Ahli-ahli psikologi pada umumnya berpendapat bahwa emosi cenderung bekerja lebih dahulu sebelum otak manusia berpikir secara rasionil. Tetapi mengherankan sekali betapa Alkitab selalu menekankan secara terbalik, yaitu otak seharusnya bekerja lebih dahulu sehingga dapat mengontrol kerja emosi manusia. Rupanya, Alkitab ingin menegaskan bahwa manusia sebagai peta dan gambar Allah adalah mahluk yang hidupnya tidak seharusnya dikontrol oleh kerja emosi dan instink yang bergerak secara mekanis. Manusia harus dalam kesadaran, mengatur seluruh kehidupannya. Untuk itu, hal yang paling dapat dipertanggung-jawabkan adalah kerja otak besar yang disebut cerebrum yang menjadi pusat kesadaran manusia. Manusia adalah thinking beinglmahluk yang berpikir. Pikiranlah yang seharusnya mengontrol emosi.
Alkitab juga menyaksikan bahwa pikiran manusia ternyata tidak pernah independent. Otak manusia tidak berpikir secara otomatis. Ternyata, ada beberapa sumber yang menggerakkan pikiran manusia, dan sumber yang paling dapat dipakai secara bertanggung-jawab hanyalah si aku yang sejati (ego manusia yang sesungguhnya) yaitu roh, yang bagi orang percaya, adalah bagian inti hidup yang sudah dilahir-barukan oleh Roh Kudus. Alkitab menegaskan bahwa sekali roh manusia sudah diperbaharui, ia akan mempunyai modal untuk terusmenerus dituntun oleh Roh Kudus sehingga dapat mengenal dan membina hubungan yang sangat pribadi dengan Allah sebagai anak dan Bapak (Roma 8: 15-16). Hati nuraninya akan menjadi tahta Roh Kudus sehingga dapat menghadirkan suara Roh Kudus (Ibrani 9: 14).
Meskipun demikian, manifestasi kerja roh manusia melalui hati nurani tidak selalu berjalan dengan mulus. Pikiran lama hasil pengalaman hidup dan pikiran baru karya Roh Kudus ternyata terus-menerus berebut kekuasaan. Sehingga, pikiran yang lebih kuat dan lebih konsistenlah yang seringkali menjadi identitas manusia. Alkitab mengatakan bahwa, "what man think in his heart, so ia he/ apa yang manusia pikirkan dalam hatinya, adalah identitas dirinya" (Amsal 23: 7).
Jadi, bicara soal pikiran ternyata Alkitab tidak hanya bicara tentang kerja otak secara bi