Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Orang Tuaku, Orang Tuamu, dan Kita

Edisi C3I: e-Konsel 245-Beradaptasi dengan Keluarga Suami/Istri

Pengalaman dan hubungan yang terjadi pada masa lalu dapat memengaruhi kehidupan kita sekarang dan yang akan datang. Hubungan lama Anda dengan orang tua, dan hubungan baru Anda dengan mertua pasti berdampak pada pernikahan Anda. Namun demikian, Anda masih dapat membangun hubungan yang positif dan sehat dengan mertua maupun orang tua Anda. Karena itu, mari kita teliti hal-hal yang dapat menjadi sumber konflik dan bagaimana mewujudkan keharmonisan dalam pernikahan.

Kebiasaan, tradisi, serta gaya hidup seseorang dan keluarganya biasanya memengaruhi kehidupan pernikahannya. Jadi, siapa yang harus menyesuaikan diri? Tradisi keluarga siapa yang harus diikuti? Apakah setiap pasangan yang baru menikah, harus selalu memakai kebiasaan keluarga orang tua mereka yang sudah membudaya itu? Atau mungkinkah mereka mengembangkan kebiasaan sendiri? Jika Anda selalu mengunjungi keluarga istri pada hari Natal, apa yang akan terjadi jika sekali waktu Anda ingin mengunjungi orang tua Anda sendiri atau sahabat Anda? Apa yang terjadi jika Anda menyarankan suatu perubahan? Hal-hal ini tampaknya sepele, namun dapat menjadi masalah besar jika menyangkut tradisi keluarga. Dapatkah kita berkata bahwa tradisi suatu keluarga "benar" dan lainnya "salah"? Bagaimana menyampaikan kepada orang tua atau mertua, bahwa Anda ingin mengubah beberapa kebiasaan mereka dan memulai sesuatu yang baru?

Salah satu masalah yang banyak dijumpai dalam konseling pernikahan adalah konflik dengan mertua, yang banyak menimbulkan luka, kepahitan, dan kesalahpahaman. Tak jarang seseorang merasa terperangkap di tengah, antara orang tua dan pasangannya. Terkadang salah satu atau keduanya, belum benar-benar meninggalkan rumah orang tuanya secara psikologis. Bagi mereka yang telah menikah, hal utama yang seharusnya mereka lakukan adalah mendukung pasangannya, bukan orang tuanya!

Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi komunikasi suami-istri dalam hubungannya dengan mertua.

