Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Penyingkapan Salib

"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." (Yohanes 17:3)

Beberapa bulan yang lalu, istri saya, Claudia, bertemu dengan kelompok selnya (terdiri atas 12 orang). Ia mengajarkan kepada mereka bahwa penyingkapan Salib adalah satu-satunya dasar yang tepat untuk sebuah kelompok. Dengan mengutip Yohanes 17:3, ia mengajak para wanita untuk berdoa agar Tuhan memberikan penyingkapan Salib kepada mereka masing-masing. Selanjutnya, istri saya berdoa secara pribadi, "Tuhan, berikanlah kepadaku penyingkapan Salib." Setelah mengucapkan doa singkat ini, ia mendapati dirinya berada dalam pengalaman paling luar biasa di sepanjang hidupnya. Allah mengambil rohnya dan mempersatukannya dengan Roh Yesus pada saat penyaliban-Nya. Ia dapat merasakan semua yang Yesus rasakan dengan tepat saat Ia bergantung di kayu salib. Pada saat yang sama, mata rohaninya terbuka dan ia bisa melihat kegelapan rohani yang menyelimuti bumi ketika Ia sedang sekarat.

Seperti yang dialami Claudia, Salin harus menjadi rema -- firman yang hidup -- dalam hati kita masing-masing. Mengenal Yesus berarti mengalami penyingkapan Salib dan mengenal kuasa Allah melalui penderitaan Yesus ketika Ia membayar penebusan kita. Tujuan semua orang percaya seharusnya mengalami Salib melalui iman, dan bahkan memahami penderitaan mendalam yang Yesus alami untuk menggantikan kita. Kita harus memohon kepada Allah untuk mengizinkan kita merasakan apa yang Yesus rasakan; "Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya." (Roma 6:5)

Mukjizat Salib

Mengalami Salib melalui suatu penyingkapan merupakan sebuah mukjizat. Tuhan mengambil roh kita secara langsung pada peristiwa penderitaan-Nya yang melelahkan dan mengizinkan kita menjadi satu dengan-Nya. Setelah mengalami pengalaman ini, Anda mendapatkan kemampuan untuk memimpin orang lain untuk menerima penyingkapan Salib. Dalam hal ini, kita mempelajari bahwa Yesus tidak mati agar dikagumi sebagai martir, mendapatkan belas kasihan atau simpati, atau terkenal. Dia melakukannya untuk Anda dan saya. Dia mengambil tempat penderitaan dan kematian yang pantas untuk kita karena dosa kita. Dia menanggungkan semua kelemahan kita ke atas Diri-Nya sendiri di kayu salib dan menghapuskan utang yang kita pinjam dari Allah untuk selamanya.

Semua orang yang memahami penyingkapan Salib akan merasakan bahwa kematian Yesus adalah juga kematian kita sendiri. Ini menyatakan bahwa kita juga akan merasakan rasa sakit yang Dia rasakan dan memampukan kita berkata, "Saya merasakan penderitaan mendalam yang sama, rasa sakit dan penderitaan yang saya rasakan seolah-olah sayalah orang yang sedang disalib."

Ketika Claudia mendapatkan penyingkapan Salib dan dibawa secara supernatural ke tempat penyaliban, Allah menyingkapkan selubung dari matanya dan menyingkapkan penderitaan Yesus kepadanya dengan cara yang mirip dengan apa yang Dia izinkan untuk dialami Daud ketika ia melihatnya secara profetis seperti yang tertulis dalam Mazmur 22.

Meskipun penderitaan Kristus terjadi bertahun-tahun setelah Daud mati, Roh Kudus mengambil roh Daud dan membawanya melintasi waktu, mengizinkannya merasakan semua yang akan Yesus rasakan berabad-abad kemudian. Kita melihat rasa sakit, kesedihan yang mendalam, dan ketidakpastian yang akan Yesus alami ketika berada di kayu salib, yang terlukiskan di setiap kata dari Mazmur 22:1-2, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang."

