Pendahuluan
Meskipun biasanya saya berkhotbah menelusuri kitab-kitab dalam Alkitab, sesekali Tuhan mengingatkan saya pada topik atau kebutuhan tertentu demi kebaikan jemaat dan pembangunan iman kita. Walaupun saya bermaksud kembali ke kitab Filipi minggu depan, pagi ini saya ingin kita merenungkan teologi dan penerapan pengajaran firman Allah di dalam rumah kita.
Pertama, ada sejumlah orang tua baru di antara kita. Ini adalah hal yang indah dan mulia. Anak-anak adalah milik pusaka dari Tuhan, dan buah kandungan adalah upah. Akan tetapi, kita perlu diperlengkapi untuk mengetahui bagaimana membesarkan anak-anak dalam takut akan Tuhan dan didikan-Nya. Kedua, keadaan kita saat ini yang belum memungkinkan untuk berkumpul bersama telah membuat bukan hanya keluarga-keluarga kita tidak dapat beribadah bersama, melainkan juga anak-anak kita tidak dapat mengikuti pelayanan khusus anak, seperti Sekolah Minggu, AWANA, dan pelayanan lainnya. Karena itu, semakin penting bagi kita untuk mengerjakan panggilan mengajar anak-anak di rumah hari demi hari, sebagaimana Allah memerintahkannya kepada kita.
Ayat yang akan kita renungkan pagi ini, mungkin secara ironis, adalah bagian yang baru-baru ini dibaca keluarga saya dalam ibadah keluarga -- ayat terakhir dalam seluruh Perjanjian Lama, yaitu Maleakhi 4:6 (AYT): "Lalu, dia akan mengembalikan hati ayah kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada ayahnya supaya Aku tidak akan datang dan membinasakan bumi dengan kutukan." Pagi ini, kita akan melihat bahwa ayat ini merangkum seluruh pesan tentang pertobatan dan iman, serta memanggil kita kepada disiplin rohani yang lahir dari Injil di dalam rumah dan kehidupan kita.
Kitab Maleakhi
Maleakhi melayani pada masa kembalinya Israel ke Yerusalem setelah pembuangan. Seperti yang dicatat dalam kitab Hagai, Zakharia, dan Nehemia, banyak hal baik terjadi pada masa itu. Akan tetapi, masa tersebut juga dipenuhi banyak tantangan, baik dari musuh di luar maupun dari kerusakan di dalam. Tema pemulihan dan kerusakan yang serupa juga tampak dalam kitab Maleakhi. Nama Maleakhi secara ironis berarti "utusan-Ku", sejajar dengan peran pendahulu yang dinubuatkan akan datang tepat sebelum hari Tuhan, yaitu Yohanes Pembaptis (Maleakhi 3:1; Maleakhi 4:5-6).
"Lihat, Aku mengirim utusan-Ku dan akan mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dan, TUHAN, yang kamu cari itu, akan datang dengan tiba-tiba di rumah-Nya! Dan, utusan perjanjian yang kamu rindukan itu, lihatlah, dia akan datang," TUHAN semesta alam berfirman. (Mal. 3:1, AYT)
Kitab Maleakhi disusun dengan cara yang unik di antara kitab-kitab nabi, yaitu melalui serangkaian dialog retoris, seperti yang sudah kita lihat dalam pasal 1 ayat 2. "'Aku mengasihi kamu,' firman TUHAN. Namun, kamu berkata, 'Bagaimana Engkau mengasihi kami?' 'Bukankah Esau itu kakak Yakub?' TUHAN berfirman. 'Namun, Aku mengasihi Yakub, sedangkan Aku membenci Esau.'" (Mal. 1:2-3, AYT) Dengan demikian, kita melihat dalam kitab ini sesuatu yang menyerupai sidang pengadilan: Allah menyampaikan pernyataan-Nya, menunjukkan apa yang Dia ketahui akan dikatakan Yehuda, lalu memberikan jawaban-Nya yang terakhir.
Ada sejumlah dosa yang secara khusus disoroti Allah dalam kitab ini, termasuk sikap tidak hormat kepada-Nya dan ketidakadilan di antara umat. Namun, sebagian bahasa yang digunakan, bahkan dosa-dosa tertentu yang dibahas, berkaitan dengan tema kebapaan dan keluarga yang menjadi pokok bahasan kita pagi ini.