  1. Kesenjangan usia antara suami-istri dan orang tua mungkin dapat menjadi sumber konflik. Pasangan yang belum pernah berpisah dengan orang tua sebelum menikah, entah untuk studi atau hal lain, biasanya mengalami masalah penyesuaian diri. Pada saat yang sama, ia dituntut untuk belajar menyesuaikan diri dengan orang lain dalam ikatan pernikahan.
  2. Orang tua ingin selalu diperhatikan. Saat anak-anak masih kecil, orang tua jarang meminta pendapat anak. Akan tetapi, setelah mereka menikah, orang tua ingin berkomunikasi dengan anak-anaknya sebagai sesama orang dewasa. Sayangnya, ada juga orang tua yang menuntut perhatian lebih dari anak-anak mereka. Alasannya ada banyak, misalnya penghasilan yang menurun, merasa kurang diperhatikan, penyakit-penyakit kronis, atau usia yang sudah sangat tua.
  3. Urutan kelahiran anak. Misalnya, anak sulung yang menikah dengan anak bungsu. Perbedaan urutan kelahiran dan harapan dari orang tua/mertua, bisa memengaruhi pernikahan Anda. Orang tua anak bungsu mungkin merasa agak berat melepas anak terakhirnya, dan orang tua anak sulung mungkin menaruh harapan yang cukup tinggi pada menantunya ini.
  4. Pasangan dan orang tua memiliki harapan yang kurang realistis mengenai hubungan di antara mereka. Orang tua mungkin membayangkan hubungan yang dekat dan terus-menerus dengan menantu mereka. Mereka menganggap dapat berakhir pekan bersama, saling menelepon setiap 3 hari, dan merayakan Natal/acara lain bersama-sama. Mereka juga merasa yakin bahwa pasangan muda tidak akan bertempat tinggal lebih dari 9 kilometer dari rumah mereka, sehingga mereka tetap dapat menjenguk cucu-cucu mereka. Bahkan, ada yang berharap memiliki sedikitnya empat cucu, dan cucu pertama harus lahir dalam dua tahun pertama! Namun, bagaimana bila Anda memunyai rencana lain? Bagaimana bila Anda berencana tidak memunyai anak dulu atau bertempat tinggal di luar kota, dan hanya sebulan sekali menulis surat kepada mereka? Semua harapan seperti ini sebaiknya didiskusikan secara terbuka sedini mungkin.
  5. Perbedaan latar belakang keluarga. Misalnya, yang satu dari keluarga yang hangat dan terbuka, sementara yang lain tidak. Orang yang berasal dari keluarga yang dingin dan tertutup, mungkin tidak mau membina hubungan akrab dengan keluarga mertuanya. Demikian pula sebaliknya, orang yang hanya sedikit atau bahkan tidak pernah merasakan kehangatan dan keterbukaan dalam keluarganya, mungkin merindukan hubungan yang akrab dengan keluarga mertuanya. Orang yang berasal dari keluarga yang hangat, mungkin ingin keluar dari keadaan itu!
  6. Pilihan tempat tinggal sang pengantin baru. Hal ini dapat memengaruhi hubungan mereka dengan mertua. Pasangan yang tinggal bersama orang tua, rentan terhadap masalah. Pasangan muda tidak akan merasa bebas dalam banyak hal. Sang istri, terutama akan merasa tidak menjadi bagian di rumah ibu mertuanya. Jika pasangan itu tinggal bersama salah satu orang tua, orang tua yang lain mungkin akan cemburu dan ingin turut "mengendalikan" anak mereka.
  7. Gaya hidup dan tujuan yang hendak dicapai pasangan dan orang tua mereka. Orang tua yang makmur dan giat bekerja, sering kali sulit mengikuti standar hidup yang berbeda dari pasangan itu. Masalah akan bertambah parah jika pasangan itu selalu mengkritik standar hidup orang tua mereka.
  8. Masalah lainnya adalah kakek-nenek dan cucu. Sebagian orang tua sangat ingin segera menjadi kakek-nenek, lalu dengan cara sendiri mendesak pasangan itu untuk "memproduksi" anak. Sebagian lagi mungkin tidak suka menjadi kakek-nenek karena membuat mereka merasa tua. Jika anak yang lahir ternyata tidak seperti yang diinginkan kakek-neneknya, mungkin masalah jenis kelamin atau perilaku yang tidak sesuai, konflik pun mulai muncul. Masalah lain yang sering timbul adalah mengenai perlakuan kakek-nenek terhadap cucunya ketika mereka berkunjung. Kakek-nenek biasanya sangat memanjakan cucunya, membuat para orang tua lebih sulit mendisiplin mereka bila kembali ke rumah. Ini bisa membuat sang cucu lebih menyukai kakek-nenek yang satu dan kurang menyukai yang lain, lebih ingin bersama kakek-nenek yang satu daripada yang lain.

Berikut ini beberapa contoh kesulitan menyesuaikan diri yang biasa terjadi.

Kasus 1. Seorang suami mengkritik cara istrinya mengatur rumah tangga. Ia terus memberitahu bagaimana ibunya melakukan hal itu dan memakai contoh ibunya sebagai patokan. Atau, seorang istri terus membicarakan hubungannya dengan ayahnya sebagai model perlakuan seorang ayah terhadap anak-anaknya.

Kasus 2. Orang tua John terus mencela John dan istrinya. Mereka memberikan pendapat dalam segala hal, terutama dalam hal mendidik anak. Komentar-komentar yang tidak diminta ini mulai mengganggu John dan istrinya. Bagaimana mereka dapat mengemukakan masalah ini dengan bijaksana kepada orang tua John?

Kasus 3. Orang tua Harry sangat penuntut dan menggunakan segala cara untuk mencapainya. Mereka ingin diperhatikan dan punya banyak harapan terhadap waktu yang dimiliki Harry dan Tina. Jika tidak mendapatkan yang mereka inginkan, mereka berusaha membuat Harry dan Tina merasa bersalah.

