Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Pagar Antara Orang Tua dan Anak

Edisi C3I: e-Konsel 166 - Konflik Antara Orang Tua dan Anak

PAGAR ANTARA ORANG TUA DAN ANAK

Adakalanya, konflik antara orang tua dan anak tidak bisa dicegah karena orang tua terlalu mencampuri anak. Ketika anak-anak masih kecil, sudah seharusnyalah orang tua mencampuri anak. Namun ketika mereka beranjak dewasa, sudah menikah, sudah berkeluarga, tapi tetap diperlakukan seperti anak-anak oleh orang tuanya, lama-kelamaan yang terjadi justru konflik. Pada saat anak-anak sudah akil balig, seharusnyalah mereka membuat rumah dan memisahkan diri dari kita, rumah dalam pengertian secara emosional di mana ada pagar yang memisahkan kita dengan anak-anak. Sehingga kita menghormati anak, anak-anak juga menghormati kita.

T : Sering kali harus kita akui sebagai orang tua, kita terlalu masuk ke dalam wilayah anak itu.
J : Ya, kita susah sekali untuk menyadari bahwa peran dan fungsi kita berubah seiring dengan bertambahnya usia kita dan juga usia anak. Secara garis besar, ada tiga peran dan fungsi orang tua. Ketika anak-anak masih kecil, orang tua berfungsi sebagai pengasuh, memberikan gizi, baik jasmaniah atau pun batiniah kepada anak sehingga anak bisa bertumbuh besar menjadi orang yang stabil, yang cukup, yang sehat. Orang tua juga akan melindungi anak-anaknya pada usia yang memang kecil ini. Dengan kata lain, orang tua bertugas menjauhkan anak dari bahaya, memisahkan anak dari hal-hal yang bisa merenggut nyawanya atau membahayakan keselamatannya.

Setelah anak-anak menginjak usia remaja, orang tua harus mulai menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Mereka berfungsi sebagai pengarah dan pendamping. Artinya, pada masa ini orang tua akan menjadi konselor bagi anak, yang memberikan arahan-arahan dan secara aktif memantau perkembangan anak. Jadi, jangan sampai orang tua terlalu memberikan kebebasan kepada anak tanpa memantaunya. Orang tua membimbing anak agar berjalan pada jalur yang benar.

Pada saat anak dewasa, sudah bekerja, sudah mencari mata pencaharian sendiri, orang tua berperan sebagai penasihat atau konsultan, dalam pengertian secara pasif memberi masukan kepada anak. Yang dimaksud pasif adalah pada masa remaja, orang tualah yang secara aktif datang memantau anak, tapi pada masa-masa anak-anak sudah dewasa, biarkan anak yang datang mencari kita, barulah kita memberikan masukan.