Kita akan mempertimbangkan beberapa tema tersebut karena semuanya penting untuk memahami secara utuh makna dan penerapan teks kita dalam Maleakhi 4:6.
Tema Kebapaan dan Keluarga
I. Kasih Allah sebagai Bapa yang Setia (Mal. 1:2-6; Mal. 3:6-7; Mal. 3:16-18)
Pertama, kita melihat tema kasih Allah sebagai Bapa yang setia. Tema ini sudah terlihat dalam Maleakhi 1:2-6.
"Aku mengasihi kamu," firman TUHAN. Namun, kamu berkata, "Bagaimana Engkau mengasihi kami?" "Bukankah Esau itu kakak Yakub?" TUHAN berfirman. "Namun, Aku mengasihi Yakub, sedangkan Aku membenci Esau, dan meratakan gunung-gunungnya, lalu menyerahkan pusakanya kepada serigala-serigala padang belantara." Apabila Edom berkata, "Kami telah hancur, tetapi kami akan kembali dan membangun reruntuhan itu," inilah TUHAN semesta alam, "Mereka akan membangun, tetapi Aku akan meruntuhkannya. Mereka akan menyebutnya wilayah kejahatan dan bangsa yang TUHAN murkai sampai selama-lamanya.'" Matamu akan melihat dan kamu akan berkata, "TUHAN dimuliakan sampai di luar perbatasan Israel!" (Mal. 1:2-5, AYT)
Bagian ini terkenal karena dikutip dalam Roma 9, ketika Paulus membahas pilihan Allah sehubungan dengan mereka yang ditentukan, baik untuk kebinasaan maupun untuk memperlihatkan belas kasihan-Nya: "Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau." Dalam konteks Maleakhi, Allah sedang menunjukkan cara-Nya yang berbeda dalam memperlakukan umat-Nya, sekalipun mereka telah berdosa. Baik Esau maupun Yakub layak menerima murka dan kemarahan Allah karena dosa mereka. Akan tetapi, Allah seperti seorang Bapa yang kasih-Nya tetap bertahan bagi anak-anak-Nya, bahkan ketika mereka berbuat salah dan tidak menghormati-Nya sebagaimana seharusnya.
Hal ini terlihat sangat jelas dalam Maleakhi 3:6-7 (AYT).
"Sebab, Akulah TUHAN, Aku tidak berubah. Oleh sebab itu, kamu, hai Keturunan Yakub, tidak akan dilenyapkan. Sejak zaman nenek moyangmu, kamu telah menyimpang dari ketetapan-ketetapan-Ku dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu," TUHAN semesta alam berfirman. Namun, kamu bertanya, "Bagaimana kami harus kembali?"
Di bagian lain dalam Maleakhi, kita akan menemukan penyebutan tentang berbagai bapa dan jenis kebapaan. Akan tetapi, di sini Allah menegaskan bahwa panggilan-Nya yang teguh dan perjanjian-Nya yang tidak berubah dengan Abraham serta seluruh keturunannya berarti Allah tidak akan membinasakan umat-Nya.
Mari kita pertimbangkan satu bagian lagi dalam tema ini. Kita membaca bahwa ada respons positif terhadap pemberitaan Maleakhi dari sebagian orang.
Kemudian orang-orang yang takut akan TUHAN berbicara satu sama lain. "TUHAN memperhatikan dan mendengarnya, dan sebuah kitab pengingat telah ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan yang menghormati nama-Nya. "Mereka akan menjadi milik-Ku," TUHAN semesta alam berfirman, "Pada hari Aku menyiapkan milik-Ku yang berharga, Aku akan mengasihani mereka sebagaimana seorang laki-laki mengasihani anaknya yang telah melayaninya." (Mal. 3:16-17, AYT)
Di sini, kita kembali melihat tema Allah sebagai Bapa melalui cara Dia menyayangi umat-Nya ketika mereka kembali kepada-Nya. Dia tidak memperhitungkan dosa-dosa mereka yang lalu, tetapi berkenan melihat mereka menjalani status sebagai anak-anak-Nya dengan benar, yaitu melayani Bapa mereka.