Kasus 4. Seorang suami berkata, "Setiap tahun kami menghabiskan liburan bersama orang tua istri saya. Kami melakukan hal yang sama selama 8 tahun! Hal itu sama sekali bukan pengalaman yang menyenangkan untuk saya. Saya merasa terpojok, tetapi apa yang dapat kami perbuat? Mereka selalu mengharapkan kedatangan kami! Saya lebih suka pergi ke bagian lain dari negara ini."

Kasus 5. Masalah lain yang biasa terjadi adalah orang tua yang merasa harus tahu keadaan anak mereka setiap hari. Sebagai contoh, seorang istri benar-benar sangat terganggu dengan perhatian yang berlebihan dari ibu mertuanya. Setiap hari, sang ibu menelepon dan ingin tahu pekerjaan anak laki-lakinya -- apakah berat badannya naik atau turun, apakah makanannya cukup terjamin gizinya, apakah ia sudah berhenti merokok, dan sebagainya. Dalam situasi ini si ibu mertua perlu menghentikan kebiasaannya menelepon, agar si istri merasa lebih baik.

Berikut beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah yang diuraikan dalam kelima kasus di atas.

Kasus 1. Istri yang dibandingkan dengan mertuanya, dalam hal memasak (atau mengatur rumah tangga, mengemudi, menyetrika, dll.) mungkin berkata demikian, "Sayang, satu hal yang sangat saya hargai dan membuat saya senang adalah jika saya tahu kamu menyukai masakan saya. Saya merasa tidak enak, setiap kali mendengar kamu bicara tentang masakan ibumu. Saya ingin mengembangkan keterampilan dalam hal memasak, tetapi saya butuh masukan positif."

Atau, sang suami dapat berkata, "Sayang, saya sangat menghargai jika kamu memberitahu saat saya telah melakukan sesuatu yang menolongmu menghadapi anak-anak. Saya patah semangat jika selalu mendengar bagaimana ayahmu memperlakukanmu ketika kamu masih kecil." Kedua pernyataan ini mengandung komentar positif dan merupakan cara yang tepat untuk saling menyampaikan keluhan dan keprihatinan.

Kasus 2. Ini merupakan situasi yang sulit dan kebanyakan kita lebih suka menghindarinya. Kita takut menghadapi akibatnya, meski kita tidak menyukai kritik yang terus-menerus. Kita khawatir akan timbul luka dan kemarahan jika menentang orang tua kita. Namun ingatlah, Anda menyatakan keberatan karena memerhatikan mereka dan ingin membina hubungan yang baik. Jika Anda hanya diam dan tak pernah meminta mereka berubah, hubungan yang baik akan hancur.

Kasus 3. Inilah percakapan yang terjadi antara Harry dan ibunya. Respons Harry mungkin sangat berbeda dengan Anda, tetapi ketegasan dan kewajaran responsnya benar-benar efektif.

Ibu : Halo Harry, ini Ibu.
Harry : Halo Bu, apa kabar?
Ibu : Oh, baik-baik saja kukira (sambil menarik napas).
Harry : Baiklah, tetapi mengapa ibu menarik napas?
Ibu : Oh, ya, Ibu kira semuanya tidak berjalan terlalu baik. Ngomong-ngomong, apa kamu akan datang malam minggu ini? Ibu kangen. Kamu tahu, sudah berminggu-minggu kamu dan Tina tidak ke sini.
Harry : Maaf jika Ibu merasa tidak enak. Kami tak dapat datang minggu ini. Ada hal lain yang sudah kami rencanakan.
Ibu : Adakah yang lebih penting daripada mengunjungi Ayah dan Ibumu? Apakah kami tak ada artinya lagi bagimu?
Harry : Saya mengerti kalau Ibu ingin bertemu dengan kami. Ibu sangat berarti bagi kami. Tetapi kami tak dapat datang pada akhir minggu ini.
Ibu : Kami kecewa karena kami yakin kamu bisa datang dan Ibu sudah memasak makanan kesukaanmu untuk makan malam kita bersama. Tidakkah kamu tahu?
Harry : Tidak, Bu, saya tidak tahu.
Ibu : Aku dan Ayahmu benar-benar kecewa. Kami sangat mengharapkan kedatangan kalian. Kami sudah membeli ayam untukmu.
Harry : Saya tahu Ibu sangat kecewa, tetapi kami benar-benar tak dapat datang minggu ini.
Ibu : Saudara-saudaramu yang lain selalu mengunjungi kami. Bahkan kami tak perlu memintanya!
Harry : Benar, Bu. Mereka memang lebih sering datang, dan saya yakin sudah cukup banyak yang menemani mereka. Kami akan coba merencanakan hal seperti itu lain kali.
Ibu : Seorang anak Kristen yang baik seharusnya sering menengok orang tuanya.
Harry : Apakah karena saya tak dapat datang, lalu saya menjadi anak Kristen yang tidak baik?
Ibu : Jika kamu sungguh mengasihi dan memerhatikan kami, tentu kamu akan berusaha mengunjungi kami.
Harry : Apakah kalau saya tidak dapat menengok Ayah dan Ibu dalam minggu ini, berarti saya tidak mengasihi kalian?
Ibu : Kelihatannya begitu karena kalau kamu mau, kamu tentu bisa ke sini.
Harry : Ibu, saya tidak bisa datang tidak berarti saya tidak lagi memerhatikan kalian. Saya mengasihi Ibu dan Ayah. Tetapi kali ini kami benar-benar tidak bisa datang. Saya yakin semua yang sudah disiapkan, dapat tetap digunakan atau Ibu dapat menyimpannya untuk lain kali. Saya akan membicarakannya dengan Tina, dan melihat jadwal kami untuk menentukan kapan kita dapat berkumpul bersama lagi.

