Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Perselingkuhan

Perselingkuhan mengancam semua keluarga dan bisa terjadi pada siapa saja. Jika tidak waspada, para hamba Tuhan pun bisa jatuh ke dalam dosa itu. Seperti yang kita baca dalam 2 Samuel 11, seorang hamba Tuhan yang bernama Raja Daud tidur dengan Batsyeba, istri Uria (prajuritnya sendiri). Ada beberapa sebab Daud jatuh ke dalam dosa itu:

  1. Pada waktu itu ia berusia 39 tahun dan mulai menikmati kesuksesannya.

  2. Pikirannya sedang kosong (2 Sam. 11:1,2). Pada pergantian tahun itu, biasanya raja-raja maju berperang, tetapi Daud, karena yakin akan kemampuan Yoab panglimanya, memilih bersantai ria di istananya. Benarlah kalimat ini: "the idle mind is Satan workshop" (pikiran yang kosong adalah tempat kerjanya Setan).

  3. Ia sedang tidak didampingi oleh istrinya (ay. 1). Bagi para suami yang sering pergi berbisnis seorang diri keluar kota, berhati- hatilah! Bawalah selalu foto keluargamu dan taruhlah itu di meja kamar hotelmu untuk mengingatkan bahwa Anda telah menikah dan memiliki keluarga.

  4. Pengaturan tata ruang istana yang membawanya kepada pencobaan (ay. 2). Dari atap istana yang datar, Daud bisa melihat Batsyeba yang sedang mandi. Hati-hati dengan penempelan gambar-gambar atau pemutaran video-video yang merangsang di kamar. Firman Tuhan berkata, "Janganlah kamu mencemarkan tempat tidur" (Ibr.13:4a).

  5. Daud sudah terbiasa hidup dengan beberapa istri, yakni 6 orang (2 Sam. 3:2-5). Sebagai seorang raja, ia mungkin merasa sah-sah saja untuk tidur dengan istri bawahannya.

Bagaimana dengan Batsyeba? Penyelewengan selalu melibatkan dua pihak, yakni sang pria dan wanita yang sama-sama mau. Apa yang menjadi penyebab Batsyeba menyeleweng?

  1. Batsyeba juga sedang seorang diri, suaminya sedang meninggalkan dia sekian lama karena ikut berperang.

  2. Ia sedang rindu dengan belaian suaminya. Ia baru saja selesai haid (ay. 4). Secara biologis, ini adalah saat di mana seorang wanita sedang rindu dibelai oleh suaminya.

  3. Sebagai orang yang tinggal bersebelahan dengan istana, kemungkinan Batsyeba tahu bahwa Daud sedang seorang diri. Ia juga mungkin tahu jam berapa sang raja biasa "mencari angin" di sotoh istananya. Sebagai seorang seniman, Daud senang akan keindahan, dan Batsyeba menawarkan keindahan tubuhnya.

  4. Batsyeba menghendaki dan menikmati penyelewengan itu. Ia tidak menolak ketika Daud mengajaknya (ay.4). Padahal, bisa saja ia menolak ajakan sang raja, karena hal itu melanggar hukum Torat (Im. 20:10). Namun, nampaknya Batsyeba juga ingin menggunakan kesempatan itu agar bisa menjadi salah seorang istri raja.

Selain dari hal-hal di atas, ada juga sebab-sebab lain dari penyelewengan, misalnya:

  1. Adanya ketegangan yang berkepanjangan di dalam hubungan suami- istri. Masalah dan konflik adalah hal yang lumrah dalam keluarga. Namun, hendaklah setiap konflik diselesaikan secepatnya dan tidak dibiarkan begitu saja sehingga membentuk semacam tembok tebal yang dapat menghalangi komunikasi antara suami-istri. Firman Tuhan berkata, "Kalau kalian marah, janganlah membiarkan kemarahan itu menyebabkan kalian berdosa. Janganlah marah sepanjang hari, supaya Iblis tidak mendapat kesempatan" (Ef. 4:26-27).

