Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Pertanyaan Anda

Saya mempunyai anak perempuan, Ani usia 8 tahun dan baru kelas III SD. Sejak ia masuk sekolah yang baru (5 bulan lalu kami pindah rumah) ia banyak mengalami kesulitan dengan pelajaran dan sampai saat ini ia belum mempunyai teman apalagi sahabat. Memang sekolah yang lama kualitasnya kurang baik, sehingga ia tertinggal dalam banyak hal. Kami berdua sibuk bekerja, setelah pulang sekolah ia hanya ditemani pembantu dirumah. Saya sendiri sudah terlalu lelah setelah bekerja, dan tidak mampu melakukan yang lain karena sering lembur. Akhir-akhir ini kami sulit sekali memahami apa yang terjadi dengan anak ini karena ia suka berbohong. PR seringkali tidak dikerjakan, ulanganpun tidak belajar; nilai-nilai hampir semua jelek.

Suami saya biasanya pulang lebih awal, dan sering mendisiplin dengan keras (menghukum), bahkan tidak jarang sampai memukul. Saya sendiri tidak tega, tapi juga tidak tau apa yang saya harus lakukan. Bu, apakah kebiasaan ini bisa disembuhkan? Saya takut, jangan-jangan Ani sampai dewasa terbiasa berbohong?

Jawaban:

Saya memahami apa yang ibu rasakan. Setiap anak diciptakan Tuhan dengan sangat unik. Bahkan dalam setiap tahapan perkembangan ada banyak hal yang berubah, kadang-kadang kita sebagai orangtua tidak siap untuk menerimanya. Pada saat Ani belum mempunyai teman, dan sulit mengikuti pelajaran, anda sangat mengharapkan bahwa Ani bisa mempunyai tanggung-jawab moral ("morally accountable") terhadap orangtua dan dapat mengikuti pelajaran di sekolah. Ani sangat dipengaruhi oleh pengalamanpengalaman baru yang kemungkinan besar ia sendiri tidak bisa mengatasinya.

Cobalah untuk mengerti beberapa hal dibawah ini:

  1. Fokus pada apa yang paling primer. Ani membutuhkan perasaan aman, baik di sekolah maupun dirumah. Ditengah kesulitan beradaptasi di sekolah, Ani membutuhkan orang yang bisa mengerti perasaannya dan siap menolong dia. Anda sebagai ibu bisa membantu Ani secara bertahap, dengan fokus pertama-tama pada kemampuan beradaptasi dengan pelajaran-pelajaran di sekolah. Untuk hal ini, mungkin anda perlu berhenti bekerja sementara atau mengubah status menjadi parttimer (kerja paruh waktu). Anda perlu menyediakan "waktu khusus" untuk Ani dan mendampinginya dalam belajar secara konsisten. Pada saat ia mulai memahami pelajaran-pelajaran di sekolah, sedikit demi sedikit Ani akan lebih mempunyai rasa percaya diri, dan ia akan merasa senang mengerjakan PR dan bergairah dalam belajar.
  2. Adakan waktu untuk mengenal teman-teman sekolah Ani melalui orangtua mereka atau melalui Sekolah Minggu. Paling tidak kalau anda bisa menjadi penghubung supaya Ani juga mempunyai teman; tentu Ani akan merasa senang dan kerasan di sekolah. Perasaan nyaman di sekolah yang baru mempunyai peran yang sangat penting bukan saja untuk memotivasi Ani untuk belajar dengan lebih giat, tapi juga mendorong Ani untuk mandiri nantinya.
  3. Anda dan suami harus sepakat untuk memahami masalahnya, pakailah banyak waktu bagi anda berdua untuk bertelut dan minta kepada Tuhan untuk memberi bijaksana surgawi bagaimana menghadapi Ani. Biasakan bagi suami anda juga untuk berperan sebagai ayah bagi Ani, bukan hanya sebagai hakim. Pergunakan waktu yang cukup untuk membina hubungan dan kedekatan, dengan cerita, berbagi perasaan. Sehingga nantinya kebiasaan tidak jujur bisa perlahan-lahan dikikis bukan dengan hukuman, tapi anda dan suami memberikan modal dan perangkat tanggung jawab moral yang akan Ani miliki dan kembangkan untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup dimasa mendatang.

Semoga Tuhan memberkati.

Sumber
Halaman: 
4
Judul Artikel: 
Parakaleo, Juli September 2004, Vol. XI, No. 3
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Paul Gunadi Ph.D., Yakub B.Susabda Ph.D., Esther Susabda Ph.D.
Tahun: 
2004

Komentar