Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Pembaharuan Pikiran

Oleh: Sunanto

Rom 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Dalam artikel sebelumnya saya telah membahas tentang proses perubahan (metamorfosis) manusia batiniah yang memakai contoh proses perubahan yang terjadi pada ulat kepompong menjadi kupu-kupu. Beberapa waktu yang lalu ketika berkunjung ke sebuah toko buku, secara kebetulan saya melihat sebuah buku bergambar yang dengan sangat jelas menggambarkan proses metamorfosis yang terjadi pada kupu-kupu. Lewat buku itu saya semakin memahami proses metamorfosis yang terjadi dari ulat menjadi kupu-kupu. Sebelum seekor ulat berubah menjadi kupu-kupu, ia harus lebih dulu membungkus dirinya dalam sebuah kepompong yang ia buat sendiri. Hari demi hari sang ulat merajut tanpa lelah sampai seluruh dirinya terbungkus oleh kepompong yang biasanya akan tergantung di sebuah batang pohon. Di dalam kepompong tersebut sang ulat mengisolasi dirinya dari dunia luar dan melepaskan kulit lamanya agar ia bisa berubah menjadi kupu-kupu. Proses pelepasan kulit lama ini menggambarkan proses pembaharuan pikiran yang harus dialami oleh semua orang yang ingin mengalami proses perubahan menjadi manusia baru. Perhatikan, sang ulat tidak melepaskan kulit lamanya sebelum ia terisolasi (terpisah dari dunia luar) di dalam kepompong. Seringkali Tuhan akan membawa kita ke dalam posisi yang mirip seperti ulat dalam kepompong dimana kita merasa terpisah dari dunia ini dan dicekam oleh perasaan kesepian. Saya sendiri pernah mengalami masa-masa kesepian saat Tuhan sedang membentuk saya untuk menjadi lebih serupa dengan Dia. Dalam masa-masa kesepian ini Tuhan memulihkan hidup saya dan melepaskan banyak kepercayaan (pola pikir) saya yang lama.

Cara kerja dan tampilan sebuah aplikasi dalam sebuah komputer sangat tergantung dari program (skrip,pikiran) dari aplikasi sofware tersebut. Sebagai seseorang yang dulunya pernah bekerja sebagai programmer saya sangat memahami bahwa untuk mengubah sebuah isi aplikasi maka perlu mengubah programnya (otaknya). Bila saya salah dalam menulis skrip program dari sebuah aplikasi maka dapat dipastikan aplikasi komputer yang saya buat tersebut akan bekerja dengan tidak semestinya. Demikian juga untuk mengubah seorang manusia maka perlu mengubah pikirannya. Kita semua merupakan orang-orang yang telah diprogram pikirannya sedemikian rupa dan program tersebut mempengaruhi tingkah-laku luar kita. Apa yang kita pikirkan akan menjadi apa yang kita katakan dan apa yang kita katakan akan menjadi apa yang kita buat. Untuk menilai seseorang kita dapat menilainya dari kata-kata yang ia ucapkan sebab kata-kata tersebut mencerminkan pikiran orang tersebut. Ada orang tertentu yang mudah marah atau tersinggung bila di kritik sebab pikirannya telah diprogram untuk marah bila di kritik. Ada orang yang mudah nangis bila ditekan sebab pikirannya telah diprogram untuk menangis bila sedang mengalami tekanan.

Beberapa tahun yang lalu, Indonesia dikejutkan dengan meledaknya bom Bali yang berdaya ledak sangat dasyat sehingga mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Polisi bekerja dengan baik sehingga salah satu pelakunya tertangkap yaitu yang bernama Amrozi. Saya sangat terkejut ketika melihat ekspresi muka Amrozi yang penuh tawa saat muncul di televisi. Bahkan ia tidak merasa menyesal atau takut dengan hukuman mati yang mengancamnya. Ia percaya bahwa ia telah melakukan jihad dan pasti akan masuk surga bila mati nanti. Kisah Amrozi ini menggambarkan bagaimana seseorang yang telah di cuci otak ( diprogram) sedemikian rupa sehingga ia sampai tega melakukan sebuah tindakan terorisme yang tidak berprikemanusiaan.

