Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Pendamaian Untuk Dosa

Edisi C3I: e-Konsel 238 - Alasan Yesus Mati

"Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh." (1 Petrus 3:18)

Inilah salah satu nas utama tentang salib dalam Perjanjian Baru yang menjelaskan alasan utama Kristus mati. Kita telah memerhatikan, Ia mati sebagai martir karena keagungan-Nya dan sebagai teladan dalam menanggung penderitaan dengan tabah. Kita perlu menyelidiki arti dan tujuan salib.

Pertama, Kristus mati untuk membawa kita kepada Allah. Di balik pernyataan ini, terdapat asumsi bahwa kita terpisah dari Allah dan perlu dibawa kembali kepada-Nya -- hal ini akibat dari dosa kita. Sebagaimana dinyatakan Yesaya, "tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2)

Kedua, Kristus mati untuk dosa-dosa kita. Dosa dan maut telah dipersandingkan dari awal sampai akhir Alkitab, sebagai bentuk pelanggaran dan upah yang setimpal. "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah," (Roma 3:23). Akan tetapi, Yesus tidak berbuat dosa. Jadi, Ia mati untuk dosa-dosa kita, bukan dosa-Nya. Seperti Petrus katakan, "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh." (1 Petrus 3:18) Yang tidak bersalah untuk yang bersalah. Karena Ia telah menanggung dosa-dosa kita, mati menggantikan kita, maka kita dapat diampuni dengan cuma-cuma.

Ketiga, Kristus mati sekali untuk dosa-dosa kita. Kata keterangan yang digunakan "hapax" (sekali) bukan berarti "pada suatu ketika" melainkan "sekali dan untuk seterusnya". Kata itu menunjukkan ketuntasan dari apa yang Kristus lakukan di atas kayu salib. Karena Kristus telah melunasi utang dosa-dosa kita, Ia dapat berseru, "Sudah selesai." Jadi, apa yang tersisa untuk kita lakukan? Tidak ada! Kita tidak dapat memberi sumbangan apa pun. Yang dapat kita lakukan hanyalah bersyukur kepada-Nya atas apa yang telah Ia perbuat, dan tinggal di dalam karya-Nya yang tuntas.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku : Through the Bible Through the Year: Daily Reflections from Genesis to Revelation
Judul buku terjemahan : Sepanjang Tahun Menelusuri Alkitab: Refleksi Harian dari Kejadian hingga Wahyu
Penulis : John Stott
Penerjemah : Lilian Tedjasudhana dan Yu Un Oppusunggu
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta 2010
Halaman : 268

Komentar