  2. Para keluarga muda perlu berhati-hati, khususnya bagi mereka yang usia pernikahannya di bawah 5 tahun. Menurut survey, usia pernikahan di bawah 5 tahun rentan terhadap konflik. Lebih lagi apabila suami-istri sama-sama sibuk bekerja di luar rumah. Ketika pulang kerja, keduanya sudah sama-sama letih dan mudah tersinggung atau marah. Ingatlah, kebahagiaan pernikahan akan tercapai apabila ada usaha dari suami-istri dan bukan "take it for granted" (memandang bahwa kebahagiaan akan datang dengan sendirinya).

  3. Nasehat atau "contoh" hidup dari film dan orang-orang sekitar yang mengatakan, "Sex di luar nikah adalah selingan yang memberi hiburan dan kegairahan bagi pasangan yang telah jenuh." Hal seperti ini sudah diingatkan oleh peng-Amsal yang berkata, "Air curian rasanya manis, dan makan sembunyi-sembunyi lebih enak. Mereka yang menjadi mangsanya tidak tahu bahwa orang yang mengunjungi dia menemui ajalnya di situ; dan mereka yang telah masuk ke dalam rumahnya, sekarang berada di dalam dunia orang mati" (Amsal 9:17-18). Janganlah tergiur oleh kenikmatan yang hanya beberapa saat tetapi harus menanggung resiko seumur hidup.

  4. Pria setengah baya yang sukses harus berhati-hati. Karena prestasi yang telah diraih, mereka cenderung lebih berani dan lebih menarik bagi para gadis muda. Pada umumnya, semua wanita senang dengan pria yang "ke-bapaan". Di tempat kerja para gadis muda itu butuh bimbingan dari atasan mereka yang kebanyakan adalah pria setengah baya. Di dalam bergaul, para pria setengah baya cenderung lebih pe-de (percaya diri). Karena usia, mereka juga lebih sabar. Menghadapi gadis-gadis muda di kantor yang berpakaian menarik dan menghormatinya, dibanding dengan istri di rumah yang sudah kurang menarik lagi, para pria setengah baya itu memang menghadapi cobaan yang cukup berat. Selain itu, para pria setengah baya, juga ada kecenderungan untuk menyatakan diri sebagai laki-laki yang masih gagah dan "appealing" (menarik).

Para suami hendaklah tidak "bermain api" agar tidak terbakar. Pintu kantor hendaklah ditaruh kaca, sehingga tidak tertutup semuanya. Sang istri di rumah perlu memperhatikan penampilan di hadapan suami. Tentunya bukan dengan berdandan secara berlebihan, tetapi wajar saja dan anggun. Sambutlah suamimu yang baru pulang kerja dengan kehangatan cinta kasih dan bukan dengan wajah yang muram dan keluhan. Para istri perlu senantiasa meng-upgrade diri (meningkatkan diri) di dalam pengetahuan umum sehingga bisa menjadi partner bicara suami yang baik. Dan hal yang terpenting, jangan lupa berdoa untuk kesetiaan suamimu.

Ada tiga komponen di dalam cinta eros (birahi).

Penjelasan berikut ini kiranya bisa menjadi peringatan kepada semua pembaca.

  1. Keintiman.

    Ada kecocokan di dalam berbicara dan sharing. Peribahasa Jawa mengatakan "witing trisna jalaran saka kulina" (cinta timbul dari kebiasaan). Sharing ini pertama-tama dimulai di tempat umum lalu menuju ke tempat yang bersifat pribadi. Kemudian orang itu mulai memimpikan teman sharingnya itu. Ia menawarkan beberapa jasa baik kepada temannya. Ia mulai mengucapkan hal-hal yang bersifat pribadi, misalnya: "Saya senang dengan wangi parfummu", "Saya suka dengan dadamu yang bidang", dll..

  2. Timbul passion (nafsu).

    Muncul keinginan untuk memegang tangan dan bagian tubuh lainnya, memeluk, dan mencium.

  3. Passion akan mendorong seseorang untuk terus bertindak ke arah klimaksnya, yakni mengambil keputusan untuk melakukan yang lebih dalam, yakni hubungan seks. Apabila hubungan itu diketahui oleh orang lain, maka mereka mulai berasionalisasi, yakni mencari alasan yang masuk akal untuk membenarkan tindakannya itu, misalnya: "Hal ini aku lakukan karena istriku terlalu 'dingin'", "Suami saya tidak ada waktu untuk memperhatikan saya", dan berbagai alasan lainnya.

