Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Peran Roh Kudus dan Firman dalam Konseling

Berikut ini kesaksian dari pengalaman Pendeta Julianto Simanjuntak selama menangani proses konseling. Beliau adalah seorang konselor, motivator keluarga, dosen, pendiri Layanan Konseling Krisis dan Karier (LK3), serta Direktur Institute Konseling LK3 Jakarta. Kesaksian ini Redaksi ambil dari salah satu bagian dalam bukunya yang berjudul "Self Healing dan Self Counseling: Seni Pemulihan Diri".

Peran Roh Kudus sangat sentral dalam menyelesaikan atau menjalani masalah kehidupan kita sebagai orang percaya. Inilah perbedaan mendasar antara konseling pastoral dengan konseling sekuler, yaitu konseling pastoral bersifat trialog. Tuhan hadir dan terlibat dalam proses konseling. Kita perlu menyadari dan melibatkan Tuhan dalam pelayanan ini. Selanjutnya, kita mengandalkan Tuhan dengan bergantung pada Tuhan dalam doa dan dibimbing oleh nilai-nilai firman Tuhan.

Peran Roh Kudus

Peranan Roh Kudus sangat sentral dalam konseling. Yesus dalam awal pelayanan-Nya berkata, "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Lukas 4:18-19)

Bagi para konselor, Roh Kuduslah (Sumber) yang memberikan kita kuasa, kekuatan, kemauan, dan bijaksana dalam menolong, menghibur, dan menguatkan mereka yang sedang tidak berdaya. Roh Kuduslah yang membantu kita berempati dengan benar. Bagi konseli, Roh Kuduslah yang mampu menyadarkan mereka dari dosa dan kesalahannya. Roh Kuduslah yang mampu mengubah hati dan karakter mereka menuju perubahan hidup yang lebih baik.

Roh Kudus juga membantu kita mengingatkan, mengolah, dan menerjemahkan firman Tuhan yang dibutuhkan oleh klien kita untuk menyampaikannya pada waktu yang tepat, dan dengan bahasa yang dimengerti klien.

Dalam pengalaman pribadi saya sebagai konselor selama beberapa tahun ini, Roh Kudus menjadi kekuatan utama dan mendasar. Dialah yang meneguhkan saya ketika ingin mundur dari pelayanan ini. Penghiburan-Nya yang luar biasa kepada saya pribadi, itulah juga yang saya bagikan kepada klien saya. Kalau pengalaman dengan Roh Kudus kering, apa yang bisa kita bagikan kepada mereka yang kita layani? Tentu tidak ada. Sebagaimana nama-Nya adalah Roh Penghibur, Dia selalu menghibur kita dalam keadaan apa pun. Pengalaman dan pengetahuan konseling tidak cukup bagi seorang konselor. Lebih dari itu adalah pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus dan Roh-Nya.

Peranan Doa dan Firman

Sebelum dan selama konseling, doa pribadi merupakan hal utama bagi saya. Doa selalu mengoneksikan diri saya dengan Tuhan semesta alam. Kepekaan pada suara Tuhan hanya mungkin terjadi jika saya memiliki kehidupan doa yang baik. Saya tidak selalu mengajak klien berdoa sebelum dan sesudah konseling. Tapi secara pribadi saya mendoakan klien dan proses konseling yang saya lakukan.

Umumnya klien datang dalam keadaan yang sangat berat dan kritis. Mereka membutuhkan penghiburan sejati. Tentu saja itu berasal dari firman Tuhan yang kita olah dalam bahasa yang dimengerti klien kita (bukan sekadar comot ayat). Juga bukan mengkhotbahi klien. Tetapi firman menjadi dasar setiap nasehat dan solusi yang kita ambil di bagian akhir konseling.

Dalam surat II Timotius 3:16 ditegaskan bahwa: "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."

Selama konseling, saya sewaktu-waktu berdoa (di dalam hati tentunya). Saya meminta bijaksana Tuhan, baik untuk mendengarkan klien, menanggapi, atau memberi alternatif solusi. Kalau kita bersandar pada kekuatan diri sendiri, kita akan gagal sebagai konselor.

Bagi sebagian klien, doa sangat mereka butuhkan sebagai kekuatan. Doa memberikan konfirmasi di dalam hati klien kita, bahwa Tuhan selalu bersama mereka sekalipun mereka sedang menghadapi masalah. Firman menjadi dasar yang memberikan mereka harapan untuk terus berjuang dalam masalah. Pengharapan itu bagaikan jangkar yang menguatkan jiwa klien kita saat gelombang pasang kehidupan menerpa mereka.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Sumber
Halaman: 
29 -- 34
Judul Buku: 
Self Healing & Counseling: Seni Pemulihan Diri
Pengarang: 
Julianto Simanjuntak
Penerbit: 
LK3 Institut Konseling 2008
Kota: 
Jakarta
Tahun: 
2008

Komentar