Kasus 4. Berlibur dengan mertua dapat menimbulkan masalah. Sang menantu dapat dibuat jengkel dan pulang dengan kecewa setelah cukup lama bersama mertua. Salah satu pemecahan yang dapat dilakukan adalah mencari kegiatan lain yang menyenangkan, sementara pasangannya mengunjungi keluarganya seorang diri. Saran ini mungkin bertentangan dengan yang biasa diajarkan atau yang dianggap benar. Tetapi, jika tinggal cukup lama dengan mertua membuat hubungan tidak menjadi lebih baik dan tidak berdampak positif terhadap pernikahan, mungkin inilah satu-satunya jalan keluar. Saya tidak menyarankan Anda untuk tidak mengunjungi mertua Anda. Tetapi, banyak pasangan lebih nyaman bila tidak harus terlalu sering mengunjungi mertua.

Jalan keluar lainnya adalah dengan mempersingkat waktu berkunjung. Jika salah seorang ingin mengunjungi orang tuanya selama sebulan, sementara pasangannya merasa waktu itu terlalu lama, mereka dapat mengadakan kesepakatan. Ubahlah waktu berkunjung menjadi hanya 2 minggu. Mungkin ada baiknya bila Anda tidak selalu mengunjungi orang tua atau mertua setiap liburan. Hal ini akan menyulitkan Anda sendiri jika kelak ingin mengubahnya, atau jika ingin menikmati acara liburan yang lain.

Kasus 5. Orang tua yang terus-menerus menghubungi anak-anak mereka yang sudah menikah, mengisyaratkan adanya kebutuhan tertentu dalam diri mereka: kesepian, mengontrol, kebutuhan untuk merasa dibutuhkan, dll.. Suami dan istri harus sepakat dalam mengatasi masalah ini. Mereka dapat menetapkan tujuan dan kemudian menyampaikan tujuan ini kepada sang ibu: "Bu, kami senang Ibu menelepon, tetapi sebetulnya tidak perlu setiap hari. Mengapa kita tidak mengatur jadwal kontak seperti ini: Jika kami butuh sesuatu atau ada yang penting, kami pasti menelepon Ibu. Kami ingin Ibu juga punya kesempatan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, tidak hanya bergantung pada kami. Bukankah Ibu selalu mengundang kami makan malam bersama pada hari Minggu? Bagaimana kalau Ibu bertemu kami pada hari Minggu dan menelepon kami hanya pada hari Rabu? Dengan demikian kita tetap berhubungan secara teratur. Tetapi kalau ada hal yang sangat penting, Ibu dapat menelepon kami setiap saat."

Diringkas dari:

Judul asli buku : More Communication: Keys for Your Marriage
Judul buku terjemahan : Lanjutan Komunikasi: Kunci Pernikahan Bahagia
Judul bab : Orangtuaku, Orangtuamu, dan Kita
Penulis : H. Norman Wright
Penerjemah : Okdriati Handoyo
Penerbit : Yayasan Gloria, Yogyakarta 1998
Halaman : 210 -- 222

Diringkas oleh: Sri Setyawati

Komentar