    Lebih baik mencegah daripada mengobati. Tetapi apabila sudah terjadi, sebagai orang Kristen, kita harus bertobat. Tuhan membenci perceraian (Mal. 2:16). Yang jatuh ke dalam dosa harus bertobat, dan sang partner perlu belajar untuk mengampuni.

Berikut ini adalah beberapa saran untuk menghindari perselingkuhan:

  1. Tingkatkan komunikasi pribadi antara suami-istri.

    Jikalau untuk main tenis atau fitness perlu ada waktu khusus, mengapa tidak ada waktu khusus untuk komunikasi antar pribadi suami-istri? Komunikasi ini bukan untuk membicarakan masalah bisnis, anak, atau lainnya, tetapi komunikasi dari 'hati ke hati' untuk menyampaikan perasaan hati, pergumulan dan kerinduan pribadi antar suami-istri. Sediakanlah waktu khusus di mana tidak ada gangguan dari anak-anak, misalnya: waktu menjelang tidur, pergi berdua ke mall dengan bergandengan tangan, berenang bersama, dll.

  2. Simpanlah kenang-kenangan yang indah pada masa lampau, misalnya: foto sewaktu berpacaran, foto pengantin, surat-surat waktu berpacaran, hadiah-hadiah tertentu yang dapat mengobarkan cinta yang semula.

  3. Perlu kreatifitas untuk meningkatkan keintiman suami-istri.

    Yang selalu berlangsung secara rutin memang akan membosankan, oleh karena itu perlu adanya kreatifitas baru. Misalnya: bagi suami yang sering ke luar kota seorang diri, si istri dapat menuliskan "notes" singkat di kertas-kertas kecil yang berisikan kata-kata indah untuk suaminya sambil memasukkan pakaian ke dalam koper suami. Taruhlah "notes" itu di kantong baju suami, di sapu tangannya, dll.. Sang suami akan merasa "surprised" ketika membaca hal itu. Contoh lain, misalnya: pada waktu hari ulang tahun sang istri, si suami mencoba untuk menyediakan makan pagi bagi istrinya.

  4. "Kuburan" yang lama jangan dibongkar lagi. Maksudnya adalah masalah yang pernah terjadi waktu lalu jangan diungkit-ungkit lagi. Kesalahan yang pernah dibuat oleh partner kita waktu lalu, jangan disinggung lagi. Hal itu akan sangat merusak hubungan suami-istri.

  5. Jangan selalu bersikap serius, humorlah! Allah kita juga bisa humor (Maz. 2:4).

    Sifat yang selalu serius akan membuat hubungan jadi kaku dan dingin, tetapi humor menghangatkan suasana. Walaupun di kantor si suami biasanya dihormati oleh banyak orang, tetapi di rumah dia bisa bergurau dengan istri dan anak-anak. Terkadang mereka bermain game, kejar-kejaran, kitik-kitikan, dll. yang membuat suasana ceria.

  6. Saling mengevaluasi diri.

    Jika terjadi konflik, pasti kedua pihak ada salahnya. Oleh karena itu jangan gengsi untuk mengatakan dengan tulus hati "the magic words", yakni: "Saya minta maaf".

  7. James Dobson pernah berkata, "Rumput di halaman tetangga nampak lebih hijau, tetapi toh harus dipotong juga." Oleh karena itu, rumput di pekarangan sendiri harus dipelihara dan disirami agar tetap hijau. Perlu adanya usaha bersama untuk membuat pernikahan Anda bahagia. Bagaimana suami dapat membuat sang istri lebih menarik? Jawabnya: kasihi dia. Bagaimana sang istri dapat membuat suaminya bahagia? Jawabnya: hormati dia.

  8. Hitunglah "harga" yang harus dibayar bagi orang yang berselingkuh.

    Kenikmatan sesaat saja harus dibayar seumur hidup. Ingatlah, paku bisa dicabut tetapi bekas paku masih ada di tembok. Begitu pula dengan dosa. Tuhan mau mengampuni dosa orang yang bertobat, tetapi orang tsb. harus tetap menanggung akibatnya di dalam hidup ini.

Diambil dari:

Sumber
Halaman: 
85 -- 92
Judul Buku: 
Hanya Maut yang Memisahkan Kita
Pengarang: 
Pdt. Roby Setiawan, Th.D.
Penerbit: 
Setiawan Literatur Ministry

Komentar