II. Relasi Keluarga Israel yang Tidak Setia (Mal. 2:10-16)
Ada tema kedua tentang kebapaan dan keluarga dalam Maleakhi, tetapi tema ini tidak sepositif tema pertama. Mari kita melihat Maleakhi 2:10. Saya tidak akan membaca seluruh bagian ini, tetapi ayat 10 berbunyi, "Bukankah kita semua memiliki satu ayah? Bukankah hanya satu Allah yang menciptakan kita? Mengapa kita masing-masing berkhianat terhadap saudaranya dengan mencemari perjanjian nenek moyang kita?" (Mal. 2:10, AYT)
Lalu, dia akan mengembalikan hati ayah kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada ayahnya supaya Aku tidak akan datang dan membinasakan bumi dengan kutukan.
Struktur kalimat di sini agak tidak biasa. Dua pertanyaan pertama merupakan pembelaan umat, mirip dengan apa yang dikatakan orang-orang Yahudi kepada Yesus dalam Yohanes 8, tepat sebelum Dia menegaskan bahwa karena mereka tidak menerima-Nya, sesungguhnya Iblislah bapa mereka. Pertanyaan ketiga di sini sebenarnya merupakan tuduhan, walaupun memakai kata "kita". Tuduhan ini berkaitan dengan ketidaksetiaan dalam pernikahan dan kehidupan keluarga. Anak-anak Allah telah tidak setia kepada para bapa mereka, yaitu para leluhur, dan kepada Bapa mereka yang terutama, yaitu Allah sendiri, dengan menjadi suami dan ayah yang tidak setia terhadap keluarga mereka sendiri.
Dalam bagian berikutnya, kita melihat bahwa laki-laki Yahudi menceraikan istri Yahudi mereka dan menikah dengan perempuan asing. Mereka melanggar perjanjian pernikahan dengan istri mereka sekaligus melanggar perjanjian dengan Allah. Sebab, seperti dikatakan dalam ayat 15, Allah memberikan bagian dari Roh-Nya dalam persatuan mereka untuk mencari keturunan yang saleh. Tujuan itu jauh lebih kecil kemungkinannya tercapai jika mereka menikahi anak perempuan dari allah asing, seperti dikatakan dalam ayat 11.
III. Pemulihan Keluarga Allah (Mal. 4:5-6)
Hal ini membawa kita pada bagian yang akan kita lihat pagi ini, yaitu satu tema terakhir yang menjadi penggenapan tema pertama sekaligus penyelesaian dan pertobatan terhadap tema kedua. Tema ketiga ini dapat dilihat sebagai sintesis dari tesis dan antitesis sebelumnya. Kita juga dapat melihat di dalamnya pola penciptaan, kejatuhan, dan penebusan.
Pentingnya bagian ini semakin ditekankan oleh fakta bahwa ayat-ayat ini merupakan ayat-ayat terakhir dalam seluruh Perjanjian Lama menurut susunan Alkitab bahasa Inggris. Anda mungkin tahu, mungkin juga tidak, bahwa susunan Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani berbeda dan berakhir dengan kitab-kitab sejarah, khususnya Tawarikh. Namun, dalam susunan kitab-kitab yang digunakan gereja, ayat-ayat ini menjadi firman Allah yang terakhir selama 400 tahun, sampai Yohanes Pembaptis memecah keheningan itu dengan menyerukan, "Luruskanlah jalan bagi Tuhan." Jadi, apa yang begitu penting dari ayat-ayat ini sehingga ayat-ayat tersebut menutup kesaksian Perjanjian Lama dan mempersiapkan jalan bagi Tuhan kita Yesus?
Di sini kita membaca bahwa Elia, yaitu Yohanes Pembaptis, akan mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan dengan "mengembalikan hati ayah kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada ayahnya supaya Aku tidak akan datang dan membinasakan bumi dengan kutukan." (Mal. 4:6, AYT)
Pertama, hati para ayah akan berbalik kepada anak-anak mereka. Kita harus memahaminya sebagai berbalik dari dosa-dosa yang kita baca dalam pasal 2. Para ayah akan memedulikan warisan rohani keluarga mereka, yang terwujud melalui kesetiaan kepada Allah dan kepada istri mereka. Akan tetapi, sepenting apa pun pertobatan itu, barangkali yang bahkan lebih penting adalah hati anak-anak berbalik kepada ayah mereka. Ini adalah gagasan yang sangat kaya karena mencakup berbagai hubungan yang telah kita lihat dalam Maleakhi. Umat Israel, dalam ketidaksetiaan mereka, tidak menaati para leluhur mereka dan pada akhirnya tidak menaati Bapa surgawi mereka, Allah sendiri, yang telah memilih bangsa Israel sebagai anak-Nya.
