Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Palem Raja

Tinggal di Malang memberi saya banyak kesempatan untuk berjalan pagi dan menikmati pohon-pohon yang berbaris di sepanjang jalan. Salah satu pohon yang menarik perhatian saya adalah pohon palem raja yang, saya duga, masih serumpun dengan pohon kelapa. Selain dari bentuknya yang indah, pohon ini ternyata memiliki akar yang yang sangat kecil dibanding dengan tingginya. Akarnya, yang lebih mirip serabut kecil dan sangat banyak itu, ternyata mampu menopang dan membuat pohon yang tingginya lebih dari 10 meter itu berdiri tegak. Sekali lagi kita dapat menyaksikan karya Tuhan yang ajaib:

Akar palem raja mengingatkan saya akan hubunganhubungan dalam keluarga, baik itu antara suami-istri ataupun orang-tua-anak. Anak membutuhkan interaksi dengan orang-tua dalam jumlah yang banyak, bak akar pohon palem raja dan di atas berlaksa interaksi itulah baru dapat dibangun sebuah pribadi manusia yang kokoh. Demikian juga dengan hubungan antara suami-istri. Tanpa interaksi kita tidak mungkin membangun relasi pernikahan yang kuat. Namun dalam kenyataannya anak tidak selalu memperoleh waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan orang-tua dan istri (biasanya) juga haus waktu gaul dengan suami. Waktu telah menjadi komoditas yang langka di dalam rumah kita sekarang ini. Untuk mendapatkan waktu, anak dan kebanyakan istri terpaksa bersaing dengan surat kabar, pekerjaan, televisi, telepon, atau karaoke-yang pada akhirnya lebih sering berakhir dengan kekalahan.

Saya dapat memikirkan sekurang-kurangnya dua mitos yang merintangi pemberian waktu ini. Pertama, kita masih mempercayai mitos bahwa yang terpenting bukanlah kuantitas waktu, melainkan kualitasnya. Saya mengamati bahwa beberapa di antara kita akhirnya memilih menjadi "orang-tua atau suami/istri akhir pekan" dan "orang-tua atau suami/istri jalan-jalan." Kita hanya menyediakan waktu untuk keluarga pada hari Minggu dan sarana menghabiskan waktunya adalah jalan-jalan. Itulah yang kita sebut-dan kita percayai sebagai-waktu yang berkualitas.

Mitos kedua adalah suatu anggapan bahwa waktu berinteraksi tidaklah terlalu penting dan bukan merupakan kebutuhan pokok. Bukankah pasangan dan anak kita selama ini baik-baik saja meski mereka tidak menikmati waktu bersama dengan kita? Harry Stack Sullivan menegaskan bahwa salah satu unsur terpenting untuk keberadaan dan pertumbuhan jiwa manusia adalah hubungan pribadi (relationship). Hubungan pribadi dengan sesama merupakan kebutuhan mutlak yang perlu dipenuhi dan kita tahu bahwa kebutuhan pokok yang tak terpenuhi niscaya menimbulkan gangguan atau penyakit.

Baik mitos pertama maupun mitos kedua sebetulnya merupakan delusi. Kita pun menyadari bahwa mitosmitos ini tidak benar dan fakta hidup justru mengatakan kebalikannya. Masalahnya adalah kita lebih menyenangi hidup dalam delusi namun sekaligus mengharapkan bahwa keluarga kita akan menjadi keluarga yang sehat dan bahagia. Benar sekali pengamatan John Naisbitt tentang mentalitas manusia modern pada zaman ini. Kita berharap bahwa teknologi dapat memecahkan semua persoalan hidup dan dengan begitu kita bisa mengelak dari tanggung jawab pribadi.

Naisbitt menyajikan beberapa ilustrasi: Kita terus menantikan munculnya pil ajaib agar kita boleh melahap semua makanan berkadar lemak tinggi tanpa harus menaikkan berat badan; membakar bensin kendaran kita sepuasnya namun tidak mempolusi udara; hidup semaunya dan tidak mengidap kanker atau sakit jantung. Dengan jeli Naisbitt akhirnya menyimpulkan, "Dalam benak kita, teknologi setidak-tidaknya hampir berhasil memerdekakan kita dari disiplin diri dan tanggung jawab pribadi. Masalahnya adalah, ia belum pernah dan tak akan pernah berhasil melakukannya. Makin canggih teknologi, makin besar pula kebutuhan akan sentuhan manusia."

Itulah delusi kita. Kita bergantung pada mainan, uang, rumah, mobil, busana, pekerjaan, status sosial, dan rekreasi seolah-olah mereka semua dapat mengisi rongga kebutuhan sentuhan manusia. Kita bermimpi bahwa benda-benda ini akan dapat menciptakan istri, suami, anak, dan keluarga yang sehat. Kita mengharapkan bahwa istri kita akan terus "tergila-gila" dengan kita tanpa kita harus menyediakan waktu bercengkerama dengannya. Kita ingin mempunyai anak yang sopan tetapi kita tidak mempunyai waktu mengajarkannya sopan santun. Kita mau agar anak kita bertumbuh menjadi anak yang percaya diri namun kita tidak pernah mengkonfirmasikan kepadanya kekuatan dan kekurangannya. Kita meminta anak terbuka kepada kita tetapi kita jarang meluangkan waktu berbicara dengannya. Kita menuntut suami mencintai kita namun kita lebih sering memikirkan pekerjaan kita daripada memikirkannya. Tanpa sentuhan kita-percakapan, canda, main, perselisihan dan perdamaian-rongga jiwa mereka kosong melompong.

Pohon palem raja lumayan tinggi; bak tiang listrik ia menjulang sendirian ke atas dengan pongahnya. Ia tak takut badai karena ia tertancap kokoh di tanah, bukan oleh satu atau dua helai cengkeraman akar yang berdiameter besar. Ratusan, mungkin ribuan akar kecil seperti cacinglah yang membangunnya dengan perkasa. Terlalu sering saya bertemu dengan mereka yang berongga hampa, mereka yang dibangun hanya oleh satu atau dua helai akar yang berdiameter kecil!

Sumber
Halaman: 
4
Judul Artikel: 
Parakaleo, Oktober Desember 1998, Vol. V, No. 4
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Dr. Paul Gunadi, Dr. Yakub B.Susabda, Dr. Esther Susabda
Tahun: 
1998

Komentar