapa banyaknya hal dalam hidup ini yang tidak saya mengerti. Salah satunya yang tetap menjadi misteri adalah Obsessive-Compulsive Disorder, disingkat OCD. Dari namanya kita dapat melihat bahwa gangguan ini melibatkan dua fungsi kehidupan, yakni pikiran (obsesi) dan perilaku (kompulsi). Si penderita biasanya mempunyai pikiran tertentu yang tak dapat dilenyapkannya (obsesi) atau melakukan suatu tindakan berulang-kali tanpa kendali (kompulsi). Misalnya, ada yang terobsesi dengan pikiran bahwa ia kotor dan merasa harus mencuci tangannya atau mandi berkali-kali sehari untuk membersihkan diri. Bagi Saudara yang pernah menyaksikan film As Good As It Gets yang diperankan oleh Jack Nicholson, Anda mengingat insiden di mana ia mandi berjam-jam lamanya dan ia pun tidak pernah menggunakan sabun yang sama untuk membasuh tangannya.

Dalam bukunya, The Boy Who Couldn't Stop Washing, Dr. Judith L. Rapoport mengamati bahwa pada umumnya penderita OCD dapat dibagi dalam dua golongan: si pencuci dan si pengecek. Si pencuci adalah ia yang terus menerus terobsesi mencuci atau membersihkan diri dan si pengecek adalah ia yang terus menerus mengecek atau memastikan sesuatu telah berjalan sesuai dengan kehendaknya. Ada yang harus mengecek bahwa lacinya telah tertutup, bahwa pintu dan jendela rumahnya terkunci rapat, dan bahwa bukunya tertata dengan pas. Bedanya dengan orang lain yang juga harus mengecek adalah penderita OCD melakukan pengecekan ini berpuluhan kali sehari. Ada yang harus membawa penggaris untuk mengukur apakah besi penyanggah pintu itu benar-benar sudah masuk ke lubangnya atau belum. Pandangan matanya saja tidak cukup kuat untuk meyakinkannya bahwa pintu itu sudah terkunci.

Penderita OCD sadar dengan perbuatannya ini namun tak berkuasa mengendalikan dirinya. Sepertinya ada suatu keharusan untuk melakukannya dan ia tak dapat menghentikan tindakannya. Ia harus melewati ritualnya terlebih dahulu sebelum ia dapat merasa puas., Derita yang dialami penyandang OCD sudah tentu dalam; ia merasa malu dengan dirinya dan takut dianggap gila. Ia pun merasa frustrasi sebab ia tak dapat mengendalikan dirinya; ia tidak bisa memberi perintah kepada pikiran atau tubuhnya untuk berbuat sesuai keinginannya. Derita OCD Bering kali juga harus dibagi dengan mereka yang hidup dengannya. Misal ada suami yang harus membeli berlaksa-laksa sabun tangan untuk istrinya, atau istri yang harus menyaksikan suaminya mandi selama berjam-jam.

Ternyata OCD dapat muncul pada segala usia. Dr. Rapoport melaporkan kasus seorang anak berusia 2 tahun yang jalan berputar-putar serta sederet kasus demi kasus remaja atau pemuda yang terkena berbagai jenis OCD. Saya sendiri telah bertemu dengan anak di bawah usia 10 tahun yang menggerak-gerakkan tangannya tanpa kendali atau orang tua berusia sekitar 70 tahun yang perlu mengecek kunci pintu rumahnya berulang-kali. Yang aneh adalah OCD dapat muncul seketika pada periode tertentu dalam hidup seseorang. Dengan kata lain, kita mungkin saja sebelumnya hidup "normal" dan bebas dari gangguan ini namun secara tiba-tiba penyakit ini muncul bak pencuri di tengah malam. Kita menyadari bahwa kita tidak perlu menggerak-gerakkan tangan kita, atau mengecek pintu berulang kali, membersihkan tubuh atau mencuci tangan berpuluhan kali, tetapi kita menjadi begitu tak berdaya mengatasi keinginan-keinginan itu. Kita harus melakukannya sampai puas.