Kita melihat bahwa luasnya penafsiran ini sangat mungkin jika kita melihat Injil Lukas pasal 1. Ketika berbicara kepada Zakharia tentang anak yang akan lahir baginya dan Elisabet pada masa tua mereka, malaikat Gabriel berkata, "Ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka. Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia, untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anak mereka," dan perhatikan bahwa di sini tidak dikatakan "hati anak-anak kepada bapa mereka", tetapi "orang-orang yang tidak taat berbalik kepada hikmat orang-orang benar. Dengan demikian, ia mempersiapkan umat yang telah disediakan bagi Tuhan." (Luk. 1:13-17, AYT)
Jadi, penafsiran ilahi melalui malaikat ini menunjukkan bahwa pertama-tama anak-anak akan berbalik "kepada Tuhan, Allah mereka", yaitu Bapa mereka dalam arti yang paling utama. Selain itu, mereka juga berbalik "kepada hikmat orang-orang benar", yang hampir pasti merujuk pada para leluhur -- Abraham, Ishak, dan Yakub.
Dalam pernyataan ini terdapat gagasan tentang pertobatan dan pembaruan yang memakai bahasa keluarga. Hal ini tepat karena sejak Kejadian 1, rencana Allah adalah memakai keluarga sebagai cara yang lazim untuk memperluas kerajaan-Nya. Keluarga bukan satu-satunya cara. Syukur kepada Allah karena melalui Injil, orang lajang, anak-anak, mereka yang mandul, mereka yang telah melewati usia melahirkan, bahkan sida-sida seperti yang disebutkan dalam kitab Yesaya, semuanya dapat berbuah dengan melahirkan anak-anak bagi Allah melalui penginjilan dan pemuridan. Akan tetapi, hal ini tidak mengurangi penekanan Alkitab atas keluarga sebagai cara yang lazim Allah pakai untuk memperluas kerajaan-Nya.
Doktrin
I. Pertobatan adalah Berbalik kepada Janji Allah kepada Para Bapa Leluhur Kita
Inti pertobatan dan pembaruan hidup adalah hati yang berbalik kepada iman dan kebenaran para leluhur -- Abraham, Ishak, dan Yakub. Dalam Maleakhi, kita melihat bahwa Israel diperingatkan karena mereka tidak hidup di hadapan Allah seperti para leluhur mereka. Dalam Maleakhi pasal 2, Allah menegur para imam karena mereka tidak menghormati-Nya seperti leluhur mereka, Lewi. Dalam Maleakhi 3:4 (AYT), Allah menubuatkan, "Dengan demikian, persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan bagi TUHAN seperti pada zaman dahulu dan seperti pada tahun-tahun sebelumnya."
Karena itu, bukan hanya Gabriel dalam Lukas, tetapi juga para rasul dalam seluruh Perjanjian Baru berbicara tentang iman kepada Kristus dengan mengaitkannya pada iman para leluhur, khususnya Abraham. Hal ini sangat penting dalam sejarah penebusan dan kisah besar Alkitab. Sebab, sebelum Allah memberikan hukum Taurat kepada Israel melalui Musa, Dia telah memberikan janji-Nya melalui Abraham. Abraham percaya kepada Allah, dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Hukum Taurat tidak membenarkan; iman kepada Allah yang membenarkan.
Pertobatan bukan sekadar berbalik dari melakukan yang salah kepada melakukan yang benar. Pertobatan adalah berbalik dari kesalahan yang lahir dari hati yang memberontak menuju Allah dan janji-janji-Nya dalam iman. Jika ada orang yang mendengarkan ini dan belum pernah berbalik dari dosa-dosanya serta dari kehidupan yang berpusat pada diri sendiri kepada Allah, lakukanlah sekarang. Larilah dari murka Allah yang pasti akan datang atas dunia ini karena segala kejahatan yang dilakukan di dalamnya. Allah memberikan Anak-Nya, Yesus Kristus, sebagai janji bahwa Anda bukan hanya akan diampuni, tetapi suatu hari nanti juga akan diberi kemuliaan di surga bersama Yesus Kristus.
Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman ke dalam kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. (Rm. 5:1-2)
II. Injil adalah Kuasa Allah untuk Menggenapi Janji-Janji-Nya bagi Setiap Generasi
Kedua, Injil memberikan kuasa kepada janji-janji Allah bagi setiap generasi. Janji yang kita lihat dalam Maleakhi 4 digenapi dalam pelayanan Yohanes Pembaptis dan Tuhan kita Yesus Kristus. Karena itu, kita seharusnya berharap dan menghidupi janji bahwa Allah akan menyelamatkan anak-anak kita. Yesaya pasal 59 adalah salah satu dari beberapa bagian yang menggambarkan Perjanjian Baru dalam istilah kesetiaan lintas generasi.
"Mengenai Aku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka," kata TUHAN: "Roh-Ku yang ada padamu, dan firman-Ku yang telah Kutaruh dalam mulutmu tidak akan beranjak dari mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka," kata TUHAN, "dari sekarang sampai selama-lamanya." (Yes. 59:21, AYT)
Ada beberapa pengkhotbah yang menekankan ketidaksinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam kaitannya dengan anak-anak kita. Memang ada ketidaksinambungan di antara keduanya, tetapi ketidaksinambungan itu berkaitan dengan kuasa, bukan tujuan. Tujuan Allah dalam setiap zaman adalah agar orang tua mewariskan iman kepada anak-anak mereka dan kepada cucu-cucu mereka. Hal ini sudah melekat dalam janji kepada Abraham, yang diberikan sebelum hukum Taurat.
Sebab Aku telah mengenalnya, dia akan memerintahkan kepada anak-anaknya dan seisi rumahnya sesudah dia untuk hidup sesuai jalan TUHAN dengan melakukan kebenaran dan keadilan sehingga TUHAN akan memberikan kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya. (Kej. 18:19, AYT)
Perjanjian Baru menawarkan janji yang sama.
Lalu, Petrus berkata kepada mereka, "Bertobatlah dan baptiskanlah dirimu masing-masing dalam nama Kristus Yesus untuk pengampunan dosa-dosamu, dan kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab, janji ini adalah untukmu, dan untuk anak-anakmu, dan untuk semua orang yang masih jauh, sebanyak yang Tuhan Allah kita akan memanggilnya." (Kis. 2:38-39, AYT)
Ketidaksinambungan atau perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bukanlah tujuan Allah, melainkan kuasa di dalam diri kita melalui Yesus Kristus. Dengan hati yang telah disunat, kita dimampukan untuk berpegang teguh pada janji Allah bagi kita dan anak-anak kita. Dengan pikiran yang diperbarui, kita dimampukan untuk memahami dan mengajarkan kebenaran-kebenaran yang olehnya seseorang dapat diselamatkan. Dengan kasih yang telah diubahkan, kita dimampukan untuk memprioritaskan buah yang kekal dan jangka panjang daripada keuntungan duniawi yang sementara.
III. Orang yang Diperbarui Secara Rohani Mengutamakan Berkat Rohani Anak-Anak Mereka di Atas Segalanya
Ketiga, hal ini membawa kita pada ajaran tentang para ayah dan hati mereka terhadap anak-anak. Orang tua, terutama para ayah, hati Anda harus tertuju kepada anak-anak Anda demi kebaikan kekal mereka. Walaupun banyak hal dalam Maleakhi pasal 2 tetap tidak dijelaskan, termasuk mengapa laki-laki Yahudi meninggalkan istri Yahudi mereka dan tidak setia kepada istri serta anak-anak mereka sendiri, jelas bahwa mereka bertindak egois dan tidak setia.
Para ayah, keinginan terbesar, usaha utama, dan petualangan hidup Anda seharusnya adalah membesarkan, memimpin, menegur, mengajar, dan melatih anak-anak Anda, lalu melalui mereka, keturunan mereka sesudahnya. Anak-anak dan keluarga Anda diberikan kepada Anda. Mereka adalah tanggung jawab Anda -- pusaka Anda -- upah Anda. Hati Anda harus tertuju kepada mereka secara rohani. Kerinduan Anda agar mereka setia dan berbuah dalam kerajaan Allah harus jauh melebihi keinginan Anda untuk melihat mereka kuliah, memiliki pekerjaan yang baik, menikah dan mempunyai anak, atau berhasil menurut ukuran dunia. Tujuan kita adalah agar suatu hari nanti kita dapat berkata kepada Bapa bersama Kristus, "Inilah aku dan anak-anak yang telah Engkau berikan kepadaku."