Claudia mengalami apa yang Yesus derita. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, mata rohaninya terbuka dan dia dapat melihat awan gelap yang berkumpul di atas bumi ketika Yesus sekarat (Alkitab mengatakan bahwa ada kegelapan dari siang sampai pukul tiga sore). Semuanya berubah menjadi gelap ketika Dia tergantung hampir mati, dan awan-awan gelap itu adalah kumpulan setan yang turun ke atas Yesus. Anak Allah sudah mengatakan tentang masa gelap ini pada malam saat Dia dikhianati, "Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu." (Lukas 22:53) Dia bisa melihat setan datang melawan-Nya dengan segala kemarahan mereka, seperti singa-singa lapar yang mengaum-aum dengan mengucapkan kata-kata menjatuhkan sambil berusaha menghancurkan iman-Nya dan mengalahkan-Nya.

Mirip dengan itu, istri saya juga merasa tulang-tulangnya retak dan hatinya hancur luluh. Meskipun dia mencoba meminta bantuan, dia tidak memiliki kekuatan. Satu-satunya yang dapat dilakukannya adalah mengeluh dalam kesedihan, dan selama tiga jam, dia mengalami penderitaan yang begitu berat. Setan-setan datang seperti anjing untuk menyiksanya. Dia benar-benar tidak menyadari tubuhnya sendiri karena dia berada di dalam pengalaman rohani. Namun, sepanjang waktu, dia merasa begitu rentan dan tidak terlindung -- seperti yang dialami Yesus di kayu salib.

Claudia mengalami penderitaan yang teramat berat ketika dia mendengar Tuhan berdoa, "Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku! Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing. Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng ...." (Mazmur 22:19-21) Yesus mengharapkan Bapa segera datang untuk menolong dan membebaskan-Nya, tetapi Claudia melihat Bapa berdiri dan berpaling dari Yesus, menyerahkan-Nya pada belas kasihan setan-setan kejam itu. Lalu Claudia mendengar Yesus berseru dengan keras dalam penderitaan, "Allahku, Allahku, ...."

Anda mungkin bertanya-tanya mengapa Bapa sepertinya tidak mau menolong anak-Nya sendiri. Kita harus memahami bahwa Yesus menyerahkan semua hak istimewa-Nya yang ilahi supaya dapat menebus umat manusia. Di kayu salib, Yesus menjadi pengganti semua orang yang pernah dan akan memberontak terhadap Allah. Dia membawa dosa-dosa setiap orang yang hidup dan yang akan dilahirkan -- dan Allah tidak dapat tahan terhadap dosa. Ketika Allah berpaling dari Yesus, Dia melakukannya karena Dia melihat Anak-Nya memikul semua dosa setiap manusia yang akan berjalan di muka bumi di sepanjang zaman dan sejarah, dan Dia tidak tahan memandangnya.

Dilahirkan dalam Penyingkapan Salib

Setiap orang percaya harus dilahirkan dalam penyingkapan Salib. "Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya." (Roma 6:5) "... jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia ...." (2 Timotius 2:11-12) Inilah tanggung jawab kita, sebagai anak-anak Allah, untuk pergi kepada Salib setiap hari, untuk menerima penyingkapan dan inspirasi ilahi. Paulus memahami hal ini dan berkata, "Aku mati setiap hari" (1 Korintus 15:31). Kita harus menyalibkan sifat dasar manusiawi kita yang lemah setiap hari sehingga kuasa kebangkitan Yesus dapat mengalir melalui kita.

Itulah yang dimaksud oleh nabi Zakharia ketika ia berkata, "Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung." (Zakharia 12:10)

Gambaran duniawi yang sejajar dengan penyingkapan atas apa yang dialami dan diderita Yesus di kayu salib akan tepat seperti yang digambarkan oleh Nabi Zakharia -- ketika orang tua kehilangan anak tunggal mereka dan mereka tidak dapat dihibur. Rasa sakit mereka begitu dalam sehingga, tidak peduli seberapa keras mereka berusaha, mereka tidak bisa berhenti menangis.

Yesus Menerima Kutuk karena Kita

Melalui Nabi Yesaya, Allah memperlihatkan kondisi rohani umat-Nya, "Dengarlah, hai langit, dan perhatikanlah, hai bumi, sebab TUHAN berfirman: 'Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku. Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.' Celakalah bangsa yang berdosa, kaum yang sarat dengan kesalahan, keturunan yang jahat-jahat, anak-anak yang berlaku buruk! Mereka meninggalkan TUHAN, menista Yang Mahakudus, Allah Israel, dan berpaling membelakangi Dia. Di mana kamu mau dipukul lagi, kamu yang bertambah murtad? Seluruh kepala sakit dan seluruh hati lemah lesu." (Yesaya 1:2-5)

Menurut perikop di atas, Allah memanggil langit dan bumi sebagai saksi, tetapi saksi atas apa? Saksi atas kondisi rohani umat-Nya dan harga pembebasan kita. Seperti yang tertulis dalam kitab Yesaya, Allah melihat umat-Nya sebagai umat yang memberontak, tidak berpengetahuan, penuh dosa dan kejahatan, orang-orang yang tidak memperhatikan dan yang memancing kemarahan-Nya.