Pernahkah anda menonton sebuah pertunjukkan di mana terdapat seseorang sedang di hipnotis ? Saya pernah beberapa kali melihatnya dalam sebuah acara yang disiarkan oleh sebuah stasiun TV. Dalam adegan tersebut seseorang yang disebut ahli hipnotis akan mengatakan beberapa kata ke alam bawah sadar dari orang yang sedang dihipnotis. Orang yang sedang terhipnotis tersebut akan melakukan apa yang diperintahkan ke dalam pikirannya sampai ia “dibangunkan” oleh sang penghipnotis. Bila anda pernah menyaksikan maka anda pasti akan tertawa menyaksikan tingkah laku dari orang yang sedang dihipnotis tersebut. Namun tahukah anda bahwa tanpa disadari kita semua sebenarnya sedang tidur/terhipnotis? Tahukah anda bahwa kita semua hidup dalam sebuah ilusi sampai Roh Kudus “membangunkan” diri kita untuk hidup dalam realita (kebenaran)? Dunia ini dipenuhi oleh manusia-manusia yang sedang tidur dan tidak menyadari apa yang sedang mereka buat. Oleh karena itu Tuhan memerintahkan kita untuk berubah oleh pembaharuan pikiran. Dengan kata lain kita diperintahkan untuk bangun/sadar dari semua ilusi yang telah menghipnotis hidup kita.

Salah satu ilusi yang kita miliki adalah bahwa untuk menjadi bahagia kita membutuhkan sesuatu atau seseorang. Salah satu kebodohan manusia adalah kita percaya bahwa kita tidak dapat hidup tanpa berada dalam sebuah kelompok. Manusia memang makhluk sosial dalam pengertian untuk memenuhi kebutuhan hidup maka kita saling membutuhkan tetapi kita sebenarnya tidak membutuhkan orang lain untuk menjadi bahagia. Kebahagiaan yang sejati bersumber dari dalam yaitu dari sukacita dan sejahtera oleh Roh bukan bersumber dari luar. Merupakan sebuah ilusi bila kita tidak dicintai oleh seseorang maka kita tidak dapat berbahagia sebab ternyata ada wanita cantik yang dicintai dan dikejar-kejar oleh banyak pria tetap saja ia tidak merasa bahagia. Sebenarnya orang lain tidak memiliki kekuatan untuk membuat kita bahagia atau menderita. Tatkala kita berubah menjadi manusia baru yang telah mengalami pembaharuan pikiran (pencerahan) maka tidak ada seorangpun yang dapat membuat kita kecewa lagi.

Karir, jabatan, harta, keluarga dan sahabat bukanlah sumber kebahagiaan kita sebab semuanya itu tidak kekal dan dapat berubah dalam sekejab. Karir kita dapat menurun, harta kita dapat ludes dibakar api dalam sekejab, sahabat kita dapat berubah sikap menjadi seorang penghianat. Kebahagiaan yang sejati terjadi bila kita telah mengalami pencerahan dan bersentuhan dengan realita dari kehidupan ini. Pembaharuan pikiran merupakan sebuah proses pencerahan/penyadaran dimana kita menyadari bahwa selama ini kita telah hidup dalam sebuah ilusi. Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus diberikan kepada kita untuk membawa kita kepada seluruh kebenaran. Roh Kudus diberikan kepada kita sebagai penolong agar kita dapat mengalami proses pembaharuan pikiran sehingga kepercayaan-kepercayaan kita yang salah dapat digantikan oleh kebenaran Firman Allah. Yesus berkata, “ Kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran akan memerdekakanmu”. Yesus yang juga adalah Firman kebenaran datang ke dunia ini untuk memberikan kehidupan yang berkelimpahan agar kita menjadi orang yang bebas dan merdeka. Jadilah manusia yang merdeka dan setelah itu bantulah orang lain agar mereka bisa mengalami hidup dalam kemerdekaan yang sejati ini!

Sumber: e-Artikel

Komentar