Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Perspektif Psikologis: Istimewa

Salah satu kesalahpahaman umum yang sering kali berdampak buruk pada perkembangan diri adalah keyakinan bahwa untuk menjadi seseorang yang berharga kita harus memiliki keistimewaan. Seakan-akan kita berkata, tanpa keistimewaan kita adalah orang yang tidak bernilai. Masalahnya adalah kebanyakan manusia di bumi adalah orang biasa, yang tidak mempunyai keistimewaan tertentu. Tidak banyak orang yang memiliki keistimewaan membuat film seperti George Lucas dan tidak banyak orang yang dapat menggubah lagu seperti George Frederick Handel dan tidak banyak orang yang dapat memutar uangnya secepat George Soros. Kebanyakan George yang kita kenal adalah George yang biasa, tanpa keistimewaan tertentu.

Biasanya konsep diri yang tidak realistik berasal dari masa lalu yang tidak hangat. Ayah dan ibu hadir secara fisik namun tidak hadir di dalam hati si anak. Mereka menyediakan kebutuhan jasmaniah namun luput memenuhi kebutuhan emosional anak. Mereka memberi tuntutan dengan harapan tuntutan akan memacu anak tetapi mereka lalai menyimak seruan anak yang mendambakan dukungan serta penerimaan. Mereka memuji anak hanya bilamana anak berhasil mencapai standar yang mereka tetapkan; mereka mendiamkan dan kadang memarahi anak tatkala anak gagal menggapai harapan orangtua.

Tuntutan dan harapan bukanlah sesuatu yang haram; sebaliknya, tuntutan dan harapan perlu untuk memacu anak menjadi dirinya yang terbaik. Tanpa tuntutan dan harapan anak mengira tidak ada yang lebih baik daripada apa yang dihasilkannya sekarang. Sungguhpun demikian, tuntutan dan harapan mesti dialasi oleh penerimaan terlebih dahulu. Dengan kata lain, anak harus tahu dengan pasti bahwa ia telah diterima oleh orangtuanya tanpa syarat-tidak ada yang harus dilakukannya untuk mendapatkan kasih orangtuanya-sebelum ia sanggup mengemban tuntutan orangtua.

Orangtua tidak selalu memahami hal ini. Tanpa sengaja orangtua menanamkan benih "usaha" dalam jiwa anakbahwa anak harus memperlihatkan "usaha" terlebih dahulu sebelum ia layak menerima kasih sayang orangtua. Makin baik dan sempuma usaha itu, makin besar pula penerimaan dan kasih sayang yang akan diterimanya. Dengan kata lain, tanpa "usaha" yang mengesankan, anak tidak berhak menerima kasih sayang dan penerimaan orangtua. Singkat kata, ia tidak layak dikasihi alias ia tidak berharga.

Anak yang bertumbuh dalam aroma "usaha" pada akhirnya senantiasa berusaha keras-sangat keras-untuk memperbaiki dirinya. Sesuatu yang telah dicapainya menjadi mubazir dan kehilangan nilai; ia mesti menambahkan nilai lagi agar orang tetap memberinya penghargaan yang "semestinya." Ia menjadi letih namun ia tidak mempunyai pilihan lain: Ia harus tetap berusaha menjadi lebih baik. Ia harus menjadi istimewa. Baginya, tanpa keistimewaan ia bukan siapa-siapa.

Satu fakta yang menyedihkan adalah cukup banyak anak Tuhan yang mempunyai konsep diri "usaha." Secara doktrinal mereka mengerti dan dapat menghafalkan kredo bahwa mereka bernilai di hadapan Tuhan sebab, bukankah Tuhan telah mati demi mereka. Dengan lantang mereka memproklamirkan kasih Tuhan yang tanpa syarat namun dalam kenyataannya, mereka menerapkan galah syarat yang tinggi bagi diri sendiri. Pengetahuan bahwa Tuhan telah menerima mereka tidak serta merta membuat mereka menerima diri. Mereka terus mencari dan mengembangkan keistimewaan sebab tanpa keistimewaan, mereka lenyap. Inilah ketakutan mereka yang sesungguhnya.

Ada tiga langkah yang ingin saya sarankan untuk memutuskan jerat konsep diri "usaha" dan ini saya ungkapkan dalam bentuk tiga pemyataan. Pertama, saya tidak memiliki keistimewaan apa-apa. Pernyataan ini kerap kali sukar dilontarkan karena pada dasarnya kita berkeyakinan bahwa pastilah ada keistimewaan dalam diri kita yang belum kita temukan. Kita berangan, kalau saja kita berhasil menemukannya maka hidup kita akan lebih baik. Ini adalah angan yang keliru dan makin menyesatkan kita ke dalam hutan rimba pencarian tanpa akhir. Saya menyarankan, terimalah fakta bahwa memang tidak ada keistimewaan dalam diri kita dan bahwa semua yang kita miliki dimiliki pula oleh orang lain. Satu hal lagi, yang dimiliki orang lain sering kali memang lebih baik dari apa yang kita miliki. Dosis realitas ini menyakitkan namun perlu untuk membangunkan kita dari khayalan yang merugikan.

Kedua, Tuhan memakai orang yang tidak memiliki keistimewaan. Billy Graham memerlukan waktu berjamjam untuk berlatih khotbah setiap minggu tatkala ia baru memulai pelayanannya di sebuah gereja kecil. Para utusan Injil yang dipakai Tuhan membawa Kabar baik pada umumnya adalah orang biasa tanpa keistimewaan tertentu namun mereka tetap pergi. Sesungguhnya keistimewaan mereka hanyalah satu: mereka taat pada panggilan Tuhan. Jadi, dalih bahwa kita adalah orang yang kurang karena "orang lain lebih baik daripada saya" adalah dalih yang tidak berdasar. Kebanyakan manusia di bumi adalah manusia yang biasa-tanpa keahlian tertentu. Kebanyakan manusia di bumi adalah orang yang "bisa" mengerjakan sesuatu namun kebisaannya itu tidaklah menjadikan mereka pakar dalam bidangnya.

Ketiga, Tuhan memakai saya, orang yang tidak memiliki keistimewaan. Sayangnya, walaupun kita telah mengakui bahwa Tuhan memakai orang yang tidak memiliki keistimewaan, pada akhirnya kita tetap mengatakan bahwa kita tidak berharga dan tidak akan dipakai Tuhan. Itu sebabnya kita mesti membuat pernyataan ini menjadi pernyataan yang pribadi. Bukan saja Tuhan memakai orang lain, Ia pun berkenan memakai "saya" yang tidak memiliki keistimewaan. Dari titik inilah kita berangkat sebagai manusia baru-manusia yang realistik-tanpa keistimewaan, hanya ketaatan.

Sumber
Halaman: 
3 - 4
Judul Artikel: 
Parakaleo, Januari Maret 2005, Vol. XII, No. 1
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Paul Gunadi Ph.D., Yakub B.Susabda Ph.D., Esther Susabda Ph.D.
Tahun: 
2005

Komentar