Dari manakah datangnya OCD ini? Ternyata mengamati gejalanya jauh lebih mudah daripada menemukan penyebabnya. Dr. Rapoport sendiri menduga bahwa OCD berasal dari kekeliruan fungsi senyawa kimiawi di daerah basal ganglia pada otak. Dengan kata lain, gangguan ini lebih bersifat organik (fisik) daripada psikologis. Sudah tentu kecemasan yang tinggi akan dapat memperburuk keparahannya, namun pada dasarnya gangguan ini bersumber dari kekeliruan fungsi fisik kita, bukan psikologis atau lingkungan.

Sekarang tentang penanganannya. Pertama, sebagai orang tua kita perlu mengkomunikasikan penerimaan, bukan penolakan kita. Ada kecenderungan orang tua untuk menolak anak yang menderita OCD karena perilaku itu mempermalukan orang tua. Atau, ada juga yang tidak bisa menerima anak yang OCD sebab ia sendiri pun mengalami gangguan yang sama pada masa kecilnya (atau bahkan pada masa sekarang). Ingatlah, bahwa bukannya anak tidak mau menghentikan perilaku atau pikirannya yang aneh, ia tidak bisa. Sudah tentu kita boleh dan seharusnyalah memintanya untuk berusaha sekeras mungkin mengontrol pikiran atau tindakannya itu. Namun jika ia tetap tidak bisa, terimalah anak itu dengan kasih sayang dan rasa iba. Penolakan orang tua niscaya memperparah penderitaan si anak sebab ia pasti telah mengalami penolakan atau ejekan teman-temannya di sekolah.

Kedua, bawalah anak (atau diri sendiri) ke psikiater untuk mendapatkan perawatan medis. Dr. Rapoport mengemukakan bahwa Anafranil ternyata sangat efektif mengurangi gangguan OCD. Meskipun demikian ada kasus-kasus tertentu yang tidak tanggap terhadap pengobatan. Menurut seorang rekan psikiater yang saya kenal, sekarang sudah ada jenis obat yang lain yang dapat digunakan untuk menangkal gejala OCD. Proses perawatan memakan waktu biasanya sampai berbulan-bulan dan adakalanya gejala yang sudah hilang dapat muncul kembali suatu saat kelak. Sebaliknya, dalam beberapa kasus, ternyata OCD dapat menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan atau perawatan apa pun. Namun apabila OCD sudah sangat mengganggu fungsi hidup sehari-hari, sebaiknya kita tangani dengan pertolongan obat.

Mazmur 139:13 menegaskan dengan lantang bahwa Tuhanlah "yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku." gntah mengapa, Ia yang menenun kita, telah menenun dengan benang yang berpotensi menciptakan OCD. Sekali lagi kita ditantang untuk mempercayai hikmat dan rencana Tuhan. Pada akhirnya pemazmur berseru-bukan dengan nada protes melainkan kagum, "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (ayat 14) OCD memang merupakan suatu "kelemahan," namun apa artinya satu kelemahan di tengah-tengah sejuta keajaiban ciptaanNya yang dahsyat? Jangan sampai kita terkecoh; di dalam OCD terdapat seorang manusia. Lihat dan kasihilah manusianya.

Pada artikel "Kerapuhan Hidup" dalam Edisi Januari - Maret 1999, saya menulis bahwa H.G. Spafford, penulis lagu "It ia Well With My Soul," kehilangan tiga putrinya dalam musibah karamnya kapal yang mereka tumpangi. Yang benar adalah, ia kehilangan empat putrinya. Saya mohon maaf atas kekeliruan ini.

Sumber
Halaman: 
3 - 4
Judul Artikel: 
Parakaleo, April Juni 1999, Vol. VI, No. 2
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Dr. Paul Gunadi, Dr. Yakub B.Susabda, Dr. Esther Susabda
Tahun: 
1999

Komentar