T : Pada waktu kita memberi gizi, menjadi orang yang terus bisa menasihati dan memberikan pengarahan dan itu diterima oleh anak, kita merasa nyaman dengan peran seperti itu sehingga pada waktu beralih peran menjadi pendamping, kita mengalami kesulitan.
J : Betul, kita cenderung susah berubah dan saya kira Tuhan memang sudah mendesain anak-anak. Tatkala menginjak usia dewasa, mereka cenderung ingin melakukan hal-hal yang sebelumnya kita tidak lakukan atau hal-hal yang baru bagi mereka. Dengan kata lain, anak-anak juga menolong kita untuk bertumbuh dewasa dalam peranan-peranan kita ini. Salah satu cara untuk bisa menguji apakah kita ini sudah mulai mengalihkan peran atau kita kesulitan mengalihkan peran adalah dengan melihat gaya bahasa kita. Pada masa anak-anak kecil, gaya bahasa kita sebagai pelindung anak adalah gaya bahasa instruksi. Kita memberitahukan anak, menyuruh anak, melarang anak, meminta anak. Itu semua adalah gaya bahasa instruksi. Dan seharusnyalah anak-anak pada masa kecil itu berkomunikasi dengan kita dengan gaya bahasa instruksi. Pada masa remaja, kita tidak lagi berkomunikasi dengan anak dengan gaya bahasa instruksi. Anak remaja tidak suka diperintah-perintah seperti itu lagi. Maka gaya bahasa yang kita gunakan adalah gaya bahasa persuasi. Kita membujuk anak atau menggiring anak agar melangkah di jalan yang benar atau melakukan yang kita kehendaki menggunakan gaya bahasa persuasi, membujuk, mengarahkan. Pada masa anak-anak dewasa, kita menggunakan gaya bahasa diskusi. Mereka datang kepada kita, bertanya kepada kita, tapi kita mengajukan pendapat kita dalam konteks kita adalah konsultan bagi dia. Kita tidak memaksakan kehendak kita. Mungkin ada unsur persuasi, tapi benar-benar lebih banyak diskusinya. Kita ingin tahu juga pendapatnya, kita menghargai masukannya, kita mau berinteraksi dengan pemikirannya itu.
T : Kita sebagai orang tua tidak bisa begitu cepat mengubah gaya bahasa ini karena tahap yang pertama itu kita merasa masih kurang, belum sempurna, masih ada banyak yang harus diinstruksikan, dan seterusnya?
J : Kita cenderung berpikir bahwa masih terlalu banyak pelajaran yang masih bisa kita ajarkan kepada anak-anak, jadi kita akan terus bersemangat memberikan pelajaran itu kepadanya. Kita harus menyadari bahwa hidup ini akan Tuhan pakai untuk mendidik anak-anak kita juga. Bahwa dia akan belajar dari pengalamannya dan Tuhan akan membukakan matanya untuk melihat hal-hal yang perlu dipelajari. Saya ingat sekali nasihat dari pendeta saya sebelum saya meninggalkan rumah untuk studi. Dia berkata, "Paul, nanti kamu akan bertemu dengan banyak orang dan kamu akan mengalami banyak peristiwa, kamu harus mau belajar, kamu harus `teachable`." Kualitas "teachable" itu penting sekali karena dengan kualitas atau sifat mau belajar inilah kita akhirnya akan matang, kita akan belajar banyak hikmat melalui peristiwa yang kita alami. Jadi, kita sebagai orang tua juga harus membiarkan anak-anak kita belajar dari pengalaman hidupnya itu.
T : Bagaimana kalau kesiapan itu hanya pada pihak orang tua, anaknya tidak siap untuk ditingkatkan ke periode berikutnya?
J : Biasanya akan timbul masalah. Anak-anak itu akhirnya terus-menerus mau bersembunyi di bawah kepak sayap orang tuanya. Nasihat untuk orang tua adalah belajarlah melepaskan anak, tapi persiapkan anak untuk bisa lepas. Karena kalau kita hanya menyuruh anak untuk lepas dari kita, namun kita tidak mempersiapkannya untuk lepas dari kita, itu berarti kita merugikan dia.

Kemandirian harus melewati proses waktu. Secara bertahap, kita mesti mempersiapkan anak untuk mandiri, bukan sebaliknya. Ada orang tua yang malah menggiring anak untuk terus mencari dan bergantung kepadanya, itu tidak benar. Setahap demi setahap, berilah kemandirian, misalnya dalam hal-hal kecil, seperti model rambut. Biarkan anak memilih model rambutnya, kita bisa dan seharusnya memberikan pendapat pada masa anak-anak remaja, namun sekali lagi, gaya bahasa kita persuasi. Kita katakan "seharusnya" atau "sebaiknya begini" dan sebagainya. Ada hal-hal yang kita akan katakan "tidak apa-apa" meskipun itu tidak sesuai dengan selera kita. Kalau hanya berkaitan dengan masalah gaya hidup, biarkan, tapi kalau menyangkut hal-hal yang bersifat moral, itulah waktunya kita bersikap tegas, tidak berkompromi. Dengan cara-cara itu, kita mulai mempersiapkan anak untuk lepas dari kita, mempersiapkan dia untuk mengambil keputusan. Ini salah satu hal yang penting diajarkan orang tua kepada anak.

Kadang-kadang anak bingung bagaimana mengambil keputusan, prosesnya mereka tidak tahu. Orang tua berkewajiban memberitahukan kepada anak. Lihat baik-baik, tanyakan pendapat, carilah informasi sebanyak-banyaknya kemudian bandingkan untung ruginya, baik buruknya, prospeknya, masa depannya, dan kesanggupan kita. Hal-hal itu yang kita ajarkan kepada anak sehingga waktu mereka harus mandiri, mereka sudah siap.

