Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Pernikahan Kristen yang Kedua

Edisi C3I: e-Konsel 364 - Pernikahan Kedua

Untuk banyak orang, pernikahan Kristen yang kedua merupakan topik yang sulit untuk diartikan. David Jones, dalam buku "The Betrothal View of Divorce and Remarriage" menulis, "Para sarjana belum mampu menyusun kerangka standar moral untuk persoalan ini, dengan kata lain, tidak ada kesepakatan pemikiran atas apa yang Kitab Suci ajarkan tentang perceraian dan pernikahan kembali." [1]

Sumber kesimpangsiuran yang terkait dengan pernikahan Kristen yang kedua tampaknya muncul dari klausa yang disebut "kecuali", yang ditemukan di Matius 5:32. Perikop ini menuliskan, "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah." Sebagian besar sarjana mengartikan perikop ini untuk menjelaskan bahwa satu-satunya alasan yang dapat diterima untuk perceraian adalah ketidaksetiaan.

Akan tetapi, ditunjukkan bahwa 27 persen orang Kristen yang telah lahir baru bercerai [2], ini memperlihatkan bahwa mungkin perlu ada kajian ulang tentang pemikiran untuk menikah lagi. Dalam bukunya "Divorce and Remarriage in the Bible", David Instone-Brewer [3] mencatat bahwa Perjanjian Lama mengizinkan perceraian bukan hanya karena perzinaan, tetapi juga karena ketidakpedulian atau tindakan kekerasan. Lebih dari itu, baik Yesus maupun Paulus menahan diri untuk mengutuk pernikahan kembali setelah perceraian yang sah, yang ditegaskan sebagai suatu dampak dari perzinaan, ketidakpedulian, atau tindakan kekerasan. Dalam sebuah artikel di Christianity Today, Christin Ditchfield [4] mencatat bahwa ketika menjelaskan pengajaran alkitabiah tentang pernikahan Kristen yang kedua, "Beberapa orang kelihatannya mengesampingkan anugerah Allah, semua hikmat, dan petunjuk lain dari ayat-ayat dalam Alkitab, sebagai bentuk legalisme yang ekstrem. Beberapa orang lainnya kelihatannya berjalan terlalu jauh untuk mencari berbagai cara untuk membuang apa yang Alkitab ajarkan, menjelaskannya bahwa seolah-olah hal tersebut tidak relevan lagi. Kedua pendekatan ini berbahaya." Ditchfield terus-menerus menyampaikan bahwa banyaknya "kebenaran" atau "kesalahan" dari pernikahan Kristen yang kedua bergantung pada "keadaan dan sikap orang-orang yang terlibat".

Saat mempertimbangkan pernikahan kedua, penting bagi orang-orang Kristen untuk mengambil waktu untuk mencari pertolongan seorang mentor rohani atau seorang ahli yang berkualitas dalam membangun relasi jika ada kekhawatiran-kekhawatiran tentang moralitas pernikahan kembali. Ambillah waktu untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan berikut: hidup bersama tanpa memiliki keuntungan dari pernikahan, memungkiri kebahagiaan Anda bersama dengan berpisah, atau kembali kepada pasangan pertama yang mungkin sudah berbuat kasar atau acuh tak acuh. Akibat manakah yang akan membawa seseorang lebih dekat dengan Allah? Dalam banyak kasus, barangkali tindakan terbaik dalam hal ini memang menikah kembali.

Yang jelas, menjalani perceraian adalah masa yang menyiksa bagi seorang Kristen. Sekali keputusan telah diambil bahwa pernikahan tidak lagi menggairahkan, orang Kristen harus menyelidiki hatinya dan meminta pengampunan atas bagian yang dilakukannya, yang menyebabkan pernikahan tidak berjalan dengan baik. Karena kita dapat merasa yakin bahwa kita benar-benar mendapat pengampunan atas dosa-dosa kita, kita dapat mencari cara, yang melaluinya kita dapat melayani Allah dengan lebih baik. Dalam beberapa kasus, mungkin memang berarti pernikahan Kristen yang kedua.

Daftar Pustaka:

(1)Jones, David W. "The Betrothal View of Divorce and Remarriage". Bibliotheca Sacra. 165:657 (Jan - March 2008): 68-85.

(2)Wenham, Gordon J., William A. Heth, Craig S. Keener, and Mark L. Strauss. "Remarriage After Divorce in Today's Church: 3 Views." Grand Rapids, Mich: Zondervan, 2006.

(3)Instone-Brewer, David. "Divorce and Remarriage in the Bible: The Social and Literary Context". Grand Rapids, Mich: W.B. Eerdmans, 2002.

(4)Ditchfield, Christin. "Is My Remarriage a Sin?"
Dalam http://www.christianitytoday.com/tc/2007/mayjun/4.18.html. Retrieved 7/26/2009.
(t/S. Setyawati)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Marriage and Relationship Counseling
Alamat URL : http://www.marriage-and-relationship-counseling.com/christian-second-marriage.html
Judul asli artikel : Christian Second Marriage
Penulis : Steven M Cohn, Ph. D.
Tanggal akses : 19 Mei 2014

Komentar