Pertanyaan yang penting adalah "Mengapa Anda harus terus-menerus dipukul karena dosa?" Terlepas dari segala dosa yang telah kita lakukan sebagai umat-Nya, Allah masih melihat kita sebagai anak-anak-Nya. Ia mengingatkan kita bahwa Ia telah membangkitkan dan meninggikan kita. Sama seperti seorang ayah yang penuh belas kasih, Ia mencari cara untuk menyelamatkan kita dan mengetahui bahwa satu-satunya cara untuk penebusan kita adalah melalui pengorbanan Anak-Nya, Yesus Kristus. Allah harus membuat keputusan: entah menghancurkan semua umat manusia atau menjatuhkan hukuman yang seharusnya diberikan kepada semua orang hanya ke atas Anak Tunggal-Nya yang terkasih.

Kita tahu bahwa Yesus memilih untuk menggantikan tempat kita dan menderita melalui siksaan penyaliban yang mengerikan. Bapa berkata kepada-Nya, "Dari telapak kaki sampai kepala tidak ada yang sehat: bengkak dan bilur dan luka baru, tidak dipijit dan tidak dibalut dan tidak ditaruh minyak." (Yesaya 1:6) Itulah kutuk, itu sebabnya Bapa bertanya, "Mengapa engkau harus terus-menerus ditindas karena dosa?" Dengan kata lain Dia berkata, "Bagaimana bisa kamu tetap berdosa? Bukankah semua yang Aku lakukan melalui Anak-Ku sudah cukup?"

Dia berkata dalam Yesaya 52:14, "Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia -- begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi" dan dalam Yesaya 53:5, "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."

Penyingkapan Salib akan memampukan kita untuk melihat kutuk dengan jelas. Seperti yang dikatakan Nabi Yesaya, "Demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami." (Yesaya 52:15)

Namun, penyingkapan Salib melangkah lebih jauh karena hal itu membawa kita dalam roh ke tempat yang tepat di mana Yesus berada ketika Ia disalib dan hal itu mengizinkan kita mengalami apa yang Ia rasakan. Dalam penderitaan-Nya yang menyiksa, kita seolah merasakannya bersama Dia. Kita tahu bahwa belas kasih muncul di dalam kita ketika kita melewati pengalaman yang sulit. Sebagai contoh, seseorang yang telah ditinggalkan dan kemudian mengalami kasih Allah akan lebih mudah menolong orang lain yang baru saja ditinggalkan oleh suami/istrinya. Seseorang yang telah berjuang dengan suatu penyakit dan kemudian mendapatkan kesembuhan, dapat menjalin hubungan secara penuh belas kasihan dengan orang-orang yang sedang sakit. Hal yang sama dapat terjadi dalam hidup Anda hanya jika Anda dapat merasakan apa yang dirasakan Yesus di kayu Salib di Kalvari. Sebab, hal itu memampukan Anda untuk merasakan belas kasihan-Nya kepada banyak orang, yang tidak akan mampu Anda lakukan jika Anda tidak mengalaminya.

Rasul Paulus menggunakan upaya yang sangat besar untuk memperoleh pesan penebusan bagi dunia. Mengapa? Karena dia memiliki penyingkapan Salib dan berkata, namun aku hidup, "Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20)

Tidak ada seorang pun yang dapat berkata demikian kecuali dia benar-benar mengalaminya. Paulus dapat mengalami kuasa Yesus yang hidup dalam dirinya, tetapi dia harus terlebih dahulu mengalami penyaliban bersama-Nya. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : The Revelation of the Cross: An Experience that Will Change Your Life.
Judul asli artikel : The Revelation of the Cross
Penulis : Cesar Castellanos D.
Penerbit : G12 Editors, 2003
Halaman : 9 -- 17

Komentar