T : Apakah kemandirian sama dengan kesempurnaan?
J : Tidak. Kita sendiri pun tidak selalu sempurna, kita tidak selalu membuat keputusan yang tepat untuk setiap masalah. Jadi, biarkanlah anak belajar juga dari kesalahannya, jangan sampai kita terlalu memproteksi anak, menutup segala kemungkinan anak membuat kekeliruan. Adakalanya biarkan dia tersandung, jatuh, biar dia belajar dari pengalaman negatif agar menjadi bekal dan guru bagi dia.
T : Kita sebagai orang tua itu kadang-kadang bukan merasa kita itu melanggar pagar atau melampaui batas yang sudah disepakati, bahwa kita sudah masuk ke wilayah anak. Kita berpendirian bahwa ini adalah untuk kebaikan anak kita.
J : Orang tua mendapatkan pembenaran melakukan atau mencampuri urusan anaknya sedemikian jauh karena merasa berniat baik untuk kepentingan, kebaikan anak. Sudah tentu ada waktunya, ada tempatnya bagi orang tua mengemukakan pandangannya, memberikan arahan kepada anak. Namun sampai titik terakhir, orang tua jangan sampai mau terus terlibat dan membenarkan keputusannya, jadi tetap kita menghormati teritorial si anak itu.
T : Kalau hal itu tidak bisa diterima oleh anak, tetapi orang tua tetap memaksakan campur tangannya ini, bagaimana jadinya?
J : Bahayanya begini, kalau orang tua terlalu campur tangan, misalkan si anak mengalami "problem", si anak nanti yang akan menyalahkan orang tua. Kita mendidik si anak untuk dewasa, dewasa berarti berani memikul tanggung jawab atas konsekuensinya itu. Kalau kita terlalu campur tangan mengurusi anak seperti itu, kita benar-benar membuka peluang menjadi orang yang akan disalahkan oleh si anak. Kita mesti belajar dari Tuhan, Tuhan sudah tahu sebelum manusia diciptakan bahwa manusia akan berdosa. Tapi itu toh tidak menghentikan Tuhan menciptakan manusia dan itu pun tidak menghentikan Tuhan memberikan kehendak atau kesanggupan untuk memilih pada manusia. Dia tetap berikan itu dan ternyata memang benar-benar manusia memilih yang salah, manusia memilih dosa, tapi tetap Tuhan memberi kebebasan itu kepada manusia. Sebab makna patuh dan makna kasih hanya akan ada di dalam kedewasaan, di dalam kemerdekaan untuk berpikir, untuk berkehenda k, untuk memilih. Nah, itu harus menjadi prinsip kita juga dalam membesarkan anak-anak.
T : Jadi unsur saling menghargai ini harus betul-betul kita kembangkan di dalam kehidupan berkeluarga. Apa ayat firman Tuhan yang mendukung ini?
J : Amsal 10:21, "Bibir orang benar menggembalakan banyak orang." Kata menggembalakan ini dari kata "to nourish", memberikan gizi, makanan. Jadi kalau orang bisa mengucapkan, mengatakan hal-hal yang benar, yang baik, karena orang itu adalah orang yang benar, maka tindakan atau kata-katanya itu akan memberikan gizi, menyenangkan, menguatkan, membangun orang-orang di sekitarnya, dan akhirnya kita bisa menggembalakan. Jadi sebagai orang tua, pelajaran bagi kita adalah kalau kita mau menggembalakan anak dan anak-anak mau digembalakan oleh kita, prasyaratnya kita harus menjadi orang yang benar, harus menjadi orang yang hidup dalam Tuhan, takut akan Tuhan, dan memunyai hikmat juga dari Tuhan. Kalau kita campur tangan, mengaduk-aduk hidup mereka, sering kali akibatnya lebih negatif. Mereka tidak mau kita gembalakan, akhirnya mengambil jalan yang serong.

Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. 127B yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan. -- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >

atau: < TELAGA(at)sabda.org >

atau kunjungi situs TELAGA di: http://www.telaga.org/transkrip.php?pagar_antara_orangtua_dan_anak.htm

Sumber
Judul Artikel: 
TELAGA - kaset No. T127B (e-Konsel Edisi 166)

Komentar