Penerapan
I. Doakan Janji-Janji Allah bagi Anak-Anak Anda
Pertama, doakan janji-janji Allah bagi anak-anak Anda. Dari waktu ke waktu, kita membagikan kumpulan bagian Kitab Suci tentang janji Allah bagi anak-anak kita. Kita memberikannya kepada setiap orang tua yang mengikuti penyerahan anak. Entah Anda memiliki bayi, anak kecil, remaja, atau anak yang sudah dewasa, Anda memiliki otoritas yang Allah berikan dalam ranah rohani untuk berdoa secara efektif bagi mereka, bagi keselamatan mereka, dan bagi berkat kekal mereka. Jika anak-anak Anda telah menjauh dari Tuhan, peganglah janji-janji itu dengan lebih erat lagi. Bawalah janji-janji itu ke hadapan Allah, dan dengan air mata katakan, "Engkau telah berfirman!" Allah akan mendengar dan menjawab.
Menurut saya, di kalangan Baptis, secara umum kita telah sangat kurang menerapkan janji-janji perjanjian Allah dalam keluarga kita. Gereja-gereja Reformed yang berpegang pada teologi perjanjian membaptis bayi-bayi dalam kaitannya dengan perjanjian Allah atas keluarga mereka. Akan tetapi, sebagai orang-orang yang hanya membaptis berdasarkan pengakuan iman, secara harfiah kita telah membuang bayinya bersama air bekas mandi. Jika Allah telah memberi Anda seorang anak, Dia menghendaki anak itu diselamatkan. Seperti dikatakan dalam Maleakhi 2:15, "Apa yang dikehendaki Allah? Keturunan yang saleh." Jadi, berdoalah dan berpeganglah teguh pada janji Allah bagi anak-anak Anda, apa pun keadaan mereka. Bagi yang lajang, ikutlah berdoa bagi generasi kita berikutnya.
II. Lakukan Ibadah Keluarga Setiap Hari: Pembacaan Kitab Suci, Doa, Nyanyian Rohani, dan Penghafalan
Kedua, jika hati kita tertuju kepada anak-anak kita, itu berarti kita akan meluangkan waktu untuk mengajar dan melatih mereka. Salah satu cara terpenting untuk melakukannya adalah melalui ibadah keluarga setiap hari. Rumah tangga Kristen harus menjadi sebuah gereja kecil; di dalamnya, ayah sebagai penatua dan pelayan mengumpulkan keluarga untuk beribadah, lalu keluarga membaca Kitab Suci, berdoa, menghafal Kitab Suci, bahkan menyanyi. Bagi kebanyakan keluarga, waktu terbaik adalah saat sarapan atau makan malam, setelah makan. Sediakan waktu 15 menit. Bacalah satu pasal Alkitab bersama-sama, lalu lakukan diskusi singkat atau penerapan dari bagian tersebut.
Berdoalah bersama dan libatkan anak-anak Anda supaya Anda dapat mengajar mereka cara berdoa. Doakan pokok-pokok doa gereja, kelompok kecil Anda, atau para misionaris yang Anda dukung, serta kebutuhan keluarga. Saya juga mendorong Anda untuk menyanyikan sebuah nyanyian rohani bersama sebagai ungkapan pujian yang layak. Selain itu, sediakan waktu setiap hari untuk menghafal Kitab Suci bersama-sama. Jika Anda belum memiliki waktu ibadah yang teratur bersama keluarga, selain waktu pribadi Anda dengan Tuhan, putuskan sekarang juga untuk memperbaikinya. Ibadah keluarga setiap hari termasuk dalam perjanjian gereja kita. Demi kebaikan generasi yang akan datang, kita harus berdisiplin. Pertimbangkan perkataan pemazmur:
Aku akan membuka mulutku dalam perumpamaan; aku akan mengatakan teka-teki dari zaman dahulu, yang telah kita dengar dan ketahui, dan yang telah diceritakan oleh nenek moyang kita. Kita takkan menyembunyikannya dari anak-anak mereka, tetapi akan kita ceritakan kepada angkatan yang akan datang, puji-pujian bagi TUHAN, kekuatan-Nya, dan keajaiban-keajaiban-Nya yang telah dilakukan-Nya. (Mzm. 78:2-4, AYT)
III. Bangun Budaya Kristen di Dalam Rumah Anda dan Pertimbangkan Pendidikan Anak-Anak Anda
Ketiga, kita membutuhkan budaya firman Allah di dalam rumah kita. Anak-anak kita perlu bertumbuh dengan pemahaman bahwa kita bukan sama seperti dunia lalu menambahkan Kristus ke dalam hidup kita. Sebaliknya, ketika Kristus berada di pusat hidup kita, segala sesuatu berubah. Rumah kita seharusnya memiliki bahasa, budaya, dan etos yang sepenuhnya berbeda. Inilah mandat Allah kepada umat Israel sebelum Dia memberi mereka sebuah negeri. Negeri itu harus menjadi tempat Allah memerintah, dan hal itu dimulai dari keluarga.
