Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Penyembuhan Konflik Antara Pribadi Impian dan Pribadi yang Sebenarnya

Edisi C3I: e-Konsel 352 - Konflik dengan Diri Sendiri

Sebagian besar anak memiliki fantasi tentang siapa mereka atau ingin menjadi apa mereka ketika besar nanti -- pilot, pemadam kebakaran, pengusaha, ibu, ayah, pendeta, dll.. Pribadi mereka yang sebenarnya harus bertumbuh melebihi pribadi impian mereka. Ini merupakan sesuatu yang sedikit menimbulkan konflik bagi mereka karena mereka tidak dapat menjadi pribadi impian untuk saat ini.

Namun, orang-orang yang belum mencapai pribadi impian yang mereka anggap dapat atau seharusnya sudah mereka raih pada usia mereka sekarang, dianggap lebih bermasalah. Barangkali, mereka berpikir bahwa mereka bisa menjadi lebih pintar, memperoleh uang lebih banyak, lebih baik hati, lebih mapan, lebih tinggi dalam jenjang keberhasilan, bebas dari dosa, sudah menikah, lajang, lebih berpikir rohani, memiliki lebih banyak teman, dst.. Semakin besar perbedaan antara pribadi impian dan pribadi yang sebenarnya, semakin besar frustrasi, kekecewaan, ketidakamanan, kesalahan, ketakutan, dan/atau penilaian diri dan gambar diri yang rendah. Hal ini berlaku khususnya jika seorang anak telah diberi tahu bahwa dia dapat menjadi apa pun atau melakukan apa pun. Pernyataan yang sepertinya menguatkan ini, kenyataannya tidak benar bagi 99 persen orang karena kita semua memiliki keterbatasan dalam energi, kecerdasan, talenta, dan karunia rohani, serta keterlibatan kita, juga keterbatasan dalam masalah-masalah pribadi dan waktu kita di dunia ini.

Para perfeksionis bahkan mempunyai reaksi negatif yang lebih parah terhadap tidak tercapainya pribadi impian. Mereka, pada khususnya, sering kali terjebak dalam pernyataan negatif terhadap diri sendiri yang meyakinkan akan ketidakberhasilan mereka. Alhasil, banyak orang mencoba lebih keras, sementara beberapa orang lainnya menyerah dalam keputusasaan. Apa yang akan Allah katakan kepada kita tentang mengelola konflik antara pribadi impian dan pribadi yang sebenarnya? Setidaknya, ada dua hal!

Pertama, "Janganlah terlalu saleh, janganlah perilakumu terlalu berhikmat; mengapa engkau akan membinasakan dirimu sendiri?" (Pengkhotbah 7:16) Saya rasa, kita dapat mengganti dengan tepat kata "saleh" dan "berhikmat" dengan kata lain yang dapat menjelaskan pribadi impian kita -- kaya, bahagia, penuh kasih, dll.. Pesan-Nya mendorong kita untuk menghindari atau mengupayakan pengendalian diri terhadap pribadi impian yang tidak realistis, berlebihan, dan merusak kesehatan kita, apalagi jika itu terkait dengan pencarian hal-hal baik.

Kedua, Allah ingin mengatakan bahwa kita seharusnya tidak menjalani gaya hidup yang "cuek", yaitu orang yang menolak untuk campur tangan dalam proses yang alami dan hanya membiarkan apa yang ada sebagaimana adanya. Ini merupakan sikap pasif dan malas, yang ditakuti oleh para perfeksionis kalau-kalau mereka akan hidup seperti itu jika mereka bermalas-malasan dan menyerah untuk berjuang demi menggapai pribadi impian.

Selebihnya adalah separuh pendekatan untuk mengelola perbedaan antara pribadi impian dan yang sebenarnya. Kehidupan yang ala kadarnya ini pertama-tama menuntut seseorang untuk benar-benar menerima dirinya yang sebenarnya. Lagi pula, dari situlah Allah memulai, dalam kenyataan dan kebenaran tentang siapa seseorang itu, bukan idealnya seperti apa orang itu. Perjalanan yang lambat ini kemudian berlanjut menuju tujuan yang tidak pernah tercapai dari pribadi yang sempurna atau pribadi yang ideal. Tidak masalah, bila perjalanannya lambat dan tujuannya tidak dapat dicapai. Selama kita berada di jalur Allah untuk menjadi orang yang lebih daripada kita sekarang, itu sudah cukup. Cukup karena kita tidak dapat mencapai garis akhir, betapa pun kerasnya kita berusaha. Cukup karena Allah tidak mengharapkan kita untuk mencapainya dan telah membuat persediaan bagi ketidaksempurnaan kita. Persediaan itu berupa kasih karunia, kemurahan, pengampunan, belas kasihan, dan Kristus, yang Dia berikan tanpa syarat kepada setiap orang yang mengarahkan hidupnya kepada-Nya. Lagu lama, "Just As I Am" (sama seperti-Ku) merupakan sebuah penghormatan bagi kenyataan ini. Kita dikasihi dan diterima secara bebas dengan segala perbuatan dan keberadaan kita. Dengan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan ini, kita sudah dan benar-benar dibebaskan dari pribadi impian kita yang menuntut kita mengukur semua kewajiban hidup kita, harus dan wajib. Namun, ini terjadi jika kita memercayainya dan membiarkan diri kita melepaskan ikatannya. Allah sudah melakukannya! (t/S. Setyawati)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : The Center for Christian Counseling and Relationship Development
Alamat URL : http://cccrd.blogspot.com
Judul asli artikel : Christian Counseling - Helping Heal The Conflict Between The Ideal & Real Self
Penulis : Frankmancusophd
Tanggal akses : 16 Oktober 2013

Komentar