Ingatlah selalu perintah-perintah yang kusampaikan kepadamu hari ini. Kamu harus mengajarkan semuanya itu terus-menerus kepada anak-anakmu, dan bicarakanlah ketika kamu duduk di rumahmu, ketika kamu sedang dalam perjalanan, ketika kamu sedang berbaring, dan ketika kamu bangun. Ikatkanlah itu sebagai tanda peringatan pada tanganmu dan pasangkanlah itu di dahimu. Tuliskanlah itu pada tiang pintu rumahmu dan gerbangmu. (Ul. 6:6-9, AYT)
Ketika anak-anak kita memikirkan sastra, mereka perlu memikirkannya dengan cara Kristen. Ketika mereka memikirkan dan berinteraksi dengan media, mereka perlu melakukannya dengan cara Kristen. Ketika mereka memikirkan ilmu pengetahuan, lingkungan, keadilan, dan hukum, mereka juga perlu melakukannya dengan cara Kristen. Hal ini semakin sulit dilakukan jika Anda tidak melakukannya dengan sangat sengaja. Para ayah, bersikaplah strategis dan kuat ketika Anda menjalankan mandat ini.
Salah satu cara untuk hidup secara sengaja adalah mendidik anak-anak Anda di rumah. Ada orang-orang di gereja kita yang memiliki pengalaman dalam hal itu jika Anda ingin mempertimbangkan pilihan tersebut bagi keluarga Anda, dan pilihan ini layak dikejar sekalipun menuntut pengorbanan. Namun, selama setahun terakhir, saya terlibat dengan sebuah kelompok yang sedang merintis sekolah Kristen baru di dalam gereja untuk menekan biaya bagi keluarga. Sekolah ini didasarkan pada pendekatan klasik dalam pendidikan, yaitu tata bahasa, logika, dan yang terutama, mengajar anak-anak bukan hanya apa yang harus dipikirkan, melainkan bagaimana cara berpikir. Semuanya dilakukan dalam kerangka pandangan dunia Kristen yang kuat. Jika Anda memiliki anak di bawah usia 11 tahun dan tertarik pada sekolah Kristen klasik berbasis gereja, silakan kirimkan email kepada saya minggu ini, dan saya akan memberi Anda informasi lebih lanjut.
Akan tetapi, bahkan di dalam rumah, apa pun pilihan pendidikan yang Anda ambil, jadikan rumah Anda lingkungan Kristen. Tuliskan Kitab Suci di dinding Anda. Jika Anda memiliki bakat seni, lukislah, gambarlah, atau ciptakan hal-hal Kristen yang mengingatkan Anda kepada Allah dan firman-Nya. Bicarakan tentang Tuhan secara teratur, bahkan ketika Anda tidak sedang melakukan ibadah keluarga. Ketika ada hal yang tidak berjalan baik, berhentilah sejenak dan berdoalah. Gunakan bagian Kitab Suci yang telah Anda hafalkan bersama keluarga. Ketika ada hal yang berjalan baik, berhentilah sejenak, bersukacitalah, dan ucapkan syukur bersama dalam doa. Salah satu kebutuhan terbesar dalam rumah tangga Kristen adalah orang tua, terutama ayah, yang perkataannya terus-menerus berbicara tentang Allah, karya-karya-Nya, dan firman-Nya.
Kiranya Allah memampukan kita oleh kuasa Injil Kristus untuk berbuah dalam keluarga kita, meninggalkan segala ketidaksetiaan dan keegoisan, mengejar iman para bapa leluhur kita, serta hidup setia kepada Bapa kita di surga. Dalam nama Anak-Nya yang tunggal, amin. (t/Jing-jing)
|
Diambil dari: |
||
|
Nama situs |
: |
New West Community Church |
|
Alamat artikel |
: |
https://www.newwestcommunitychurch.com/2021/02/26/restoration-of-the-family/ |
|
Judul asli artikel |
: |
The Restoration of the Family of God |
|
Penulis artikel |
: |
NWCC.DevTeam |